Wed 2nd Jul, 2008, Non-sequitur

Bila bertemu hantu…

Nggak begitu jelas kenapa, tadi siang malah jadi berbalas-balasan sms hantu dengan salah seorang teman. Karena dirasa sms mulai masuk ranah mahal, maka kami pun berlanjut bercakap-cakap melalui telepon (panas panas deh tuh telinga).

Entah kenapa (dan kapan) pula jadi muncul pertanyaan: “kalau kamu ketemu hantu, kamu akan ngapain?”

“Gue bakal undang tu hantu makan malem di tempat gue, trus bakalan gue tanya-tanyain,” jawab temanku.

“Tanya-tanya gimana?”

“Misalnya, abis mati lalu kita ke mana? Surga seperti apa? Neraka? Fasilitasnya apa aja? Kenapa sampai gentayangan? Bagaimana cara menghindari jadi arwah gentayangan? Gentayangan itu enak nggak? Kuburan mana yang enak? Kuburan mana yang nggak banyak hantu premannya? Yang tetangga sebelah kuburnya baik-baik?”

Bagi teman saya, apa yang datang setelah kematian itu seperti sebuah destinasi wisata, dan hukumnya wajib untuk bertanya kepada orang yang sudah pernah ke sana. “Nih ya, contohnya, loe mau ke Bandung tapi belom pernah ke sono, pasti kan loe nanya sama yang udah pernah ke sono, yang emang tinggal di sono, atau tau keadaan di sono… Jadinya loe dah siap harus bagaimana.”

Lalu saya bertanya, memangnya tidak kaget dan takut kalau hantunya tiba-tiba muncul. “Jangankan hantu, deh,” jawabnya, “lah adek gue tiba-tiba nongol malem-malem mau ke WC aja gue kaget dan jantungan. Tapi abis gitu kan ya sudah.”

Nah, lalu bagaimana kalau hantunya ternyata tidak berminat untuk ditanyain? Bagaimana kalau hantunya tega banget, sukanya kekerasan terhadap manusia, dan penganut paham premanisme liang kubur? “Ya gue minta tolong hantu laen, apartemen gue tuh ngadep ke kuburan, masa ada ratusan hantu, nggak ada satu juga yang mau nolongin gue?”

Kadang-kadang saya merasa khawatir dan sedikit kasihan pada hantu mana pun yang secara apes nyasar ke tempat tinggal temanku itu.

Thu 27th Dec, 2007, Non-sequitur

2008: Maunya apa ya?

Melanjutkan seri PR tag, ini saya dapat tendangan dari Geg Ina. Isinya: membuat resolusi untuk tahun 2008. Sebenernya aku jarang banget bikin resolusi akhir tahun, soalnya mungkin dipastikan kayaknya bakal akan mungkir juga (sesuatu yang mungkin dialami oleh banyak orang dan nggak cuma aku aja…).

Tapi, kali ini rasanya pengen juga ngebikin sebuah resolusi yang bisa aku coba selesaikan, apalagi tahun depan kan tahunnya aku resmi menginjak seperempat abad, penting dong bikin resolusi. Masa’ mungkir terus. (Hahaha, nggak mungkir cuma kalo pikirannya lagi lurus doang).

Resolusi pertama: Lebih rajin dan disiplin dan mengurangi kepelupaan diri ini, baik dalam bekerja, maupun dalam kehidupan sebagai anggota keluarga dan sebagai anggota organisasi. Nggak menunda-nunda pekerjaan, punya catatan yang rapi (berhubung saya ini pelupa, jadi harus, harus, harus ingat dan nggak males bikin to-do-list). Apalagi tahun ini sebenernya banyak hal penting yang terlupa, karena saya malas bikin daftar hal-hal yang harus dikerjakan, karena sok pe-de. Akhirnya kan ketiban getahnya sendiri. Nggak cuma getahnya di saya, tapi juga teman-teman kantor yang sebenernya nggak bersalah akhirnya pun ketiban sial gara-gara itu.

Resolusi kedua: Jadi anak, saudara, teman, rekan yang lebih baik lagi. Tahun ini aku sering banget dapet protes dari banyak kalangan kalo aku belum jadi orang yang baik. Misalnya, ada teman yang mengeluh kalo aku tidak punya waktu lagi untuk ngobrol dengan mereka seperti dahulu, lupa mengirimkan ucapan ini itu, dan sebagainya. Bahkan kayaknya sebagai kakak, tahun ini ada kemerosotan kualitas deh. Misalnya, tahun ini kayaknya sering banget deh yang namanya berantem sama adekku. Belom lagi sama orang tua. Kayaknya yang paling menderita itu mereka.

Resolusi ketiga: mengurangi tidur. Untuk melaksanakan resolusi kedua itu tadi, saya kayaknya harus mengurangi porsi tidur. Hahahaha. Kayaknya keseringan tidur, akhirnya jadi males ke mana-mana, atau males menjawab telepon, atau membalas sms yah? Mengurangi tidur kan juga berarti bisa melakukan hobi-hobi yang lain, misalnya nyoba ngeberesin koleksi perangko (hahaha, yang udah berkurang banyak karena hilang), atau misalnya mulai lebih rajin lagi olah raga (yaya, saya sudah punya tas pinggang karena makan terus tapi nggak olah raga).

Resolusi keempat: berpergian keliling dan luar kota. Karena sudah mengurangi tidur, mungkin saya harus sering berpergian. Baik itu ke tempat-temapt di Jakarta yang belum saya kunjungi atau ke luar kota, dan ngeliat kota lain selain Jakarta. Indonesia itu luas loh, apalagi kan tahun 2008 itu Visit Indonesia Year. Nggak mau kalah dong sama yang namanya turis luar negeri. Saya pun harus bisa Visit Indonesia. Dan, semoga kalo udah sampe di kota tetangga, atau kota di seberang pulau, saya nggak cuma tidur doang di penginapan. *eheum*

Resolusi kelima: belajar nyetir. Masih dalam rangka mengurangi tidur dan mencari kesibukan dan terlepas dari buruknya dampak kendaraan pribadi terhadap global warming, saya mau belajar nyetir. Saya iri sama yang pada bisa nyetir, apalagi yang bisa nyetir dengan gaya yang sangat cool. Cuma ada satu masalahnya, saya kalo nyetir mobil sukanya berorientasi pada trotoar, dan kalau nyetir motor, sukanya mencari selokan. Yang paling saya ingat adalah belajar nyetir mobil dan motor, dan menemukan selokan yang katanya nggak ada tapi ternyata ada. “Buset! Gue tinggal di sini puluhan taon baru tau ada selokan di sini!” seru salah seorang temen saya yang mobilnya saya jadikan sarana belajar nyetir. Sejak saat itu, saya kapok. Takut merusak rumah orang, atau trotoar orang, atau masuk ke penjara karena merusak pohon di pinggir jalan, atau merusak mobil/motor latihan.

Resolusi keenam: nabung. Buat beli apa aja. Mungkin kalo bisa nyetir, ya beli kendaraan pribadi (motor keq, mobil mini keq, atau bajay mungkin). Karena mini-semacam-resolusi untuk tahun ini yaitu: “Nggak ngutang ke instansi, individu, maupun tabungan sendiri” sudah sedikit banyak berhasil, sekarang saya mau nabung.

Resolusi ketujuh: meneruskan aktivitas mengolah sampah, biar nggak cuma omong omdo doang, dan untuk menebus dosa-dosa saya kalau-kalau nanti saya berhasil bisa nyetir kendaraan pribadi.

Resolusi kedelapan: melakukan semua resolusi di atas tadi. Yang ini yang susah. Susah. Susah. Susah.

Dan sekarang saya harus meneruskan ini kepada teman-teman yang lain. Dan seperti biasa saya terlalu ciken untuk menunjuk siapa yang harus meneruskan ini. Jadi, pada sukarela aja ya. Siapa yang mau saya tag?

Thu 27th Dec, 2007, Non-sequitur

Hal-hal aneh tentang saya

Beberapa bulan (bulan kan ya?) yang lalu, Trinie ngasih pe-er untuk aku selesaikan. Tapi ternyata terbengkalai sampe hari ini, setelah diwanti-wanti berkali-kali oleh Trinie… Hehehe. Jadi merasa bersalah juga. Akhirnyalah saya ketemu waktu untuk melakukannya, dan memang sih, diniatin supaya tahun baru nanti nggak ada pe-er yang tersisa dari tahun ini. Pe-er kok ya ditunda setahun? Hihihi.

“Instructions: Each player of this game starts with 6 weird things about themselves. People who get tagged need to write a blog of their own 6 weird things as well as state the rule clearly. In the end, you need to choose 6 people to be tagged and list their names. Don’t forget to leave a comment that says you are tagged in their comments and tell them to read your blog.”

6 Hal yang aneh? Apa aja ya? Aduh bingung juga sih, aneh yang seperti apa, ya? Hehehe. Mungkin karena aku sendiri yang ngejalanin jadi nggak merasa aneh gitu. Hmm. Tapi baiklah, akan saya coba deh tulis 6 hal yang saya lakukan, yang kalo sampe ketahuan sama orang lain mereka akan bilang “Lu aneh deh.”

WAH! TAPI KALO GITU YA BANYAK! Cuma boleh pilih 6 ya?
more…

Mon 20th Aug, 2007, Daily Rants, Non-sequitur

Survey Ha-Pe

*brak!*
wah! kepala benjot. Ditimpuk Hapenya Geg Ina dan Alex. Hihhihi.. Em.. katanya disuruh mengisi survey kepemilikan hengpon, a la sensus kependudukhenponan. Hmm.. mari kita cobak satu-satu.

Menurut serinya, henpon saya namanya Nokia 6233, ini hapeku yang kedua? Eh yang ketiga deh. HP yang pertama saya dapat waktu masih kuliah dulu, dibayar melalui pinjaman dan dilunasi dengan gaji pertama kantor kuliah dan itu sudah kuhibahkan ke sahabat di kantor. HP yang kedua dibeli dengan gaji pertama kantor Jakarta, dan sekarang masih saya pakai sebagai HP cadangan. Tapi HP yang baru ini didapat karena semua sudah mengeluh kalau HP saya yang terdahulu sudah sulit dihubungi. Akhirnya dengan berbelas kasihan, aku dapat juga HP baru.

Menurut aku HP ini bagus, karena bentuknya lucu tapi nggak lucu-lucu amat (agak dewasa tapi tidak tua), dan tombol-tombolnya mudah dipencet, beda dengan HP yang terdahulu (Motorola C200) yang minta ampun kalo mau ngetik sms. Menunya mudah dan fiturnya juga banyak. Bisa gigibiru, bisa inframerah, bisa tiga-ge juga kayaknya, bisa mms juga. Yang pasti, fitur-fitur itu jarang sekali aku gunakan karena aku agak Gagal Teknologi. Suatu hari, kayaknya aku harus ikut kursus penggunaan HP. Tapi, yang pasti, HP ini sangat membantu dalam urusan per-sms-an dengan kemudahan pencetannya.

Fitur yang paling sering digunakan itu: Kalkulator (apalagi kalo belanja bulanan), Notes, dan Music Player kalo sedang bosan. Kebelakangan ini jadi rajin menggunakan fitur tustel kamera, karena sering kelupaan bawa kamera kodak (hoho).

Wallpaper yang ada di HPku tergolong produk iseng. Maksudnya, kadang-kadang nggak tentu arah dan nggak jelas alasan dibalik penggunaan itu. Wallpaper yang sekarang gambarnya langit senja di Senayan, diambil ketika aku sedang menyusuri jalanan Senayan yang penuh sesak untuk pergi kaondangan. Sebelum ini, ada foto Pira, boneka beruang kutubku yang setia. Sebelumnya lagi, kayaknya wallpaper default bawaan Nokia deh (yang gambarnya kelereng-kelereng warna hijau itu).

Mengenai nomor yang digunakan, sebenarnya ini nomor kedua saya, karena nomor pertama itu hangus karena lupa dikasih makan pulsa. Hehe. Pemilihan nomor ini juga sengaja cari yang agak bagus, supaya mudah diingat, berhubung ingatan saya tergolong lamur. Pun sudah punya nomor yang tergolong cantik tidak membantu — seringkali lupa nomor sendiri, dan akhirnya teman-teman dan kenalan pun jadi korban “salah kasih nomer”. Bahkan nTub pernah sayah kasih nomor yang salah, dan nyasar ke HP anggota keluarga yang lain. Huhuhu, maafkan yah!

Selain wallpaper yang diganti, ringtone juga berubah. Untuk telepon masuk deringnya menggunakan lagu U2-Beautiful Day, dan untuk SMS masuk, bunyinya lagu X-Ray Dog - Here Comes the King.

SMS terakhir datang dari Vendor, yang menanyakan apakah pelatihan masih dilakukan sesuai dengan jadwal.

Kalo soal spesifikasi sih, masih standar dan sama dengan yang dikeluarkan oleh pabrikan. Belom dioprek, belom dianeh-anehin, dan bodinya aja masih sesuai dengan yang keluar dari kotaknya. Oh iya, cuma memorinya aja nambah, sakingan dapet hibahan kartu microSD yang satu giga. Itu juga kok lama ya penuhnya. Ternyata satu giga itu banyuaaak!

Disimpan di manakah? HP ini tergolong benda yang kasihan. Letaknya tidak beraturan dan sering menerima miskol dari pemiliknya karena pemiliknya lupa si HP ditaro di mana. Kadang-kadang kalo lagi resik, si HP ditaro di saku HP yang ada di dalam tas (lucu juga kebanyakan tas kantorku ada saku khusus untuk HP). Kalau lagi males bawa tas, masuk di dalam celana, kalau nggak ada saku pada celana, palingan hanya dibawa di dalam tangan (untung gantungan HPku bentuknya seperti cincin, jadi bisa disangkutin di jari). Tapi seringnya mah HPnya nggak tau ada di mana.

HP aku sih diusahain nyala terus, kecuali kalo memang nggak boleh dinyalain, kayak kalo lagi naek pesawat terbang atau sematjamnya. Tapi seringnya sih dinyalain terus. Walaupun begitu, aku paling sering lupa membawa serta HPku (biasanya ditinggal di kamar, terus aku seharian ngendon di rumah tetangga atau di ruang tamu, atau pergi ke mana, tapi HPnya ditinggal), jadi yang namanya miskol biasanya banyak dan SMS kadang-kadang banyak juga. Atau kadang-kadang kalau batrenya sudah habis dan kebetulan aku lagi males, bisa lama banget itu HP didiemin mati. Kayaknya, sayah harus lebih rajin lagi dalam urusan perteleponan ini.

Ngomong-ngomong, batere biasanya habis dua hari sekali. Rekor terlama tidak harus mencoblos batre sejak pencoblosan terakhir adalah satu minggu, dan rekor terpendek adalah 14 jam. Hehehe.. HP yang aneh.

Nah… selesai sudah kayaknya sensus perteleponan. Sekarang, sebagai warga yang baik saya akan menimpuk: Connie, Isyana, Trinie, dan Herry.
*timpuk*

Mon 6th Aug, 2007, Non-sequitur

Pertanyaan IPA

Teman saya punya anak lucu sekali, dan saya senang sekali ibunya tipe ibu yang senang berbagi cerita tentang kejahilan anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Kapan hari dia menceritakan kembali apa yang diceritakan oleh wali kelas anaknya tentang anaknya dan pelajaran ilmu pengetahuan alam.

Alkisah (ciyeh, kayak lagi ndongeng), ibu guru sedang membahas bagaimana para ilmuwan di jaman jadoel doeloe bisa mengambil kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bukannya datar dan ditopang oleh kura-kura besar. Dan karena bumi bulat, tentu saja tidak ada “ujung dunia” seperti yang ditonton oleh anak-anak di filem Bajak Samudra Laut Karibia (wah gaul juga gurunya).

Tapi tentu saja di kelas harus selalu ada anak yang bertanya di luar kemampuan ilmu pengetahuan pada umumnya, “Bu guru! Kenapa bumi itu bulat?”

Sebelum bu guru menjawab, anak temanku nyeletuk duluan, “Kalau tidak bulat, bukan bumi saya!”

Thu 26th Jul, 2007, Daily Rants, Non-sequitur

Patung-Patung Jakarta

Ada berapa patung di Jakarta? Dan apa saja namanya? Terus terang, aku juga nggak gitu bisa apal nama-nama patung (maupun orang, maupun nama jalan, maupun apa saja). Tapi kira-kira tau sih ada patung apa di mana.

Beberapa waktu lalu temenku datang dari Surabaya dan kami janjian mau ketemuan di sekitar Senen selepas jam kantor. “Eh, aku nunggu di depan patung ya?” katanya yang sudah dari pagi ngiter-ngiter di daerah sana.

“Depan patung yang mana, jeng?” aku tanya.

“Yang di depan sini lah.. Aduhh.. nama patungnya apa ya? Yang rame-rame itu lah.”

“Patung yang mana?” aku masih nggak jelas tapi kayaknya udah agak kebayang.

“Patung yang kayak orang demo kerusuhan itu.”

Sampe hari ini aku masih belom tau itu patung namanya apa. Tapi kalo menurut ini sih namanya Monumen Perjuangan.

Keesokannya, kami berjanji untuk ketemuan lagi setelah jam kantor. Jadilah hari itu dia menjelajahi ibu kota berbaswei berbekal peta rute transjakarta. Lumayan juga kan, katanya, asal jeli untuk tidak turun di terminal terakhir… bayar tiga rebu lima ratus rupiah bisa keliling kota.

Sepulang kantor, saya dan kawan yang lain meneleponnya, “Ada di mana kamu? Biar kita bisa nyusul ke sana.”

“Nggak tau nih. Baru aja turun ke halte.”

“Nama haltenya apa?” tanyaku.

“Ga jelas juga. Ketutupan nih. Tapi yang pasti di depan aku ada bunderan terus ada patung suami istri.”

Pokoknya selama di Jakarta, dia dengan bersenang hati mengubah semua nama patung yang dia lihat, sesuai dengan “kepercayaan masing-masing,” katanya. Patung Pemuda Senayan (atau Patung Pemuda Membangun, yang ada di Bundaran Senayan) jadi Patung Orang Ngangkat Wajan (atau Patung Master Chef, kalo bahasa londonya). Patung Pahlawan (yang sering disalahartikan sebagai Patung Tani oleh banyak orang) jadi Patung Pak Tani dan Keluarga. Patung Pembebasan Irian Barat yang di Lapangan Banteng jadi Patung Bangun Tidur. Patung Dirgantara yang di Pancoran, Jakarta Selatan (si 7-up atau si “itu rumah saya”) jadi Patung Superman Indonesia. Patung Arjuna Wijaya di Jalan Medan Merdeka Barat disebutnya sebagai Patung Kuda Setan.

Tapi, ternyata nggak cuma temanku saja yang ‘asal’ ngasih nama. Sore itu, ketika kami bertiga akhirnya bertualang naik bis transjakarta di sore hari, seorang anak berkata pada ibunya sambil mengacungkan jarinya pada Patung Sudirman. “Ma, om-nya kenapa? Lagi dihukum ya?”

Sedangkan ibunya cuma berkata, “Iya. Makanya kalo kamu nakal kamu akan dihukum seperti itu juga. Nanti disuruh hormat yang lama, sampe kamu jadi batu.” Anak itu, yang tadinya terus menerus mengeliat-geliat di bangkunya, yang tidak bisa diam, langsung tertegun dan ‘duduk manis’.

Entah baik atau tidak si Ibu tidak menjelaskan siapa Jendral Sudirman itu (yang tentu saja bukan anak nakal). Tapi itu adalah pembahasan untuk kali lain, mungkin.

Duh jadi ingat dulu kalau bercanda dalam barisan ketika upacara hari senin hukumannya pasti hormat bendera selama… ya sesuka gurunya.

Catatan: untuk daftar beberapa patung yang ada di Jakarta, klik di sini.

Mon 21st May, 2007, Non-sequitur

Kualitas Bangkok

Sepanjang minggu kemarin, dan minggu ini, kayaknya… salah satu supermarket besar (megamarket? pasar swalayan besar?) di dekat rumah sedang mengobral duren bangkok (duren monthong), harganya 7,000an per kilo. Dan sepertinya pembeliannya tidak dibatasi. Ada yang belinya segerobak dorong, ada yang belinya dua gerobak, ada juga yang kalap sampai lupa membeli. Kata salah satu ibu yang mengantri di kasir, duren monthong lebih enak daripada duren lokal karena bla bla bla [silakan masukkan promosi hasil karya negara lain di sini].

Teman saya ada yang baru saja pergi ke Thailand untuk urusan pekerjaan. Ia pergi bersama istrinya yang pergi ke sana untuk urusan pendidikan (klop lah jadinya, nggak perlu long-distant-long-distantan gitu. Sengaja mereka pergi di akhir pekan, jadi mereka sempat berberes rumah kontrakan dan menikmati hal-hal perturisan di sana.

“Hr ke1. Sampai, lgsg taro koper & b’buru duren,” begitu kira-kira isi SMS yang dikirimkan.

“Hr ke2. Ntn kabaret waria. Kualitet waria sini beda sm yg di Indo ya?” SMS pun datang keesokannya. Durennya aja bagus banget, apalagi warianya?

Selang beberapa menit, datang SMS dari istrinya, “Gw iri berat nih. Kalah bahenol. Ah, segera menghibur diri dengan manisan khas Thailand.”

Tapi, sampai hari ini saya belum tau manisan khas Thailand itu seperti apa. Semoga ketika mereka pulang ke Indonesia nanti, mereka mengoleh-olehkan manisan itu untuk saya. *AMIN*

Fri 27th Apr, 2007, Daily Rants, Non-sequitur

Cold Calling: Kredit Tanpa Agunan

Cold Calling atau telepon di dalam kulkas itu terkadang bisa membantu, tapi lebih sering membuat geram. Beberapa minggu terakhir ini saya sering ditelepon oleh berbagai macam agen penyedia kredit tanpa agunan (KTA, tapi sebenernya biasanya minimal “nyetor” motor) dari berbagai perusahaan dan sebagainya.

Belom ngutang aja udah diteleponin terus tiap hari, apalagi kalo udah ngutang yak?

Berikut ini percakapan teman saya yang saya tiru setiap ditelepon oleh agen kredit ini.

“Saya nggak ingin KTA, saya maunya KTB.”

“KTB? Apakah itu?” tanya sang agen.

“Kredit tanpa Bayar,” jawab temanku sambil mengetik sesuatu di layar chatting.

“Ya, mana ada atuh,” sang agen berkata sambil tertawa canggung.

“Ya udah, KTB yang satu lagi aja. Kredit tanpa Bunga.”

“Duh, si Mbak ada-ada saja. Mana ada bank atau perusahaan kredit yang ngasih kredit ga pake bunga?”

“Siapa bilang? Buktinya saya dapet kok kredit tanpa bunga.”

“Ah, yang bener? Saya sudah malang melintang di dunia ini belum pernah dengar. Bank mana yang seperti itu? ”

“Bank Ayah Bunda.”

“Wah! Ya itu mah curang dong,” sang agen merasa bahwa kekalahan sudah di depan mata.

“Nah, sekarang Mbak bisa nggak nawarin yang sama, tanpa bunga?” sedangkan teman saya sudah bisa mencium wanginya rendang untuk makan siang.

“Ya, kalo begitu mah, no contest, dong?”

“Ya iya memang begitu. Makasih ya Mbak, sudah mau menelepon dan menawari kredit, dan nemenin saya ngobrol. Selamat siang.”

“Oh, iya. Selamat siang juga.”

Thu 5th Apr, 2007, Non-sequitur

Emak-emak Posmoderen Menghukum Anak

Dulu aku sering dihukum emak. Hukumannya standar lah: dikunciin di WC, dipukul, dicabein, atau disuruh berdiri di pojokan. Adikku juga. Ya, namanya juga anak-anak ya?

Sekarang ini kekerasan terhadap anak itu bukan hal yang lumrah dan boleh lagi. Jadilah orang tua dan para psikolog mencari cara untuk “menjatuhkan hukuman” yang agak lebih manusiawi sedikit. Berdiri di pojokan sih masih banyak diterapkan kayaknya, duduk di tengah ruangan sambil mingkem selama sejam atau lebih juga masih.

Atau seperti temenku. Kalau anaknya nakal dan harus dihukum, hukumannya adalah mengiringi emaknya masak dengan membaca berita di koran keras-keras. Maklumlah emaknya kan salah satu anggota golongan ibu-ibu bekerja (working mother, kerennya), dan jarang punya kesempatan untuk baca koran atau nonton siaran berita. Pulang dari kantor biasanya sudah harus mempersiapkan makan malam yang harus empat sehat lima sempurna.

Kemarin, ia cerita tentang anaknya yang baru sembuh dari sakit. Aku cuma bisa ketawa terpingkal-pingkal ketika temenku bercerita sambil menirukan suara anaknya.

“Kamu itu! Udah dibilangin, nggak boleh main bola dulu, eh… masih-masih aja,” omel sang emak.

“Maap deh, ma…” kata anaknya dengan tampang nggak bersalah.

“Maap, maap. Pokoknya kamu harus mama hukum!”

Sang emak mengambil koran, mendudukan anaknya di kursi di pojokan dapur, dan menyuruh anaknya membacakan isi berita yang ia tunjuk. “Baca yang ini, yang ini sama yang ini. Yang kenceng. Mama mau masak dulu.”

“Ya mama. Males ahhhh…. Aku kan ga suka baca koran.”

“Siapa yang suruh suka?” Tanya emaknya sambil memakai celemek. “Namanya juga hukuman. Kamu nggak perlu suka. Cuma perlu ngejalanin aja.”

“Nyalain teve aja deeeeh. Di MetroTV juga banyak berita.”

“Buat apa teve kalo ada adek… Iya ga? Udah ayo cepet dibaca.”

“Ya mamaaaaaa. Tau nggak sih maaaa.. Di sekolah, cuma aku doang yang hukumannya baca koran, tau nggak ma? Kenapa sih nggak disetrap aja, atau dipukul aja siiiih. Ini tuh menderita banget, tau nggak sih mamaaaaaaaa.”

“Emangnya enak mukul orang. Tangan mama juga sakit tau, kalo dipake buat mukul. Hukum fisika kan? Hukumnya siapa hayo?” Sang emak bertanya sambil memasak.

“Meneketeheeeee.”

“Hukumnya Om Newton yang ketiga, tau? Kalo ada tindakan selalu ada balasan yang setimpal. Udah sana baca beritanya. Ntar mama keburu selesai masak.”

“Itu bukannya Hukumnya Tuhan, ma?”

“Baca nggak?”

“Iya… baca… baca… Sebel. Hukuman kok aneh begini.”

Dan membacalah sang anak, sambil setengah ngedumel dan tidak senang.

Tue 20th Feb, 2007, Non-sequitur

Imlek: Mengapa Pertikaian Ortu…

… tidak boleh dilakukan di depan anak-anak? Atau paling tidak, tidak boleh menjelek-jelekkan pasangan di depan anak? Ini cerita temanku (Teman yang sama dengan yang diceritakan di posting sebelum ini).

Jadi, setelah berlelah-lelah keliling dari satu rumah keluarga ke rumah keluarga lain, sang ibu bersama suami dan anaknya pulang ke rumah. Setibanya di rumah, anaknya langsung menuntut ibunya mengeluarkan semua angpao yang dititipkan: “Mama… Angpao kakak manaaa? Keluarin semuanya! Hitung!”

Walaupun lelah dan letih, sang ibu mengajak anaknya duduk di ruang tamu dan mengeluarkan semua angpao milik anaknya dari dalam tasnya.

“Ini semuanya, Ma?”

“Iya, semuanya. Ayo di’itung bareng-bareng.”

“Beneran nih, Ma? Udah semuanya?” Tanya anaknya dengan tak yakin.

“Bener lah… masa’ Mama bohong sih?” Sang ibu pun merasa harus membela diri.

“Bener ya, Ma, yaaaa.. Mama nggak nilep kan?”

“Loh! Kamu ngga boleh ngomong begitu! Mama nggak pernah nilep!”

“Bohong! Kata Papa, Mama sering nilep duit dari dompet Papa!”

Tue 20th Feb, 2007, Non-sequitur

Imlek: Anak Melek Uang

Temanku punya anak yang berumur (hampir) empat tahun. Kalau soal perduitan… dia jagoan sekali.

“Tante,”kata anak itu pada tantenya. “Tante belom ngasih aku angpao loh…”

“Tante kan belum menikah,” kata tantenya. Lagipula, sang tante sudah membelikan baju dan sepatu baru untuk keponakannya ini.

“Yah… tante…”

“Ya udah deh… ini, tante kasih.” Sang tante memasukkan uang seadanya ke dalam amplop merah.

Anak itu langsung menghampiri ibunya sambil membuka angpao. Angpao yang sudah sobek-sobek dan uang disodorkan pada ibunya. “Mama! Mama! Ini berapa?”

“Ini dua lembar uang seribuan… Jadi ada dua ribu.”

Sang anak merengut dan pergi mencari tantenya. “Tante! Tante! Masa’ tante cuma ngasih dua ribu sih? Tukang parkir aja kadang-kadang nggak mau! Tante mah payah!”

Sun 4th Feb, 2007, Non-sequitur

Warna Angin

“… Jadi, kesimpulannya… Angin itu tidak dapat dilihat dan disentuh,” kata teman sekantorku, merangkum pelajaran tentang sifat-sifat angin.

“Jadi, angin itu transparan ya, ma?” tanya anak perempuannya.

“Iya. Angin itu tidak berwarna.”

“Adek jangan mau dong dibohongi sama mama! Angin itu berwarna kok!” timbal kakak laki-lakinya.

“Aduh, Kakak jangan ngajarin yang nggak-nggak ke adikmu dong…” kata emaknya.

“Eh, beneran tauk! Angin itu warnanya merah!”

“Merah, kak?”

“Coba aja kalo ga percaya. Kalo masuk angin, terus dikerok, terus keluarnya kan… warna merah!” sahut sang kakak bangga.