Tue 24th Aug, 2010, Story, PB2010, Travel

Makassar: Pagi Pertama, pra-acara

« sebelumnya…

Setelah kenyang makan mie titi, langsung menuju hotel. Kasihan Rara besok harus menghadapi sebegitu banyak media, dan sepertinya yang lain juga sudah lelah seharian mempersiapkan acara hari sabtu. Ternyata toko mie itu nggak jauh dari Pantai Losari, dan hotel tempat saya numpang menginap juga ternyata nggak jauh dari toko mie, dan berarti nggak jauh dari Losari juga. Tapi kalau melongok dari jendela, nggak begitu kelihatan. Nggak kelihatan ada pantai, maksudnya.

Kekenyangan, kami pun segera tertidur, dan masih dengan semangat 17an, pun memulai aubade ngorok yang, menurut saya sih, lumayan menggetarkan jiwa (atau paling tidak, jendela).

Tak terasa. Tiba-tiba sudah pagi. Sudah waktunya doping kopi dan berangkat ke tempat blogshop.

Hari itu pula saya pun mengerti bahwa pertanyaan seperti “ke [sebut nama tempat] dari sini berapa lama?” itu pantang diajukan pada seorang pengemudi berdarah Makassar.

“Ya tergantung. Maunya berapa lama?” jawab Rara sambil oper gigi geraham, eh gigi atret.

more…

Mon 23rd Aug, 2010, Story, PB2010, Travel

Makassar: Malam Pertama

Hari Jumat lalu saya bertolak ke Makassar menggunakan pesawat Lion yang paling malam (yang tidak malam-malam amat juga, kan baru jam 10). Penerbangan ke Makassar — Ujung Pandang — itu memang dua jam, tapi kalau dipikir-pikir, lama juga. Sudah ingin cepat-cepat ketemu dengan teman-teman yang sudah duluan berangkat ke sana, dan teman-teman yang memang sudah ada di sana.

Dua jam, satu zona waktu, dan satu panggilan telepon kemudian, bertemulah saya dengan Rara pada kursi kemudi, Masset di kursi navigator; di sebelah kiri saya ada Nanie dan Irha, sedangkan di belakang ada Anbhar. Ntan dan Herman menemani dengan doa dari jauh (wah ini perlu ada cerita satu jilid sendiri lagi!)

Dan berhubung sebentar lagi juga sudah mau sahur (paling tidak dari teriakan-teriakan anak-anak bersepeda motor), kami pun berangkat mencari sesuap mie. Berhenti sebentar di Mie Anto, keburu habis. Proses parkirnya Rara dihentikan oleh daeng yang bertugas di pelataran parkir, “Habis! Habis!” katanya. Yaaaa, ketjewa. Akhirnya kami pun pergi ke Mie Titi Datuk Museng yang dekat Pantai Losari situ. Buat saya, karena lapar, semuanya enak. Tapi kata Nhie, Mie Anto lebih enak (dilihat juga dari Mie Anto tampaknya lebih laku, hehehe).

Ternyata mie titi itu macam ifumie gitu, walau sempet bingung waktu mendengar deskripsi teman seperjalanan di pesawat, “Ko mesti coba mie titi.”

“Mie titi itu apa?” tanyaku.

“Itu macam mie goreng, tapi kering; macam spageti tapi bukan,” ia dengan pantang mundur mencoba menjelaskan. Ternyata ifumie!

more…