Makassar: Malam Pertama
Hari Jumat lalu saya bertolak ke Makassar menggunakan pesawat Lion yang paling malam (yang tidak malam-malam amat juga, kan baru jam 10). Penerbangan ke Makassar — Ujung Pandang — itu memang dua jam, tapi kalau dipikir-pikir, lama juga. Sudah ingin cepat-cepat ketemu dengan teman-teman yang sudah duluan berangkat ke sana, dan teman-teman yang memang sudah ada di sana.
Dua jam, satu zona waktu, dan satu panggilan telepon kemudian, bertemulah saya dengan Rara pada kursi kemudi, Masset di kursi navigator; di sebelah kiri saya ada Nanie dan Irha, sedangkan di belakang ada Anbhar. Ntan dan Herman menemani dengan doa dari jauh (wah ini perlu ada cerita satu jilid sendiri lagi!)
Dan berhubung sebentar lagi juga sudah mau sahur (paling tidak dari teriakan-teriakan anak-anak bersepeda motor), kami pun berangkat mencari sesuap mie. Berhenti sebentar di Mie Anto, keburu habis. Proses parkirnya Rara dihentikan oleh daeng yang bertugas di pelataran parkir, “Habis! Habis!” katanya. Yaaaa, ketjewa. Akhirnya kami pun pergi ke Mie Titi Datuk Museng yang dekat Pantai Losari situ. Buat saya, karena lapar, semuanya enak. Tapi kata Nhie, Mie Anto lebih enak (dilihat juga dari Mie Anto tampaknya lebih laku, hehehe).
Ternyata mie titi itu macam ifumie gitu, walau sempet bingung waktu mendengar deskripsi teman seperjalanan di pesawat, “Ko mesti coba mie titi.”
“Mie titi itu apa?” tanyaku.
“Itu macam mie goreng, tapi kering; macam spageti tapi bukan,” ia dengan pantang mundur mencoba menjelaskan. Ternyata ifumie!
Salah satu yang membuat perjalanan saya jadi terasa cepat dan tidak mebosankan adalah karena dia juga, temen seperjalanan yang lucu. Dan tak hanya satu! tapi dua! teman perjalanan yang lucu dan murah tawa. Kayaknya kami ramai sendiri.
Berawal dari bertukar tempat supaya seorang ibu bisa duduk sebelahan dengan putrinya. Di baris saya yang baru, baris 31, itulah kami ngakak sepuasnya sampe dijutekin pramugari.
Tante Omi berasal dari Jayapura. Dia duduk terpisah dari rombongannya. Awalnya ia terlihat ngantuk sekali. Yang satu lagi adalah taruna sekolah penerbang Cakung. Iaduduk di samping jendela itu, kami panggil Mas Pace (karena dia dipanggil Pace oleh teman-teman seasramanya), dan Mas karena dia pacarnya orang Jogja (”perempuan itu dandannya lama. perempuan jogja itu lebih lama lagi!” keluhnya. “Tapi dia cantik sih,” lanjutnya seperti membela diri.) Mas Pace berasal dari Merauke. Malam tadi dia terbang ke Jayapura, nginap semalam, baru pulang ke Merauke.
Percakapan kami dimulai dengan Tante Omi yang baru kembali dari toilet. Dia khawatir, karena tempat sampah di dalam toilet itu menjorok ke luar, dan walau sudah dia dorong balik, dia takut nanti akan berdampak buruk pada penerbangan. Tiba-tiba Mas Pace tertawa, dan menjelaskan ke Tante Omi kalau itu tidak berbahaya.
Ternyata Tante Omi takut sekali terbang. Karena sempat dalam perjalanannya dari Makassar ke Jakarta, dia lewat semacam ruang hampa, jadilah dia yakin kalau “jantung itu seperti ketinggalan di atas.”
Mas Pace bilang, “Naik pesawat itu lebih selamat.”
Tante Omi nalik bertanya, “Tau dari mana kamu?”
“Di udara tidak ada polisinya, toh?”
“Tapi di langit ini sama tanah jauh sekali jaraknya.”
Mas Pace cerita tentang frustrasinya mereka dengan para pemotong jalan. “Ya anak-anak main layangan lah, itu orang pacaran, naik motor…” Dia cerita tentang taruna yang terlibat dalam kecelakaan itu, yang katanya tinggi tegap ganteng dan cakep “Ko yakin ko suka perempuan?” tanya Tante Omi polos. Mas Pace sudah dua tahun belajar jadi petugas tower (lupa nama resminya).
Ternyata tidak hanya di sekolah penerbangan saja yang apronnya sering disebrangi oleh makhluk hidup. Katanya, pernah sekali di Timika itu, pesawat yang dia tumpangi memang sudah mendarat dengan mulus, tapi belum sampai benar ke tempat pemberhentian. Tiba-tiba brak! Tampaknya menabrak sesuatu. Ternyata yang ditabrak adalah ternak! Dan ternak itu masuk ke dalam baling-baling. “Sapi itu sudah jadi kornet!”
Untungnya semua penumpang dan pesawat itu tidak apa-apa, tidak ada korban jiwa, kecuali sapi yang malang itu. Oleh karenanya, sekarang banyak sekali ternak yang harus ditembak di tempat sebelum dia sempat melanggar masuk ke apron. Apa jadinya kalau bukan satu atau dua, tapi banyak sekali ternak memutuskan untuk piknik di atas apron? “Ya harus digiring keluar semua. Makanya sering terlambat mendarat.”
Sementara di sekitar kami, penumpang pada tidur dengan suara ngorok beragam logat (saya yakin bapak2 yang di depan saya itu logatnya papua juga. “Pasti dia duluan sampai ke rumah,” komentar Tante Omi). Walau ada juga satu anak kecil yang senang lari sana lari sini sepanjang aisle pesawat, tampaknya nggak mempan ditegur tante pramugari. Malah dia bernyanyi-nyanyi riang. Mas Pace sempat nyeletuk, “hei, ko main aja di luar sana.”
Saya dan Mas Pace berusaha mengajak Tante Omi ngobrol dan bicara dan tertawa terus, biar dia tidak terlalu tegang. “Lama sekali, kitong bantu dorong aja,” dia bilang kala menyadari baru sekian menit berlalu dan masih ada sekian puluh menit tersisa.
Ya banyakan cerita sih garing dan ‘epen’ banget. Tapi paling tidak, dua jam lebih pleus delay sekian menit jadi nggak terlalu menyiksa.
Pesawat pun mendarat, tak lama kemudian suara nona pramugari terdengar “para penumpang yang terhormat, mohon kenakan sabuk penga…. Eh…” Setelah sepesawat terbangun dan ketawa formalitas, tibalah kami di gate. Saya mengucapkan yuk dadah yuk babai pada Tante Omi dan Mas Pace yang harus transit untuk melanjutkan perjalanan ke Jayapura.
Saya tiba di Makassar! Ceritanya tubikontinyu, ya!
serasa henceh cerita berlogat papua
wakakakaka!
pengalaman yg tak biasa
:D
ngakak abis baca postingan ini. buruan posting kegilaan selanjutnya di Makassar ya
Woww…seru ceritanya Hen, jadi laper nih mau makan mie titi…hehehe
Lanjutkan…
en koreksi dikit, sekolah penerbangan curug (STPI Curug) bukan cakung, dan yang di tower itu ATC
*maklum dulu ampir lanjut ke sekolah itu*
masih ingat waktu di mobil dengan semangatnya berkicau sejak dari bandara sampai di warung mie titi. sementara yang lain dah tinggal 5 watt