Tue 24th Jul, 2007, Daily Rants, Earth, Case, Health

Belajar Menjadi Pemulung

Dengkul pegot, celana sobek, kepala benjot… padahal baru lima menit tiba di Gunung Geulis, lokasi berkumpul anak-anak muda yang aneh-aneh dan lucu-lucu.

Akhir pekan kemarin mungkin adalah salah satu akhir pekan terseru dalam beberapa bulan terakhir. Banyak yang dikerjakan, banyak yang dipelajari, dan banyak teman yang diperoleh. Bilangnya sih raker, tapi kok nggak kayak raker ya… lebih sering ketawanya, lebih sering santainya, dan lebih banyak belajarnya (baik dari sesi maupun di ruang tamu sambil ngobrol-ngobrol nyeruput kopi hitam pekat dan makan ubi goreng). Belajar tentang apa ya? Ada tentang daur ulang kreatif, tentang pemilahan sampah, dan tentang kompos. Hehehe, aku sendiri ikut, sebenarnya bukan karena felem The Inconvenient Truth (yang baru aja dipresentasiin oleh Bapak Emerald Starr di Pusat Perfileman Usmar Ismail), tapi lebih karena… em… pengen bisa bikin pernik-pernik keren dari sampah dan juga karena pak tukang sampah yang sering keliling rumah sekarang sudah semakin tua dan kita semakin bingung kalau sampah udah numpuk dan nggak ada yang jemput.

more…

Fri 30th Mar, 2007, Daily Rants, Case

Perompak Jalan Raya: Ranjau Paku dan Air Keras

Penodongan pengendara bermotor emang bukan hal yang baru. Modus operandinya ya macem-macem, ada yang sengaja menabrakkan diri ke kendaraan korban, atau yang bilang bahwa ada ban kita yang kempes, atau yang nyiramin spiritus atau air keras ke arah ban (seakan-akan bannya ngebul). Korbannya tipikal yang dipelem-pelem gitu: cewek/cowok yang nyetir sendirian, semobil isinya cewek-cewek kemayu, atau pengendara motor yang badannya kecil, dll. Pokoknya yang seseorang atau sekelompok orang yang tampangnya imut-imut, kemayu, atau tampang korban. Kalau wajahnya sangar, mirip Sumanto, mirip tukang pukul, mirip binaragawan, mungkin agak jarang jadi korban.

Baru-baru ini yang sering kejadian itu di daerah Pecenongan, terutama di Gang Kingkit hingga Sawah Besar. Waktu kejadiannya biasanya ketika matahari sudah terbenam, karena di daerah-daerah itu emang agak gelap dan agak sepi kalau semua toko sudah tutup.

Seminggu yang lalu, tante yang hampir jadi korban. Ceritanya, dia pulang kantor lewat gang itu dan dari belakang ada satu sepeda motor (dengan dua penumpang) yang mencoba menarik perhatiannya. Mereka berteriak-teriak seakan-akan ada masalah dengan salah satu ban kendaraan tante. Tentu aja tante takut dan nggak mau minggir. Lagian di gang sempit gitu, sama aja nyari gara-gara. Merasa teriakan mereka nggak digubris, mereka pun masuk ke dalam salah satu gang yang lebih kecil. Tante sengaja memperlambat mobil dan mematikan lampu dan melihat ke dalam gang tersebut. Boncengannya lompat turun dan bertukar dengan pengemudi motor, sambil bertukar helm juga (helm ketiga) dan kemudian langsung melaju keluar, mendekati kendaraan tante lagi. Dia pun berteriak-teriak menyuruh tante minggir. Dengan kata-kata yang sedikit berbeda, seolah-olah dia itu orang lain. Logikanya: kalau lebih dari dua atau tiga kelompok yang bilang ada masalah dengan kendaraan kita, berarti memang ada masalah kan?

Tapi, tante yang sudah sempat melihat pertukaran mereka malah semakin seru ngebut untuk kabur dari sana. Dan ternyata si pengendara motor itu pun mengejar sambil memukul-mukul sisi kendaraan. Wah! Yang ada malah semakin ngebut dong. Apalagi sebenernya udah deket banget sama rumah. Pokoknya, dalam pikiran tante cuma satu: “buru-buru pulang ke rumah”. Kalaupun memang ada masalah dengan kendaraan, toh nanti bisa dibetulkan di rumah. Bodo amat deh, katanya. “Mau tiba-tiba bannya ngegelinding kek, tinggal velgnya doang kek, pokoknya tante nggak mau berhenti.”

Setelah selesai berpanik-panik ria, dan sampai di rumah dengan selamat (ternyata emang kendaraan tante nggak kenaVa-kenaVa kok…), beginilah nasihat darinya:

  • Jangan pernah berhenti. 68% adalah hoax. Katanya sih, ban jaman sekarang nggak akan meledug cuma karena satu paku. Dicoblos banyak paku pun nggak serta merta meledaknya. Sering kali kempesnya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Beberapa hari yang lalu ada temenku yang bannya akhirnya kempes juga, ditemukan ada selusin paku di bannya. Sayang, tukang ban nggak mau tukeran ban pake paku. (Lah emangnya tukang sayur, kadang-kadang tukeran cabe dengan koran bekas?). Kalau kena ranjau paku, atau ranjau besi, itu mah pasti disengaja sama penjahatnya.
  • Perhatikan letak pos-pos polisi atau semacamnya. Kalau memang harus berhenti, berhentilah di sana.
  • Kalau tidak ada pos polisi, masuklah ke gedung parkir (gedung perkantoran), atau tempat parkir yang umum.
  • Jangan berhenti di warung atau semacamnya, apalagi kalau jalanan sepi. Bisa aja mereka itu sekomplotan.
  • Selalu bawa ban serep dan alat dongkrak. Harus bisa ganti ban sendiri. Paling nggak bisa ngelak harus berhenti di tempat yang “menyeramkan”.
  • Bawa ajudan bertampang sangar.

Jadi?

Thu 25th Jan, 2007, Case, Datelines

Numerologi dan Pernikahan

Kata bundaku tercinta, dua atau tiga hari sebelum hari H pernikahan, keluarga dari pihak mempelai perempuan bertandang ke rumah pihak mempelai laki-laki. Tujuannya, selain untuk bersilaturrahim juga untuk membawa barang-barang si perempuan untuk di simpan di “kamar baru”. Mungkin simbolis bahwa keluarga sudah merelakan anak perempuannya “keluar” dari rumah dan masuk menjadi anggota keluarga suaminya. Ya, kalau kedua mempelai punya rumah sendiri, tentu saja ngumpulnya di rumah baru itu dengan keluarga mempelai laki-laki sebagai tuan rumahnya.

Nah, berhubung sepupuku akan menikah hari Sabtu ini, jadilah mereka menggelar acara sambut-menyambut tamu hari Rabu kemarin. Dan… persiapannya ribet. Dari persiapan kamar pengantin (nggak boleh jorok dan berantakan, tapi harus rapi dan layak dipertunjukkan ke orang-orang yang datang), dekorasi ruangan, hingga menu makanan.

Sebagai peraturan, kalau mengadakan perayaan apa pun, atau kalau hendak menjamu tamu (entah itu di rumah sendiri atau di rumah makan, atau mungkin acara kebun), ada hal-hal yang mesti diperhatikan, dan salah satu yang paling penting adalah jumlah hidangan (tidak termasuk nasi dan minuman). Dan hal kayak gini banyak yang memperhatikan. Kemarin saja, banyak anggota keluarga yang tergolong dituakan, sebelum makan hampir dipastikan akan menghitung jumlah hidangan.

more…

Fri 10th Nov, 2006, Education, Case, Health

[Basbang Tak Mengapa] Dokter Google

Ngubek-ngubek internet untuk nyari informasi itu bukan hal yang baru. Dan tentunya, Internet yang nggak jelas bentuknya, dan nggak berat (cuma seberat perangkat yang digunakan… kalo desktop ya berat, kalo cuma henpon mah ringan kan ya). Bandingin ajah sama ngubek-ngubek perpustakaan untuk mencari informasi. Segitu banyaknya buku, segitu tinggi rak-raknya (ya, ya, saya memang pendek), dan segitu harusnya menjaga ketenangan (ga bisa pasang musik kenceng-kenceng, nggak boleh bawa makanan dan minuman, gak boleh ini, gak boleh itu). Belom lagi hukuman yang dijatuhkan oleh ibu-ibu perpus yang galak dan perawan tua… buku ga boleh lecek, ga boleh robek, ga boleh lecet, ga boleh kesobek, ga boleh kecabik. Belom lagi ngadepin buku-buku yang lebih tua daripada yang paling tua… yang nyentuhnya aja mesti pake sarung tangan (biar minyak dari kulit kita nggak ngerusak buku), dan harus ekstra hati-hati (biar nggak rusak, lah wong udah ratusan tahun bertahan, masa’ gara-gara si sayah ga hati-hati terus rusak. Ga ada gantinya tuh. Pake mesin waktu juga kayaknya nggak mungkin).

Tapi sekarang… tidak usah susah-susah lagi! Tinggal duduk di depan komputer (atau selonjoran, atau tengkurep, atau dengan gaya apa saja), buka salah satu search engine, ketik hal yang ingin diketahui di kolom yang tersedia, lalu… tinggal tunggu hasilnya. Dengan waktu yang relatif lebih singkat, aku udah dapat banyak link (tautan) ke artikel berita, catatan blog, atau pun laman web yang mungkin sesuai. Tapi tunggu dulu… seberapa akurat informasi yang didapat dari search engine ini? Kita-kita sih udah tau seberapa ampuhnya Om Gugel ini. Tapi sekarang… sudah ada bukti empiris, yang sudah terbukti secara formal (lewat penelitian segala loh) tentang betapa ampuhnya internet!

“Enam puluh persen,” kata para dokter yang menggunakan Google untuk mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan sukar seputar keluhan pasien. Dan keluhan-keluhan ini bukan keluhan-keluhan gampang. Kalo gampang mah, dokter junior juga tau.

more…

Mon 16th Oct, 2006, Daily Rants, Case

Ritual Berbelanja dan Hari Raya

Hari Senin, jam pulang kantor sonoan dikit. Saya diajak belanja ke Carrefour untuk melengkapi bingkisan Lebaran yang nanti akan dibuat (disusun?) oleh Nenek. Nyokap udah berbekal daftar belanjaan, yang isinya sudah bisa ditebak: biskuit, wafer, sirup, dan hal-hal semacam itu. Jalan Gajah Mada (Harmoni) terlihat agak lengang, nggak banyak kendaraan. Halte Busway Sentral Harmoni menjadi sumber cahaya, dengan bayang-bayang pohon beringin tua yang gundul tetapi tetap pe-de dengan balutan kain kotak-kotak hitam-putih.

Masuk ke parkiran Duta Merlin… nggak banyak kendaraan yang lalu lalang, dan parkiran juga masih luas. Kok nggak keliatan ramenya ya? Tapi seneng juga kalo nggak rame mah. Tapi, baru aja melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung belanja… whuzz whuzz whuzzz kereta dorong sudah berseliweran di mana-mana. Yang didorong oleh anak-anak, remaja yang lagi pacaran, pasutri baru, pasutri kelas kakap, dan seterusnya. Apakah saya harus mati karena kegiles kereta belanja?

Navigasi kereta belanja itu susahnya minta ampun. Ada tumpukan kaleng biskuit yang hampir ngalahin menara kembar Petronas di Malaysia, dan yang dari jauh aja udah keliatan goyang-goyang seakan mau runtuh… ada sekelompok anak kecil yang malah ngariung di tengah jalan… ada juga cewek dan cowok yang nggak tau kalo pasar swalayan di H-7 sebelom lebaran adalah bukan tempat pacaran yang bagus.

more…

Wed 3rd May, 2006, Education, Case, Datelines

Sehari setelah Hari Pendidikan Nasional

Hari Buruh Internasional jatuh pada tanggal 1 Mei. Banyak buruh yang turun ke jalan — unjuk rasa, memohon pada setiap telinga yang mau mendengar. Banyak toko dan pabrik yang tutup, banyak yang meliburkan diri, dan ada juga yang masuk kerja dengan perasaan “pengennya libur”. Hari Pendidikan Nasional jatuh pada tanggal 2 Mei. Banyak guru bantu yang turun ke jalan — kata mereka: jangan bedakan guru yang satu dengan guru yang lainnya. Dalam dunia pendidikan, masih banyak ketidakadilan, guru yang satu hidupnya lebih baik daripada guru yang lainnya. Guru yang pegawai negeri berbeda dengan guru yang pegawai swasta, dan berbeda pula dengan guru honorer, atau guru bantu. Padahal sama-sama guru. Padahal sama-sama buruh. Padahal….

Ada dua temanku yang sekarang mengabdikan diri mencerdaskan bangsa. Yang satu bekerja sebagai guru sekolah dasar di sebuah sekolah swasta. Yang satu lagi menjadi sukarelawan — mengajar anak-anak terlantar. Keluhan keduanya pun berbeda-beda.

Yang satu berkata: “Dasar anak orang kaya! Diomeli malah ngomel balik! Masa’ aku menegur eh, dibalas ‘eh, lu guru, diem deh! yang bayar elu kan bokap gue juga’. Terus aku harus bagaimana? Tapi sebodo ah, yang penting tiap bulan digaji tetap dan bisa nyicil kontrakan rumah. Abis ini gue pindah kerja ke sekolah laen aja.”

Yang satu lagi mengeluh: “Kalo soal perilaku anak didik, gue salut. Mereka seharian capek ngamen, nyemir sepatu, jadi pemulung, tapi sempet2nya ganti baju lalu hadir untuk kegiatan belajar mengajar. Bahkan sering minta pe-er lebih. Cuma gue kasian. Mereka ga punya tempat belajar yang tetap, nggak punya sarana yang memadai.”

Sebenarnya apa sih yang diperlukan Indonesia supaya pendidikan benar-benar dapat berguna bagi masa depan anak didik? Masa depan yang seperti apa? Berguna yang macam apa?

Sun 26th Mar, 2006, Daily Rants, Case

Corruptible forces

Beberapa hari yang lalu, aku mendapat undangan dari almamater untuk menghadiri seminar terbuka tentang Kapitalisme. Seminar ini akan membahas berbagai ide tentang kapitalisme, khususnya kapitalisme sebagai bentuk kolonialisme baru, pencipta tren dan budaya baru dalam kehidupan sosial masyarakat. Selain itu, hendak dibahas pula pergeseran peta sosial akibat kekuatan ekonomi baru, pemetaan ulang kaum berkuasa dan kaum tersingkir (a la teori orientalisme Edward Said dan teori sub-altern Gayatri Spivak dan Homi Bhabha).

Kok dikirim ke aku, ya? Sejenis spam intelektual, mungkin? Sepem gitu loh. Dan yang diomongin kan berat-berat banget. Lagian ngirimnya juga waktunya mepet: tanggal 25 Maret (kemaren gitu loh)! Halah. Selain itu, seminarnya ya diadakan di negeri Pangeran William (muah muah). Siapa coba yang mo ngongkosin aku? Susah juga punya almamater yang terlalu “perhatian” sama alumninya. Seneng juga sih dapet spem kek gini, bisa aja ngebohongin diri sendiri kalau-kalau universitas itu masih sayang sama aku. Tjih. ehem) Habis manis, sepah diinjek-injek?

Tapi, ada juga temen yang ngirim-ngirim e-mail sambil cerita panjang lebar soal hal di atas. Di emailnya yang sempet aku cuekin itu (udah panjang, datengnya subuh-subuh. Orang mau tidur malah disodorin analisa panjang kali lebar), dia cerita banyak soal tradisi ekonomi dan sosial.

Indonesia terkenal dengan korupsinya, itu sudah nggak bisa dipungkiri lagi. Banyak pihak baik di dalam dan di luar negeri yang menuding begitu. Di dalam negeri banyak upaya sudah dilakukan untuk menghilangkan rasa pahit di mulut yang ditinggalkan oleh tudingan semacam itu. Orang mana sih yang mau dituduh-tuduh maling?

more…