Fri 14th May, 2010, Datelines, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-9

Cepat atau lambat, cepat juga

Saya jadi ingat obrolan antar dua teman di kantor. Teman yang satu bekerja di bagian pembukuan (atau kuli sempoa, katanya), teman yang satu lagi dari divisi teknologi (kuli komputer). Bagi sang akuntan, bila belum setahun itu berarti masih jangka pendek. Bagi sang technogeek, lewat beberapa bulan saja sudah jadi basbang, alias basi banget.

Bagaimana menghitung kehidupan, dan bagaimana memberi label ‘lama’, ‘baru’, atau apa saja?

Hari ini seorang teman berulang tahun. Saya kenal dia dari blog. Dulu, dulu sekali, kira-kira sembilan tahun yang lalu. Saya lupa jelasnya gimana. Kalo nggak salah, semua berawal dari kunjungannya ke blog saya (yang sekarang sudah nggak ada lah yaw). Kami pun ngobrol via kotak komentar di blog masing-masing, tukar-menukar surel, dan ngegosip di ranah maya.

Saya juga ingat, betapa betenya dia setiap kali saya mengumumkan pindah blog, dan ganti nama julukan. Sejak pertama kali saya ngeblog tahun 1998 (di lycos/tripod atau excite ya? lupa deh. dan waktu itu namanya masih diary-ing, ya?), saya memang orangnya bosenan, mencoba-coba layanan blog baru, dan gonta-ganti nama panggilan/pena/samaran (baru belakangan ini saja agak konsisten dengan nama ‘henzter’. mungkin saya sudah terlalu tua, mungkin juga saya sudah menemukan jati diri *cih!*).

Sedangkan dia orangnya ’setia’, ya paling nggak dia setia di layanan pitas.com sampai lebih dari lima tahun! *kabur sebelom dikejar-kejar sama yang bersangkutan*

Dia juga bakat banget jadi teman yang setia, bagi saya yang orangnya ‘cuekan’ ini. Saya ini paling malas mainan facebook, paling malas memutakhirkan ini itu, termasuk juga malas berbalasan surel atau sekadar menanyakan ‘apa kabar’. Benar-benar bukan tipe teman yang bisa menjaga pertemanan dengan aktif. Syukurlah, ada dia, yang betul-betul rajin menjaga agar tali pertemanan tidak putus. Bayangkan betapa susahnya. Waktu pertama kali kenal, dia di Indonesia dan saya tidak. Ketika saya pulang, eh, giliran dia pergi. Sekarang pun juga agak sulit bertemu karena kesibukan masing-masing. Tapi, dia selalu ’setia’ mengingatkan.

Sekarang sudah hampir sembilan tahun berteman. Saya kaget sekali ketika mengetahuinya. Rasanya kok belum lama ya, dia menegur saya di blog saya. Tapi ternyata sudah sebegitu lamanya.

Tapi, mau dibilang lama juga kok rasanya baru? Masih banyak hal yang mengejutkan kami, walau kesannya sepele, tapi lucu juga ketika dibahas dan dibayangkan. Misalnya, ternyata saya punya jam meja persis yang sama dengannya. Bukan saya sih, tapi orang tua saya punya jam meja yang persis sama dengan yang dimiliki orang tuanya. Sama-sama hadiah pernikahan. Sama-sama diberikan di tahun yang sama. Serbet meja? Jangan tanya.

Haha, seperti menemukan saudara yang hilang.

Selamat ulang tahun, Nana!

Thu 13th May, 2010, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-8

Sepi atau ramai?

Suka yang sepi-sepi atau yang ramai-ramai?

Hari ini hari libur, otomatis kantor pun libur. Tapi, saya (dan beberapa teman) tetap masuk untuk mempersiapkan apa pun itu yang diperlukan menjelang keberangkatan mereka (bukan saya, hore!) ke tempat pelanggan di luar kota.

Kantor sepiiii sekali. Kalau ini hutan, pasti sudah bunyi krik, krik, krik. Tidak ada suara mesin tik jadul yang menyerupai rentetan senapan mesin. Tak satu pun radio yang dinyalakan (biasanya, tiga radio dinyalakan bersamaan, masing-masing manteng di frekuensi yang berbeda-beda, dan adu kencang). Telepon juga sunyi senyap, nggak berisik berdering terus menerus, kayak dikejar setoran saja.

Enak, nggak ada yang ganggu.

Tapi ada nggak enaknya juga. Karena sepi dan tak ada orang, kalau mendengar abang bakso lewat, nggak bisa dengan semena-mena pencet interkom ke teman yang di lantai bawah untuk titip bakso. Nggak bisa juga teriak dari jendela karena suara kentongan abang bakso lebih kenceng dari teriakan saya. Pernah terpikir untuk mencoba menarik perhatian abang bakso dengan melempar penghapus ke arahnya (seperti dulu bu guru melempar kapur untuk menarik perhatian murid yang tanpa tedeng aling-laing ngobrol di depan matanya); tapi kayaknya abang bakso itu malah mungkin akan balas melempar mangkok.

Tak lama kemudian, anak-anak yang tinggal di sekitar sini pun mulai menggelar peralatan sepak bola mereka. Lumayan, nonton pertandingan sepak bola gratis, sambil menduga-duga siapa kira-kira di antara anak-anak yang ceria itu yang nantinya akan jadi pesepak bola nomor wahid di Indonesia dan dunia.

*mak, lapar mak*

Wed 12th May, 2010, Non-sequitur, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-7

Seminggu dan Tiga-koma-sekian Minggu Sisanya

Pada hari ke-7, Tuhan beristirahat. Kalau begitu saya juga! :disambar petir: Tidak sepenuhnya benar :) Tuhan beristirahat karena pekerjaan penciptaannya sudah selesai, dan karena semuanya sungguh amat baik.

Sedangkan saya? Walau sudah hari ke-7, pekerjaan ini belumlah selesai, masih ada sisa 24 hari lagi.

Dan pun kalau sudah selesai semua, masih diragukan apakah semuanya baik buahnya. :yang ada busuk semuanya: *terkekeh-kekeh*

Jadi, hari ini? Maaf, tidak ada postingan berbobot (lha! memangnya sebelumnya ada bobotnya :memandang timbangan badan:) Hanya semacam retrospeksi picisan dan sekadar menandai titik pencapaian pertama.

*hosh hosh hosh*

Tue 11th May, 2010, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-6

Terpisahkan Jarak dan Waktu

Hampir saja lupa untuk ngeblog. Tak terasa, tiba-tiba udah Rabu aja. ::lirik jam:: Jadi sebenernya, seharusnya blog Selasa dianggap bolong, kalo puasa itu berarti ngutang. Tapi, kan di beberapa tempat di belahan bumi lain masih hari Selasa! Bahkan, pasti ada belahan galaksi yang hari ini masih Senin ::mencari pembenaran yang salah::

Eh, jadi enaknya ngomongin apa, ya?

Oh iya, dulu saya punya temen. Sekarang juga masih, tapi maksudnya ini nyeritain tentang jaman dulu, bukan tentang dulu bertemen tapi sekarang nggak. Um… eh iya, kembali ke topik.

Dulu saya punya temen yang dikirim kantornya ke luar negeri, untuk berkantor di sebuah kota di negeri itu.

Berangkatlah dia.

Dan kangen rumahlah dia.

Nahasnya, karena kesibukan dia di siang hari (waktu setempat), dia hanya bisa telepon-teleponan setelah hari menjadi sore di negara itu.

Sialnya, letak geografis negara tersebut bener-bener nggak banget deh. Serba nanggung. Di sana sore, di sini malam. Di sana malam, di sini tengah malam buta. Intinya, jam teleponnya sama dengan jam tidur kebanyakan orang yang disayangi dan dicintainya.

“Nggak tega ah, Hen. Udah malem buat mereka.”

Entah karena saya bukan termasuk ring orang yang dicintai atau disayanginya, atau karena saya termasuk orang yang sering bergadang, atau kombinasi keduanya, dia kok kalo nelepon saya tega-tega aja tuh.

Sempat saya suruh, “telepon cowok lu aja ‘napa sih? Kalo dia cinta, dia layanin dong curhatan elo. Walau tengah malam buta sekalipun.”

“Ya gue ga enak aja sih, dia kan butuh tidur.”

“Lah gue?”

Dia cuma tertawa, dan mulai titip pesan ini pesan itu untuk kekasihnya dan keluarganya (di samping tentunya dia menggunakan kecanggihan email untuk berkirim pesan yang lebih bersifat pribadi).

Sekarang dia sudah menikah, dan sudah diboyong suaminya (iya, yang tukang tidur itu) ke negara lain lagi; ke negara yang perhitungan jamnya lebih bersahabat.

Dan, entah karena saya telah berjasa menjadi penghubung kedua sejoli yang sempat terpisah jarak dan waktu, atau karena saya termasuk orang yang sering bergadang, atau kombinasi keduanya, suatu hari, tengah malam buta, “Hen! Anakku cewek! Kedengeran nggak?”

Sayup-sayup terdengar tangisan bayi, kencang, kuat dan sehat.

Selamat datang di dunia, nona manis. Semoga kamu tumbuh bahagia, sehat, kuat, dan kalau sudah bekerja, jangan kerja di negara yang aneh-aneh waktunya, ya.

Mon 10th May, 2010, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-5

Street Football

Tadi pagi, saya menemukan hal baru di atas aspal di depan kantor saya. Garis-garis penanda gawang yang belakangan ini sudah mulai memudar, tiba-tiba jadi putih tajam kembali. Bahkan ada banyak penanda-penanda baru. Ada apakah gerangan? Oh, ternyata sempat digunakan untuk lomba free kick hari minggunya. Nggak ada hubungannya sama kiprah Chelsea di EPL tapinya, ya.

gambar di lantai

Di daerah sekitar tempat tinggalku, paling tidak ada dua ‘klub’ sepak bola (kalau boleh disebut demikian). Bila Chelsea punya ‘rumah’ di Stamford Bridge, dengan rumputnya yang hijau dan suasana bak ‘katedral’ (bagi yang mengaku beragama bola), maka klub sepak bola lokal ini menyebut jalan raya sebagai rumah mereka. Yang satu ya yang di gang depan kantorku ini; yang satu lagi menguasai Jalan Juanda 3. Dan bila mereka bermain bola (biasanya hari minggu siang menjelang sore), kendaraan yang melintas sebaiknya putar balik dan mencari jalan lain, apalagi kalo pertandingan sedang sengit-sengitnya. Bisa-bisa mereka marah.

Teman saya pernah diteriaki dan mobilnya dipukul-pukul karena mengklakson dan tidak mau berputar balik. Salah saya juga, mengundang dia datang ke rumah saya tapi lupa memberitahukan jalan alternatif. Jangankan yang naik kendaraan roda empat, kadang-kadang numpang melintas pakai sepeda motor atau bahkan berjalan kaki saja sudah lumayan takut. Takut kejedot bola, maksudnya.

Bahwa mereka ‘menguasai’ jalan yang seharusnya milik umum (biasanya mereka memasang bangku warteg yang panjang itu sebagai portal, juga mendirikan gawang lipat, serta punya ‘tim pengaman’ sendiri) tentu membuat banyak pengguna jalan raya marah, atau paling tidak ngedumel dan mengumpat. Pernah suatu hari saya mendengar pertengkaran antara seorang supir truk dengan kelompok anak-anak ini.

“Emangnya jalanan ini punya mak loe!” si supir itu marah.

“Lah! Emangnye kite bisa maen di mane lagi, Bang!” seorang anak menyahut, diiringi sorak-sorai teman-temannya.

Sun 9th May, 2010, Foodstuff, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-4

NENEK

Dari dua nenek dan dua kakek yang kupunya, sekarang tinggal satu, ibu dari ibu saya. Kedua kakek dan nenek yang satu lagi (ibu dari ayah saya) sudah lebih dahulu berpulang, dulu dulu sekali, sampai kadang-kadang saya juga sudah lupa banyak sekali tentang mereka.

Walaupun masih banyak sesepuh seangkatan nenek di keluarga besar, tentu beda deh sama nenek beneran.

Rumah nenek nggak jauh dari rumahku, cuma beda gang malah. Tapi walau dekat begitu, paling dalam seminggu cuma sekali dua kali yang ketemu tatap muka yang cukup lama. Sisanya cuma sekadar lambaian tangan ketika saya melintasi rumahnya dalam perjalanan pulang dari kantor (yang juga dekat rumah, nyata kan mengapa saya cepat malas ngurus foursquare).

Bahkan kayaknya, belakangan ini, total jam yang saya habiskan bertemu teman lebih banyak daripada total jam yang saya habiskan untuk bercakap-cakap dengan nenek.

Itu juga karena setiap hari minggu nenek hampir pasti mampir lewat rumah mengantarkan nasi tim dan pastel, kalau nggak mampir, mungkin juga nggak setiap minggu ketemu.

Ibuku selalu berusaha untuk mendekatkan anak-anaknya ke nenek, mengajak semuanya untuk sering-sering ketemu nenek, entah ngajak nenek jalan-jalan keliling kota, atau sekadar duduk-duduk di meja makan sambil menikmati kudapan.

Nenek lahir di penghujung perang kemerdekaan, jadi tidak bisa banyak cerita tentang perang itu sendiri, melainkan menceritakan ulang apa yang ia dengar dari ayah dan ibunya. Kadang-kadang ia bercerita tentang tahun 60an, sukanya dan dukanya, terutama ketika lagi hebohnya gerakan anti-komunisme, dan imbasnya terhadap dia dan keluarga, terutama saudari-saudarinya.

Menurutnya, kehidupannya adalah kehidupan yang masuk dalam kategori ‘biasa’. Tidak terlalu wah, tidak terlalu penuh skandal, atau sampai layak dijadikan filem Takada Akar Ram Punjadi. Tidak terlalu miskin, juga tidak kaya sekali. Tidak susah sekali, tapi juga tidak bisa dibilang nyaman.

Tapi cerita tetap cerita, kehidupan tetap kehidupan. Sejarah orang biasa pun cerita yang menarik dan bisa digali kebijaksanaanya. Saya sendiri menganggap cerita-ceritanya selalu menarik, mungkin karena cara ia menceritakannya.

Atau kadang-kadang kami bernostalgia. Saya ingat ketika dulu saya belajar bahasa sunda dan jawa dari nenek, bukan sunda lemes atau jawa halus, tapi paling tidak berguna untuk percakapan sehari-hari.

“Nenek kamu tinggal satu lho!” Ibuku sering mengingatkan, apabila ketika saya sedang kumat napsu tidur seharian penuh pada hari minggu dan menolak diajak berkunjung ke rumah nenek.

Dan terus terang, saya juga berharap nenek akan terus bisa bersama dengan kami. *hugs nenek* *sambil makan pastel*

Sat 8th May, 2010, Blog31Hari

#BLOG31HARI: Hari ke-3

Mengartikan Kata “Nekad”

Omong-omong, ini baroe pertama kalinja saia onlain di loear roemah, di kafe tepatnja. Doh, ini gara-gara online dari Kopitiam Oey nih, nulisnya ketularan jadoel. Huh. Tapi lucu juga, menunya Kopitiam ini semuanya pake ejaan dan kosa kata jadoel. Eh tapi ini nggak ngomongin Kopitiam, deh.

Juga nggak ngomongin tentang online di kafe deh. Lucu juga lho, online di kafe, jadi rasanya kayak profesional, ‘woman kerir’ gitu. Atau penggiat industri kreatif, pokokna perasaanya keren deh.

Eh iya, kembali ke topik semula (hayah!)

Nekad. Kenapa nekad? Ya eya laah. #Blog31Hari. Jangankan ngeblog yang masuk kategori makro yang kayak gini (nulis berparagrap-paragrap), mikroblogging juga kayaknya nggak ada tuh yang sampe 31 hari berturut-turut. Ni bakal jadi rekor kayaknya deh.

Jangan tanya kenapa, kadang-kadang sesuatu kegiatan yang didasari kenekatan, disertai hilangnya akal sehat, dan ketiadaan nalar itu, ya nggak bisa dijelaskan. Kalo terpaksa banget menjelaskan, mungkin…. mungkin apa, ya? Kayaknya seru aja.

Ya, biarin deh. Nanti kalo udah sampe kefefet banget, saya akan kupipes berita dari media online ke sini (toh mereka sudah mirip blog daripada jurnalisme serius, paling tidak dari bahasa dan cara penulisannya).

Kalo sampe kefefet banget, berita itu akan saya terjemahkan menggunakan layanan gugeltrenslet! Ada 31 bahasa, khan? (my name is KHAN! Bu Khan!) Hahaha *ketawa setan, nyengir gigi*

Dah. Blog hari ketiga selesai ditulis! HORE! *ditimpuk meteor*

Fri 7th May, 2010, Blog31Hari, SocMed

#BLOG31HARI: Hari ke-2

Empat Petak Itu namanya Porskwer

“Mbak Hen, aku add porskwer-mu dong,” kata seorang temanku, pada suatu hari.

“He? Apa itu?” Saya kira apa gitu, tapi ternyata yang dimaksud adalah foursquare.

Percakapan ini terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Sebelumnya saya memang sudah pernah denger-denger tentang aplikasi jejaring sosial berbasis lokasi, atau bisa juga disebut jejaring sosial yang mempermudah orang untuk menguntit Anda. (ya walau dulu juga sebenernya sudah mudah sih, kalau saya lihat-lihat dari rentetan status beberapa teman yang isinya alamat lengkap, bahkan ruangan di mana dia waktu itu berada — di wc! di kolong ranjang!)

Suatu saat nanti, tidak perlu radar untuk menembakkan peluru kendali. Calon teroris masa depan disuruh main social media saja sejak dini, biar ketagihan. Para pengintai tinggal follow oknum-oknum mencurigakan itu saja.

@t3r0r1s_1mYu7 | I’m in da wc! (Gedung Tinggi Sekali Lvl 7-01, City A, Country B)

Bahkan kayaknya ada juga yang memampangkan koordinatnya. Entah salah entah benar, tapi…

EH, kembali lagi ke foursquare. Akhirnya awal bulan ini saya gabung juga, dong, dengan foursquare. Awal-awalnya masih ‘panas’: rajin memperbaharui status, rajin menuliskan tips dan catatan-catatan, rajin memperbaiki tag dan kategori.

Lama-lama tersadarkan bahwa foursquare saya benar-benar empat petak! Rumah, kantor, halte bis, toko roti. Rumah, kantor, halte bis, toko roti. Dan sialnya lagi, rute saya begitu benar-benar bentuknya hampir kotak. Four squares betulan! Alamakjang. Sudah ditambah variasi warung sebrang kantor, restoran dekat rumah, bank dekat rumah… tapi ya… nggak ada kemajuan sama sekali. Hanya hari Sabtu saja saya bisa agak ‘keren’, berkunjung ke provinsi sebelah. Tapi itu pun jadi repetitif dan gitu-gitu aja.

Iri sekali dengan teman saya yang sebentar di Pasar Rebo, nyebrang ke Pasar Jumat, ke Pasar Minggu, dan berakhir di Pasar Senin, semua dilakukan pada hari Selasa.

Lalu, teman saya berkomentar, “Ya, nggak usah mampir ke tempatnya baru update status deh kalo gitu mah, semua masih dalam radius rumahmu itu lho!”

Menyedihkan. Jadi kalau pun sekarang saya masih mainan foursquare, semuanya “off the grid” bukan karena saya reklusif atau sejenisnya (toh saya pasti ke situ-situ juga), tapi supaya agak tktq.net lah.

Fri 7th May, 2010, Daily Rants, Blog31Hari, PB2010

#BLOG31HARI: Hari ke-1

CELEBRATING DIVERSITIES: MERAYAKAN KERAGAMAN
UNTUK KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

Perubahan nggak bisa dihindari, sama aja kayak panjang rambut yang berubah-ubah walau sudah dipotong terus setiap bulan. Perubahan itu tergantung gimana kita ngeliatnya. Bisa aja kita berubah, supaya tetap sama seperti dulu. Atau kita bisa berubah, seperti layaknya Satria Baja Hitam, sampai nggak bisa dikenali lagi (bahkan sama gebetan sendiri).

Atau kita bisa berubah untuk menjadi lebih baik. Kita bisa jadi agen perubahan *pasang lagu jembon*
more…