Makassar: Pagi Pertama, pra-acara
Setelah kenyang makan mie titi, langsung menuju hotel. Kasihan Rara besok harus menghadapi sebegitu banyak media, dan sepertinya yang lain juga sudah lelah seharian mempersiapkan acara hari sabtu. Ternyata toko mie itu nggak jauh dari Pantai Losari, dan hotel tempat saya numpang menginap juga ternyata nggak jauh dari toko mie, dan berarti nggak jauh dari Losari juga. Tapi kalau melongok dari jendela, nggak begitu kelihatan. Nggak kelihatan ada pantai, maksudnya.
Kekenyangan, kami pun segera tertidur, dan masih dengan semangat 17an, pun memulai aubade ngorok yang, menurut saya sih, lumayan menggetarkan jiwa (atau paling tidak, jendela).
Tak terasa. Tiba-tiba sudah pagi. Sudah waktunya doping kopi dan berangkat ke tempat blogshop.
Hari itu pula saya pun mengerti bahwa pertanyaan seperti “ke [sebut nama tempat] dari sini berapa lama?” itu pantang diajukan pada seorang pengemudi berdarah Makassar.
“Ya tergantung. Maunya berapa lama?” jawab Rara sambil oper gigi geraham, eh gigi atret.
Tiba-tiba kami sudah keluar dari slot parkir depan gedung hotel, sudah menyebrang jalan, sudah berada di jalan yang entah kayaknya jauh banget dari sekian detik yang lalu.
“Makassar ini memang membuat orang menjadi sholeh,” tukas Masset, yang setia duduk di kursi navigator. “Jadi rajin zikir nih,” katanya, bertepatan dengan Rara yang banting setir menghindari montor ngeyel ora rewel…
ya tuhaaan gue belom kawiiiiiiinnnn.
Sepanjang jalan, ada banyak hal yang bisa dikagumi. Seperti penulisan nama jalan dengan menggunakan aksara latin dan aksara lontara. Kalau dilihat sekilas, aksara lontara itu mirip seperti gunung dan sungai berbaris-baris.
Ada juga pembatas jalan yang ebuset tinggi banget, ya — setinggi dengkul saya mungkin, dan bentuknya pun macam bukit, tidak ada bidang datarnya, langsung melengkung gitu. Tinggi dan terjal.
Selain itu, ada pula becak motor. Motornya dipasang di belakang tempat duduk penumpang seperti becak biasa. Tidak seperti becak motor di kebanyakan kota yang ditempel bersebelahan dengan tempat penumpang. (Sebenarnya ketika saya cerita sama tante, katanya tante, di jakarta dulu juga pernah ada, helicak yang motornya ditempel di belakang tempat duduk penumpang).
Bedanya, di Jakarta, saking macetnya jalan raya, becak motor begitu ‘kan nggak bisa ngebut kenceng bagaimana-bagaimana. Beda lah kalo di Makassar, pasti penumpang becak motor itu semuanya relijius. Bagaimana jika si becak motornya itu ngebut dan rem mendadak? Karena tak ada sabuk pengaman atau semacam pintu yang membatasi penumpang dengan dunia luar, pasti penumpangnya langsung tiba di tujuan.
Potong sana potong sini, numpang lewat tempat parkir gedung orang, akhirnya kami tiba juga di pelataran parkir Lab Komputer ICT Center Universitas Negeri Makassar.
Terima kasih Tuhan saya masih diberi umur panjang.
*kabur dari getokan rara*
Ehh booo, Universitas Negeri Makassar kaleeee. Wkkwkwkwkwkwk
Now include over a lariat. A stunning necklace that draws attention. a good offer better yet, whenever you possess the height for it, compare to over a pearl rope, or perhaps a gorgeous necklace that is 37 inches or longer. A genuinely extended necklace that tends to create a grand statement.
Every one remembers that men’s life is high priced, but we need money for various things and not every person gets enough money. Hence to get some mortgage loans or just commercial loan should be a right solution.
Make your own life time easier take the loan and all you need.
Thanks for providing such a great article, it was excellent and very informative. as a first time visitor to your blog I am very impressed. I found a lot of informative stuff in your article. Keep it up. Thank you.
kunjungan gan .,.
bagi” motivasi .,.
jangan pernah mengeluh dengan apapun .,.
tetaplah semangat dan nikmati semua.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.