Sun 9th May, 2010, Foodstuff, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-4

NENEK

Dari dua nenek dan dua kakek yang kupunya, sekarang tinggal satu, ibu dari ibu saya. Kedua kakek dan nenek yang satu lagi (ibu dari ayah saya) sudah lebih dahulu berpulang, dulu dulu sekali, sampai kadang-kadang saya juga sudah lupa banyak sekali tentang mereka.

Walaupun masih banyak sesepuh seangkatan nenek di keluarga besar, tentu beda deh sama nenek beneran.

Rumah nenek nggak jauh dari rumahku, cuma beda gang malah. Tapi walau dekat begitu, paling dalam seminggu cuma sekali dua kali yang ketemu tatap muka yang cukup lama. Sisanya cuma sekadar lambaian tangan ketika saya melintasi rumahnya dalam perjalanan pulang dari kantor (yang juga dekat rumah, nyata kan mengapa saya cepat malas ngurus foursquare).

Bahkan kayaknya, belakangan ini, total jam yang saya habiskan bertemu teman lebih banyak daripada total jam yang saya habiskan untuk bercakap-cakap dengan nenek.

Itu juga karena setiap hari minggu nenek hampir pasti mampir lewat rumah mengantarkan nasi tim dan pastel, kalau nggak mampir, mungkin juga nggak setiap minggu ketemu.

Ibuku selalu berusaha untuk mendekatkan anak-anaknya ke nenek, mengajak semuanya untuk sering-sering ketemu nenek, entah ngajak nenek jalan-jalan keliling kota, atau sekadar duduk-duduk di meja makan sambil menikmati kudapan.

Nenek lahir di penghujung perang kemerdekaan, jadi tidak bisa banyak cerita tentang perang itu sendiri, melainkan menceritakan ulang apa yang ia dengar dari ayah dan ibunya. Kadang-kadang ia bercerita tentang tahun 60an, sukanya dan dukanya, terutama ketika lagi hebohnya gerakan anti-komunisme, dan imbasnya terhadap dia dan keluarga, terutama saudari-saudarinya.

Menurutnya, kehidupannya adalah kehidupan yang masuk dalam kategori ‘biasa’. Tidak terlalu wah, tidak terlalu penuh skandal, atau sampai layak dijadikan filem Takada Akar Ram Punjadi. Tidak terlalu miskin, juga tidak kaya sekali. Tidak susah sekali, tapi juga tidak bisa dibilang nyaman.

Tapi cerita tetap cerita, kehidupan tetap kehidupan. Sejarah orang biasa pun cerita yang menarik dan bisa digali kebijaksanaanya. Saya sendiri menganggap cerita-ceritanya selalu menarik, mungkin karena cara ia menceritakannya.

Atau kadang-kadang kami bernostalgia. Saya ingat ketika dulu saya belajar bahasa sunda dan jawa dari nenek, bukan sunda lemes atau jawa halus, tapi paling tidak berguna untuk percakapan sehari-hari.

“Nenek kamu tinggal satu lho!” Ibuku sering mengingatkan, apabila ketika saya sedang kumat napsu tidur seharian penuh pada hari minggu dan menolak diajak berkunjung ke rumah nenek.

Dan terus terang, saya juga berharap nenek akan terus bisa bersama dengan kami. *hugs nenek* *sambil makan pastel*

Sun 19th Aug, 2007, Daily Rants, Foodstuff, Datelines

20 jam di Semarang

Terima kasih untuk Didik dan kawan-kawan kampoeng gajah yang sudah banyak membantu saya sehingga bisa tiba dan menikmati Semarang walau hanya sebentar.

Akhirnya aku berangkat sama nyokap ke Semarang, biar nyokap bisa refreshing juga setelah sembuh dari bedrest. Pesawat sempet terdelay karena ganti ban dulu. Huh! Eh ga sempet nanya juga bannya nTubless atau Blubless.

Jam 13.30, tiba di bandara Ahmad Husni eh Ahmad Yani. Langsung telepon mBlub. Sempet pangling, ternyata yang njawab adiknya Blub. Hehehe :”> malu juga. Maapkan saya tublub karena saya tidak bisa datang menghadiri akad nikahnya. Semoga Tublub langgeng dan bahagia selalu sebagai keluarga yah.

Setelah ngantri bagasi dan menunggu giliran numpak taksi, jam 14.00 kami tiba di penginepan, ketemu sama keluarga pengantin pria yang juga nginep di sana (pas waktu itu belon tau kalo itu keluarga penganten pria tapinya).

Ternyata di Semarang panas banget ya! Setelah ngadem setengah jam di ruangan berAC, rame-rame keluar wisata kuliner Jalan Pemuda, sambil survey ntar nikahnya di mana. Ternyata antara penginepan dan tempat nikahan nggak terlalu jauh, cuma 3 perempatan sahajah.

Wisata Makan-makan
Wisata gastronomi berawal di Istana Wedang, Jalan Pemuda nomer 121 sekian. Makanan yang enak sebenernya ya Wedangnya. Walau porsinya kecil. Galantinnya lumayan, Nasi Langginya boljug lah. Wedangnya kurang panas (cuma hanget-hanget gitu tapi nendang jugak). Di sini juga nyobain yang namanya Kerupuk Seafood Bakar. Murah meriah dan enak. Rasanya mengingatkan pada Krupuk Kemplang, tapi Krupuk Bakar ini tidak sekeras Kemplang yang biasanya menantang gigi untuk tidak tanggal.

Dari situ, pengen makan Bakmi Jawa tapi belom buka benar tokonya, jadi jalan dulu ke Sri Ratu Convention Hall yang ternyata terletak di lantai 7 Sri Ratu Dep Store. Walah! Dan ternyata jam nikahan lift tidak berfungsi! Harus naik eskalator! jadilah tamu-tamu dan undangan itu naik eskalator satu per satu numpak eskalator — cantik-cantik, ganteng-ganteng, dan wangi-wangi diliatin semua pengunjung dep store. Tapi itu cerita untuk nanti.

Setelah tiba di Sri Ratu Dep Store kira-kira pukul 16.00, kiter-kiter dari bawah sampai atas sampai bawah lagi akhirnya mandeg di swalayannya. Beli manisan mangga merek Boneka yang enak tapi mahal, beli Telur Asin Bakar Elmata yang ternyata enak juga. Rasanya legit-legit dan tidak terlalu menyengat. Dan diakhiri dengan beli Baskin Robins yang lagi diskon 50%.

Dari sana nyebrang ke Jalan (Gang) Grajen, untuk nyobain Lumpia Mbak Lien yang enak juga ternyata. Gangnya agak sepi (tapi emang hari itu jalanan lagi pada sepi mungkin karena lagi banyak pesta dan lomba rakyat gitu). Enak sih, tapi harganya juga mahal euy. Rp 7000 buat satu lumpia lengkap dengan yang lain-lainnya. Saosnya enak, isinya garing-garing enak. Oh iya, mereka juga terima pesan antar loh!

Dari sana, balik ke arah penginapan mampir dulu di Toko Oen dan Toko Kaning yang spesialis es krim dan cokelat. Tapi di sana hanya melongok-melongok saja tidak makan, tapi berjanji bakal ke sana lagi. Kata Didik, Toko Oen itu masakannya semuanya home made.

Akhirnya malah nyangkut di Bakmi Jawa Condong Raos Pak Doel Noemani yang ada di Jalan Pemuda (deket Depdiknas? kantor apanya gitu). Ternyata di sana enak juga makanannya. Bihun Gorengnya kering (nggak basah dengan minyak goreng, padahal biasanya mi tek-tek gitu minyaknya buju gile buju buneng).

Pagi-paginya minum jamoe di Novotel Jalan Pemuda, dan jamunya enak banget, kental dan rasanya nggak kayak kebanyakan jamu gendong yang di Jakarta. Kayaknya kalo jamu yang di Jakarta rada beda racikannya mungkin. Hihihi.

Kota Lumpia, Stempel, dan Jakarta
Sepanjang Jalan Pemuda banyak pembuat stempel dan plat mobil, mungkin sekitar 100 meter sekali ketemu dengan para pembuat stempel ini. Didik kirim SMS bilang: “Selamat Datang di Kota Lumpia”, ah tapi kalo di Jalan Pemuda kok serasa ada di Kota Stempel ya?

Selama menyusuri jalan itu, sesaat dua saat merasa nostalgia banget. Pikir punya pikir ternyata Jalan Pemuda, Semarang itu mirip banget atmosfirnya dengan Pintu Air-Pasar Baru di Jakarta. Dengan ruko-ruko dan gedung-gedung agak tua yang berbaris di sisi kiri kanan jalan. Hanya saja, kalau di Jakarta yang ngetem dan berlalulalang itu kebanyakan bajay, sedangkan kalo di Semarang yang ngetem dan lewat-lewat itu becak.

Tiba-tiba juga syuuut dua becak dengan muatan lamtoro yang menggunung lewat di depan mata, selap-selip di antara kendaraan bermotor yang lewat. Wah! Sudah lama tidak melihat pemandangan yang seperti itu. Kalo di Jakarta ya sulit, ya?

Nuansa rindu-Jakarta selain Jalan Pemuda dirasa juga di Jalan Mgr Sugiopranoto, Semarang. Dari namanya aja udah mirip, mirip dengan Jalan Sukarjo Wiryopranoto, Sawah Besar, Jakarta. Bengkel demi bengkel berbaris-baris di pinggir jalan, seperti tukang onderdil dan bengkel di Big Rice Field.

Sayang aku cuma bisa meluangkan 20 jam waktu di sana, dan 6 jam di antaranya digunakan untuk molor. Kalau saja punya banyak waktu luang, pingin banget menjelajahi kota stempel… eh kota lumpia ini. Baik itu wisata kuliner maupun mungkin suatu hari nanti bisa ikut napak tilas Jalur Daendels membelah bumi Jawa.

Katanya daerah Kota Tua Semarang itu indah juga.

Sun 11th Mar, 2007, Foodstuff, Health

Teh Hijau sebagai Obat Luar: Jangan Ditelan

Temenku demen banget sama yang namanya teh hijau, mulai dari teh hijau sebagai minuman, hingga teh hijau sebagai pelicin kulit. Kalau pernah ke rumah dia, pasti baru masuk pun sudah akan disambut dengan wangi teh hijau yang digunakan sebagai pengharum ruangan. Lalu, bukalah kulkasnya, pasti ada minuman teh hijau dan es krim teh hijau (katanya sih bikin sendiri). Di kamar mandi pun, teh hijau ada di mana-mana. Dari sabun cuci muka, sabun dan scrub, hingga obat penangkal jerawat yang dioleskan. Teh hijau kabeh.

Gara-gara dia pula aku jadi mulai doyan yang namanya teh hijau. Entah itu yang dimakan (aku doyan banget yang namanya es krim teh hijau bikinan Haagen Daz), atau buat muka (aku dapet spot wand, obat oles untuk jerawat yang bahan dasarnya adalah teh hijau, walau rada aneh baunya. Tapi ampuh… jerawat cepet “mateng”).

Tapi ini ada dua resep penggunaan teh hijau yang aku baru tau.

Teh hijau pengusir jamur kaki
35gram matcha (bubuk teh hijau); 15gram baking soda (soda kue); 15gram tepung maizena, dan 8 tetes lavender essential oil (buat wanginya).

Semua bahan di atas dicampur rata (dan jangan dimakan, soalnya essential oil kadang-kadang nggak cocok untuk dimakan dan kadang-kadang bisa bikin alergi. Taburkan sedikit di atas jari-jari kaki, sebelum memakai sepatu, kalau mau berpergian. Jangan dipake semua tentunya. Sisanya, disimpen di dalem peles untuk dipake kapan-kapan. Katanya sih ampuh.

Matcha Mayonnaise bikin muka berbinar-binar
240ml mayones, dan 1/8 sendok teh matcha

Semua bahan di atas dicampur rata (kalo dimakan rasanya aneh kali ya? Ga berani nyoba ah). Terus dipakein ke muka (awas jangan sampe kena mata, hmm hmm). Tinggalin di muka selama 20 menit (jangan iseng, jangan dipegang-pegang, dan jangan seliweran di luar rumah, nanti dikira hantu). Setelah 20 menit, basuh pake air (jangan panas, jangan aer es juga). Basuh sampe bersih dan tidak tersisa.

Kalau dipake siang hari, habis muka dibasuh dan diseka dengan handuk, pakai pelembab, biar mukanya nggak kering. Kalau dipake malem hari menjelang bobo, ga usah pake pelembab juga nggak apa-apa, soalnya muka kita suka rajin bikin pelembab kalo malem.

Dari: Femina edisi 07/XXXV.
Komentar-komentar miring: dari temanku, sang maniak teh hijau.

Thu 27th Jul, 2006, Daily Rants, Foodstuff

Berkebun

Ada pohon belimbing di rumahku. Pohonnya ditanam di halaman belakang dan disirami dengan rajin. Kadang-kadang dipupuki, tapi seringnya dipipisi oleh adik saya. Pipis itu adalah pengganti pupuk yang baik dan bebas pestisida, karena air kencing itu mengandung urea. Kata nyokap, karena sering dipipisi, pohon belimbing pun tumbuh subur dan menghasilkan buah belimbing yang besar-besar, ranum-ranum, dan manis-manis. Tapi, karena adik terlalu sering ngompolin pohon itu, lama-kelamaan udara sekitar pohon jadi bau pesing. Jadi ya nggak boleh sering-sering. Terlalu banyak pupuk juga nggak baik untuk pertumbuhan pohon. Ya anggep aja kalo seseorang diberikan makanan dan minuman yang berlebihan… kan nggak sehat, tuh.

more…

Sun 26th Mar, 2006, Daily Rants, Foodstuff

Sakit kepala dan Soto Ayam Ambengan

Abis ngebaca email dari temenku dan ngetik catatan tentang email itu, kepala kok jadi sakit ya? Akhirnya luluh juga diajak bunda untuk nyari makan di luar. Sebenernya, Bunda ya masih lemah gitu badannya, tapi maksa juga berburu Soto Ambengan. “Ngidam banget nih sama yang asem dan pedes, yang seger-seger.” Akhirnya nggak cuma Soto Ambengan aja yang diborong (Bunda makan 2 porsi!), tapi juga rujak bebeg dan rujak lain. Duh, jangan-jangan nanti mules lagi. Pake titip pesen: “Jangan bilang-bilang ke siapa-siapa ya, kan sebenernya belom boleh yang pedes-pedes”. Haduuuuh, abis makan kok baru bilang. Ntar kalo si babe sampe ngomel… aku pokoknya ga ikutan. Nggak ikutan. Nggak. Emoh!

Soto Ayam Ambengan Pak Sadi, tepatnya di ujung Jalan Juanda, hampir bersebelahan dengan rel kereta api. Enak juga, rasanya agak-agak medok, asemnya enak dan isinya lumayan penuh. Katanya sih cabang dari Surabaya, dan di Surabaya udah terkenal enaknya. Bener nggak sih? Seporsinya lumayan mahal (kalo dibandingin sama yang dijual di gerobak-gerobak). Rp 15,000.00an seporsi. Ya, pantes aja enak lah. Kalo harga segitu masih nggak enak juga siiiih…. (kepriben?) Boleh juga sekali-kali makan ke sana, tapi kalo keseringan ya dobrak juga.

(ada ralat harga)

Thu 16th Feb, 2006, Daily Rants, Foodstuff

Sekali lagi, BUKAN

Saya tidak membenci orang yang berterus terang bahwa dirinya memang tidak ahli (tidak tau, tidak mengerti). Yah, karena kalau tidak tau, bisa diberi tau, diajari, diberi penjelasan (supaya mengerti). Yang aku paling nggak suka itu adalah orang yang gayanya sok tau padahal nggak tau apa-apa.

Contoh kasus: tadi ada alat (yang baru dipasang) berlaku abnormal. Usernya langsung menyalahkan trafonya. Sambil setengah menuduh dia bilang: “Gimana sih! Trafonya dikasih yang bener dong! Pasti dayanya nggak kuat! Pasti baterainya sudah lemes!”

Seperti kata orang-orang: “plis deh ih!” Trafo, alias Stavol, alias Stabiliser bukan (dan tidak sama dengan) UPS! Ini saya sudah bilang berapa kali? (lihat catatan harian beberapa hari yang lalu). Lalu, dia mulai menyalahkan kenapa kami tidak memberi dia UPS. UPS itu harganya mahal! Itu aja stabilisernya sudah dikasih gratis! 20KVA?! Mau jual rumah dulu apa baru bisa kebeli UPS? Dasar! Setelah diusut, ternyata masalah bukan pada trafonya. **benci!**

Oh iya, tadi diberi sekotak gula-gula (?) oleh teman. Katanya aseli Perancis, dari Aix-en-Provence tepatnya.

Calissons d'Aix

Ada banyak tulisan di belakangnya. Mungkin cerita tentang makanan itu ya? Macchi tau kan artinya (berharap diterjemahkan, karena Babelfish tidak membantu!)

Le Calisson, d’Aix est une tender gourmandise mariant la saveur des melons mûris et confits sous le soleil de Provence, aux ėcorces d’oranges confites et aux amandes finement broyėes. L’ensemble, moelleux et fondant, es harmonieusement dressė sur un lit de pain azyme, sous une fine glace royale.

Une lėgende raconte que le Calisson d’Aix serait nė des amours d’un patissier pour sa Reine. Il est maintenant un savoureux plaisir que l’on aime faire partager.

Sebenernya… Rasanya sama sekali tidak begitu… terasa. Menurut informasi di kotaknya makanan ini mengandung ekstrak melon dan kulit jeruk. Tapi… seperti kata sang ayah dan ibu yang turut mencoba: “melon nggak berasa melon, jeruk nggak berasa jeruk”.

Sat 4th Feb, 2006, Daily Rants, Foodstuff, Education

Buat anak kok coba-coba.

Hmph. Yak, bagian satu sudah selesai. Masih berlanjut dari upaya menerjemahkan makalah (fiksi)ilmiah peninggalan jaman pencarian ilmu dulu… ah, sekarang malah jadi sakit kepala. Inti pertanyaan: manakah yang paling baik, pendidikan yang menganut faham posmoderen atau pendidikan yang tidak (faham moderen, tradisional, tidak berfaham, komunis, dan sebagainya)? Kalau sekedar teori sih gampang. Bagian pertama tinggal merangkum apa yang pernah dicuap-cuapkan oleh Vygotsky, Piaget, dan kawan-kawan seperjuangan; tinggal nguprek-nguprek buku Gramsci dan Spivak; tinggal masuk-masukin kata-kata ajaib yang sarat makna.

Bagian satu titik nol dua juga gampang; tinggal membahas visi/misi pendidikan secara teori, tinggal membahas soal penggunaan teknologi pembelajaran yang sampai sekarang masih belum ada ketentuan jelasnya, dan tinggal membahas soal perkembangan moral dan spiritual anak di tengah gelombang globalisasi. Semua teori, semua relatif, semua… safe-safe saja (seperti kata pepatah).

Bagian kedua, harus mengganti (atau menambahkan) yang sudah ada: sistem pendidikan di Inggris Raya vs. sistem pendidikan di Indonesia. Kalau saja bisa dipukul rata seperti itu. Di Inggris saja sudah susah menjelaskan soal desentralisasi pendidikan (lebih menekan jiwa daripada sistem negara bagian di Amerika Serikat). Belum lagi sistem pendidikan di Indonesia yang sepertinya jelas tetapi sebenarnya gamang.

Masih inget ‘kan dengan jaman sekolah dulu. Satu sekolahan sepakat doa bersama menjelang pemilihan Mendikbud (atau Mendiknas sekarang) supaya si Menteri tidak diganti oleh orang lain. Paling tidak, jenis kurikulum tidak usah berubah lima tahun sekali. Buat anak kok coba-coba!

Nungging di Resto Padang: Sari Bundo
Makanan Padang bisa bikin orang lupa akan masalahnya. Salah satu tempat tujuan adalah Resto Sari Bundo di Juanda. Tapi, kok ada yang beda dengan rasa masakannya?

Usut punya usut, Resto SB sudah berubah dalam arti yang sebenarnya! Katanya ada skandal internal yang membuat Resto Sari Bundo berubah! Sekarang para pegawai dapur Resto Sari Bundo pindah ke selentingannya, yaitu Resto Sari Bundo “SATI”. Yang di SB awal itu sudah pegawai baru semua. (Beneran nggak sih nih? Tapi, sumber sepertinya bisa dipercaya).

Restoran Sari Bundo “SATI” juga terletak di Jalan Juanda, tapi lebih ke sono lagi. Di ruko ujung dekat rel kereta. Jaraknya juga berdekatan dengan Sate Asli Pak siapa gitu (yang katanya juga enak banget). Aku dah pernah coba nih sate, tapi namanya lupa.

Mon 9th Jan, 2006, Daily Rants, Foodstuff

If one Monday should fall

Today is what some (or most, or whatever nominals you’d prefer) Indonesians call “Harpitnas” (short form for Hari Kejepit Nasional, or the National ‘In-the-Middle’ Day): A workday squashed in between two holidays (Sunday and Eid’l Adha). It isn’t exactly Bank Holiday Monday, but it can almost be like it if work gives you a day off. But they don’t. January is often the months of many holidays, and companies are loathe to give more reasons for employees to be happy.

But, sometimes there’s just nothing to do between mid-morning every-ordinary-Monday hecticness, filing (double ugh!), and…. playing Halma with fellow colleagues. So, we crossed the road and got ourselves some DIY magic kit. Pay ten-thousand rupiahs (roughly a dollar) and get two tricks: the pencil-through-paper trick, and the ring-through-chain trick. Now, the trick is to find a sufficient window of office time to practice our magic trick.

On another bend, yesterday wasn’t as lazy as I thought it would be. There were weddings to attend and people’s hands to shake. Obviously occasions such as those were excuses to dress up, play nice, and zero in on food not normally consumed outside festivities.

Sometimes, though, I wonder why I should bother dressing up nicely (or too nicely) at all. Unlike all day receptions in most western countries, most wedding receptions ever held in this city last no more than three hours, and guests spend no more than an hour in most. There are still places where they held receptions for days, obviously, but not in a big, sprawling metropolitan cities where monies for building hire can easily support a small country or two.

If one Monday should fall…. it should fall with good food and good company

Had dinner at Yuraku, a Japanese-style buffet restaurant. It served good food, with a decent selection of dishes (from dimsum and sushi, to teppanyaki, to the porridge, to all those boiled stuff and… stuff). Some of the drinks came with free refills, too. Unfortunately the restaurant wasn’t for the visually-challenged, with its dim lighting and cramped space. Mum complained about there being not enough staff to cater for the sell-out crowd, but any more staff (or customers) and nobody’d be able to move anywhere. A golden rule would need to be put into order: “Don’t wait up for them to serve you. Serve yourself. Failing that, approach a member of staff with your plate, bowl, and/or glass, then state your purpose clearly.”

They had cute, aww-factored eating utensils, and small parrafin-powered burners that could lick eyebrows off everybody who came too close to the fire. They were aiming at minimalist chic, I guess, but I wouldn’t know anyway, what with the lighting and the crowd (can’t say much about the crowd, because… hey! Good for business, right?).

MSG though… a different story. The two boil-pots (what on earth do you call them anyway? Shabu-shabu? What?) provided diners with two choices of flavours: stock (most probably beef, or chicken, or both. But most probably beef broth) and Tom Yam . They both taste slightly similar, the Tom Yam being the slightly more tangy of the two, obviously. You’d notice the MSG, not immediately, but you’d notice it for sure. Right now, I’m ditching my mug and is opting for a more straightforward bottle version of water. “Dry as the Kalahari” comes to mind. I’m drinking water by the gallon, and drinking water is definitely on the healthy scale of the market. Not so sure about the MSG though. But as far as I know, the other non-boiled food are quite okay. It’s unclear whether they contain MSG at all, but they may do, in smaller doses. Or it could be just me and my slightly screwy radar.

The dessert entered the realm of the could-be-wonderful, but obviously (dot dot dot). It’s dessert: fruits, cakes, and jelly. Can’t go wrong with jelly, I suppose.

Yuraku: West Boulevard, Kelapa Gading. From Kelapa Gading Mall Roundabout, towards By Pass. Opposite Makro (or Angke restaurant), Inkopal Gading complex.
Price: around 60,000 rupiahs. That’s… 3 quids and some change (!). Or 6 dollars and a few loose change.

Obviously, I could start ranting about exchange rates, but I shan’t. It’s not good for the appetite.