Sat 28th Aug, 2010, SocMed, PB2010

Makassar: Pagi Pertama, Blogshop

« Sebelumnya…

Setelah menjadi saksi-untung-masih-hidup dari cara menyetir Homo sapiens macassarensis di habitat aselinya, kami tiba juga di ICT Center, Universitas Negeri Makassar, untuk menghadiri Blogshop perdana rangkaian roadshow Pesta Blogger 2010.

Cerita yang membawa kami sampai ke ICT Center itu sebenarnya bermula dua minggu sebelum hari-H. Ketika menerima kabar kalau ruangan Unhas kali ini tidak bisa jadi ‘tuan rumah’ blog workshopnya Pesta Blogger Goes to Makassar, sebenernya sempet panik juga.

Dari Nanie, menerima info tentang Pak Linson, yang bekerja di Telkom yang memang sudah banyak membantu blogger-blogger Makassar. Langsung saya kirim sms ke Pak Linson. Ternyata Pak Linson sedang tidak ada di Makassar, jadi beliau beri saya nomor koleganya, Pak Putu. Dari Pak Putu saya mengetahui bahwa Speedy Learning Center di sana hanya muat 12-15 orang. Wah sedihnya. Padahal target kita 40an orang atau lebih.

Kemudian masuk email dari Nanie, ternyata ada masukan dari teman Anging Mammiri, bahwa ada tempat yang namanya ICT Center - UNM. Dan katanya cocok. Saya juga kemudian menelepon Pak Amir, diberi penjelasan tentang ruangan2 yang ada di ICT Center.

Dari percakapan singkat saya dengan Pak Amir, terdengar Pak Amir seperti seseorang yang sangat membantu dan baik sekali. Sangat akomodatif dan sangat ramah.

Saya juga sempat mendengar bahwa Ntan dan segenap teman-teman AngingMammiri sempat ketar-ketir menunggu pendaftar masuk. Bahkan kayaknya Iqko sempat termimpi-mimpi kalau pesertanya cuma lima orang! Oh tidak!

more…

Fri 7th May, 2010, Blog31Hari, SocMed

#BLOG31HARI: Hari ke-2

Empat Petak Itu namanya Porskwer

“Mbak Hen, aku add porskwer-mu dong,” kata seorang temanku, pada suatu hari.

“He? Apa itu?” Saya kira apa gitu, tapi ternyata yang dimaksud adalah foursquare.

Percakapan ini terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Sebelumnya saya memang sudah pernah denger-denger tentang aplikasi jejaring sosial berbasis lokasi, atau bisa juga disebut jejaring sosial yang mempermudah orang untuk menguntit Anda. (ya walau dulu juga sebenernya sudah mudah sih, kalau saya lihat-lihat dari rentetan status beberapa teman yang isinya alamat lengkap, bahkan ruangan di mana dia waktu itu berada — di wc! di kolong ranjang!)

Suatu saat nanti, tidak perlu radar untuk menembakkan peluru kendali. Calon teroris masa depan disuruh main social media saja sejak dini, biar ketagihan. Para pengintai tinggal follow oknum-oknum mencurigakan itu saja.

@t3r0r1s_1mYu7 | I’m in da wc! (Gedung Tinggi Sekali Lvl 7-01, City A, Country B)

Bahkan kayaknya ada juga yang memampangkan koordinatnya. Entah salah entah benar, tapi…

EH, kembali lagi ke foursquare. Akhirnya awal bulan ini saya gabung juga, dong, dengan foursquare. Awal-awalnya masih ‘panas’: rajin memperbaharui status, rajin menuliskan tips dan catatan-catatan, rajin memperbaiki tag dan kategori.

Lama-lama tersadarkan bahwa foursquare saya benar-benar empat petak! Rumah, kantor, halte bis, toko roti. Rumah, kantor, halte bis, toko roti. Dan sialnya lagi, rute saya begitu benar-benar bentuknya hampir kotak. Four squares betulan! Alamakjang. Sudah ditambah variasi warung sebrang kantor, restoran dekat rumah, bank dekat rumah… tapi ya… nggak ada kemajuan sama sekali. Hanya hari Sabtu saja saya bisa agak ‘keren’, berkunjung ke provinsi sebelah. Tapi itu pun jadi repetitif dan gitu-gitu aja.

Iri sekali dengan teman saya yang sebentar di Pasar Rebo, nyebrang ke Pasar Jumat, ke Pasar Minggu, dan berakhir di Pasar Senin, semua dilakukan pada hari Selasa.

Lalu, teman saya berkomentar, “Ya, nggak usah mampir ke tempatnya baru update status deh kalo gitu mah, semua masih dalam radius rumahmu itu lho!”

Menyedihkan. Jadi kalau pun sekarang saya masih mainan foursquare, semuanya “off the grid” bukan karena saya reklusif atau sejenisnya (toh saya pasti ke situ-situ juga), tapi supaya agak tktq.net lah.