Sat 28th Aug, 2010, SocMed, PB2010

Makassar: Pagi Pertama, Blogshop

« Sebelumnya…

Setelah menjadi saksi-untung-masih-hidup dari cara menyetir Homo sapiens macassarensis di habitat aselinya, kami tiba juga di ICT Center, Universitas Negeri Makassar, untuk menghadiri Blogshop perdana rangkaian roadshow Pesta Blogger 2010.

Cerita yang membawa kami sampai ke ICT Center itu sebenarnya bermula dua minggu sebelum hari-H. Ketika menerima kabar kalau ruangan Unhas kali ini tidak bisa jadi ‘tuan rumah’ blog workshopnya Pesta Blogger Goes to Makassar, sebenernya sempet panik juga.

Dari Nanie, menerima info tentang Pak Linson, yang bekerja di Telkom yang memang sudah banyak membantu blogger-blogger Makassar. Langsung saya kirim sms ke Pak Linson. Ternyata Pak Linson sedang tidak ada di Makassar, jadi beliau beri saya nomor koleganya, Pak Putu. Dari Pak Putu saya mengetahui bahwa Speedy Learning Center di sana hanya muat 12-15 orang. Wah sedihnya. Padahal target kita 40an orang atau lebih.

Kemudian masuk email dari Nanie, ternyata ada masukan dari teman Anging Mammiri, bahwa ada tempat yang namanya ICT Center - UNM. Dan katanya cocok. Saya juga kemudian menelepon Pak Amir, diberi penjelasan tentang ruangan2 yang ada di ICT Center.

Dari percakapan singkat saya dengan Pak Amir, terdengar Pak Amir seperti seseorang yang sangat membantu dan baik sekali. Sangat akomodatif dan sangat ramah.

Saya juga sempat mendengar bahwa Ntan dan segenap teman-teman AngingMammiri sempat ketar-ketir menunggu pendaftar masuk. Bahkan kayaknya Iqko sempat termimpi-mimpi kalau pesertanya cuma lima orang! Oh tidak!

more…

Tue 24th Aug, 2010, Story, PB2010, Travel

Makassar: Pagi Pertama, pra-acara

« sebelumnya…

Setelah kenyang makan mie titi, langsung menuju hotel. Kasihan Rara besok harus menghadapi sebegitu banyak media, dan sepertinya yang lain juga sudah lelah seharian mempersiapkan acara hari sabtu. Ternyata toko mie itu nggak jauh dari Pantai Losari, dan hotel tempat saya numpang menginap juga ternyata nggak jauh dari toko mie, dan berarti nggak jauh dari Losari juga. Tapi kalau melongok dari jendela, nggak begitu kelihatan. Nggak kelihatan ada pantai, maksudnya.

Kekenyangan, kami pun segera tertidur, dan masih dengan semangat 17an, pun memulai aubade ngorok yang, menurut saya sih, lumayan menggetarkan jiwa (atau paling tidak, jendela).

Tak terasa. Tiba-tiba sudah pagi. Sudah waktunya doping kopi dan berangkat ke tempat blogshop.

Hari itu pula saya pun mengerti bahwa pertanyaan seperti “ke [sebut nama tempat] dari sini berapa lama?” itu pantang diajukan pada seorang pengemudi berdarah Makassar.

“Ya tergantung. Maunya berapa lama?” jawab Rara sambil oper gigi geraham, eh gigi atret.

more…

Mon 23rd Aug, 2010, Story, PB2010, Travel

Makassar: Malam Pertama

Hari Jumat lalu saya bertolak ke Makassar menggunakan pesawat Lion yang paling malam (yang tidak malam-malam amat juga, kan baru jam 10). Penerbangan ke Makassar — Ujung Pandang — itu memang dua jam, tapi kalau dipikir-pikir, lama juga. Sudah ingin cepat-cepat ketemu dengan teman-teman yang sudah duluan berangkat ke sana, dan teman-teman yang memang sudah ada di sana.

Dua jam, satu zona waktu, dan satu panggilan telepon kemudian, bertemulah saya dengan Rara pada kursi kemudi, Masset di kursi navigator; di sebelah kiri saya ada Nanie dan Irha, sedangkan di belakang ada Anbhar. Ntan dan Herman menemani dengan doa dari jauh (wah ini perlu ada cerita satu jilid sendiri lagi!)

Dan berhubung sebentar lagi juga sudah mau sahur (paling tidak dari teriakan-teriakan anak-anak bersepeda motor), kami pun berangkat mencari sesuap mie. Berhenti sebentar di Mie Anto, keburu habis. Proses parkirnya Rara dihentikan oleh daeng yang bertugas di pelataran parkir, “Habis! Habis!” katanya. Yaaaa, ketjewa. Akhirnya kami pun pergi ke Mie Titi Datuk Museng yang dekat Pantai Losari situ. Buat saya, karena lapar, semuanya enak. Tapi kata Nhie, Mie Anto lebih enak (dilihat juga dari Mie Anto tampaknya lebih laku, hehehe).

Ternyata mie titi itu macam ifumie gitu, walau sempet bingung waktu mendengar deskripsi teman seperjalanan di pesawat, “Ko mesti coba mie titi.”

“Mie titi itu apa?” tanyaku.

“Itu macam mie goreng, tapi kering; macam spageti tapi bukan,” ia dengan pantang mundur mencoba menjelaskan. Ternyata ifumie!

more…

Fri 14th May, 2010, Datelines, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-9

Cepat atau lambat, cepat juga

Saya jadi ingat obrolan antar dua teman di kantor. Teman yang satu bekerja di bagian pembukuan (atau kuli sempoa, katanya), teman yang satu lagi dari divisi teknologi (kuli komputer). Bagi sang akuntan, bila belum setahun itu berarti masih jangka pendek. Bagi sang technogeek, lewat beberapa bulan saja sudah jadi basbang, alias basi banget.

Bagaimana menghitung kehidupan, dan bagaimana memberi label ‘lama’, ‘baru’, atau apa saja?

Hari ini seorang teman berulang tahun. Saya kenal dia dari blog. Dulu, dulu sekali, kira-kira sembilan tahun yang lalu. Saya lupa jelasnya gimana. Kalo nggak salah, semua berawal dari kunjungannya ke blog saya (yang sekarang sudah nggak ada lah yaw). Kami pun ngobrol via kotak komentar di blog masing-masing, tukar-menukar surel, dan ngegosip di ranah maya.

Saya juga ingat, betapa betenya dia setiap kali saya mengumumkan pindah blog, dan ganti nama julukan. Sejak pertama kali saya ngeblog tahun 1998 (di lycos/tripod atau excite ya? lupa deh. dan waktu itu namanya masih diary-ing, ya?), saya memang orangnya bosenan, mencoba-coba layanan blog baru, dan gonta-ganti nama panggilan/pena/samaran (baru belakangan ini saja agak konsisten dengan nama ‘henzter’. mungkin saya sudah terlalu tua, mungkin juga saya sudah menemukan jati diri *cih!*).

Sedangkan dia orangnya ’setia’, ya paling nggak dia setia di layanan pitas.com sampai lebih dari lima tahun! *kabur sebelom dikejar-kejar sama yang bersangkutan*

Dia juga bakat banget jadi teman yang setia, bagi saya yang orangnya ‘cuekan’ ini. Saya ini paling malas mainan facebook, paling malas memutakhirkan ini itu, termasuk juga malas berbalasan surel atau sekadar menanyakan ‘apa kabar’. Benar-benar bukan tipe teman yang bisa menjaga pertemanan dengan aktif. Syukurlah, ada dia, yang betul-betul rajin menjaga agar tali pertemanan tidak putus. Bayangkan betapa susahnya. Waktu pertama kali kenal, dia di Indonesia dan saya tidak. Ketika saya pulang, eh, giliran dia pergi. Sekarang pun juga agak sulit bertemu karena kesibukan masing-masing. Tapi, dia selalu ’setia’ mengingatkan.

Sekarang sudah hampir sembilan tahun berteman. Saya kaget sekali ketika mengetahuinya. Rasanya kok belum lama ya, dia menegur saya di blog saya. Tapi ternyata sudah sebegitu lamanya.

Tapi, mau dibilang lama juga kok rasanya baru? Masih banyak hal yang mengejutkan kami, walau kesannya sepele, tapi lucu juga ketika dibahas dan dibayangkan. Misalnya, ternyata saya punya jam meja persis yang sama dengannya. Bukan saya sih, tapi orang tua saya punya jam meja yang persis sama dengan yang dimiliki orang tuanya. Sama-sama hadiah pernikahan. Sama-sama diberikan di tahun yang sama. Serbet meja? Jangan tanya.

Haha, seperti menemukan saudara yang hilang.

Selamat ulang tahun, Nana!

Thu 13th May, 2010, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-8

Sepi atau ramai?

Suka yang sepi-sepi atau yang ramai-ramai?

Hari ini hari libur, otomatis kantor pun libur. Tapi, saya (dan beberapa teman) tetap masuk untuk mempersiapkan apa pun itu yang diperlukan menjelang keberangkatan mereka (bukan saya, hore!) ke tempat pelanggan di luar kota.

Kantor sepiiii sekali. Kalau ini hutan, pasti sudah bunyi krik, krik, krik. Tidak ada suara mesin tik jadul yang menyerupai rentetan senapan mesin. Tak satu pun radio yang dinyalakan (biasanya, tiga radio dinyalakan bersamaan, masing-masing manteng di frekuensi yang berbeda-beda, dan adu kencang). Telepon juga sunyi senyap, nggak berisik berdering terus menerus, kayak dikejar setoran saja.

Enak, nggak ada yang ganggu.

Tapi ada nggak enaknya juga. Karena sepi dan tak ada orang, kalau mendengar abang bakso lewat, nggak bisa dengan semena-mena pencet interkom ke teman yang di lantai bawah untuk titip bakso. Nggak bisa juga teriak dari jendela karena suara kentongan abang bakso lebih kenceng dari teriakan saya. Pernah terpikir untuk mencoba menarik perhatian abang bakso dengan melempar penghapus ke arahnya (seperti dulu bu guru melempar kapur untuk menarik perhatian murid yang tanpa tedeng aling-laing ngobrol di depan matanya); tapi kayaknya abang bakso itu malah mungkin akan balas melempar mangkok.

Tak lama kemudian, anak-anak yang tinggal di sekitar sini pun mulai menggelar peralatan sepak bola mereka. Lumayan, nonton pertandingan sepak bola gratis, sambil menduga-duga siapa kira-kira di antara anak-anak yang ceria itu yang nantinya akan jadi pesepak bola nomor wahid di Indonesia dan dunia.

*mak, lapar mak*

Wed 12th May, 2010, Non-sequitur, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-7

Seminggu dan Tiga-koma-sekian Minggu Sisanya

Pada hari ke-7, Tuhan beristirahat. Kalau begitu saya juga! :disambar petir: Tidak sepenuhnya benar :) Tuhan beristirahat karena pekerjaan penciptaannya sudah selesai, dan karena semuanya sungguh amat baik.

Sedangkan saya? Walau sudah hari ke-7, pekerjaan ini belumlah selesai, masih ada sisa 24 hari lagi.

Dan pun kalau sudah selesai semua, masih diragukan apakah semuanya baik buahnya. :yang ada busuk semuanya: *terkekeh-kekeh*

Jadi, hari ini? Maaf, tidak ada postingan berbobot (lha! memangnya sebelumnya ada bobotnya :memandang timbangan badan:) Hanya semacam retrospeksi picisan dan sekadar menandai titik pencapaian pertama.

*hosh hosh hosh*

Tue 11th May, 2010, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-6

Terpisahkan Jarak dan Waktu

Hampir saja lupa untuk ngeblog. Tak terasa, tiba-tiba udah Rabu aja. ::lirik jam:: Jadi sebenernya, seharusnya blog Selasa dianggap bolong, kalo puasa itu berarti ngutang. Tapi, kan di beberapa tempat di belahan bumi lain masih hari Selasa! Bahkan, pasti ada belahan galaksi yang hari ini masih Senin ::mencari pembenaran yang salah::

Eh, jadi enaknya ngomongin apa, ya?

Oh iya, dulu saya punya temen. Sekarang juga masih, tapi maksudnya ini nyeritain tentang jaman dulu, bukan tentang dulu bertemen tapi sekarang nggak. Um… eh iya, kembali ke topik.

Dulu saya punya temen yang dikirim kantornya ke luar negeri, untuk berkantor di sebuah kota di negeri itu.

Berangkatlah dia.

Dan kangen rumahlah dia.

Nahasnya, karena kesibukan dia di siang hari (waktu setempat), dia hanya bisa telepon-teleponan setelah hari menjadi sore di negara itu.

Sialnya, letak geografis negara tersebut bener-bener nggak banget deh. Serba nanggung. Di sana sore, di sini malam. Di sana malam, di sini tengah malam buta. Intinya, jam teleponnya sama dengan jam tidur kebanyakan orang yang disayangi dan dicintainya.

“Nggak tega ah, Hen. Udah malem buat mereka.”

Entah karena saya bukan termasuk ring orang yang dicintai atau disayanginya, atau karena saya termasuk orang yang sering bergadang, atau kombinasi keduanya, dia kok kalo nelepon saya tega-tega aja tuh.

Sempat saya suruh, “telepon cowok lu aja ‘napa sih? Kalo dia cinta, dia layanin dong curhatan elo. Walau tengah malam buta sekalipun.”

“Ya gue ga enak aja sih, dia kan butuh tidur.”

“Lah gue?”

Dia cuma tertawa, dan mulai titip pesan ini pesan itu untuk kekasihnya dan keluarganya (di samping tentunya dia menggunakan kecanggihan email untuk berkirim pesan yang lebih bersifat pribadi).

Sekarang dia sudah menikah, dan sudah diboyong suaminya (iya, yang tukang tidur itu) ke negara lain lagi; ke negara yang perhitungan jamnya lebih bersahabat.

Dan, entah karena saya telah berjasa menjadi penghubung kedua sejoli yang sempat terpisah jarak dan waktu, atau karena saya termasuk orang yang sering bergadang, atau kombinasi keduanya, suatu hari, tengah malam buta, “Hen! Anakku cewek! Kedengeran nggak?”

Sayup-sayup terdengar tangisan bayi, kencang, kuat dan sehat.

Selamat datang di dunia, nona manis. Semoga kamu tumbuh bahagia, sehat, kuat, dan kalau sudah bekerja, jangan kerja di negara yang aneh-aneh waktunya, ya.

Mon 10th May, 2010, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-5

Street Football

Tadi pagi, saya menemukan hal baru di atas aspal di depan kantor saya. Garis-garis penanda gawang yang belakangan ini sudah mulai memudar, tiba-tiba jadi putih tajam kembali. Bahkan ada banyak penanda-penanda baru. Ada apakah gerangan? Oh, ternyata sempat digunakan untuk lomba free kick hari minggunya. Nggak ada hubungannya sama kiprah Chelsea di EPL tapinya, ya.

gambar di lantai

Di daerah sekitar tempat tinggalku, paling tidak ada dua ‘klub’ sepak bola (kalau boleh disebut demikian). Bila Chelsea punya ‘rumah’ di Stamford Bridge, dengan rumputnya yang hijau dan suasana bak ‘katedral’ (bagi yang mengaku beragama bola), maka klub sepak bola lokal ini menyebut jalan raya sebagai rumah mereka. Yang satu ya yang di gang depan kantorku ini; yang satu lagi menguasai Jalan Juanda 3. Dan bila mereka bermain bola (biasanya hari minggu siang menjelang sore), kendaraan yang melintas sebaiknya putar balik dan mencari jalan lain, apalagi kalo pertandingan sedang sengit-sengitnya. Bisa-bisa mereka marah.

Teman saya pernah diteriaki dan mobilnya dipukul-pukul karena mengklakson dan tidak mau berputar balik. Salah saya juga, mengundang dia datang ke rumah saya tapi lupa memberitahukan jalan alternatif. Jangankan yang naik kendaraan roda empat, kadang-kadang numpang melintas pakai sepeda motor atau bahkan berjalan kaki saja sudah lumayan takut. Takut kejedot bola, maksudnya.

Bahwa mereka ‘menguasai’ jalan yang seharusnya milik umum (biasanya mereka memasang bangku warteg yang panjang itu sebagai portal, juga mendirikan gawang lipat, serta punya ‘tim pengaman’ sendiri) tentu membuat banyak pengguna jalan raya marah, atau paling tidak ngedumel dan mengumpat. Pernah suatu hari saya mendengar pertengkaran antara seorang supir truk dengan kelompok anak-anak ini.

“Emangnya jalanan ini punya mak loe!” si supir itu marah.

“Lah! Emangnye kite bisa maen di mane lagi, Bang!” seorang anak menyahut, diiringi sorak-sorai teman-temannya.

Sun 9th May, 2010, Foodstuff, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-4

NENEK

Dari dua nenek dan dua kakek yang kupunya, sekarang tinggal satu, ibu dari ibu saya. Kedua kakek dan nenek yang satu lagi (ibu dari ayah saya) sudah lebih dahulu berpulang, dulu dulu sekali, sampai kadang-kadang saya juga sudah lupa banyak sekali tentang mereka.

Walaupun masih banyak sesepuh seangkatan nenek di keluarga besar, tentu beda deh sama nenek beneran.

Rumah nenek nggak jauh dari rumahku, cuma beda gang malah. Tapi walau dekat begitu, paling dalam seminggu cuma sekali dua kali yang ketemu tatap muka yang cukup lama. Sisanya cuma sekadar lambaian tangan ketika saya melintasi rumahnya dalam perjalanan pulang dari kantor (yang juga dekat rumah, nyata kan mengapa saya cepat malas ngurus foursquare).

Bahkan kayaknya, belakangan ini, total jam yang saya habiskan bertemu teman lebih banyak daripada total jam yang saya habiskan untuk bercakap-cakap dengan nenek.

Itu juga karena setiap hari minggu nenek hampir pasti mampir lewat rumah mengantarkan nasi tim dan pastel, kalau nggak mampir, mungkin juga nggak setiap minggu ketemu.

Ibuku selalu berusaha untuk mendekatkan anak-anaknya ke nenek, mengajak semuanya untuk sering-sering ketemu nenek, entah ngajak nenek jalan-jalan keliling kota, atau sekadar duduk-duduk di meja makan sambil menikmati kudapan.

Nenek lahir di penghujung perang kemerdekaan, jadi tidak bisa banyak cerita tentang perang itu sendiri, melainkan menceritakan ulang apa yang ia dengar dari ayah dan ibunya. Kadang-kadang ia bercerita tentang tahun 60an, sukanya dan dukanya, terutama ketika lagi hebohnya gerakan anti-komunisme, dan imbasnya terhadap dia dan keluarga, terutama saudari-saudarinya.

Menurutnya, kehidupannya adalah kehidupan yang masuk dalam kategori ‘biasa’. Tidak terlalu wah, tidak terlalu penuh skandal, atau sampai layak dijadikan filem Takada Akar Ram Punjadi. Tidak terlalu miskin, juga tidak kaya sekali. Tidak susah sekali, tapi juga tidak bisa dibilang nyaman.

Tapi cerita tetap cerita, kehidupan tetap kehidupan. Sejarah orang biasa pun cerita yang menarik dan bisa digali kebijaksanaanya. Saya sendiri menganggap cerita-ceritanya selalu menarik, mungkin karena cara ia menceritakannya.

Atau kadang-kadang kami bernostalgia. Saya ingat ketika dulu saya belajar bahasa sunda dan jawa dari nenek, bukan sunda lemes atau jawa halus, tapi paling tidak berguna untuk percakapan sehari-hari.

“Nenek kamu tinggal satu lho!” Ibuku sering mengingatkan, apabila ketika saya sedang kumat napsu tidur seharian penuh pada hari minggu dan menolak diajak berkunjung ke rumah nenek.

Dan terus terang, saya juga berharap nenek akan terus bisa bersama dengan kami. *hugs nenek* *sambil makan pastel*

Sat 8th May, 2010, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-3

Mengartikan Kata “Nekad”

Omong-omong, ini baroe pertama kalinja saia onlain di loear roemah, di kafe tepatnja. Doh, ini gara-gara online dari Kopitiam Oey nih, nulisnya ketularan jadoel. Huh. Tapi lucu juga, menunya Kopitiam ini semuanya pake ejaan dan kosa kata jadoel. Eh tapi ini nggak ngomongin Kopitiam, deh.

Juga nggak ngomongin tentang online di kafe deh. Lucu juga lho, online di kafe, jadi rasanya kayak profesional, ‘woman kerir’ gitu. Atau penggiat industri kreatif, pokokna perasaanya keren deh.

Eh iya, kembali ke topik semula (hayah!)

Nekad. Kenapa nekad? Ya eya laah. #Blog31Hari. Jangankan ngeblog yang masuk kategori makro yang kayak gini (nulis berparagrap-paragrap), mikroblogging juga kayaknya nggak ada tuh yang sampe 31 hari berturut-turut. Ni bakal jadi rekor kayaknya deh.

Jangan tanya kenapa, kadang-kadang sesuatu kegiatan yang didasari kenekatan, disertai hilangnya akal sehat, dan ketiadaan nalar itu, ya nggak bisa dijelaskan. Kalo terpaksa banget menjelaskan, mungkin…. mungkin apa, ya? Kayaknya seru aja.

Ya, biarin deh. Nanti kalo udah sampe kefefet banget, saya akan kupipes berita dari media online ke sini (toh mereka sudah mirip blog daripada jurnalisme serius, paling tidak dari bahasa dan cara penulisannya).

Kalo sampe kefefet banget, berita itu akan saya terjemahkan menggunakan layanan gugeltrenslet! Ada 31 bahasa, khan? (my name is KHAN! Bu Khan!) Hahaha *ketawa setan, nyengir gigi*

Dah. Blog hari ketiga selesai ditulis! HORE! *ditimpuk meteor*

Fri 7th May, 2010, Blog31Hari, SocMed

#BLOG31HARI: Hari ke-2

Empat Petak Itu namanya Porskwer

“Mbak Hen, aku add porskwer-mu dong,” kata seorang temanku, pada suatu hari.

“He? Apa itu?” Saya kira apa gitu, tapi ternyata yang dimaksud adalah foursquare.

Percakapan ini terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Sebelumnya saya memang sudah pernah denger-denger tentang aplikasi jejaring sosial berbasis lokasi, atau bisa juga disebut jejaring sosial yang mempermudah orang untuk menguntit Anda. (ya walau dulu juga sebenernya sudah mudah sih, kalau saya lihat-lihat dari rentetan status beberapa teman yang isinya alamat lengkap, bahkan ruangan di mana dia waktu itu berada — di wc! di kolong ranjang!)

Suatu saat nanti, tidak perlu radar untuk menembakkan peluru kendali. Calon teroris masa depan disuruh main social media saja sejak dini, biar ketagihan. Para pengintai tinggal follow oknum-oknum mencurigakan itu saja.

@t3r0r1s_1mYu7 | I’m in da wc! (Gedung Tinggi Sekali Lvl 7-01, City A, Country B)

Bahkan kayaknya ada juga yang memampangkan koordinatnya. Entah salah entah benar, tapi…

EH, kembali lagi ke foursquare. Akhirnya awal bulan ini saya gabung juga, dong, dengan foursquare. Awal-awalnya masih ‘panas’: rajin memperbaharui status, rajin menuliskan tips dan catatan-catatan, rajin memperbaiki tag dan kategori.

Lama-lama tersadarkan bahwa foursquare saya benar-benar empat petak! Rumah, kantor, halte bis, toko roti. Rumah, kantor, halte bis, toko roti. Dan sialnya lagi, rute saya begitu benar-benar bentuknya hampir kotak. Four squares betulan! Alamakjang. Sudah ditambah variasi warung sebrang kantor, restoran dekat rumah, bank dekat rumah… tapi ya… nggak ada kemajuan sama sekali. Hanya hari Sabtu saja saya bisa agak ‘keren’, berkunjung ke provinsi sebelah. Tapi itu pun jadi repetitif dan gitu-gitu aja.

Iri sekali dengan teman saya yang sebentar di Pasar Rebo, nyebrang ke Pasar Jumat, ke Pasar Minggu, dan berakhir di Pasar Senin, semua dilakukan pada hari Selasa.

Lalu, teman saya berkomentar, “Ya, nggak usah mampir ke tempatnya baru update status deh kalo gitu mah, semua masih dalam radius rumahmu itu lho!”

Menyedihkan. Jadi kalau pun sekarang saya masih mainan foursquare, semuanya “off the grid” bukan karena saya reklusif atau sejenisnya (toh saya pasti ke situ-situ juga), tapi supaya agak tktq.net lah.

Fri 7th May, 2010, Daily Rants, Blog31Hari, PB2010

#BLOG31HARI: Hari ke-1

CELEBRATING DIVERSITIES: MERAYAKAN KERAGAMAN
UNTUK KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

Perubahan nggak bisa dihindari, sama aja kayak panjang rambut yang berubah-ubah walau sudah dipotong terus setiap bulan. Perubahan itu tergantung gimana kita ngeliatnya. Bisa aja kita berubah, supaya tetap sama seperti dulu. Atau kita bisa berubah, seperti layaknya Satria Baja Hitam, sampai nggak bisa dikenali lagi (bahkan sama gebetan sendiri).

Atau kita bisa berubah untuk menjadi lebih baik. Kita bisa jadi agen perubahan *pasang lagu jembon*
more…

Wed 2nd Jul, 2008, Non-sequitur

Bila bertemu hantu…

Nggak begitu jelas kenapa, tadi siang malah jadi berbalas-balasan sms hantu dengan salah seorang teman. Karena dirasa sms mulai masuk ranah mahal, maka kami pun berlanjut bercakap-cakap melalui telepon (panas panas deh tuh telinga).

Entah kenapa (dan kapan) pula jadi muncul pertanyaan: “kalau kamu ketemu hantu, kamu akan ngapain?”

“Gue bakal undang tu hantu makan malem di tempat gue, trus bakalan gue tanya-tanyain,” jawab temanku.

“Tanya-tanya gimana?”

“Misalnya, abis mati lalu kita ke mana? Surga seperti apa? Neraka? Fasilitasnya apa aja? Kenapa sampai gentayangan? Bagaimana cara menghindari jadi arwah gentayangan? Gentayangan itu enak nggak? Kuburan mana yang enak? Kuburan mana yang nggak banyak hantu premannya? Yang tetangga sebelah kuburnya baik-baik?”

Bagi teman saya, apa yang datang setelah kematian itu seperti sebuah destinasi wisata, dan hukumnya wajib untuk bertanya kepada orang yang sudah pernah ke sana. “Nih ya, contohnya, loe mau ke Bandung tapi belom pernah ke sono, pasti kan loe nanya sama yang udah pernah ke sono, yang emang tinggal di sono, atau tau keadaan di sono… Jadinya loe dah siap harus bagaimana.”

Lalu saya bertanya, memangnya tidak kaget dan takut kalau hantunya tiba-tiba muncul. “Jangankan hantu, deh,” jawabnya, “lah adek gue tiba-tiba nongol malem-malem mau ke WC aja gue kaget dan jantungan. Tapi abis gitu kan ya sudah.”

Nah, lalu bagaimana kalau hantunya ternyata tidak berminat untuk ditanyain? Bagaimana kalau hantunya tega banget, sukanya kekerasan terhadap manusia, dan penganut paham premanisme liang kubur? “Ya gue minta tolong hantu laen, apartemen gue tuh ngadep ke kuburan, masa ada ratusan hantu, nggak ada satu juga yang mau nolongin gue?”

Kadang-kadang saya merasa khawatir dan sedikit kasihan pada hantu mana pun yang secara apes nyasar ke tempat tinggal temanku itu.

Fri 27th Jun, 2008, Daily Rants

Pulsa: Antara Dihabiskan dan Tidak

Sekarang adalah jamannya perang tarif, pulsa lima puluh ribu susah sekali untuk dihabiskan. Beda dengan jaman saya masih sekolah dulu. Yang tidak berubah adalah tengat pengisian pulsa yang tetap “mencekik” alias baru isi hari ini besok sudah habis lagi masa pakainya.

Ini yang membuat saya dilema, di satu sisi saya senang juga kalau pulsa tidak cepat habis, tapi saya tidak senang kalau pulsa saya yang masih banyak itu sudah harus “diisi ulang” lagi untuk menghindari hangusnya nomer saya. Kan sebel, punya pulsa sampai ratusan ribu, tapi nggak jelas mau diapakan supaya habis.

Makanya, saya sebenarnya bersyukur juga banyak menerima curhatan beberapa minggu kebelakangan ini (nggak cuma curhat sih, banyak juga saya nostalgia bersama teman-teman yang sudah lama saya cuekin).

“Nggak apa-apa, aku telepon kamu ajah, aku mau ngabisin pulsa, tinggal beberapa hari lagi nih,” begitu aku sering bilang, terutama pada seorang teman yang baru saja dikaruniai seorang anak imut nan lucu, yang sering minta ditemenin bergadang sambil menunggu puteri cantiknya bangun minta digantiin popok dan diberi mimik susu.

Cuap-cuap-cuap-cuap. Tak terasa sudah dua jam lewat. Lihat jam, lihat call duration. Dipas-paskan sampai tiga jam lalu kami sei gutbai. Lumayan. Pasti pulsaku berku…

Hmmm… dapat sms. Dari siapa ya?

“Selamat, Anda mendapatkan kembali pulsa bicara sebanyak satu jam gratis. Pulsa akan dikreditkan bla bla bla.”

KEH?! Jadi… jadi… pulsanya nambah lagi? Buru-buru cek ke jaluran informasi pulsa. Benar saja, pulsa saya jadi tambah banyak lagi, tapi waktu tengatnya nggak nambah.

Bukannya saya konsumen yang tidak tau terima kasih. Tapi buat apa dikasih pulsa banyak-banyak kalo waktu tengatnya nggak ditambahin. GRMBL GRMBL!

Udah susah-susah mau ngurangken pulsa, sampe telinga berpanas-panas, malah dikasih. Sekalinya minta pulsa, lagi butuh pulsa, malah nggak dikasih-kasih.

Ya ya, rumput tetangga memang lebih hijau bagaimana juga.

Fri 25th Apr, 2008, Daily Rants, Datelines

Mbah Botti!

Nggak tau kenapa, kayak ditimpa duren keberuntungan, hari kemaren (skarang kan subuh hari Sabtu, 26 April; jadi kemaren itu tanggal 25 April, hari Juma’at) saya tiba-tiba bisa satu ruangan sama Chris Botti, tukang terompet jazz kenamaan.

Aduh! Seneng banget. Terima kasih Jeng Enda, terima kasih Mbah Wicak. Rame-rame bareng Deden, Budizainer, dan Hudehel Is Imansyah, kami mengagumi yang namanya Chris Botti.

Ini kali pertama saya seruangan sama artes pujaan merek apa pun, dan teori saya tentang “saya ga akan pingsan kayak di pelem-pelem atau nangis histeris” itu dipatahkan begitu saja. Tiba-tiba keringet dingin, nggak bisa berkata-kata (sepikles), dan cuma bisa senyam-senyum kayak ikan doping sambil menatap kagum ke arah panggung. Itu aja ngeliat dari jauh, apalagi kalo dari deket (:D)

Jadi, ceritana begini, saya tuh dulu seblom kuliah tuh nggak suka banget sama yang namanya musik. Kalo ada acara musik di TV seringannya di-skip atau ditonton tapi nggak diresapi (biasanya es-a-ep-a-er-i sapari, atau ACI itu didenger sebelah kuping). Tapi, beranjak kuliah, saya jadi tiba-tiba kenal sama yang namanya musik. Apalagi teman-teman seasrama itu gila musik semua.

Nah, menjelang tahun terakhir saya kuliah, saya dapet albumnya Chris Botti ini (ikutan sayembara naon lah di radio subuh gitu) — salah satu album Jazz pertama sayah. Dan ternyata, selain tampangnya yang ngganteng (walau udah seumur mbah-mbah), ternyata lagunya… asik banget. Kayak Miles Davis, tapi nggak berat-berat amat. Wynton Marsalis tanpa komplikasi jantung. (kata orang lah). Kalo perlu penjelasan yang lebih dalem, harus tanya sama Mbah Wicak. Saya gak ngerti kalo dalem-dalem. Kalo kata saya: enak di telinga, enak di mata. Album yang itu sudah saya kasihin ke temen saya sebagai hadiah nikah; tapi saya juga punya satu CD album yang sama yang sekarang udah baret-baret dan ga bisa didenger lagi (saking dulunya terlalu militan didengerin).

Saya seneng, walau sedih ternyata nanti pas konser harga tiketnya itu enem ratus rebu perak (katanya untuk kelas jongkok di luar pager). Saya seneng, walau sedih tadi dia cuma ngobrol doang ga pake proyek percontohan dia maen trompet.

Seneng banget, sampe sekarang masih senyam-senyum. Bahkan Romy “Terangnya hanya ada dalam pikiran Anda” Rafael pun tidak bisa memadamkan rasa seneng saya.

Ternyata gini toh rasanya jadi groupies eh… em… fans berat.

*puter When I See You terus-terusan*

Sun 9th Mar, 2008, Movies

10,000 BC

Kemaren, mendadak nongbar (nongtong-bareng) sama anak-anak dari milis kampoeng gadjah. Pertama sebenernya ada yang “pengen” nonton Ayat-ayat Cinta, tapi karena banyak yang protes (lebih ke arah, “Sekali lagi gue nonton AAC, dapet payung cantik deh aw”), akhirnya nontonlah 10,000 BC. Pilihannya antara itu atau Kuntilanak. Atau mungkin Tali BH Pocong atau apa gitu.

Filemnya… lucu. Lumayan bagus untuk ditonton, tapi jangan dianggep serius. Paling nggak menurut aku lucu sih. Tapi menurut temen-temen lainnya, filem itu filem kolosal. Nggak lucu kayak Rrrr!, tapi tetep aja punya kelucuan sendiri, menurutku.

Jadi gini ceritanya…

more…

Sat 23rd Feb, 2008, Uncategorized, Daily Rants

Hujan

Kalo lagi musim ujan begini, ujan turun nggak pake pembukaan dulu, langsung mak byur gak pake aba-aba. Sebentar cuaca cerah, sebentar lagi langit gelap kayak udah malem. Makanya kadang-kadang suka nggak sadar kalo ternyata udah ujan.

Kayak hari ini,sadarnya baru pas orang rumah pada teriak-teriak “Cucian! Cucian! Jemuran!” Tapi nggak ada satu juga yang naek ke tempat jemuran. Cuma pada teriak-teriak “Aduh! Wah! Wah!” gitu aja dari bawah.

Wed 20th Feb, 2008, Daily Rants

Percakapan Tiga Orang Bingung Mengenai HP

Beli HP lagi ngetren ya bulan ini? Di milis lagi ada yang membahas soal HP (henpon, bukan mesin potokopi, eh mesin cetak). Di kantor ada yang baru beli HP. Temenku ada yang dikasih HP sama pacarnya, dll dsb.

Ada teman yang belum beli HP baru tapi pengen beli, “Aku pengen beli HP baru. iPhone kali ya? Touch screen.”

“iPhone mahal mah kalo cuma cari touch screen-nya doang? LG Viewty tuh bukannya touch screen juga? Mungkin lebih murah,” seloroh temen yang satu lagi.

“Tapi kayaknya iPhone layar touch-nya paling lebar.”

Tiba2 ada yang nyeletuk tanpa tau duduk perkara (saya, seperti biasa, dengan bodohnya), “Eh, TV yang di mal-mal itu udah touch screen semua. 42 inci. Gede lho.”

“Emang itu bisa buat telepon?” Ternyata ada juga yang lebih nggak memperhatikan.

“Bisa. Tapi bawanya mesti pake truk. Makanya nggak laku.”

“Tapi, pake itu dapet game Dance Dance Revolution gratis, pasti.” Ya udah, sekalian ajah deh.

Thu 14th Feb, 2008, Daily Rants

Taksi

Ah, selamat hari palentin dulu.

Hari ini, di milis kampoeng gadjah, sedang ada bahasan mengenai taksi dan tata krama mbayar (tentu saja termasuk tip di dalamnya). Aku jadi inget pengalaman naik taksi.

Waktu itu, di tahun yang lalu, hari hujan, dan aku diundang untuk dateng Desi ke satu seminar di… lupa… gedung pers kayaknya (yang di kebon sirih itu). Gara-gara kayaknya ujan udah mau deres dan saya males (lebih malesnya daripada ujannya), akhirnya bertekad untuk nyetopin taksi.

Taksi yang akhirnya setop berwarna putih. Masuk ke dalam taksi, minta dianterin ke alamat yang dituju, lalu langsung sms ke Desi kalau saya sudah “otw”. Selesai ber-sms, baru sadar kalau argo taksi itu belum dipasang.

“Pak,” aku bilang, “Kok argonya nggak dipasang sih, Pak?”

“Nggak usah pake argo deh ya, neng?”

“Lha, emangnya Bapak mau berapa?” aku tanya, mungkin dia maunya harga borongan. Yah, asal harga borongannya nggak keterlaluan, ya udah lah ya.

“Terserah si Neng aja mau ngasih berapa.”

“Maksud Bapak? Emangnya Bapak kira-kira maunya berapa?”

“Ya terserah aja. Mau ngasih berapa, terserah Neng pikir saya layak dikasih berapa.”

Waduh, ya bingung juga. Seumur-umur belum pernah naik taksi model begini. Antara bingung dan takut masuk jebakan betmen nih. “Pak, mungkin enaknya sih pake argo aja deh. Saya paling nggak pinter ngitung.”

“Ya udah, terserah si Neng aja.” Dan pada saat dia menyalakan argonya, kami sudah berada di Jalan Medan Merdeka (padahal kan aku naeknya dari Halte Sawah Besar), berarti mungkin aku harusnya udah bayar berapa rupiaaah gitu.

Sepanjang jalan — yang macet karena hujan dan yah biasa deh, nggak ujan aja macet — ia bercerita tentang pengalamannya sebagai ex-pemilik perkebunan yang kena imbas krismon, tentang dia yang lulus sebagai seorang Insinyur Pertanian/Perkebunan (sampai dia ngeluarin ktp yang ada tulisan “Ir.” di depan namanya, dan di permit taksinya juga ada tulisan “Ir.” di depan namanya). Dia juga cerita dulu dia aktif di Walhi, dan kenal dengan beberapa pejabat Walhi yang adalah teman seangkatan/adik kelasnya. Dia juga sempat ngasih wejangan mengenai hidup berorganisasi dan hidup sebagai relawan dan pelayan publik. Pokoknya ngalor ngidul tanjung kimpul kami bercerita. Sementara hujan ya gitu-gitu aja, dan macet ya seperti biasa.

Setibanya di tempat tujuan, argo menunjukkan angka sekitar 13.000an (atau 14rebuan ya? lupa deh) dan mungkin harusnya lebih dari itu ya, karena dia kan nyalain argonya udah telat banget tuh. Dan karena aku cuma punya uang 50ribuan dan yang receh ada 11.000an, aku kasih yang 50ribu.

Sebelum aku sempet bilang apa-apa, dia nyeletuk, “Waduh Neng, saya mah ga punya kembalian buat 50 rebuan. Yang kecilan aja deh.”

Aku langsung ngerogoh saku celana dan mengeluarkan uang yang 11.000 yang udah kelipet-lipet itu. “Waduh, selaen yang 50 rebu ini aku cuma ada 11.000, Pak.” Terus aku berhasil ngeluarin 100 perak lagi dari kantong. “Sebelas ribu seratus doang, Pak. Nggak cukup buat mbayar Bapak.”

Tapi kaget banget, pas dia bilang, “Ya udah, Neng kasih saya yang 11.000 ajah. Yang 50 rebu sama yang 100, Neng simpen lagi.”

“Beneran nih, Pak?”

“Beneer…”

Ya ampyun. Setelah 1 menit debat-debatan lagi sambil diplototin sama satpam gedung (”ni taksi nongkrong ga pergi-pergi,” mungkin gitu pikir si satpam), akhirnya aku pasrah mbayar 11.000 ke si Bapak Taksi ini.

Fri 28th Dec, 2007, Daily Rants

Natal 2007: Cape, Senang, Sedih

Natal tahun ini, kebagian “tugas negara-yang-satu-lagi” seperti Paskah sembilan bulan lalu. Dengan berharap bahwa pengalaman dari Paskah itu bisa menolong meringankan beban saat ini… tapi kok ya ternyata nggak juga. Mungkin karena semua hal itu adalah pengalaman baru yang nggak bisa dibanding-bandingkan, atau kalo kayak orang bule bilang: “terbang hanya dengan pantat celana” ajah. Ya, sebisa-bisanya ajah.

Panik juga sih, dengan 100 lebih kawanan wartawan yang dateng, dan saya yang biasanya cablak dan serampangan ini harus bisa jadi tuan rumah yang baik untuk mereka. Belum lagi waktu terkena isu bom, dan harus kerja ekstra untuk meyakinkan umat bahwa yang namanya hujan, geledek dan mati lampu sebentar itu cuma kebetulan, dan sweeping dari teman-teman di tim gegana dan detasemen itu cuma “rutin” ajah.

Kalo dirangkum menjadi lima perasaan, kira-kira jadinya seperti ini:
Kaget (campur seneng) Ketemu dengan Dodi. Tau sih, Dodi sebenernya pekerjaannya wartawan, tapi tetep aja lagi… kaget lho tiba-tiba lagi berberes meja pers/humas, lalu menengok sebentar ke belakang dan… WAH! DODI! Sayangnya, saya belum sempet ngajak Dodi tur keliling gedung, karena sudah keburu disteril dulu. Tapi lain kali, janji deh, saya ajak keliling sampe ke museum dan ruang lonceng. Hehehe.

Seneng Gimana nggak, dua hari penuh bersama dengan teman di tempat yang begitu ramai. Nggak cuma dengan temen lama aja, tapi ketemu dengan teman-teman baru juga. Usai misa terakhir pada malam natal (tengah malam), semua panitia humas/pers yang berpakaian hitam-hitam dan bertopi santa berkumpul di depan gerbang dan menyanyikan lagu “Selamat Hari Natal” dan mengucapkan selamat natal buat umat yang baru keluar. Seneng banget ngeliat wajah-wajah yang tadinya kecapekan, anak-anak yang tadinya ngantuk, tiba-tiba tersenyum dan menari bersama kami.

Cape Ya ini juga semua juga ngerasain kali ya. Tugas yang dimulai jam 10 pagi di hari Senin sampai jam delapan malam di hari Selasa, dengan jeda 3 jam (jam 2 malam sampai jam 5 subuh). Tapi ya gitu deh, perasaan cape kok ya nggak berasa kalau kita lagi seneng-seneng ya. Cuma, pas pulang aja baru berasa badan pada renteg semua.

Sedih Usai tugas siang, dan ketika sedang menunggu tugas sore, kami diajak oleh seorang humas senior dan wartawan dari SCTV ke Panti Asuhan Vincentius Putra di Kramat Raya. Hal pertama yang dirasakan ketika masuk ke pelataran parkir, dan menembus kantor pengurus adalah: Kok sepi begini? Di gedung tua dan besar itu minim hiasan natal, minim keceriaan natal. Cuma ada dua pohon natal yang berkelip-kelip sedih dan dihiasi dengan cup plastik bekas makanan ringan. Nggak ada bola-bola natal mentereng, nggak ada hiasan natal yang mahal. Nggak ada streamers yang menghiasi dinding atau langit. Semuanya kosong melompong.

Semakin kami berjalan ke dalam, semakin sedih melihatnya. Panti Asuhan yang menampung anak-anak pria mulai usia SD sampai STM itu bener-bener sepi. Para “anak panti” cuma bisa tiduran, selonjoran seperti tidak bernyawa di atas sofa-sofa yang sudah bolong, bangku-bangku batu panjang, atau di atas lantai. Cuma satu radio dengan lagu “dugem natal” yang memecah keheningan.

Nggak ada pesta natal untuk mereka, nggak ada rumah kerabat untuk mereka sambangi, nggak ada pengasuh bahkan. “Yah, cuma untung aja masih ada atap di atas kepala, dan kasur di ruangan tidur,” mereka menghibur diri mereka sendiri.

Ada satu anak, Yanto Hutasoit namanya, yang ingin sekali ketemu dengan orang tuanya. Dia, bersama dengan kembarannya Yanti (yang sekarang ada di Panti Asuhan Vincentius Putri) ditaruh di Pondok Si Boncel, sebelas tahun yang lalu, ketika keduanya masih bayi. Sampai sekarang, dia belum pernah melihat kerabat keluarganya, nggak tau ke mana harus mencari orang tua atau orang yang bisa disebut saudara. Sedih sekali melihat dia bicara ke arah kamera, memohon agar mungkin ada yang masih mencarinya hingga kini.

Bangga Ketika semua pekerjaan sudah selesai, dan ketika sepertinya pekerjaan itu dilihat, dinilai dan diberi ponten, dan dinyatakan “baik”… Ada sedikit perasaan bangga yang menyembul masuk. Tapi emang sih, nggak boleh terlalu terbuai atau terlalu bangga, soalnya… walau banyak ponten bagus (hehehe, jarang-jarang lho dipuji sama ‘Mo Broto, biasanya cuma dipanggil “perusuh” doang), tapi banyak juga hal-hal yang harus dibenahi. Hufffff… Pe eR kok ya nggak habis-habis :)

Celebrity Watch
Tak lupa juga, laporan celeb watch untuk Natal ini. Setelah Meriam Bellina dan Marcellino waktu paskah, waktu natal ini kami ketemu dengan Ade Juwita, ada Debby Sahertian (atau paling nggak yang mirip banget sama Debby Sahertian), dan ada Femmy Permatasari. Delon nyanyi di Paroki Petrus Paulus, Mangga Besar. Nikita sempet naek sampe ke Museum Katedral dengan rombongan wartawan inpotenmen. Trus… apalagi ya?

Thu 27th Dec, 2007, Non-sequitur

2008: Maunya apa ya?

Melanjutkan seri PR tag, ini saya dapat tendangan dari Geg Ina. Isinya: membuat resolusi untuk tahun 2008. Sebenernya aku jarang banget bikin resolusi akhir tahun, soalnya mungkin dipastikan kayaknya bakal akan mungkir juga (sesuatu yang mungkin dialami oleh banyak orang dan nggak cuma aku aja…).

Tapi, kali ini rasanya pengen juga ngebikin sebuah resolusi yang bisa aku coba selesaikan, apalagi tahun depan kan tahunnya aku resmi menginjak seperempat abad, penting dong bikin resolusi. Masa’ mungkir terus. (Hahaha, nggak mungkir cuma kalo pikirannya lagi lurus doang).

Resolusi pertama: Lebih rajin dan disiplin dan mengurangi kepelupaan diri ini, baik dalam bekerja, maupun dalam kehidupan sebagai anggota keluarga dan sebagai anggota organisasi. Nggak menunda-nunda pekerjaan, punya catatan yang rapi (berhubung saya ini pelupa, jadi harus, harus, harus ingat dan nggak males bikin to-do-list). Apalagi tahun ini sebenernya banyak hal penting yang terlupa, karena saya malas bikin daftar hal-hal yang harus dikerjakan, karena sok pe-de. Akhirnya kan ketiban getahnya sendiri. Nggak cuma getahnya di saya, tapi juga teman-teman kantor yang sebenernya nggak bersalah akhirnya pun ketiban sial gara-gara itu.

Resolusi kedua: Jadi anak, saudara, teman, rekan yang lebih baik lagi. Tahun ini aku sering banget dapet protes dari banyak kalangan kalo aku belum jadi orang yang baik. Misalnya, ada teman yang mengeluh kalo aku tidak punya waktu lagi untuk ngobrol dengan mereka seperti dahulu, lupa mengirimkan ucapan ini itu, dan sebagainya. Bahkan kayaknya sebagai kakak, tahun ini ada kemerosotan kualitas deh. Misalnya, tahun ini kayaknya sering banget deh yang namanya berantem sama adekku. Belom lagi sama orang tua. Kayaknya yang paling menderita itu mereka.

Resolusi ketiga: mengurangi tidur. Untuk melaksanakan resolusi kedua itu tadi, saya kayaknya harus mengurangi porsi tidur. Hahahaha. Kayaknya keseringan tidur, akhirnya jadi males ke mana-mana, atau males menjawab telepon, atau membalas sms yah? Mengurangi tidur kan juga berarti bisa melakukan hobi-hobi yang lain, misalnya nyoba ngeberesin koleksi perangko (hahaha, yang udah berkurang banyak karena hilang), atau misalnya mulai lebih rajin lagi olah raga (yaya, saya sudah punya tas pinggang karena makan terus tapi nggak olah raga).

Resolusi keempat: berpergian keliling dan luar kota. Karena sudah mengurangi tidur, mungkin saya harus sering berpergian. Baik itu ke tempat-temapt di Jakarta yang belum saya kunjungi atau ke luar kota, dan ngeliat kota lain selain Jakarta. Indonesia itu luas loh, apalagi kan tahun 2008 itu Visit Indonesia Year. Nggak mau kalah dong sama yang namanya turis luar negeri. Saya pun harus bisa Visit Indonesia. Dan, semoga kalo udah sampe di kota tetangga, atau kota di seberang pulau, saya nggak cuma tidur doang di penginapan. *eheum*

Resolusi kelima: belajar nyetir. Masih dalam rangka mengurangi tidur dan mencari kesibukan dan terlepas dari buruknya dampak kendaraan pribadi terhadap global warming, saya mau belajar nyetir. Saya iri sama yang pada bisa nyetir, apalagi yang bisa nyetir dengan gaya yang sangat cool. Cuma ada satu masalahnya, saya kalo nyetir mobil sukanya berorientasi pada trotoar, dan kalau nyetir motor, sukanya mencari selokan. Yang paling saya ingat adalah belajar nyetir mobil dan motor, dan menemukan selokan yang katanya nggak ada tapi ternyata ada. “Buset! Gue tinggal di sini puluhan taon baru tau ada selokan di sini!” seru salah seorang temen saya yang mobilnya saya jadikan sarana belajar nyetir. Sejak saat itu, saya kapok. Takut merusak rumah orang, atau trotoar orang, atau masuk ke penjara karena merusak pohon di pinggir jalan, atau merusak mobil/motor latihan.

Resolusi keenam: nabung. Buat beli apa aja. Mungkin kalo bisa nyetir, ya beli kendaraan pribadi (motor keq, mobil mini keq, atau bajay mungkin). Karena mini-semacam-resolusi untuk tahun ini yaitu: “Nggak ngutang ke instansi, individu, maupun tabungan sendiri” sudah sedikit banyak berhasil, sekarang saya mau nabung.

Resolusi ketujuh: meneruskan aktivitas mengolah sampah, biar nggak cuma omong omdo doang, dan untuk menebus dosa-dosa saya kalau-kalau nanti saya berhasil bisa nyetir kendaraan pribadi.

Resolusi kedelapan: melakukan semua resolusi di atas tadi. Yang ini yang susah. Susah. Susah. Susah.

Dan sekarang saya harus meneruskan ini kepada teman-teman yang lain. Dan seperti biasa saya terlalu ciken untuk menunjuk siapa yang harus meneruskan ini. Jadi, pada sukarela aja ya. Siapa yang mau saya tag?

Thu 27th Dec, 2007, Non-sequitur

Hal-hal aneh tentang saya

Beberapa bulan (bulan kan ya?) yang lalu, Trinie ngasih pe-er untuk aku selesaikan. Tapi ternyata terbengkalai sampe hari ini, setelah diwanti-wanti berkali-kali oleh Trinie… Hehehe. Jadi merasa bersalah juga. Akhirnyalah saya ketemu waktu untuk melakukannya, dan memang sih, diniatin supaya tahun baru nanti nggak ada pe-er yang tersisa dari tahun ini. Pe-er kok ya ditunda setahun? Hihihi.

“Instructions: Each player of this game starts with 6 weird things about themselves. People who get tagged need to write a blog of their own 6 weird things as well as state the rule clearly. In the end, you need to choose 6 people to be tagged and list their names. Don’t forget to leave a comment that says you are tagged in their comments and tell them to read your blog.”

6 Hal yang aneh? Apa aja ya? Aduh bingung juga sih, aneh yang seperti apa, ya? Hehehe. Mungkin karena aku sendiri yang ngejalanin jadi nggak merasa aneh gitu. Hmm. Tapi baiklah, akan saya coba deh tulis 6 hal yang saya lakukan, yang kalo sampe ketahuan sama orang lain mereka akan bilang “Lu aneh deh.”

WAH! TAPI KALO GITU YA BANYAK! Cuma boleh pilih 6 ya?
more…

Sat 24th Nov, 2007, Uncategorized

Sudah Tua

Hari ini aku pergi ke Blitz Megaplex untuk nonbar bareng temen-temen tugas negara. Sambil ngabisin waktu sebelom filem mulai, kami ngider-ngider daerah rawan kosmetik nemenin seseorang yang lagi pengen beli kosmetik.

Salah seorang sales bertanya pada sayah, “Mbak umur berapa?”

“Ampir dua lima lah.”

“Kalau begitu, sudah harus beli anti-aging dan pencegah keriput.”

Wah! Ternyata saya sudah harus masuk kasta anti-aging. Sudah tua rupanya. *meringkuk di pojokan*

Wed 24th Oct, 2007, Daily Rants

Paceklik ngeblog?

Hari ini saya kena omel, diomelin temen yang berkunjung ke blog ini tapi ngeliat tanggalnya udah jadul banget. Belum setahun sih (katanya kalo di akunting, belon setahun belon jadul), tapi kalo di dunia blog, kayaknya dah jadul banget ya?

Tapi hehehe, apa yang mau diceritain ya? Paceklik ngeblog kah? Sebenernya nggak juga, tapi rasanya hari-hari monoton ga jelas yang kalo diceritain di blog kok malah jadinya aneh ya? Atau mungkin kurang jeli menghargai suasana? Atau sekadar kekurangan talenta untuk menulis.

Soalnya ada temanku yang hebat sekali, dia bisa menceritakan kejadian biasa menjadi luar biasa. Keren kan. Hehehe, mau iri pun pastinya aku ga akan bisa seperti itu. Makanya. Daripada sampah virtual semakin banyak ya.

Tapi ngomong-ngomong soal sampah, aku masih belum sampai tahap paceklik ngeblog akut di blog sampahku. Memang perkembangan posting agak seret, apalagi Tacchan, si Kotak Takakuraku sudah masuk masa hiatus, sedang giat-giatnya mengolah sampah menjadi kompos. Hehehe, cepet jadi ya Tacchan. Anggrek emak udah nunggu pupuknya.

Tapi kalo lagi senggang, mampir-mampir ya ke blog aku yang satu itu, siapa tau ada cerita yang ingin dibagi oleh temen-temen semua.

Yak! Saya bingung mau ngomong apa lagi. Tapi kayaknya minggu depan bakal ada cerita seru (soalnya sayah yang orang kota mau pergi naek gunung. Hahaha.. Bisa balik idup-idup ga ya?)

Wed 19th Sep, 2007, Daily Rants, Datelines

Selamat Jalan, Kakek

Kemarin saya masih di kantor ketika emak nelepon mengabarkan kalau kakek, sang tetangga rumah, sudah meninggal dunia. Sedih juga, pertama kali mendengar berita itu. Tapi setelahnya ada perasaan lega. Kakek sudah hampir satu bulan tergeletak begitu saja di atas ranjangnya. Tidak makan, tidak minum, tidak mengenal orang, tidak lagi berjalan pagi atau mendengarkan siaran radio di pagi hari. Hanya selang infus dan suntikan dokter yang membuatnya bertahan satu hari lebih lama. Tetapi kini katanya Kakek sudah tidak sakit lagi, sudah tidak merasakan beban dunia lagi, Kakek sudah bisa bertemu dengan Nenek di surga.

more…

Mon 17th Sep, 2007, Daily Rants

BBTB: Bule Belom Tentu Bener

Jadi, ceritanya, kapan hari gitu aku nemenin sang teman ke salah satu mal yang baru buka di Jakarta. Jadi, walaupun toko itu dibuat untuk para bule dan warga negara kelas menengah atas, belum tentu bahasa inggrisnya paten. Ternyata lho. Atau mungkin karena toko itu adalah waralaba dari Jepang, dan masih hendak mempertahankan ke “Engrish“annya, entahlah. Jadilah pengejaan yang agak ajaib tapi yasudahlah seperti “Japanesse”. (Skrinsyut menyusul ya).

Kalau itu tentang impor-mengimpor Engrish (maklum dari Jepang, bukan dari “bule”, kata temenku), beda lagi dengan film “The Brave One”, keluaran Amerika. Pada credit roll di bagian akhir, penjual alat tulis (sebenernya sih dia jual jasa cetak undangan nikah lengkap dengan kertas dllnya) ditulis sebagai “Stationary Saleswoman”. Nggak cuma di filemnya, tapi di imdb.com juga. Kesalahan ini juga ditemukan di Sarinah yang mengajak orang untuk pergi ke toko “tidak bergerak” di lantai 6. Padahal mungkin maksudnya itu toko alat tulis, ya?

Akhirnya sang teman pun jadi nggak tahan untuk “curhat”, bagaiamana kalau masih banyak orang di Indonesia yang meninggikan “native speaker” dan merendahkan kemampuan orang Indonesia, padahal persepsi belum tentu benar. Dia cerita waktu dia lagi ambil cuti antara S1 dan S2, dan dia ngedaftar di sebuah lembaga les-lesan bahasa inggris di Indonesia, dan CVnya ditolak dengan alasan dia bukan “native speaker”, padahal selama di luar negeri dia itu ngajar bahasa inggris ke orang bule (dan katanya bukan orang “bule” hasil transmigrasi/imigran, tapi memang tulen), mulai dari jenjang TK sampai jenjang kuliah (”Academic English” kerennya). Jadilah dia samperin ke lembaga itu dan mendebat. Walau akhirnya dia diterima, tapi dia sudah menaruh sedikit rasa benci pada orientasi perekrut lembaga les-lesan ini yang kekeuh bahwa semua “native” pasti lebih baik daripada orang Indonesia. Padahal kan belum tentu.

Pengalamanku juga begitu. Adikku pernah les di sebuah lembaga les bahasa Inggris, yang gurunya nggak begitu mempedulikan tata bahasa dan kosakata, walaupun penggunaannya salah. Padahal guru itu adalah seorang “native”, yang dibangga-banggakan. Gimana nggak kesel.

Ah, jadi ngalor ngidul.

Tue 4th Sep, 2007, Daily Rants

Busway belum oye

Kemarin, banyak topik “curhat” yang mengambang di antara mulut-mulut orang sekantor. Mulai dari tarif tol yang naik, hingga kelangkaan bahan bakar dapur yang membuat acara masak-memasak menjadi kurang oke. Ada satu topik yang datang terlambat.

Pukul sembilan lewat (hampir pukul sepuluh) teman saya tergopoh-gopoh masuk kantor. “GILA!” teriaknya sambil mencari titik terdingin di kantor. “Gila!” katanya lagi.

Usut punya usut, ternyata dia terjebak di lautan manusia yang mengantre hendak naik bis Transjakarta di Terminal Pulogadung. Sebegitu banyaknya manusia, tapi armadanya sangat jauh dari cukup. Ditambah lagi dengan kemacetan di ruas-ruas jalan yang dilewati bis Transjakarta ini, membuat turn over bis tidak secepat yang diharapkan (beda dengan Transjakarta jurusan Kota-Blok M di mana jalanan relatif lengang dan bis bisa melaju bolak balik dengan cepat). Parahnya lagi, menurut temanku, layanan kendaraan umum non-Transjakarta (mulai dari Patas hingga Kopaja) dipangkas habis-habisan (kalo ibarat rambut, udah hampir plontos) — entah itu yang dirute-ulangkan, atau yang dihentikan trayeknya (katanya sih supaya orang-orang lebih mau naik Transjakarta).

“Mereka mengeluhkan kalau jumlah penumpang tidak mencapai target!” seru temanku. “Ya gimana mau mencapai target, kalau calon penumpang sudah ilfil duluan. Sudah malas antre, males dijepit-jepit kayak sarden, dan memilih naik angkutan lain. Naek taksi, naek taksi deh gue! Kalo mau tambah penumpang, harus tambah armada dong!” ujarnya sengit. Ya seperti simalakama ya? Mau tambah armada, harus ada duit dulu. Kalau kurang penumpang, duit juga kurang. Kalau armada nggak nambah, penumpang semakin sedikit.

Pihak pengelola sudah memberi sinyal-sinyal bahwa tarif Transjakarta akan naik. Pihak pengelola sudah banyak mengeluhkan soal “modal yang tidak balik-balik” dan kerugian operasional. Namanya juga layanan umum. Masih muda lagi umurnya. Tentu aja duit nggak bisa balik secepat itu. Sulit juga ya? Yang namanya layanan umum, atau apa saja yang altruis (misalnya berbuat baik tanpa pamrih) itu ya bisa juga disebut “Proyek Thank You” atau “Proyek Rugi”. Kalau bisa untung atau bahkan cuma breakeven lebih cepat, ya itu namanya bonus, kan?

Entahlah. Mungkin “Proyek Rugi” sangat bertentangan dengan asas ekonomi kapitalis. Makanya saya nggak bakat jadi bos nih.

*kembali makan gaji*

Mon 20th Aug, 2007, Daily Rants, Non-sequitur

Survey Ha-Pe

*brak!*
wah! kepala benjot. Ditimpuk Hapenya Geg Ina dan Alex. Hihhihi.. Em.. katanya disuruh mengisi survey kepemilikan hengpon, a la sensus kependudukhenponan. Hmm.. mari kita cobak satu-satu.

Menurut serinya, henpon saya namanya Nokia 6233, ini hapeku yang kedua? Eh yang ketiga deh. HP yang pertama saya dapat waktu masih kuliah dulu, dibayar melalui pinjaman dan dilunasi dengan gaji pertama kantor kuliah dan itu sudah kuhibahkan ke sahabat di kantor. HP yang kedua dibeli dengan gaji pertama kantor Jakarta, dan sekarang masih saya pakai sebagai HP cadangan. Tapi HP yang baru ini didapat karena semua sudah mengeluh kalau HP saya yang terdahulu sudah sulit dihubungi. Akhirnya dengan berbelas kasihan, aku dapat juga HP baru.

Menurut aku HP ini bagus, karena bentuknya lucu tapi nggak lucu-lucu amat (agak dewasa tapi tidak tua), dan tombol-tombolnya mudah dipencet, beda dengan HP yang terdahulu (Motorola C200) yang minta ampun kalo mau ngetik sms. Menunya mudah dan fiturnya juga banyak. Bisa gigibiru, bisa inframerah, bisa tiga-ge juga kayaknya, bisa mms juga. Yang pasti, fitur-fitur itu jarang sekali aku gunakan karena aku agak Gagal Teknologi. Suatu hari, kayaknya aku harus ikut kursus penggunaan HP. Tapi, yang pasti, HP ini sangat membantu dalam urusan per-sms-an dengan kemudahan pencetannya.

Fitur yang paling sering digunakan itu: Kalkulator (apalagi kalo belanja bulanan), Notes, dan Music Player kalo sedang bosan. Kebelakangan ini jadi rajin menggunakan fitur tustel kamera, karena sering kelupaan bawa kamera kodak (hoho).

Wallpaper yang ada di HPku tergolong produk iseng. Maksudnya, kadang-kadang nggak tentu arah dan nggak jelas alasan dibalik penggunaan itu. Wallpaper yang sekarang gambarnya langit senja di Senayan, diambil ketika aku sedang menyusuri jalanan Senayan yang penuh sesak untuk pergi kaondangan. Sebelum ini, ada foto Pira, boneka beruang kutubku yang setia. Sebelumnya lagi, kayaknya wallpaper default bawaan Nokia deh (yang gambarnya kelereng-kelereng warna hijau itu).

Mengenai nomor yang digunakan, sebenarnya ini nomor kedua saya, karena nomor pertama itu hangus karena lupa dikasih makan pulsa. Hehe. Pemilihan nomor ini juga sengaja cari yang agak bagus, supaya mudah diingat, berhubung ingatan saya tergolong lamur. Pun sudah punya nomor yang tergolong cantik tidak membantu — seringkali lupa nomor sendiri, dan akhirnya teman-teman dan kenalan pun jadi korban “salah kasih nomer”. Bahkan nTub pernah sayah kasih nomor yang salah, dan nyasar ke HP anggota keluarga yang lain. Huhuhu, maafkan yah!

Selain wallpaper yang diganti, ringtone juga berubah. Untuk telepon masuk deringnya menggunakan lagu U2-Beautiful Day, dan untuk SMS masuk, bunyinya lagu X-Ray Dog - Here Comes the King.

SMS terakhir datang dari Vendor, yang menanyakan apakah pelatihan masih dilakukan sesuai dengan jadwal.

Kalo soal spesifikasi sih, masih standar dan sama dengan yang dikeluarkan oleh pabrikan. Belom dioprek, belom dianeh-anehin, dan bodinya aja masih sesuai dengan yang keluar dari kotaknya. Oh iya, cuma memorinya aja nambah, sakingan dapet hibahan kartu microSD yang satu giga. Itu juga kok lama ya penuhnya. Ternyata satu giga itu banyuaaak!

Disimpan di manakah? HP ini tergolong benda yang kasihan. Letaknya tidak beraturan dan sering menerima miskol dari pemiliknya karena pemiliknya lupa si HP ditaro di mana. Kadang-kadang kalo lagi resik, si HP ditaro di saku HP yang ada di dalam tas (lucu juga kebanyakan tas kantorku ada saku khusus untuk HP). Kalau lagi males bawa tas, masuk di dalam celana, kalau nggak ada saku pada celana, palingan hanya dibawa di dalam tangan (untung gantungan HPku bentuknya seperti cincin, jadi bisa disangkutin di jari). Tapi seringnya mah HPnya nggak tau ada di mana.

HP aku sih diusahain nyala terus, kecuali kalo memang nggak boleh dinyalain, kayak kalo lagi naek pesawat terbang atau sematjamnya. Tapi seringnya sih dinyalain terus. Walaupun begitu, aku paling sering lupa membawa serta HPku (biasanya ditinggal di kamar, terus aku seharian ngendon di rumah tetangga atau di ruang tamu, atau pergi ke mana, tapi HPnya ditinggal), jadi yang namanya miskol biasanya banyak dan SMS kadang-kadang banyak juga. Atau kadang-kadang kalau batrenya sudah habis dan kebetulan aku lagi males, bisa lama banget itu HP didiemin mati. Kayaknya, sayah harus lebih rajin lagi dalam urusan perteleponan ini.

Ngomong-ngomong, batere biasanya habis dua hari sekali. Rekor terlama tidak harus mencoblos batre sejak pencoblosan terakhir adalah satu minggu, dan rekor terpendek adalah 14 jam. Hehehe.. HP yang aneh.

Nah… selesai sudah kayaknya sensus perteleponan. Sekarang, sebagai warga yang baik saya akan menimpuk: Connie, Isyana, Trinie, dan Herry.
*timpuk*

Sun 19th Aug, 2007, Daily Rants, Foodstuff, Datelines

20 jam di Semarang

Terima kasih untuk Didik dan kawan-kawan kampoeng gajah yang sudah banyak membantu saya sehingga bisa tiba dan menikmati Semarang walau hanya sebentar.

Akhirnya aku berangkat sama nyokap ke Semarang, biar nyokap bisa refreshing juga setelah sembuh dari bedrest. Pesawat sempet terdelay karena ganti ban dulu. Huh! Eh ga sempet nanya juga bannya nTubless atau Blubless.

Jam 13.30, tiba di bandara Ahmad Husni eh Ahmad Yani. Langsung telepon mBlub. Sempet pangling, ternyata yang njawab adiknya Blub. Hehehe :”> malu juga. Maapkan saya tublub karena saya tidak bisa datang menghadiri akad nikahnya. Semoga Tublub langgeng dan bahagia selalu sebagai keluarga yah.

Setelah ngantri bagasi dan menunggu giliran numpak taksi, jam 14.00 kami tiba di penginepan, ketemu sama keluarga pengantin pria yang juga nginep di sana (pas waktu itu belon tau kalo itu keluarga penganten pria tapinya).

Ternyata di Semarang panas banget ya! Setelah ngadem setengah jam di ruangan berAC, rame-rame keluar wisata kuliner Jalan Pemuda, sambil survey ntar nikahnya di mana. Ternyata antara penginepan dan tempat nikahan nggak terlalu jauh, cuma 3 perempatan sahajah.

Wisata Makan-makan
Wisata gastronomi berawal di Istana Wedang, Jalan Pemuda nomer 121 sekian. Makanan yang enak sebenernya ya Wedangnya. Walau porsinya kecil. Galantinnya lumayan, Nasi Langginya boljug lah. Wedangnya kurang panas (cuma hanget-hanget gitu tapi nendang jugak). Di sini juga nyobain yang namanya Kerupuk Seafood Bakar. Murah meriah dan enak. Rasanya mengingatkan pada Krupuk Kemplang, tapi Krupuk Bakar ini tidak sekeras Kemplang yang biasanya menantang gigi untuk tidak tanggal.

Dari situ, pengen makan Bakmi Jawa tapi belom buka benar tokonya, jadi jalan dulu ke Sri Ratu Convention Hall yang ternyata terletak di lantai 7 Sri Ratu Dep Store. Walah! Dan ternyata jam nikahan lift tidak berfungsi! Harus naik eskalator! jadilah tamu-tamu dan undangan itu naik eskalator satu per satu numpak eskalator — cantik-cantik, ganteng-ganteng, dan wangi-wangi diliatin semua pengunjung dep store. Tapi itu cerita untuk nanti.

Setelah tiba di Sri Ratu Dep Store kira-kira pukul 16.00, kiter-kiter dari bawah sampai atas sampai bawah lagi akhirnya mandeg di swalayannya. Beli manisan mangga merek Boneka yang enak tapi mahal, beli Telur Asin Bakar Elmata yang ternyata enak juga. Rasanya legit-legit dan tidak terlalu menyengat. Dan diakhiri dengan beli Baskin Robins yang lagi diskon 50%.

Dari sana nyebrang ke Jalan (Gang) Grajen, untuk nyobain Lumpia Mbak Lien yang enak juga ternyata. Gangnya agak sepi (tapi emang hari itu jalanan lagi pada sepi mungkin karena lagi banyak pesta dan lomba rakyat gitu). Enak sih, tapi harganya juga mahal euy. Rp 7000 buat satu lumpia lengkap dengan yang lain-lainnya. Saosnya enak, isinya garing-garing enak. Oh iya, mereka juga terima pesan antar loh!

Dari sana, balik ke arah penginapan mampir dulu di Toko Oen dan Toko Kaning yang spesialis es krim dan cokelat. Tapi di sana hanya melongok-melongok saja tidak makan, tapi berjanji bakal ke sana lagi. Kata Didik, Toko Oen itu masakannya semuanya home made.

Akhirnya malah nyangkut di Bakmi Jawa Condong Raos Pak Doel Noemani yang ada di Jalan Pemuda (deket Depdiknas? kantor apanya gitu). Ternyata di sana enak juga makanannya. Bihun Gorengnya kering (nggak basah dengan minyak goreng, padahal biasanya mi tek-tek gitu minyaknya buju gile buju buneng).

Pagi-paginya minum jamoe di Novotel Jalan Pemuda, dan jamunya enak banget, kental dan rasanya nggak kayak kebanyakan jamu gendong yang di Jakarta. Kayaknya kalo jamu yang di Jakarta rada beda racikannya mungkin. Hihihi.

Kota Lumpia, Stempel, dan Jakarta
Sepanjang Jalan Pemuda banyak pembuat stempel dan plat mobil, mungkin sekitar 100 meter sekali ketemu dengan para pembuat stempel ini. Didik kirim SMS bilang: “Selamat Datang di Kota Lumpia”, ah tapi kalo di Jalan Pemuda kok serasa ada di Kota Stempel ya?

Selama menyusuri jalan itu, sesaat dua saat merasa nostalgia banget. Pikir punya pikir ternyata Jalan Pemuda, Semarang itu mirip banget atmosfirnya dengan Pintu Air-Pasar Baru di Jakarta. Dengan ruko-ruko dan gedung-gedung agak tua yang berbaris di sisi kiri kanan jalan. Hanya saja, kalau di Jakarta yang ngetem dan berlalulalang itu kebanyakan bajay, sedangkan kalo di Semarang yang ngetem dan lewat-lewat itu becak.

Tiba-tiba juga syuuut dua becak dengan muatan lamtoro yang menggunung lewat di depan mata, selap-selip di antara kendaraan bermotor yang lewat. Wah! Sudah lama tidak melihat pemandangan yang seperti itu. Kalo di Jakarta ya sulit, ya?

Nuansa rindu-Jakarta selain Jalan Pemuda dirasa juga di Jalan Mgr Sugiopranoto, Semarang. Dari namanya aja udah mirip, mirip dengan Jalan Sukarjo Wiryopranoto, Sawah Besar, Jakarta. Bengkel demi bengkel berbaris-baris di pinggir jalan, seperti tukang onderdil dan bengkel di Big Rice Field.

Sayang aku cuma bisa meluangkan 20 jam waktu di sana, dan 6 jam di antaranya digunakan untuk molor. Kalau saja punya banyak waktu luang, pingin banget menjelajahi kota stempel… eh kota lumpia ini. Baik itu wisata kuliner maupun mungkin suatu hari nanti bisa ikut napak tilas Jalur Daendels membelah bumi Jawa.

Katanya daerah Kota Tua Semarang itu indah juga.

Sat 18th Aug, 2007, Daily Rants, Datelines, Art

Tujuh Belasan dan Festival Seni

Bulan Agustus, bulan peringatan proklamasi kemerdekaan, bulan gerek bendera, bulan pesta rakyat, dan bulan festival seni tradisional… Atau paling tidak, setengah pertama Bulan Agustus. Mulai dari minggu pertama hingga minggu tujuhbelasan (kalo bulan ini berarti hari minggunya mentok di tanggal 19 Agustus). Sejak awal bulan hingga pertengahan bulan banyak festival seni yang dilangsungkan, baik itu di mal, di tingkat propinsi dan kotamadya, atau di Istana Negara.

Aku sendiri beruntung bisa melihat (walau dari jauh banget, dan kadang hanya mendengar) paling tidak dua ‘festival’ seni tradisional yang digelar lumayan heboh dan meriah, walau masih kalah santer suara dan kalah pamor bila dibandingkan dengan dengung festival musik kontemporer, urban, dan indie.

11-12, 18-19 Agustus: Parade Seni Pertunjukan SMA
Acara ini diadakan di dua mal besar di Jakarta dan dikoordinir oleh Forum Apresiasi Seni Pertunjukan pimpinan Ratna Riantiarno. Sebenernya aku tau ada acara ini juga karena secara kebetulan nyambangin salah satu mal itu pas tanggal 11, nganterin tante untuk ketemu dengan kawannya yang kerja di sana. Dari arah lobi sayup-sayup terdengar bunyi tetabuhan. Si tante sih sedang asyik ngobrol bareng temennya, jadilah sayah tinggal sebentar.

Ternyata daerah pintu utama disulap jadi panggung seni, dan pengunjung sudah berjubel menyaksikan pertunjukan yang dipersembahkan oleh anak-anak SLTA (dan guru-gurunya) dari seantero Indonesia. Menurut siaran persnya (dan selebaran yang ternyata sudah habis dibagikan) ada tarian dan musik dari daerah Jawa, Sumatra, Kalimantan, dll. Sayangnya kayaknya aku cuma kebagian ujungnya doang, atau mungkin cuma tengahnya doang, karena waktu nongkrong-nongkrong di sana nggak banyak.

Yang aku tonton itu Tari Saman, atau mungkin tarian yang mirip tari saman, menggunakan benang tebal yang dioper-oper dari satu penari ke penari lain, berputar dan akhirnya terbentuk jala. Lagu dan gerakan yang dinamis itu bikin banyak sekali pengunjung yang berdecak kagum. Ada beberapa wisatawan (dan wisatawati… hehe) yang tak henti-hentinya memotret sambil berulang-ulang kali berkata “wow!” dan “amazing!” Dan ada satu wisatawan yang berceletuk pada kawannya, “We’re lucky…” Siapa menyangka bisa disuguhi pertunjukan seperti ini, karena memang pertunjukan seperti ini jarang ada, ya?

Anak-anak juga kayaknya senang sekali nonton pertunjukannya. Warna-warna kostum yang cerah, wajah-wajah penari yang bersinar-sinar bahagia, kayaknya sih bikin mereka pengen juga ya bisa nari seperti itu. Sampai ada yang berceletuk pada ayahnya dengan bahasa Indo-nglish, “Dad, aku mau belajar menari like that!”

FASP

Dan, siapa bilang seni tradisional ketinggalan zaman? Dari tanya-tanya dengan salah seorang yang turut menari, ternyata walau azas tarian dan musiknya masih setia pada akar, aransemennya bener-bener baru, lebih bernuansa muda dan lebih dinamis. Seperti mendengar tabuh-tabuhan ala Safri Duo tapi lebih tradisional lagi. Gerakan-gerakannya juga dibuat lebih moderen (ada yang lebih atletis, ada juga yang lebih gemulai), tapi semuanya diracik supaya tidak mengubah tradisi terlalu banyak. Katanya, “bumbu secukupnya bisa membuat makanan semakin sedap.”

17 Agustus 2007: Acara Kesenian Perayaan HUT Ke-62 RI
Jalan di mana-mana diblokir, tetapi hingar bingar dari Istana Kepresidenan terdengar sampai ke ujung jalan. Cuma bisa nonton dari jauh sih (tepatnya sih numpang denger luapan suara yang nyasar), tapi kelihatannya seru. Sayang ya, nggak bisa nelusup ngambil foto-foto, padahal pengen. Ah, tapi saya juga nggak pinter motret, jadi ya suds lah ya?

Dari buku acara yang boleh dapet boleh nemu itu, ternyata banyak banget kesenian tradisional yang digelar di Istana sana, dan nama-namanya terasa asing.

Untuk acara di pagi hari, ada musik tradisional dari Batanghari Sembilan (propinsi Sumatera Selatan), musik Saluang Sirompak (kabupaten Limapuluh Kota, propinsi Sumatera Barat), musik dari Kalimantan Tengah, dan musik keroncong (oleh tim dokter kepresidenan). Musik keroncong ini khusus diperdengarkan ketika acara ramah tamah dengan para veteran.

Untuk acara di sore hari — gelar senja gitu ya, kalo nggak salah? — ada musik Suling Bambu dari SD Pulelang (Kabupaten Alor, propinsi NTT), musik kolaborasi anak-anak Papua, Rampak Bedug (provinsi Banten), Tari Jejer Gandrung (Kabupaten Banyuwangi), Rampak Kenthong (Kabupaten Purbalingga), dan medley tiga tarian dari Kalimantan Tengah (Barito, Kapuas, dan Katingan).

Wah! Buat aku ini kesenian yang terdengar asing banget, belum pernah rasanya ngedenger nama-nama itu. Kayaknya beberapa hari ini harus rajin ubek-ubek Um Gugel untuk cari tahu lebih dalam lagi. Dulu kan waktu di SD, cuma disuruh bikin kliping gambar-gambar doang, dan itu juga nggak usah repot karena sudah ada buku seni satu nusantara. Sayangnya buku-buku itu ya gitu, cuma gambar thok. Sayang juga sih, nggak ada penjelasannya. Di Buku Pintar juga kayaknya nggak ada ya?

Lewat dari pertengahan tahun, kegiatan/perhelatan seni besar perlahan-lahan berkurang, hingga akhirnya September menandai waktu untuk menyimpan bendera, menyimpan seni, menyimpan sedikit banyak nasionalisme untuk dikeluarkan lagi tahun depan.

Mon 6th Aug, 2007, Non-sequitur

Pertanyaan IPA

Teman saya punya anak lucu sekali, dan saya senang sekali ibunya tipe ibu yang senang berbagi cerita tentang kejahilan anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Kapan hari dia menceritakan kembali apa yang diceritakan oleh wali kelas anaknya tentang anaknya dan pelajaran ilmu pengetahuan alam.

Alkisah (ciyeh, kayak lagi ndongeng), ibu guru sedang membahas bagaimana para ilmuwan di jaman jadoel doeloe bisa mengambil kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bukannya datar dan ditopang oleh kura-kura besar. Dan karena bumi bulat, tentu saja tidak ada “ujung dunia” seperti yang ditonton oleh anak-anak di filem Bajak Samudra Laut Karibia (wah gaul juga gurunya).

Tapi tentu saja di kelas harus selalu ada anak yang bertanya di luar kemampuan ilmu pengetahuan pada umumnya, “Bu guru! Kenapa bumi itu bulat?”

Sebelum bu guru menjawab, anak temanku nyeletuk duluan, “Kalau tidak bulat, bukan bumi saya!”

Wed 1st Aug, 2007, Daily Rants, Earth

Madesu Takakura-chan

Saya sekarang punya ‘anak angkat’, namanya Madesu Takakura-chan, atau Tacchan (sebenernya sih Macchan ya? hihihi tapi nggak cocok ah).

Dia adalah sebuah kotak aqua yang berisi sampah dapur dan starter untuk pupuk. Suatu hari nanti dia akan menjadi pupuk kompos yang berguna. Tetapi dia sekarang masih berupa sampah dapur dan sampah halaman rumah.

Ternyata mengurus Tacchan itu susah. Seperti mengurus bayi. Salah sedikit bisa fatal.

Tacchan cepat besar ya.

Thu 26th Jul, 2007, Daily Rants, Non-sequitur

Patung-Patung Jakarta

Ada berapa patung di Jakarta? Dan apa saja namanya? Terus terang, aku juga nggak gitu bisa apal nama-nama patung (maupun orang, maupun nama jalan, maupun apa saja). Tapi kira-kira tau sih ada patung apa di mana.

Beberapa waktu lalu temenku datang dari Surabaya dan kami janjian mau ketemuan di sekitar Senen selepas jam kantor. “Eh, aku nunggu di depan patung ya?” katanya yang sudah dari pagi ngiter-ngiter di daerah sana.

“Depan patung yang mana, jeng?” aku tanya.

“Yang di depan sini lah.. Aduhh.. nama patungnya apa ya? Yang rame-rame itu lah.”

“Patung yang mana?” aku masih nggak jelas tapi kayaknya udah agak kebayang.

“Patung yang kayak orang demo kerusuhan itu.”

Sampe hari ini aku masih belom tau itu patung namanya apa. Tapi kalo menurut ini sih namanya Monumen Perjuangan.

Keesokannya, kami berjanji untuk ketemuan lagi setelah jam kantor. Jadilah hari itu dia menjelajahi ibu kota berbaswei berbekal peta rute transjakarta. Lumayan juga kan, katanya, asal jeli untuk tidak turun di terminal terakhir… bayar tiga rebu lima ratus rupiah bisa keliling kota.

Sepulang kantor, saya dan kawan yang lain meneleponnya, “Ada di mana kamu? Biar kita bisa nyusul ke sana.”

“Nggak tau nih. Baru aja turun ke halte.”

“Nama haltenya apa?” tanyaku.

“Ga jelas juga. Ketutupan nih. Tapi yang pasti di depan aku ada bunderan terus ada patung suami istri.”

Pokoknya selama di Jakarta, dia dengan bersenang hati mengubah semua nama patung yang dia lihat, sesuai dengan “kepercayaan masing-masing,” katanya. Patung Pemuda Senayan (atau Patung Pemuda Membangun, yang ada di Bundaran Senayan) jadi Patung Orang Ngangkat Wajan (atau Patung Master Chef, kalo bahasa londonya). Patung Pahlawan (yang sering disalahartikan sebagai Patung Tani oleh banyak orang) jadi Patung Pak Tani dan Keluarga. Patung Pembebasan Irian Barat yang di Lapangan Banteng jadi Patung Bangun Tidur. Patung Dirgantara yang di Pancoran, Jakarta Selatan (si 7-up atau si “itu rumah saya”) jadi Patung Superman Indonesia. Patung Arjuna Wijaya di Jalan Medan Merdeka Barat disebutnya sebagai Patung Kuda Setan.

Tapi, ternyata nggak cuma temanku saja yang ‘asal’ ngasih nama. Sore itu, ketika kami bertiga akhirnya bertualang naik bis transjakarta di sore hari, seorang anak berkata pada ibunya sambil mengacungkan jarinya pada Patung Sudirman. “Ma, om-nya kenapa? Lagi dihukum ya?”

Sedangkan ibunya cuma berkata, “Iya. Makanya kalo kamu nakal kamu akan dihukum seperti itu juga. Nanti disuruh hormat yang lama, sampe kamu jadi batu.” Anak itu, yang tadinya terus menerus mengeliat-geliat di bangkunya, yang tidak bisa diam, langsung tertegun dan ‘duduk manis’.

Entah baik atau tidak si Ibu tidak menjelaskan siapa Jendral Sudirman itu (yang tentu saja bukan anak nakal). Tapi itu adalah pembahasan untuk kali lain, mungkin.

Duh jadi ingat dulu kalau bercanda dalam barisan ketika upacara hari senin hukumannya pasti hormat bendera selama… ya sesuka gurunya.

Catatan: untuk daftar beberapa patung yang ada di Jakarta, klik di sini.

Tue 24th Jul, 2007, Daily Rants, Earth, Case, Health

Belajar Menjadi Pemulung

Dengkul pegot, celana sobek, kepala benjot… padahal baru lima menit tiba di Gunung Geulis, lokasi berkumpul anak-anak muda yang aneh-aneh dan lucu-lucu.

Akhir pekan kemarin mungkin adalah salah satu akhir pekan terseru dalam beberapa bulan terakhir. Banyak yang dikerjakan, banyak yang dipelajari, dan banyak teman yang diperoleh. Bilangnya sih raker, tapi kok nggak kayak raker ya… lebih sering ketawanya, lebih sering santainya, dan lebih banyak belajarnya (baik dari sesi maupun di ruang tamu sambil ngobrol-ngobrol nyeruput kopi hitam pekat dan makan ubi goreng). Belajar tentang apa ya? Ada tentang daur ulang kreatif, tentang pemilahan sampah, dan tentang kompos. Hehehe, aku sendiri ikut, sebenarnya bukan karena felem The Inconvenient Truth (yang baru aja dipresentasiin oleh Bapak Emerald Starr di Pusat Perfileman Usmar Ismail), tapi lebih karena… em… pengen bisa bikin pernik-pernik keren dari sampah dan juga karena pak tukang sampah yang sering keliling rumah sekarang sudah semakin tua dan kita semakin bingung kalau sampah udah numpuk dan nggak ada yang jemput.

more…

Tue 19th Jun, 2007, Daily Rants, Words

Jalan Bebas Menghambat

“Sial ini jalan tol, macetnya nggak tanggung-tanggung.”

Begitulah cara temanku menggerutu sepanjang jalan tol dari tempat A (ada deh) ke tempat B (ya situ lah). “Katanya jalan tol itu jalan bebas hambatan, tapi udah mahal-mahal bayar kok ya mampet begini.”

Mungkin ini ada kesalahan persepsi, ada kesalahan penerjemahan atau kesalahan pengertian. Mungkin kalau jalan tol bisa ngomong, dia akan membela diri dengan menyatakan bahwa tol itu tidak sama dengan bebas hambatan. Entah ini kesalahan siapa yang memadankan bahasa londo “Toll Road” dengan “Jalan Bebas Hambatan” dalam bahasa Indonesia.

Padahal “Toll Road” itu lebih bagus diterjemahkan menjadi “Jalan Berbayar”, karena memang seperti itu adanya.

“Toll”, dalam bahasa Inggris artinya:

  1. Biaya yang dikenakan (atau dibayarkan kepada) pemerintah atau negara, sebagai ganti hak atau keistimewaan, misalnya hak untuk menggunakan seruas jalan atau jembatan.
  2. Jumlah kerusakan, kerugian, atau kesusahan (penderitaan) akibat suatu bencana.
  3. Pajak, bea, atau biaya yang dikenakan atas suatu jasa atau penggunaan fasilitas.
  4. Biaya yang dikenakan untuk melakukan panggilan (telepon) jarak jauh.

Dan masih banyak lagi.

Jadi, pernyataan di bawah ini sebenarnya menyesatkan, bila tidak sepenuhnya salah:

…pemerintah agar mengizinkan penggunaan jalur bebas hambatan (tol) bagi pengendara… (dari sini)

Mon 18th Jun, 2007, Daily Rants

Menghibur Diri di Hari Minggu

Setelah berlembur-lembur ria pada hari Sabtu dan berlembur-lembur ria pada hari Minggu (untuk dua pekerjaan yang berbeda), saya secara tidak sengaja menemukan cara menghibur diri di hari Minggu.

Sebenarnya, saya itu sudah merasa enggan ketika tante mengajak saya dan emak untuk menemaninya ke pernikahan temannya, tapi akhirnya saya ikut juga. Melanglang buana (dari rumah saya di Kota, sampai ke Sumur Batu itu sudah termasuk melanglang buana, mengarungi jagat, menyebrangi sabuk asteroida Senen) hingga akhirnya nyasar (hobi baru), hingga akhirnya takut sudah tidak sempat lagi… ternyata pemberkatan pernikahan yang diadakan di salah satu gereja di Cempaka Putih itu molor sejam. Adalah akhirnya saya, emak, dan tante ngegosip di “rumah Tuhan”. Padahal kan nggak boleh ya?

Sepulangnya dari sana, kami ke salah satu mal di Jakarta untuk “menghibur diri a la orang gedongan.” Maklum, dandanan pesta masih dipakai dan rasanya cocok juga untuk masuk ke butik-butik mahal itu. Mungkin ini adalah hiburan yang ndeso banget, tapi bagi saya, ini lucu sekali juga. Kami keluar masuk butik, mencoba berbagai pakaian, sepatu, dan asesoris yang tak terbeli walau sudah menjual delapan dari sembila nyawa kucing angora. Serasa menjadi ratu, walaupun barangnya pinjaman semua. Mulai dari gaun malam yang terbuat dari crushed silk, hingga jaket terbuat dari kulit yang halusnya seperti mentega (dicolek rusak kayaknya), baju pesta yang berpayet mewah (mencontek modelnya untuk dibawa ke modiste langganan), sepatu kitten heels yang dipakai artis-artis Holiwut dan Boliwut (mengingat bentuknya untuk nanti dicari yang mirip (bukan palsunya loh ya, tapi yang mirip) di Mangga Dua), mengitari supermarket melihat produk-produk dan bungkusan-bungkusan mereka yang warna-warni menarik dan melirik menu makanan yang menggugah selera (”Emak, bikin makanan yang mirip itu dong…”)

Di bawah pancaran lampu neon, dikelilingi gemerlap benda-benda itu yang melongok dari dalam toko, benar-benar merasa seperti Holly Golightly, ya?

Akhirnya, kami duduk di luar dan makan nasi rendang yang kami dapat dari panitia pernikahan teman tanteku tadi.

Hiburan yang aneh, norak, murah-meriah.

Oh iya, aku sempat juga beli buku tentang Art Nouveau, yang ditulis oleh Alastair Duncan dari aksara, yang didiskon 50% eh… atau 70% ya? *sayang strook sudah dibuang*

Aku suka banget sama yang namanya Art Noueveau. Entah ya, dari garis-garis tegas Renie Mackintosh, hingga keanggunan Lalique dan Tiffany. Keren banget rasanya, mulai dari komposisi geraknya, hingga pemilihan warna-warna yang seperti mimpi itu. Seperti masuk ke dunia fantasi ya?

Tue 12th Jun, 2007, Daily Rants

Budaya Antri dan Kucing

Kemarin di Metro TV World News, ada berita tentang usaha warga Beijing (dan warga Cina bagian lainnya?) untuk mensukseskan Olimpiade 2008. Membangun, menyediakan, memperbaiki, memperindah sarana dan prasarana memang penting, tapi yang tak kalah pentingnya adalah memperbaiki “budaya” atau “kebiasaan” yang dianggap jelek, supaya nantinya nggak malu-maluin sebagai tuan rumah. Salah satunya adalah latihan antri.

Pada tanggal 11 setiap bulannya, pemerintah Cina mencanangkan “Hari Mengantri dengan Sopan” di mana ada banyak petugas keamanan dan petugas “pengatur kesopanan” yang nongkrong di tempat-tempat yang biasa dijadikan tempat ngantri (misalnya: setopan bis, antri di ATM, di peron, dll) untuk memastikan bahwa semua warga mengantri dengan tertib dan sopan.

Harapannya sih, nggak cuma berhenti sampai di tahun 2008 saja, tapi seterusnya, walaupun olimpiade sudah berakhir dan pindah ke London.

more…

Mon 21st May, 2007, Non-sequitur

Kualitas Bangkok

Sepanjang minggu kemarin, dan minggu ini, kayaknya… salah satu supermarket besar (megamarket? pasar swalayan besar?) di dekat rumah sedang mengobral duren bangkok (duren monthong), harganya 7,000an per kilo. Dan sepertinya pembeliannya tidak dibatasi. Ada yang belinya segerobak dorong, ada yang belinya dua gerobak, ada juga yang kalap sampai lupa membeli. Kata salah satu ibu yang mengantri di kasir, duren monthong lebih enak daripada duren lokal karena bla bla bla [silakan masukkan promosi hasil karya negara lain di sini].

Teman saya ada yang baru saja pergi ke Thailand untuk urusan pekerjaan. Ia pergi bersama istrinya yang pergi ke sana untuk urusan pendidikan (klop lah jadinya, nggak perlu long-distant-long-distantan gitu. Sengaja mereka pergi di akhir pekan, jadi mereka sempat berberes rumah kontrakan dan menikmati hal-hal perturisan di sana.

“Hr ke1. Sampai, lgsg taro koper & b’buru duren,” begitu kira-kira isi SMS yang dikirimkan.

“Hr ke2. Ntn kabaret waria. Kualitet waria sini beda sm yg di Indo ya?” SMS pun datang keesokannya. Durennya aja bagus banget, apalagi warianya?

Selang beberapa menit, datang SMS dari istrinya, “Gw iri berat nih. Kalah bahenol. Ah, segera menghibur diri dengan manisan khas Thailand.”

Tapi, sampai hari ini saya belum tau manisan khas Thailand itu seperti apa. Semoga ketika mereka pulang ke Indonesia nanti, mereka mengoleh-olehkan manisan itu untuk saya. *AMIN*

Fri 27th Apr, 2007, Daily Rants, Non-sequitur

Cold Calling: Kredit Tanpa Agunan

Cold Calling atau telepon di dalam kulkas itu terkadang bisa membantu, tapi lebih sering membuat geram. Beberapa minggu terakhir ini saya sering ditelepon oleh berbagai macam agen penyedia kredit tanpa agunan (KTA, tapi sebenernya biasanya minimal “nyetor” motor) dari berbagai perusahaan dan sebagainya.

Belom ngutang aja udah diteleponin terus tiap hari, apalagi kalo udah ngutang yak?

Berikut ini percakapan teman saya yang saya tiru setiap ditelepon oleh agen kredit ini.

“Saya nggak ingin KTA, saya maunya KTB.”

“KTB? Apakah itu?” tanya sang agen.

“Kredit tanpa Bayar,” jawab temanku sambil mengetik sesuatu di layar chatting.

“Ya, mana ada atuh,” sang agen berkata sambil tertawa canggung.

“Ya udah, KTB yang satu lagi aja. Kredit tanpa Bunga.”

“Duh, si Mbak ada-ada saja. Mana ada bank atau perusahaan kredit yang ngasih kredit ga pake bunga?”

“Siapa bilang? Buktinya saya dapet kok kredit tanpa bunga.”

“Ah, yang bener? Saya sudah malang melintang di dunia ini belum pernah dengar. Bank mana yang seperti itu? ”

“Bank Ayah Bunda.”

“Wah! Ya itu mah curang dong,” sang agen merasa bahwa kekalahan sudah di depan mata.

“Nah, sekarang Mbak bisa nggak nawarin yang sama, tanpa bunga?” sedangkan teman saya sudah bisa mencium wanginya rendang untuk makan siang.

“Ya, kalo begitu mah, no contest, dong?”

“Ya iya memang begitu. Makasih ya Mbak, sudah mau menelepon dan menawari kredit, dan nemenin saya ngobrol. Selamat siang.”

“Oh, iya. Selamat siang juga.”

Wed 11th Apr, 2007, Daily Rants, Health

Tiga Cara Memerangi Sariawan

Akibat kegigit, kemudian kegigit lagi, kemudian akibat bergadang yang membabi buta, akhirnya timbulah sariawan sedanau toba sekawah ijen di bibir, yang membikin bibir maju nan jontor macam Angelina Jolie salah operasi.

Ini ada tiga cara jitu memerangi sariawan, diurutkan berdasarkan tingkat penderitaan.

  1. Minum Xiasangju Chongji, sehari dua kali, setiap kali dua sachet. Minuman ini adalah minuman bubuk dari ekstrak bunga krisan dan mulberry, bisa diseduh dengan air dingin, air panas, atau air hangat. Enak dan manis deh pokoknya. Dijual di kebanyakan toko obat-obatan Cina atau toserba seperti Toserba Rejeki di Harmoni, Jakarta Pusat. Pokoknya nggak ada menderita-menderitanya deh. Sekitar dua sampai tiga hari, langsung sembuh. Kalo nggak yang ini, bisa juga minum larutan Lohanguo (kalo ini mesti diseduh pake air panas, dan buka kemasannya rada-rada susah).
  2. Menaburkan bubuk Hao Fung San di atas luka sariawan. Bubuk ini rasanya agak pahit, makanya aku nggak gitu suka. Selain itu, bubuk yang berwarna kehijauan ini, kalau sudah mengenai air (ludah) pasti menggumpal dan kadang-kadang membuat gigi tampak seperti agak hitam (jadi penampilan juga agak menyeramkan), mirip nenek lampir dikit lah gitu. Ampuh sih, dan agak adem. Rasa perih sariawan juga agak berkurang. Sekitar dua hari gitu deh sariawan bisa hilang.
  3. Menaburkan garam di atas luka sariawan. “Dijamin besok sembuh,” kata temanku. “Elu mo bunuh gue apa ya?” Cepat dan menyakitkan. Direkomendasikan bagi para pahlawan berani mati.
Tue 10th Apr, 2007, Daily Rants

Cerita Hari Senin: Hikayat Hakim Jalanan

Dulu ada felem tentang hakim jalanan bule. Apa ya judulnya? Ada macem-macem sih. Ada yang naek motor gede, ada juga hakim yang buta. Kemaren, di gang deket kantorku juga ada hakim jalanan. Banyak lagi.

Ceritanya, ada ibu-ibu yang merasa kecopetan di dalem metromini (apa mikrolet ya?), dan meneriakkan teriakan standar: “MALING! MALING!”

Dengan serempak, semua pemuda-pemuda yang pada saat itu sedang seliweran di gang dan tidak sedang belajar untuk Ujian Nasional atau pun Ujian-ujian lainnya, atau yang tidak sedang sibuk bekerja disuruh-suruh sama bos tiran, keluar semua berhamburan.

Mereka mengejar dan menangkap orang yang dituding sebagai maling itu. Lalu mereka menyeret maling itu ke pos ronda. Sampai di pos ronda si tertuduh ditanyain macem-macem. Salah satunya, “Kamu copet ya?”

“Bukan,” jawab sang tertuduh.

“Itu dia orangnya!” teriak sang ibu yang dompetnya kecopetan.

“Mana dompetnya si Ibu?” tanya para pemuda.

“Saya bukan copet,” jawab sang tertuduh lagi, sambil mencoba melepaskan diri dari cangkeman para cowok-cowok. Sementara itu, penonton sudah banyak berkumpul. Pengen juga sih narikin seceng seorang buat tiket masuk ya.

“Bohong!” teriak sang ibu lagi.

Dan entah siapa yang memulai tiba-tiba sudah bak buk bak buk. Dan sang tertuduh ini badannya juga lumayan gede. Tenaganya juga badak.

“Saya bukan maling! Saya brimob!” teriaknya. Tapi cowok-cowok di sana udah pada nggak mau mendengar dan terus memukul. Satu pukulan dari pemuda sana, satu pukulan balasan, dan seterusnya. Belum lagi adegan dia mencoba melepaskan diri dan lari kabur tak ada tujuan. Ketika dia berhasil lepas, kerumunan penonton menyebar (takut dipukul), sampai-sampai ada ibu yang nyemplung ke selokan. Ketika dia sudah berhasil ditangkap dan dipukuli sampai berlutut, semuanya berkerumun lagi. Dan selama itu pula sang tertuduh berteriak, “Saya bukan maling! Saya brimob!” Sedangkan sang korban berteriak, “Bohong! Dia malingnya!”

Akhirnya polisi datang melerai.

Anti-klimaks banget ya?

Tue 10th Apr, 2007, Daily Rants, Datelines

Pekan Suci: Paskah dan Reportase

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya nancep di meja registrasi pers untuk musim paskah tahun ini. Pertama-tama dikiranya hanya untuk beberapa jam saja, tapi karena (katanya) personilnya masih sedikit, akhirnya jadi tugas berhari-hari, tepatnya mulai hari Kamis Putih hingga Minggu Paskah. Kata Ibu Grace, yang udah veteran soal begini-beginian, pekerjaannya bakal rada riweh, apalagi kalo semua wartawan berbondong-bondong datang. Padahal dari pihak panitia paskahnya cuma boleh ngijinin maksimal 6 media di dalam gereja, dan waktu peliputan cuma boleh lima belas menit tiap medianya, dan wajib diikutin sama pendamping pula. Sisanya nunggu dong? Trus kalo waktunya kurang gimana?

“Bu, ntar mereka marah nggak, kalo nggak kebagian momen penting?” Aku kan masih baru dalam hal-hal beginian. Nanti kalo aku dimarahin gimana? “Kalo lima belas menit belom puas gimana dong, bu?”

“Ya marah lah. Tinggal pinter-pinternya kamu aja kali ya,” si Ibu menjawab dengan santai dan ngloyor pergi mencari minum.

more…

Thu 5th Apr, 2007, Non-sequitur

Emak-emak Posmoderen Menghukum Anak

Dulu aku sering dihukum emak. Hukumannya standar lah: dikunciin di WC, dipukul, dicabein, atau disuruh berdiri di pojokan. Adikku juga. Ya, namanya juga anak-anak ya?

Sekarang ini kekerasan terhadap anak itu bukan hal yang lumrah dan boleh lagi. Jadilah orang tua dan para psikolog mencari cara untuk “menjatuhkan hukuman” yang agak lebih manusiawi sedikit. Berdiri di pojokan sih masih banyak diterapkan kayaknya, duduk di tengah ruangan sambil mingkem selama sejam atau lebih juga masih.

Atau seperti temenku. Kalau anaknya nakal dan harus dihukum, hukumannya adalah mengiringi emaknya masak dengan membaca berita di koran keras-keras. Maklumlah emaknya kan salah satu anggota golongan ibu-ibu bekerja (working mother, kerennya), dan jarang punya kesempatan untuk baca koran atau nonton siaran berita. Pulang dari kantor biasanya sudah harus mempersiapkan makan malam yang harus empat sehat lima sempurna.

Kemarin, ia cerita tentang anaknya yang baru sembuh dari sakit. Aku cuma bisa ketawa terpingkal-pingkal ketika temenku bercerita sambil menirukan suara anaknya.

“Kamu itu! Udah dibilangin, nggak boleh main bola dulu, eh… masih-masih aja,” omel sang emak.

“Maap deh, ma…” kata anaknya dengan tampang nggak bersalah.

“Maap, maap. Pokoknya kamu harus mama hukum!”

Sang emak mengambil koran, mendudukan anaknya di kursi di pojokan dapur, dan menyuruh anaknya membacakan isi berita yang ia tunjuk. “Baca yang ini, yang ini sama yang ini. Yang kenceng. Mama mau masak dulu.”

“Ya mama. Males ahhhh…. Aku kan ga suka baca koran.”

“Siapa yang suruh suka?” Tanya emaknya sambil memakai celemek. “Namanya juga hukuman. Kamu nggak perlu suka. Cuma perlu ngejalanin aja.”

“Nyalain teve aja deeeeh. Di MetroTV juga banyak berita.”

“Buat apa teve kalo ada adek… Iya ga? Udah ayo cepet dibaca.”

“Ya mamaaaaaa. Tau nggak sih maaaa.. Di sekolah, cuma aku doang yang hukumannya baca koran, tau nggak ma? Kenapa sih nggak disetrap aja, atau dipukul aja siiiih. Ini tuh menderita banget, tau nggak sih mamaaaaaaaa.”

“Emangnya enak mukul orang. Tangan mama juga sakit tau, kalo dipake buat mukul. Hukum fisika kan? Hukumnya siapa hayo?” Sang emak bertanya sambil memasak.

“Meneketeheeeee.”

“Hukumnya Om Newton yang ketiga, tau? Kalo ada tindakan selalu ada balasan yang setimpal. Udah sana baca beritanya. Ntar mama keburu selesai masak.”

“Itu bukannya Hukumnya Tuhan, ma?”

“Baca nggak?”

“Iya… baca… baca… Sebel. Hukuman kok aneh begini.”

Dan membacalah sang anak, sambil setengah ngedumel dan tidak senang.

Mon 2nd Apr, 2007, Daily Rants, Datelines

1 April 2007: Minggu Palma dan Kejepit

Minggu Palma (Minggu Palem, Palm Sunday, dll, dst) adalah hari minggu terakhir masa pra-paskah (Lent Period), dan awal dari Pekan Suci. Gereja juga udah mulai meriah, tenda udah mulai dipasang, dan segala macam kegiatan udah direncanakan. Tapi sebelum sampai ke kemeriahan Paskah minggu depan (minggu ini?), masih banyak hal yang harus dilalui. Hari Jum’at Agung misalnya, untuk mengenang wafatnya Yesus.

Tahun ini aku nggak ngebotakin pohon palem sendiri, biasanya kan suka bawa daon palem sendiri dari rumah. Tapi kali ini sih pengen minta dari gereja aja. Kali-kali boleh dong. Lagian sayang pasti bakal banyak sisanya. Pucuk palem itu ceritanya sih menandakan keberhasilan dan kemenangan (dalam tradisi Yahudi) dan menurut tradisi nasrani, orang-orang jaman jadul dulu melambai-lambaikan pucuk palem ketika Yesus masuk kota Yerusalem naik keledai. Oh iya, katanya sih naek keledai juga merupakan simbolisme jaman dulu juga. Jadi ceritanya, jaman dulu itu kalo raja (atau wakilnya, atau siapanya lah) masuk suatu kota naek kuda (apalagi kuda cowok gagah nan berwibawa) itu artinya lagi ada pernyataan perang. Tapi kalau dia naek keledai (apalagi keledai cewek), itu artinya dia datang dengan damai (kayak alien kali ya? “we come in peace,” ceunah).

more…

Mon 2nd Apr, 2007, Daily Rants, Datelines

1 April 2007: Ceng Beng tahun ini

Hari minggu, 1 April 2007, adalah hari yang sibuk. Pagi-pagi sekali sekeluarga besar sudah harus bersiap dari pagiiiii sekali untuk kegiatan nyekar. Sorenya, ke gereja untuk misa Minggu Palma, misa yang menandakan dimulainya Pekan Suci Paskah. Dan malemnya masih sempet juga April Mop-an. Cape’ deh… eh… seru deh…

Persiapannya Ceng Beng itu malah udah dari jum’at. Ada yang masak untuk makanan makam dan makanan peziarah (biasanya makanan makam itu makanan yang hambar (biar nggak diambilin orang maksudnya), dan makanan peziarah ya macem-macem, dari kue sampe ba’cang). Ada juga yang pergi beli bunga (makanya kalo sekitar-sekitar hari gini bunga jadi mahal banget di pasar). Ada yang beli benda-benda kertas untuk dibakar (biasanya sih duit-duitan, biar gampang dibawanya. Tapi ada juga yang beli hengpon-hengponan atau bahkan viagra-viagraan… Buset deh).

Sebenernya Ceng Beng itu jatuh pada tanggal 5 April setiap tahunnya. Tapi mungkin gara-gara tahun ini tanggal 5 April itu bukan hari libur, jadinya banyak yang “ngemajuin” Ceng Beng. Jadinya lah pas hari sabtu dan minggu itu yang namanya tanah perkuburan ramai didatangi orang.

more…

Fri 30th Mar, 2007, Daily Rants, Case

Perompak Jalan Raya: Ranjau Paku dan Air Keras

Penodongan pengendara bermotor emang bukan hal yang baru. Modus operandinya ya macem-macem, ada yang sengaja menabrakkan diri ke kendaraan korban, atau yang bilang bahwa ada ban kita yang kempes, atau yang nyiramin spiritus atau air keras ke arah ban (seakan-akan bannya ngebul). Korbannya tipikal yang dipelem-pelem gitu: cewek/cowok yang nyetir sendirian, semobil isinya cewek-cewek kemayu, atau pengendara motor yang badannya kecil, dll. Pokoknya yang seseorang atau sekelompok orang yang tampangnya imut-imut, kemayu, atau tampang korban. Kalau wajahnya sangar, mirip Sumanto, mirip tukang pukul, mirip binaragawan, mungkin agak jarang jadi korban.

Baru-baru ini yang sering kejadian itu di daerah Pecenongan, terutama di Gang Kingkit hingga Sawah Besar. Waktu kejadiannya biasanya ketika matahari sudah terbenam, karena di daerah-daerah itu emang agak gelap dan agak sepi kalau semua toko sudah tutup.

Seminggu yang lalu, tante yang hampir jadi korban. Ceritanya, dia pulang kantor lewat gang itu dan dari belakang ada satu sepeda motor (dengan dua penumpang) yang mencoba menarik perhatiannya. Mereka berteriak-teriak seakan-akan ada masalah dengan salah satu ban kendaraan tante. Tentu aja tante takut dan nggak mau minggir. Lagian di gang sempit gitu, sama aja nyari gara-gara. Merasa teriakan mereka nggak digubris, mereka pun masuk ke dalam salah satu gang yang lebih kecil. Tante sengaja memperlambat mobil dan mematikan lampu dan melihat ke dalam gang tersebut. Boncengannya lompat turun dan bertukar dengan pengemudi motor, sambil bertukar helm juga (helm ketiga) dan kemudian langsung melaju keluar, mendekati kendaraan tante lagi. Dia pun berteriak-teriak menyuruh tante minggir. Dengan kata-kata yang sedikit berbeda, seolah-olah dia itu orang lain. Logikanya: kalau lebih dari dua atau tiga kelompok yang bilang ada masalah dengan kendaraan kita, berarti memang ada masalah kan?

Tapi, tante yang sudah sempat melihat pertukaran mereka malah semakin seru ngebut untuk kabur dari sana. Dan ternyata si pengendara motor itu pun mengejar sambil memukul-mukul sisi kendaraan. Wah! Yang ada malah semakin ngebut dong. Apalagi sebenernya udah deket banget sama rumah. Pokoknya, dalam pikiran tante cuma satu: “buru-buru pulang ke rumah”. Kalaupun memang ada masalah dengan kendaraan, toh nanti bisa dibetulkan di rumah. Bodo amat deh, katanya. “Mau tiba-tiba bannya ngegelinding kek, tinggal velgnya doang kek, pokoknya tante nggak mau berhenti.”

Setelah selesai berpanik-panik ria, dan sampai di rumah dengan selamat (ternyata emang kendaraan tante nggak kenaVa-kenaVa kok…), beginilah nasihat darinya:

  • Jangan pernah berhenti. 68% adalah hoax. Katanya sih, ban jaman sekarang nggak akan meledug cuma karena satu paku. Dicoblos banyak paku pun nggak serta merta meledaknya. Sering kali kempesnya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Beberapa hari yang lalu ada temenku yang bannya akhirnya kempes juga, ditemukan ada selusin paku di bannya. Sayang, tukang ban nggak mau tukeran ban pake paku. (Lah emangnya tukang sayur, kadang-kadang tukeran cabe dengan koran bekas?). Kalau kena ranjau paku, atau ranjau besi, itu mah pasti disengaja sama penjahatnya.
  • Perhatikan letak pos-pos polisi atau semacamnya. Kalau memang harus berhenti, berhentilah di sana.
  • Kalau tidak ada pos polisi, masuklah ke gedung parkir (gedung perkantoran), atau tempat parkir yang umum.
  • Jangan berhenti di warung atau semacamnya, apalagi kalau jalanan sepi. Bisa aja mereka itu sekomplotan.
  • Selalu bawa ban serep dan alat dongkrak. Harus bisa ganti ban sendiri. Paling nggak bisa ngelak harus berhenti di tempat yang “menyeramkan”.
  • Bawa ajudan bertampang sangar.

Jadi?

Mon 26th Mar, 2007, Daily Rants

Dulu dan Sekarang: Sudah tidak sekolah lagi

Ternyata sudah sepuluh tahun berlalu. Cepet ya? Padahal kalau dijalankan per hari kok rasanya lambat… Sering banget aku bilang “Wah! Kok akhir pekan masih lama ya?” Eeeeh, tau-taunya sudah sepuluh tahun.

Maret 1997. Aku sibuk persiapan Ebtanas, diselingi kesibukan menyiapkan buku tahunan angkatan. Oh iya, diselingin sibuk baca komik Topeng Kaca juga. Ya ampun deh. Ujian tanpa akhir banget deh rasanya. EHB, Pra-EBTA, EBTA, EBTANAS, Ulangan Umum Sekolah, Ujian Praktek, dan entah ada ujian apa lagi. Di tengah-tengah deraan ulangan harian dan tes persiapan, ada sebersit harapan setiap kali melihat kakak kelas berseragam putih abu-abu. Gue bakal kayak gitu juga sebentar lagi. Rok biru gelap akan ditinggalkan untuk rok abu-abu itu. Entah gimana, rasanya keren aja. Mungkin semakin “tidak hidup” suatu warna pakaian, semakin dewasa seseorang terlihat? Maksudnya, bagus juga rok biru toh… Apa lagi merah SD.

more…

Sun 11th Mar, 2007, Foodstuff, Health

Teh Hijau sebagai Obat Luar: Jangan Ditelan

Temenku demen banget sama yang namanya teh hijau, mulai dari teh hijau sebagai minuman, hingga teh hijau sebagai pelicin kulit. Kalau pernah ke rumah dia, pasti baru masuk pun sudah akan disambut dengan wangi teh hijau yang digunakan sebagai pengharum ruangan. Lalu, bukalah kulkasnya, pasti ada minuman teh hijau dan es krim teh hijau (katanya sih bikin sendiri). Di kamar mandi pun, teh hijau ada di mana-mana. Dari sabun cuci muka, sabun dan scrub, hingga obat penangkal jerawat yang dioleskan. Teh hijau kabeh.

Gara-gara dia pula aku jadi mulai doyan yang namanya teh hijau. Entah itu yang dimakan (aku doyan banget yang namanya es krim teh hijau bikinan Haagen Daz), atau buat muka (aku dapet spot wand, obat oles untuk jerawat yang bahan dasarnya adalah teh hijau, walau rada aneh baunya. Tapi ampuh… jerawat cepet “mateng”).

Tapi ini ada dua resep penggunaan teh hijau yang aku baru tau.

Teh hijau pengusir jamur kaki
35gram matcha (bubuk teh hijau); 15gram baking soda (soda kue); 15gram tepung maizena, dan 8 tetes lavender essential oil (buat wanginya).

Semua bahan di atas dicampur rata (dan jangan dimakan, soalnya essential oil kadang-kadang nggak cocok untuk dimakan dan kadang-kadang bisa bikin alergi. Taburkan sedikit di atas jari-jari kaki, sebelum memakai sepatu, kalau mau berpergian. Jangan dipake semua tentunya. Sisanya, disimpen di dalem peles untuk dipake kapan-kapan. Katanya sih ampuh.

Matcha Mayonnaise bikin muka berbinar-binar
240ml mayones, dan 1/8 sendok teh matcha

Semua bahan di atas dicampur rata (kalo dimakan rasanya aneh kali ya? Ga berani nyoba ah). Terus dipakein ke muka (awas jangan sampe kena mata, hmm hmm). Tinggalin di muka selama 20 menit (jangan iseng, jangan dipegang-pegang, dan jangan seliweran di luar rumah, nanti dikira hantu). Setelah 20 menit, basuh pake air (jangan panas, jangan aer es juga). Basuh sampe bersih dan tidak tersisa.

Kalau dipake siang hari, habis muka dibasuh dan diseka dengan handuk, pakai pelembab, biar mukanya nggak kering. Kalau dipake malem hari menjelang bobo, ga usah pake pelembab juga nggak apa-apa, soalnya muka kita suka rajin bikin pelembab kalo malem.

Dari: Femina edisi 07/XXXV.
Komentar-komentar miring: dari temanku, sang maniak teh hijau.

Wed 7th Mar, 2007, Books

Yang duluan, menang: Ungkapan Terkenal Sepanjang Masa

Ternyata banyak juga ungkapan yang kita pake sekarang yang bisa digolongkan “basbang”, alias sudah dipake sejak jaman dulu kala… maksudnya sejak jaman Obelix belom kecemplung ke dalam gentong jamu ajaib. Misalnya, carpe diem, yang dulu bener-bener tidak berkonotasi “gapai cita-cita setinggi mungkin” tapi lebih berarti: “udah jangan mikir yang muluk-muluk, kerjain aja yang ada di depan mata. Atau misalnya E Pluribus Unum, moto negara Amerika Serikat yang ternyata diambil dari puisi tentang cara meracik salad dengan benar.

more…

Thu 1st Mar, 2007, Daily Rants

Mencari Berita bak Manusia Ikan

Dulu ada hoax tentang Deni (?) si Manusia Ikan. Yang katanya dikutuk a la Malin Kundang, bukan jadi batu tapi jadi manusia ikan. Tapi ini bukan tentang dia.

Saya beberapa hari yang lalu menonton liputan MetroTV tentang kapal Levina I yang terbakar dan memakan banyak korban. Tidak hanya korban yang tewas (atau hilang) pada saat kapal itu terbakar, tapi juga korban yang tewas (atau hilang) ketika kapal itu sudah tidak terbakar dan sedang diinspeksi.

Yang aku bingung, hampir tidak ada (ada gitu beberapa, tapi banyakan sih nggak) satu pun dari tim inspeksi, anak buah kapal, atau reporter yang menggunakan pelampung ketika naik ke atas kapal yang udah hangus gosong dan oleng. Bahkan dari pertama sekali banget sudah kelihatan kalo yang namanya kerangka kapal itu udah nggak aman dan oleng terus. Kok mbok ya nggak ada satu orang pun juga yang kepikiran untuk pake pelampung? Kok malah semuanya mengambil resiko, atau merasa “ah nggak mungkin terjadi apa-apa pada saya”. Atau merasa keberuntungan sedang berpihak kepadanya?

Bukannya itu adalah standar keselamatan internasional untuk menggunakan pengaman kalau memasuki/menaiki/menjelajahi tempat-tempat yang nggak jelas tingkat keselamatannya? Masuk gedung atau rumah yang hangus terbakar, minimal pakai topi besi, supaya terlindung dari reruntuhan atap. Masuk ke areal konstruksi, minimal pakai topi besi, supaya terlindung dari jatuhnya plafon. Masuk ke dalam perut bumi, minimal pakai topi besi biar tidak tertimpa langit-langit gua, dan pakai pelampung supaya tidak terseret arus sungai bawah tanah.

Begitu pula menaiki kapal yang baru terbakar dan sudah terlihat hangus, gosong, dan tidak stabil lagi. Mungkin saja kapal itu tidak akan meledak (katanya), tapi ada kemungkinan kalau kapal itu tiba-tiba tenggelam atau oleng kan? Apalagi yang naik ke kapal itu banyak banget. Manusia, peralatan forensik, peralatan tim peliput. Jangan pernah lalai menggunakan pelampung atau alat keselamatan lainnya. Walaupun kedengarannya sepele, atau hal kecil, tapi pelampung itu banyak gunanya kok. Kadang-kadang, kan kita nggak boleh terlalu bergantung sama nasib, tapi juga pro-aktif dalam menjaga nyawa yang telah dikaruniai Tuhan ini.

Akhir kata, aku turut berduka cita atas apa yang terjadi. Tapi di samping itu, aku juga berpikir, mungkinkah ada yang terselamatkan dari maut yang sia-sia ini jika ada yang mau mengingatkan tentang hal yang kelihatannya sepele ini? Entahlah.