#BLOG31HARI: Hari ke-4
NENEK
Dari dua nenek dan dua kakek yang kupunya, sekarang tinggal satu, ibu dari ibu saya. Kedua kakek dan nenek yang satu lagi (ibu dari ayah saya) sudah lebih dahulu berpulang, dulu dulu sekali, sampai kadang-kadang saya juga sudah lupa banyak sekali tentang mereka.
Walaupun masih banyak sesepuh seangkatan nenek di keluarga besar, tentu beda deh sama nenek beneran.
Rumah nenek nggak jauh dari rumahku, cuma beda gang malah. Tapi walau dekat begitu, paling dalam seminggu cuma sekali dua kali yang ketemu tatap muka yang cukup lama. Sisanya cuma sekadar lambaian tangan ketika saya melintasi rumahnya dalam perjalanan pulang dari kantor (yang juga dekat rumah, nyata kan mengapa saya cepat malas ngurus foursquare).
Bahkan kayaknya, belakangan ini, total jam yang saya habiskan bertemu teman lebih banyak daripada total jam yang saya habiskan untuk bercakap-cakap dengan nenek.
Itu juga karena setiap hari minggu nenek hampir pasti mampir lewat rumah mengantarkan nasi tim dan pastel, kalau nggak mampir, mungkin juga nggak setiap minggu ketemu.
Ibuku selalu berusaha untuk mendekatkan anak-anaknya ke nenek, mengajak semuanya untuk sering-sering ketemu nenek, entah ngajak nenek jalan-jalan keliling kota, atau sekadar duduk-duduk di meja makan sambil menikmati kudapan.
Nenek lahir di penghujung perang kemerdekaan, jadi tidak bisa banyak cerita tentang perang itu sendiri, melainkan menceritakan ulang apa yang ia dengar dari ayah dan ibunya. Kadang-kadang ia bercerita tentang tahun 60an, sukanya dan dukanya, terutama ketika lagi hebohnya gerakan anti-komunisme, dan imbasnya terhadap dia dan keluarga, terutama saudari-saudarinya.
Menurutnya, kehidupannya adalah kehidupan yang masuk dalam kategori ‘biasa’. Tidak terlalu wah, tidak terlalu penuh skandal, atau sampai layak dijadikan filem Takada Akar Ram Punjadi. Tidak terlalu miskin, juga tidak kaya sekali. Tidak susah sekali, tapi juga tidak bisa dibilang nyaman.
Tapi cerita tetap cerita, kehidupan tetap kehidupan. Sejarah orang biasa pun cerita yang menarik dan bisa digali kebijaksanaanya. Saya sendiri menganggap cerita-ceritanya selalu menarik, mungkin karena cara ia menceritakannya.
Atau kadang-kadang kami bernostalgia. Saya ingat ketika dulu saya belajar bahasa sunda dan jawa dari nenek, bukan sunda lemes atau jawa halus, tapi paling tidak berguna untuk percakapan sehari-hari.
“Nenek kamu tinggal satu lho!” Ibuku sering mengingatkan, apabila ketika saya sedang kumat napsu tidur seharian penuh pada hari minggu dan menolak diajak berkunjung ke rumah nenek.
Dan terus terang, saya juga berharap nenek akan terus bisa bersama dengan kami. *hugs nenek* *sambil makan pastel*
