Fri 14th May, 2010, Datelines, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-9

Cepat atau lambat, cepat juga

Saya jadi ingat obrolan antar dua teman di kantor. Teman yang satu bekerja di bagian pembukuan (atau kuli sempoa, katanya), teman yang satu lagi dari divisi teknologi (kuli komputer). Bagi sang akuntan, bila belum setahun itu berarti masih jangka pendek. Bagi sang technogeek, lewat beberapa bulan saja sudah jadi basbang, alias basi banget.

Bagaimana menghitung kehidupan, dan bagaimana memberi label ‘lama’, ‘baru’, atau apa saja?

Hari ini seorang teman berulang tahun. Saya kenal dia dari blog. Dulu, dulu sekali, kira-kira sembilan tahun yang lalu. Saya lupa jelasnya gimana. Kalo nggak salah, semua berawal dari kunjungannya ke blog saya (yang sekarang sudah nggak ada lah yaw). Kami pun ngobrol via kotak komentar di blog masing-masing, tukar-menukar surel, dan ngegosip di ranah maya.

Saya juga ingat, betapa betenya dia setiap kali saya mengumumkan pindah blog, dan ganti nama julukan. Sejak pertama kali saya ngeblog tahun 1998 (di lycos/tripod atau excite ya? lupa deh. dan waktu itu namanya masih diary-ing, ya?), saya memang orangnya bosenan, mencoba-coba layanan blog baru, dan gonta-ganti nama panggilan/pena/samaran (baru belakangan ini saja agak konsisten dengan nama ‘henzter’. mungkin saya sudah terlalu tua, mungkin juga saya sudah menemukan jati diri *cih!*).

Sedangkan dia orangnya ’setia’, ya paling nggak dia setia di layanan pitas.com sampai lebih dari lima tahun! *kabur sebelom dikejar-kejar sama yang bersangkutan*

Dia juga bakat banget jadi teman yang setia, bagi saya yang orangnya ‘cuekan’ ini. Saya ini paling malas mainan facebook, paling malas memutakhirkan ini itu, termasuk juga malas berbalasan surel atau sekadar menanyakan ‘apa kabar’. Benar-benar bukan tipe teman yang bisa menjaga pertemanan dengan aktif. Syukurlah, ada dia, yang betul-betul rajin menjaga agar tali pertemanan tidak putus. Bayangkan betapa susahnya. Waktu pertama kali kenal, dia di Indonesia dan saya tidak. Ketika saya pulang, eh, giliran dia pergi. Sekarang pun juga agak sulit bertemu karena kesibukan masing-masing. Tapi, dia selalu ’setia’ mengingatkan.

Sekarang sudah hampir sembilan tahun berteman. Saya kaget sekali ketika mengetahuinya. Rasanya kok belum lama ya, dia menegur saya di blog saya. Tapi ternyata sudah sebegitu lamanya.

Tapi, mau dibilang lama juga kok rasanya baru? Masih banyak hal yang mengejutkan kami, walau kesannya sepele, tapi lucu juga ketika dibahas dan dibayangkan. Misalnya, ternyata saya punya jam meja persis yang sama dengannya. Bukan saya sih, tapi orang tua saya punya jam meja yang persis sama dengan yang dimiliki orang tuanya. Sama-sama hadiah pernikahan. Sama-sama diberikan di tahun yang sama. Serbet meja? Jangan tanya.

Haha, seperti menemukan saudara yang hilang.

Selamat ulang tahun, Nana!

Fri 25th Apr, 2008, Daily Rants, Datelines

Mbah Botti!

Nggak tau kenapa, kayak ditimpa duren keberuntungan, hari kemaren (skarang kan subuh hari Sabtu, 26 April; jadi kemaren itu tanggal 25 April, hari Juma’at) saya tiba-tiba bisa satu ruangan sama Chris Botti, tukang terompet jazz kenamaan.

Aduh! Seneng banget. Terima kasih Jeng Enda, terima kasih Mbah Wicak. Rame-rame bareng Deden, Budizainer, dan Hudehel Is Imansyah, kami mengagumi yang namanya Chris Botti.

Ini kali pertama saya seruangan sama artes pujaan merek apa pun, dan teori saya tentang “saya ga akan pingsan kayak di pelem-pelem atau nangis histeris” itu dipatahkan begitu saja. Tiba-tiba keringet dingin, nggak bisa berkata-kata (sepikles), dan cuma bisa senyam-senyum kayak ikan doping sambil menatap kagum ke arah panggung. Itu aja ngeliat dari jauh, apalagi kalo dari deket (:D)

Jadi, ceritana begini, saya tuh dulu seblom kuliah tuh nggak suka banget sama yang namanya musik. Kalo ada acara musik di TV seringannya di-skip atau ditonton tapi nggak diresapi (biasanya es-a-ep-a-er-i sapari, atau ACI itu didenger sebelah kuping). Tapi, beranjak kuliah, saya jadi tiba-tiba kenal sama yang namanya musik. Apalagi teman-teman seasrama itu gila musik semua.

Nah, menjelang tahun terakhir saya kuliah, saya dapet albumnya Chris Botti ini (ikutan sayembara naon lah di radio subuh gitu) — salah satu album Jazz pertama sayah. Dan ternyata, selain tampangnya yang ngganteng (walau udah seumur mbah-mbah), ternyata lagunya… asik banget. Kayak Miles Davis, tapi nggak berat-berat amat. Wynton Marsalis tanpa komplikasi jantung. (kata orang lah). Kalo perlu penjelasan yang lebih dalem, harus tanya sama Mbah Wicak. Saya gak ngerti kalo dalem-dalem. Kalo kata saya: enak di telinga, enak di mata. Album yang itu sudah saya kasihin ke temen saya sebagai hadiah nikah; tapi saya juga punya satu CD album yang sama yang sekarang udah baret-baret dan ga bisa didenger lagi (saking dulunya terlalu militan didengerin).

Saya seneng, walau sedih ternyata nanti pas konser harga tiketnya itu enem ratus rebu perak (katanya untuk kelas jongkok di luar pager). Saya seneng, walau sedih tadi dia cuma ngobrol doang ga pake proyek percontohan dia maen trompet.

Seneng banget, sampe sekarang masih senyam-senyum. Bahkan Romy “Terangnya hanya ada dalam pikiran Anda” Rafael pun tidak bisa memadamkan rasa seneng saya.

Ternyata gini toh rasanya jadi groupies eh… em… fans berat.

*puter When I See You terus-terusan*

Wed 19th Sep, 2007, Daily Rants, Datelines

Selamat Jalan, Kakek

Kemarin saya masih di kantor ketika emak nelepon mengabarkan kalau kakek, sang tetangga rumah, sudah meninggal dunia. Sedih juga, pertama kali mendengar berita itu. Tapi setelahnya ada perasaan lega. Kakek sudah hampir satu bulan tergeletak begitu saja di atas ranjangnya. Tidak makan, tidak minum, tidak mengenal orang, tidak lagi berjalan pagi atau mendengarkan siaran radio di pagi hari. Hanya selang infus dan suntikan dokter yang membuatnya bertahan satu hari lebih lama. Tetapi kini katanya Kakek sudah tidak sakit lagi, sudah tidak merasakan beban dunia lagi, Kakek sudah bisa bertemu dengan Nenek di surga.

more…

Sun 19th Aug, 2007, Daily Rants, Foodstuff, Datelines

20 jam di Semarang

Terima kasih untuk Didik dan kawan-kawan kampoeng gajah yang sudah banyak membantu saya sehingga bisa tiba dan menikmati Semarang walau hanya sebentar.

Akhirnya aku berangkat sama nyokap ke Semarang, biar nyokap bisa refreshing juga setelah sembuh dari bedrest. Pesawat sempet terdelay karena ganti ban dulu. Huh! Eh ga sempet nanya juga bannya nTubless atau Blubless.

Jam 13.30, tiba di bandara Ahmad Husni eh Ahmad Yani. Langsung telepon mBlub. Sempet pangling, ternyata yang njawab adiknya Blub. Hehehe :”> malu juga. Maapkan saya tublub karena saya tidak bisa datang menghadiri akad nikahnya. Semoga Tublub langgeng dan bahagia selalu sebagai keluarga yah.

Setelah ngantri bagasi dan menunggu giliran numpak taksi, jam 14.00 kami tiba di penginepan, ketemu sama keluarga pengantin pria yang juga nginep di sana (pas waktu itu belon tau kalo itu keluarga penganten pria tapinya).

Ternyata di Semarang panas banget ya! Setelah ngadem setengah jam di ruangan berAC, rame-rame keluar wisata kuliner Jalan Pemuda, sambil survey ntar nikahnya di mana. Ternyata antara penginepan dan tempat nikahan nggak terlalu jauh, cuma 3 perempatan sahajah.

Wisata Makan-makan
Wisata gastronomi berawal di Istana Wedang, Jalan Pemuda nomer 121 sekian. Makanan yang enak sebenernya ya Wedangnya. Walau porsinya kecil. Galantinnya lumayan, Nasi Langginya boljug lah. Wedangnya kurang panas (cuma hanget-hanget gitu tapi nendang jugak). Di sini juga nyobain yang namanya Kerupuk Seafood Bakar. Murah meriah dan enak. Rasanya mengingatkan pada Krupuk Kemplang, tapi Krupuk Bakar ini tidak sekeras Kemplang yang biasanya menantang gigi untuk tidak tanggal.

Dari situ, pengen makan Bakmi Jawa tapi belom buka benar tokonya, jadi jalan dulu ke Sri Ratu Convention Hall yang ternyata terletak di lantai 7 Sri Ratu Dep Store. Walah! Dan ternyata jam nikahan lift tidak berfungsi! Harus naik eskalator! jadilah tamu-tamu dan undangan itu naik eskalator satu per satu numpak eskalator — cantik-cantik, ganteng-ganteng, dan wangi-wangi diliatin semua pengunjung dep store. Tapi itu cerita untuk nanti.

Setelah tiba di Sri Ratu Dep Store kira-kira pukul 16.00, kiter-kiter dari bawah sampai atas sampai bawah lagi akhirnya mandeg di swalayannya. Beli manisan mangga merek Boneka yang enak tapi mahal, beli Telur Asin Bakar Elmata yang ternyata enak juga. Rasanya legit-legit dan tidak terlalu menyengat. Dan diakhiri dengan beli Baskin Robins yang lagi diskon 50%.

Dari sana nyebrang ke Jalan (Gang) Grajen, untuk nyobain Lumpia Mbak Lien yang enak juga ternyata. Gangnya agak sepi (tapi emang hari itu jalanan lagi pada sepi mungkin karena lagi banyak pesta dan lomba rakyat gitu). Enak sih, tapi harganya juga mahal euy. Rp 7000 buat satu lumpia lengkap dengan yang lain-lainnya. Saosnya enak, isinya garing-garing enak. Oh iya, mereka juga terima pesan antar loh!

Dari sana, balik ke arah penginapan mampir dulu di Toko Oen dan Toko Kaning yang spesialis es krim dan cokelat. Tapi di sana hanya melongok-melongok saja tidak makan, tapi berjanji bakal ke sana lagi. Kata Didik, Toko Oen itu masakannya semuanya home made.

Akhirnya malah nyangkut di Bakmi Jawa Condong Raos Pak Doel Noemani yang ada di Jalan Pemuda (deket Depdiknas? kantor apanya gitu). Ternyata di sana enak juga makanannya. Bihun Gorengnya kering (nggak basah dengan minyak goreng, padahal biasanya mi tek-tek gitu minyaknya buju gile buju buneng).

Pagi-paginya minum jamoe di Novotel Jalan Pemuda, dan jamunya enak banget, kental dan rasanya nggak kayak kebanyakan jamu gendong yang di Jakarta. Kayaknya kalo jamu yang di Jakarta rada beda racikannya mungkin. Hihihi.

Kota Lumpia, Stempel, dan Jakarta
Sepanjang Jalan Pemuda banyak pembuat stempel dan plat mobil, mungkin sekitar 100 meter sekali ketemu dengan para pembuat stempel ini. Didik kirim SMS bilang: “Selamat Datang di Kota Lumpia”, ah tapi kalo di Jalan Pemuda kok serasa ada di Kota Stempel ya?

Selama menyusuri jalan itu, sesaat dua saat merasa nostalgia banget. Pikir punya pikir ternyata Jalan Pemuda, Semarang itu mirip banget atmosfirnya dengan Pintu Air-Pasar Baru di Jakarta. Dengan ruko-ruko dan gedung-gedung agak tua yang berbaris di sisi kiri kanan jalan. Hanya saja, kalau di Jakarta yang ngetem dan berlalulalang itu kebanyakan bajay, sedangkan kalo di Semarang yang ngetem dan lewat-lewat itu becak.

Tiba-tiba juga syuuut dua becak dengan muatan lamtoro yang menggunung lewat di depan mata, selap-selip di antara kendaraan bermotor yang lewat. Wah! Sudah lama tidak melihat pemandangan yang seperti itu. Kalo di Jakarta ya sulit, ya?

Nuansa rindu-Jakarta selain Jalan Pemuda dirasa juga di Jalan Mgr Sugiopranoto, Semarang. Dari namanya aja udah mirip, mirip dengan Jalan Sukarjo Wiryopranoto, Sawah Besar, Jakarta. Bengkel demi bengkel berbaris-baris di pinggir jalan, seperti tukang onderdil dan bengkel di Big Rice Field.

Sayang aku cuma bisa meluangkan 20 jam waktu di sana, dan 6 jam di antaranya digunakan untuk molor. Kalau saja punya banyak waktu luang, pingin banget menjelajahi kota stempel… eh kota lumpia ini. Baik itu wisata kuliner maupun mungkin suatu hari nanti bisa ikut napak tilas Jalur Daendels membelah bumi Jawa.

Katanya daerah Kota Tua Semarang itu indah juga.

Sat 18th Aug, 2007, Daily Rants, Datelines, Art

Tujuh Belasan dan Festival Seni

Bulan Agustus, bulan peringatan proklamasi kemerdekaan, bulan gerek bendera, bulan pesta rakyat, dan bulan festival seni tradisional… Atau paling tidak, setengah pertama Bulan Agustus. Mulai dari minggu pertama hingga minggu tujuhbelasan (kalo bulan ini berarti hari minggunya mentok di tanggal 19 Agustus). Sejak awal bulan hingga pertengahan bulan banyak festival seni yang dilangsungkan, baik itu di mal, di tingkat propinsi dan kotamadya, atau di Istana Negara.

Aku sendiri beruntung bisa melihat (walau dari jauh banget, dan kadang hanya mendengar) paling tidak dua ‘festival’ seni tradisional yang digelar lumayan heboh dan meriah, walau masih kalah santer suara dan kalah pamor bila dibandingkan dengan dengung festival musik kontemporer, urban, dan indie.

11-12, 18-19 Agustus: Parade Seni Pertunjukan SMA
Acara ini diadakan di dua mal besar di Jakarta dan dikoordinir oleh Forum Apresiasi Seni Pertunjukan pimpinan Ratna Riantiarno. Sebenernya aku tau ada acara ini juga karena secara kebetulan nyambangin salah satu mal itu pas tanggal 11, nganterin tante untuk ketemu dengan kawannya yang kerja di sana. Dari arah lobi sayup-sayup terdengar bunyi tetabuhan. Si tante sih sedang asyik ngobrol bareng temennya, jadilah sayah tinggal sebentar.

Ternyata daerah pintu utama disulap jadi panggung seni, dan pengunjung sudah berjubel menyaksikan pertunjukan yang dipersembahkan oleh anak-anak SLTA (dan guru-gurunya) dari seantero Indonesia. Menurut siaran persnya (dan selebaran yang ternyata sudah habis dibagikan) ada tarian dan musik dari daerah Jawa, Sumatra, Kalimantan, dll. Sayangnya kayaknya aku cuma kebagian ujungnya doang, atau mungkin cuma tengahnya doang, karena waktu nongkrong-nongkrong di sana nggak banyak.

Yang aku tonton itu Tari Saman, atau mungkin tarian yang mirip tari saman, menggunakan benang tebal yang dioper-oper dari satu penari ke penari lain, berputar dan akhirnya terbentuk jala. Lagu dan gerakan yang dinamis itu bikin banyak sekali pengunjung yang berdecak kagum. Ada beberapa wisatawan (dan wisatawati… hehe) yang tak henti-hentinya memotret sambil berulang-ulang kali berkata “wow!” dan “amazing!” Dan ada satu wisatawan yang berceletuk pada kawannya, “We’re lucky…” Siapa menyangka bisa disuguhi pertunjukan seperti ini, karena memang pertunjukan seperti ini jarang ada, ya?

Anak-anak juga kayaknya senang sekali nonton pertunjukannya. Warna-warna kostum yang cerah, wajah-wajah penari yang bersinar-sinar bahagia, kayaknya sih bikin mereka pengen juga ya bisa nari seperti itu. Sampai ada yang berceletuk pada ayahnya dengan bahasa Indo-nglish, “Dad, aku mau belajar menari like that!”

FASP

Dan, siapa bilang seni tradisional ketinggalan zaman? Dari tanya-tanya dengan salah seorang yang turut menari, ternyata walau azas tarian dan musiknya masih setia pada akar, aransemennya bener-bener baru, lebih bernuansa muda dan lebih dinamis. Seperti mendengar tabuh-tabuhan ala Safri Duo tapi lebih tradisional lagi. Gerakan-gerakannya juga dibuat lebih moderen (ada yang lebih atletis, ada juga yang lebih gemulai), tapi semuanya diracik supaya tidak mengubah tradisi terlalu banyak. Katanya, “bumbu secukupnya bisa membuat makanan semakin sedap.”

17 Agustus 2007: Acara Kesenian Perayaan HUT Ke-62 RI
Jalan di mana-mana diblokir, tetapi hingar bingar dari Istana Kepresidenan terdengar sampai ke ujung jalan. Cuma bisa nonton dari jauh sih (tepatnya sih numpang denger luapan suara yang nyasar), tapi kelihatannya seru. Sayang ya, nggak bisa nelusup ngambil foto-foto, padahal pengen. Ah, tapi saya juga nggak pinter motret, jadi ya suds lah ya?

Dari buku acara yang boleh dapet boleh nemu itu, ternyata banyak banget kesenian tradisional yang digelar di Istana sana, dan nama-namanya terasa asing.

Untuk acara di pagi hari, ada musik tradisional dari Batanghari Sembilan (propinsi Sumatera Selatan), musik Saluang Sirompak (kabupaten Limapuluh Kota, propinsi Sumatera Barat), musik dari Kalimantan Tengah, dan musik keroncong (oleh tim dokter kepresidenan). Musik keroncong ini khusus diperdengarkan ketika acara ramah tamah dengan para veteran.

Untuk acara di sore hari — gelar senja gitu ya, kalo nggak salah? — ada musik Suling Bambu dari SD Pulelang (Kabupaten Alor, propinsi NTT), musik kolaborasi anak-anak Papua, Rampak Bedug (provinsi Banten), Tari Jejer Gandrung (Kabupaten Banyuwangi), Rampak Kenthong (Kabupaten Purbalingga), dan medley tiga tarian dari Kalimantan Tengah (Barito, Kapuas, dan Katingan).

Wah! Buat aku ini kesenian yang terdengar asing banget, belum pernah rasanya ngedenger nama-nama itu. Kayaknya beberapa hari ini harus rajin ubek-ubek Um Gugel untuk cari tahu lebih dalam lagi. Dulu kan waktu di SD, cuma disuruh bikin kliping gambar-gambar doang, dan itu juga nggak usah repot karena sudah ada buku seni satu nusantara. Sayangnya buku-buku itu ya gitu, cuma gambar thok. Sayang juga sih, nggak ada penjelasannya. Di Buku Pintar juga kayaknya nggak ada ya?

Lewat dari pertengahan tahun, kegiatan/perhelatan seni besar perlahan-lahan berkurang, hingga akhirnya September menandai waktu untuk menyimpan bendera, menyimpan seni, menyimpan sedikit banyak nasionalisme untuk dikeluarkan lagi tahun depan.

Tue 10th Apr, 2007, Daily Rants, Datelines

Pekan Suci: Paskah dan Reportase

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya nancep di meja registrasi pers untuk musim paskah tahun ini. Pertama-tama dikiranya hanya untuk beberapa jam saja, tapi karena (katanya) personilnya masih sedikit, akhirnya jadi tugas berhari-hari, tepatnya mulai hari Kamis Putih hingga Minggu Paskah. Kata Ibu Grace, yang udah veteran soal begini-beginian, pekerjaannya bakal rada riweh, apalagi kalo semua wartawan berbondong-bondong datang. Padahal dari pihak panitia paskahnya cuma boleh ngijinin maksimal 6 media di dalam gereja, dan waktu peliputan cuma boleh lima belas menit tiap medianya, dan wajib diikutin sama pendamping pula. Sisanya nunggu dong? Trus kalo waktunya kurang gimana?

“Bu, ntar mereka marah nggak, kalo nggak kebagian momen penting?” Aku kan masih baru dalam hal-hal beginian. Nanti kalo aku dimarahin gimana? “Kalo lima belas menit belom puas gimana dong, bu?”

“Ya marah lah. Tinggal pinter-pinternya kamu aja kali ya,” si Ibu menjawab dengan santai dan ngloyor pergi mencari minum.

more…

Mon 2nd Apr, 2007, Daily Rants, Datelines

1 April 2007: Minggu Palma dan Kejepit

Minggu Palma (Minggu Palem, Palm Sunday, dll, dst) adalah hari minggu terakhir masa pra-paskah (Lent Period), dan awal dari Pekan Suci. Gereja juga udah mulai meriah, tenda udah mulai dipasang, dan segala macam kegiatan udah direncanakan. Tapi sebelum sampai ke kemeriahan Paskah minggu depan (minggu ini?), masih banyak hal yang harus dilalui. Hari Jum’at Agung misalnya, untuk mengenang wafatnya Yesus.

Tahun ini aku nggak ngebotakin pohon palem sendiri, biasanya kan suka bawa daon palem sendiri dari rumah. Tapi kali ini sih pengen minta dari gereja aja. Kali-kali boleh dong. Lagian sayang pasti bakal banyak sisanya. Pucuk palem itu ceritanya sih menandakan keberhasilan dan kemenangan (dalam tradisi Yahudi) dan menurut tradisi nasrani, orang-orang jaman jadul dulu melambai-lambaikan pucuk palem ketika Yesus masuk kota Yerusalem naik keledai. Oh iya, katanya sih naek keledai juga merupakan simbolisme jaman dulu juga. Jadi ceritanya, jaman dulu itu kalo raja (atau wakilnya, atau siapanya lah) masuk suatu kota naek kuda (apalagi kuda cowok gagah nan berwibawa) itu artinya lagi ada pernyataan perang. Tapi kalau dia naek keledai (apalagi keledai cewek), itu artinya dia datang dengan damai (kayak alien kali ya? “we come in peace,” ceunah).

more…

Mon 2nd Apr, 2007, Daily Rants, Datelines

1 April 2007: Ceng Beng tahun ini

Hari minggu, 1 April 2007, adalah hari yang sibuk. Pagi-pagi sekali sekeluarga besar sudah harus bersiap dari pagiiiii sekali untuk kegiatan nyekar. Sorenya, ke gereja untuk misa Minggu Palma, misa yang menandakan dimulainya Pekan Suci Paskah. Dan malemnya masih sempet juga April Mop-an. Cape’ deh… eh… seru deh…

Persiapannya Ceng Beng itu malah udah dari jum’at. Ada yang masak untuk makanan makam dan makanan peziarah (biasanya makanan makam itu makanan yang hambar (biar nggak diambilin orang maksudnya), dan makanan peziarah ya macem-macem, dari kue sampe ba’cang). Ada juga yang pergi beli bunga (makanya kalo sekitar-sekitar hari gini bunga jadi mahal banget di pasar). Ada yang beli benda-benda kertas untuk dibakar (biasanya sih duit-duitan, biar gampang dibawanya. Tapi ada juga yang beli hengpon-hengponan atau bahkan viagra-viagraan… Buset deh).

Sebenernya Ceng Beng itu jatuh pada tanggal 5 April setiap tahunnya. Tapi mungkin gara-gara tahun ini tanggal 5 April itu bukan hari libur, jadinya banyak yang “ngemajuin” Ceng Beng. Jadinya lah pas hari sabtu dan minggu itu yang namanya tanah perkuburan ramai didatangi orang.

more…

Thu 25th Jan, 2007, Case, Datelines

Numerologi dan Pernikahan

Kata bundaku tercinta, dua atau tiga hari sebelum hari H pernikahan, keluarga dari pihak mempelai perempuan bertandang ke rumah pihak mempelai laki-laki. Tujuannya, selain untuk bersilaturrahim juga untuk membawa barang-barang si perempuan untuk di simpan di “kamar baru”. Mungkin simbolis bahwa keluarga sudah merelakan anak perempuannya “keluar” dari rumah dan masuk menjadi anggota keluarga suaminya. Ya, kalau kedua mempelai punya rumah sendiri, tentu saja ngumpulnya di rumah baru itu dengan keluarga mempelai laki-laki sebagai tuan rumahnya.

Nah, berhubung sepupuku akan menikah hari Sabtu ini, jadilah mereka menggelar acara sambut-menyambut tamu hari Rabu kemarin. Dan… persiapannya ribet. Dari persiapan kamar pengantin (nggak boleh jorok dan berantakan, tapi harus rapi dan layak dipertunjukkan ke orang-orang yang datang), dekorasi ruangan, hingga menu makanan.

Sebagai peraturan, kalau mengadakan perayaan apa pun, atau kalau hendak menjamu tamu (entah itu di rumah sendiri atau di rumah makan, atau mungkin acara kebun), ada hal-hal yang mesti diperhatikan, dan salah satu yang paling penting adalah jumlah hidangan (tidak termasuk nasi dan minuman). Dan hal kayak gini banyak yang memperhatikan. Kemarin saja, banyak anggota keluarga yang tergolong dituakan, sebelum makan hampir dipastikan akan menghitung jumlah hidangan.

more…

Tue 15th Aug, 2006, Daily Rants, Datelines

Lusa: Tanggalan Merah

Kadang-kadang ada yang nulis tanggal 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia (macam Independence Day). Emang sih ya pada hari itu Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Itu lho, yang teksnya (hasil ketikan Sajoeti Melik) sekarang dipajang di Monas.

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta

Tapi, lain proklamasi lain kemerdekaan yang de fakto. Ternyata pihak Belanda lumayan nge-lag dalam hal ngaku-mengakui kemerdekaan Indonesia. Jadilah 4 tahun sekian bulan kemudian — tanggal 27 Desember 1949, dua hari setelah Hari Natal, dan sehari setelah Boxing Day, Belanda memberikan “hadiah natal” kepada Bangsa Indonesia.

Tapi ya, walau bagaimana pun, akhirnya Indonesia punya hari libur nasional yang nama kerennya: “Hari Proklamasi Kemerdekaan”. Sayangnya tanggal 27 Desember itu nggak dirayain jadi hari apa-apa, padahal lumayan tuh, buat nambahin tanggalan merah barang sehari: “Hari Belanda Mengakui Hak Kemerdekaan Bangsa Indonesia”…. er… panjang yah.

Nah, waktu masih sekolah, tanggal 17 Agustus itu jadi hari libur yang unik. Yang namanya tanggalan merah ya tentu aja hari libur, dan hari libur tentu aja maksudnya hari nggak masuk sekolah. Tapi khusus untuk tanggal yang satu ini… wajib masuk sekolah untuk upacara bendera yang dilanjutkan dengan lomba-lomba khas tujuhbelasan.

Kalaupun nggak perlu masuk, tetep aja mesti nonggeng di depan TV memperhatikan alur Upacara Detik-detik Proklamasi, yang jaman dulu itu disiarkan di seluruh setasiun televisi Indonesia Raya merdeka merdeka. Hal ini udah kayak kewajiban untuk lulus mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), yang kemudian berubah namanya jadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan).

Sewaktu kuliah, 17 Agustusan di negara orang berarti ngumpul-ngumpul di Kedutaan atau di rumah dinas Kedubes. Biasanya sih diawali dengan upacara bendera — tapi sebagai mahasiswa yang sudah luntur rasa kebangsaannya, malas rasanya menghadiri upacara ini. Acara kumpul-kumpul itu biasanya identik dengan acara makan-makan, di mana ibu-ibu PKK cabang luar negeri berkumpul dan berkreasi… menghadirkan sekelumit kenangan akan tanah air lewat makanan enak nan lekker.

Tahun ini… entah apa yang akan dilakukan untuk tujuhbelasan.

Tue 23rd May, 2006, Daily Rants, Datelines

Mati Lampu?

Setelah terjadi gangguan pasokan gas di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Muara Karang dan PLTGU Priok, defisit tenaga listrik bertambah dengan matinya satu unit pembangkit di Pembangkit Listrik Tenaga Uap Paiton 5 — Kompas, 23 Mei 2006

“Yah! Mati lampu deh!” seru teman sekantorku, dan setelah sekian lama menunggu genset untuk memulai aksinya… akhirnya semua dibolehkan pulang. Emang sih sudah lewat jam pulang kantor, dan semua yang masih tinggal adalah pegawai-pegawai yang “ngejar setoran”.

more…

Wed 3rd May, 2006, Education, Case, Datelines

Sehari setelah Hari Pendidikan Nasional

Hari Buruh Internasional jatuh pada tanggal 1 Mei. Banyak buruh yang turun ke jalan — unjuk rasa, memohon pada setiap telinga yang mau mendengar. Banyak toko dan pabrik yang tutup, banyak yang meliburkan diri, dan ada juga yang masuk kerja dengan perasaan “pengennya libur”. Hari Pendidikan Nasional jatuh pada tanggal 2 Mei. Banyak guru bantu yang turun ke jalan — kata mereka: jangan bedakan guru yang satu dengan guru yang lainnya. Dalam dunia pendidikan, masih banyak ketidakadilan, guru yang satu hidupnya lebih baik daripada guru yang lainnya. Guru yang pegawai negeri berbeda dengan guru yang pegawai swasta, dan berbeda pula dengan guru honorer, atau guru bantu. Padahal sama-sama guru. Padahal sama-sama buruh. Padahal….

Ada dua temanku yang sekarang mengabdikan diri mencerdaskan bangsa. Yang satu bekerja sebagai guru sekolah dasar di sebuah sekolah swasta. Yang satu lagi menjadi sukarelawan — mengajar anak-anak terlantar. Keluhan keduanya pun berbeda-beda.

Yang satu berkata: “Dasar anak orang kaya! Diomeli malah ngomel balik! Masa’ aku menegur eh, dibalas ‘eh, lu guru, diem deh! yang bayar elu kan bokap gue juga’. Terus aku harus bagaimana? Tapi sebodo ah, yang penting tiap bulan digaji tetap dan bisa nyicil kontrakan rumah. Abis ini gue pindah kerja ke sekolah laen aja.”

Yang satu lagi mengeluh: “Kalo soal perilaku anak didik, gue salut. Mereka seharian capek ngamen, nyemir sepatu, jadi pemulung, tapi sempet2nya ganti baju lalu hadir untuk kegiatan belajar mengajar. Bahkan sering minta pe-er lebih. Cuma gue kasian. Mereka ga punya tempat belajar yang tetap, nggak punya sarana yang memadai.”

Sebenarnya apa sih yang diperlukan Indonesia supaya pendidikan benar-benar dapat berguna bagi masa depan anak didik? Masa depan yang seperti apa? Berguna yang macam apa?

Fri 21st Apr, 2006, Daily Rants, Datelines

Emansipasi Umat Manusia?

Raden Ajeng Kartini:
(info lebih lanjut di sini dan di sini, juga informasi filemnya di sini)

21 April. Kalo menurut guru PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), Sejarah, PMP (Pendidikan Moral Pancasila), PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), Sosiologi, dll dll… hari yang disisihkan setiap tahunnya untuk memperingati “sepak terjangnya” Ibu Kartini.

Di Indonesia ada R. A. Kartini, Dewi Sartika, dan para pahlawan wanita lainnya. Di Inggris ada gerakan Suffragettes, dengan Emeline Pankhurst sebagai salah satu tokoh utamanya.

Emansipasi dan feminisme (serta istilah-istilah lainnya) adalah bagian dari sejarah perjuangan manusia untuk memperoleh kesetaraan. Entah itu kesetaraan suku, agama, ras, maupun kesetaraan gender.

Itu wanita. Bagaimana dengan lelaki? Setelah dianggap “menjajah” wanita sejak jaman baheula, kini mungkin kaum lelaki merasa terjajah. Seorang teman dari kuliah dulu, dan tak lupa Herry, adalah beberapa dari sekian banyak yang membahas tentang emansipasi dan kenyataan akan “kesetaraan”.

Jangan sampai deh, emansipasi wanita jadi identik dengan balas dendam gaya baru.

Lalu, lalu… emansipasi vs. eksploitasi? Baca blognya Kang Jae ya.

Thu 30th Mar, 2006, Daily Rants, Datelines

In Memoriam

Hampir lima tahun… lima kali lebih lama daripada waktu yang dihabiskan bersama. Aliran waktu akan mengikis ingatan?

“Kamu tau tentang penyakit dia kapan?” tanya seorang teman. Kopi pahit, teh manis, gula-gula jahe. Hari itu matahari bersinar terik.

“Dari sejak pertama. Aku udah tau kok.”

“Kamu masih mau aja sih?”

Dia tidak akan pernah bisa bercerita tentang cinta lagi. Dia tidak akan bisa melihat tim rugby kesayangannya lagi. Dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan orangtuaku. Dan air mata orangtuanya bercucuran seperti hujan musim dingin. Musim gugur di bulan April.


Lebih baik mana, merasakan hal terindah untuk setahun dan pedih setelahnya… atau tidak sama sekali?

Ah, gila aja. Jadi begini nih kalo kerjaannya bengong dan nostalgia. Masih sayang, masih rindu.

Wed 22nd Feb, 2006, Daily Rants, Earth, Datelines

Tambora, 1815

End of 1815 — A Dutch colonist was having his daily cup of tea on his verandah. His Javanese servants scurried around as they performed their household duties. The plantation was looking marvellous. Then, the skies darkened and he tasted ash in his mouth, washed down his throat by the mouthful of tea he sipped. He looked down and saw the letter he was writing covered with a fine film of dust. He looked up and saw only darkness.

Miles away — back on the soil of his ancestors — people milled around, eagerly awaiting the coming of spring and summer of 1816. Mothers sat planning elaborate feasts, fathers planned for their sons’ apprenticeship. The sky was blue and the promise of another fine year beckoned them out of their bed. They were none-the-wiser to what will befall them, as ash clouds marched up from the carcass of Tambora — intent on enveloping the world with a thick blanket of smoke.

They would soon regret waking up from their dream, into a nightmare. It was meant to be a year without summer. (From BBC Timewatch 2005, “A Year Without Summer”)

Setauku, letusan paling hebat adalah letusan Gunung Krakatau yang bertengger di Selat Sunda itu. Setidaknya itulah pakem yang diajarkan oleh guru ilmu bumi. Seluruh orang kantor kutanyakan: “Letusan paling hebat di satu dunia ini… letusan gunung apa, hayo?” Dan semuanya menjawab Krakatau!

Tapi, ternyata mungkin bukan begitu. Menurut informasi yang didapat dari berbagai sumber di Internet dan juga dari filem dokumenter BBC di atas itu, ternyata letusan Gunung Tambora yang terletak di Sumbawa, jauh lebih hebat (baik dari skala volume maupun korban jiwa). Hanya saja, letusan yang terjadi hampir 70 tahun sebelum letusan Gunung Krakatau kurang tercatat dengan baik.

Using the Volcanic Explosivity Index as a guide, Tambora (VEI=7) was more explosive than the 1883 eruption of Krakatau (VEI=6). The initial explosion of the 1815 eruption of Tambora was larger than the explosion of Krakatau. At Tambora, the caldera collapsed and about (40 cubic kilometers) of ash were erupted. The eruption at Krakatau Krakatau was heard 2,500 miles (4,000 km) away. The volume of the eruption is estimated to be 4 cubic miles (18 cubic km). (From Volcano World FAQ)

in 1815, the eruption of Mt. Tambora, Indonesia, resulted in an extremely cold spring and summer in 1816, which became known as the year without a summer. The Tambora eruption is believed to be the largest of the last ten thousand years. New England and Europe were hit exceptionally hard. Snowfalls and frost occurred in June, July and August and all but the hardiest grains were destroyed. Destruction of the corn crop forced farmers to slaughter their animals. Soup kitchens were opened to feed the hungry. Sea ice migrated across Atlantic shipping lanes, and alpine glaciers advanced down mountain slopes to exceptionally low elevations. (From V. Camp)

Sepuluh ribu orang meninggal seketika akibat letusan Tambora. Setidaknya 82,000 jiwa kemudian meninggal akibat kelaparan dan musim dingin.

Apabila letusan Krakatau memberi inspirasi bagi E. Munch untuk melukiskan “The Scream”, maka letusan Tambora disebut-sebut sebagai sumber inspirasi Mary Shelly ketika menulis karya sohornya, “Frankenstein”. Ketika itu, Shelley sedang melancong ke Swiss. Beliau mengamati betapa gelap dan putus asanya kehidupan orang Eropa ketika musim dingin yang panjang itu. Dari yang kaya hingga yang paling miskin, tidak ada yang luput dari bencana kelaparan dan dingin yang menusuk tulang.

Tersebut juga, pelukis ternama asal Inggris, JMW Turner, yang terkenal karena cara beliau melukis langit. Banyak ahli yang percaya bahwa warna-warna mencolok dan seringkali tragis yang dipilih Turner sedikit banyak mencerminkan keadaan daratan (dan langit, tentunya) Eropa akibat letusan Tambora.

Ah. Bingung mau bilang apa lagi. Sebenernya masih banyak sih yang bisa diceritain, misalnya perjalanan dan perjuangan Napoleon berperang melawan musuh (atau calon jajahan) dan iklim laknat ini. Silakan ke Wikipedia untuk informasi lebih lanjut tentang: Gunung Tambora dan Tahun tanpa Musim Panas.

Kalau ada salah informasi, tolong aku dikasih tau ya, biar bisa diganti. Ntar kalo salah info ke para ponakan, berabe bukan?

Tue 31st Jan, 2006, Daily Rants, Datelines

Suicide in New York

An Indonesian citizen committed suicide in New York, today. A Bambang Weilianto was found dead on the main floor of the Indonesian Consulate General building in New York. Cause of death was confirmed as suicide by NYPD Precinct 19. Noone yet knows the motive of this suicide. I suppose they are calling upon friends and family who might receive a last minute communication from him to come up with a reason why. They could’ve interviewed him, but he’s dead. So that’s a no-go right there.

The news in brief can be found here, courtesy of Metro TV News.

Speaking of Suicide
Omong-omong soal bunuh diri nih ya, kemarin ada pembicaraan panjang lebar antara dua orang yang ndak punya kerjaan (saya dan teman). Pertanyaannya mudah: kira-kira apa sih cara bunuh diri yang paling asyik? (Memangnya ada bunuh diri yang asyik?)

  1. Nenggak cairan pembunuh serangga. Ini salah satu cara yang paling biasa dipakai oleh orang-orang banyak. Awas, jangan kesaru dengan lingkaran nyamuk. Boleh juga ditukar dengan formalin (sekarang sedang ngetop dan naik daun). Keampuhan: Lumayan. Boleh dicoba dulu pada keluarga besar kecoak (yang notabene serangga tahan banting). Kelemahan: Rasanya kurang enak. Tapi sekarang sudah ada cairan rasa lemon, mungkin agak enak sedikit.

  2. Gantung diri. Ini juga salah satu cara yang biasa dipakai orang. Juga sebuah cara bunuh diri yang sangat fleksibel. Keuntungan: Murah. Cuma modal tali. Bisa pilih tempat gantung diri (dari enternit bisa, dari pohon bisa), juga bisa pilih jenis tali (walaupun biasanya paling ampuh pakai tali tambang. Kalau pakai benang jahit, kurang pakem). Keampuhan: Lumayan. Tapi kalau alergi dicekik, mungkin susah juga ya. Lalu pilih tempat yang tidak banyak dilewati orang. Salah-salah sudah keburu diselamatkan orang banyak. Kelemahan: Kalau punya rumah ber-langit-langit rendah, susah juga. Kalau di kebun sendiri tidak ada pohon yang sesuai juga susah. Mosok mau pinjam pohon tetangga? Bisa-bisa…
  3. Potong urat nadi atau menikam diri sendiri. Seperti Bapak Bambang Weilianto di atas. Keuntungan: Katanya kalau orang kurang darah bisa cepat mati. Keampuhan: ampuh, kalau tau motongnya di mana. Kelemahan: kadang-kadang kalau bukan dokter atau anggota praktis medis, tidak tau bagian mana yang harus dipotong dan/atau ditikam supaya hasilnya maksimal (dengan usaha minimal). Salah-salah bisa sakit sendiri dan tidak jadi mati.
  4. Kelebihan dosis obat tidur. Jalan keluar yang mungkin agak tidak menyakitkan. Tinggal tidur, tiba-tiba lewat. Keuntungan: Tidak sakit. Paling-paling melayang, mengantuk, lalu tidur selamanya. Keampuhan: ampuh. Tapi harus tau takarannya. Kalau kebanyakan boleh, tapi kalau kurang, bisa-bisa jadi mual, sakit perut, badan cekot-cekot, dan malah harus ke rumah sakit (lalu diceramahi dokter karena menyalahgunakan obat). Kelemahan: Karena dosisnya harus banyak, dan obat tidur kualitas bagus itu mahal (harus pakai kualitas bagus, mosok mau mati juga masih pakai pelit-pelit segala). Akibatnya, kalau tidak punya uang yang cukup, harus memikirkan alternatif lain. Boleh juga mencoba memaling apotek. Atau boleh juga coba memaling ayam tetangga sebelah. Akan tetapi hasil kegiatan permalingan ini bisa saja menyebabkan kita dikejar-kejar warga kampung dan dipukuli sampai mati. (Lumayan juga, akhirnya mati juga)

sebenernya tujuan catatan kali ini apa ya?

Mon 23rd Jan, 2006, Daily Rants, Datelines

Geburtstag? Anniversaire? Compleanno? Birthday?

More aptly called: you are older than you were a year ago. There are a lot of expectations…. uh, expected of somebody gaining a year. One have got to be more mature, more wise, more of everything they say. Well, more of everyting that the society deems good and fit for a modern woman to have - whatever it may be. They are obviously things that I haven’t figured out as yet. Sometimes it’s good to be told. Although I don’t necessarily envy those women who lived in the Dark Ages, or before the Suffregettes… suffered, but oftentimes I think somehow that some freedom ball-handlers just took off running way too far. I know that we aren’t supposed to have everything both ways (that’s not what life is supposed to mean, according to some wise people), but whatever happened to going the middle way?

Who draws the lines on these things, anyway? I really would like to have a word with ‘em.

But still, although we strived to be better, to overcome our flaws and get better at what we do, what is the significance of anniversaries? That our planet, the humble Earth, happened to revolve around the sun every three-hundred-and-sixty-five days (give or take), that somehow a yearly cycle is much more important than a daily reflection of things? As opposed to living on Pluto, for example, where it takes absolute ages to make one complete circle around the sun. Plutonians, aren’t they? (or whatever, since NASA were unable to find evidence of intelligent, or not-so-intelligent, life forms on that planet yet)

I’m nitpicking, I know. Sometimes I wonder that my getting older doesn’t necessarily any more wise, nor does it make me any more mature. But one thing for sure: more nitpicky and that much closer to having a menopausal disorder.

Talk about having one’s glass half-empty.

By the way, the birthday was yesterday. I waited for another day to mellow down a bit. Trust me, the glass was nowhere near full yesterday.