Makassar: Pagi Pertama, pra-acara
Setelah kenyang makan mie titi, langsung menuju hotel. Kasihan Rara besok harus menghadapi sebegitu banyak media, dan sepertinya yang lain juga sudah lelah seharian mempersiapkan acara hari sabtu. Ternyata toko mie itu nggak jauh dari Pantai Losari, dan hotel tempat saya numpang menginap juga ternyata nggak jauh dari toko mie, dan berarti nggak jauh dari Losari juga. Tapi kalau melongok dari jendela, nggak begitu kelihatan. Nggak kelihatan ada pantai, maksudnya.
Kekenyangan, kami pun segera tertidur, dan masih dengan semangat 17an, pun memulai aubade ngorok yang, menurut saya sih, lumayan menggetarkan jiwa (atau paling tidak, jendela).
Tak terasa. Tiba-tiba sudah pagi. Sudah waktunya doping kopi dan berangkat ke tempat blogshop.
Hari itu pula saya pun mengerti bahwa pertanyaan seperti “ke [sebut nama tempat] dari sini berapa lama?” itu pantang diajukan pada seorang pengemudi berdarah Makassar.
“Ya tergantung. Maunya berapa lama?” jawab Rara sambil oper gigi geraham, eh gigi atret.