Sun 9th Mar, 2008, Movies

10,000 BC

Kemaren, mendadak nongbar (nongtong-bareng) sama anak-anak dari milis kampoeng gadjah. Pertama sebenernya ada yang “pengen” nonton Ayat-ayat Cinta, tapi karena banyak yang protes (lebih ke arah, “Sekali lagi gue nonton AAC, dapet payung cantik deh aw”), akhirnya nontonlah 10,000 BC. Pilihannya antara itu atau Kuntilanak. Atau mungkin Tali BH Pocong atau apa gitu.

Filemnya… lucu. Lumayan bagus untuk ditonton, tapi jangan dianggep serius. Paling nggak menurut aku lucu sih. Tapi menurut temen-temen lainnya, filem itu filem kolosal. Nggak lucu kayak Rrrr!, tapi tetep aja punya kelucuan sendiri, menurutku.

Jadi gini ceritanya…

10,000 BC (Ceban Becek, Noban Go Bayarnya Gesek), disutradarai oleh Roland Emmerich yang juga jadi sutradara pelem The Day After Tomorrow (’Lusa’), Stargate the Movie (’Pintu ke Mana Saja’) dan Independence Day (’Sekali Merdeka, Tetap Merdeka, Itulah Hari Kemerdekaan Kita, Merdeka’). Jadi, dari awal juga udah sadar juga kalau ini bukan filem yang kategori Oscar gitu, mungkin kategori hiburan ringan.

Inti ceritanya, tentang makhluk purba jaman batu (sesuai judul), standar lah: cowok jatuh cinta pada cewek; dusun si cowok diserang dan isinya dirampas/dijarah/dihabisin; si cewek diculik oleh pemimpin geng motor kuda karena si cewek itu cakep dan pemimpin geng doyan; sekampung dibawa ke negeri nun jauh di sana untuk dijadikan budak; budaknya berontak; lalu berakhir dengan hepi end.

Filem dimulai dengan narator menceritakan tentang Suku Yagahl, suku manusia purba yang hidup sepuluh ribu tahun sebelum masehi, yang bisa ngomong bahasa Inggris*), yang tinggal di daerah di atas gunung yang diselimuti salju tebal.

Pada suatu hari, ketika tetua adat merangkap dukun baik hati (dipanggil Ibu Tua oleh anggota sukunya) sedang latihan Dance-Dance Revolution di gubuknya (dan ditonton oleh hampir semua anggota sukunya), datanglah anggota suku yang lain membawa seorang anak perempuan bermata biru, peminta suaka dari negara tetangga yang telah habis dibantai oleh penyamun jahat. Si Ibu Tua ini meramalkan bahwa suatu hari nanti si cewek ini bakal memainkan peranan penting dalam kehidupan suku itu. Dan Ibu Tua pun mengadopsi cewek ini.

Bertahun-tahun setelahnya, si cewek (namanya Evolet) ini sudah besar, jadi cantik sekali deh pokoknya. Di desa itu juga ada sang pemeran utama cowok bernama D’Leh (baca: Delay, alias The Lag). Si cowok ini udah lama banget naksir sama Evolet. Tapi, demi bisa mendapatkan cinta Evolet, cowok ini harus bisa membunuh Manuk (tapi, manuk di sana beda sama manuk di sini. Manuk di sana artinya Gajah Mammoth, yang bertaring dan berbulu tebal itu lho).

Jadi gini, setiap tahunnya, Manuk itu mengadakan kopdar bareng di salah satu dataran di gunung itu. Mungkin mereka merasa bingung, kenapa setiap mereka mengadakan reuni/kopdar, selalu diganggu oleh makhluk-makhluk kecil, hasil kloningan Jason Castro dari American Idol Season 7, yang melambai-lambaikan tusuk gigi dan jarum akupunktur dan berteriak-teriak. Mungkin mereka juga merasa bingung, kenapa setiap tahunnya makhluk kecil ini ingin sekali membunuh mereka.

Tapi bagi makhluk kecil ini, para anggota Suku Yagahl, Manuk itu adalah makanan utama mereka dan juga ajang pembuktian kelelakian.

Singkat kata, dengan cara yang agak “kurang lelaki” (alias untung-untungan), D’Leh berhasil membunuh Manuk dan oleh karenanya berhasil mendapatkan predikat Cowok Paling Keren, dan berhak mendapatkan Cewek Paling Keren (si Evolet).

Tapi, karena sesuatu dan lain hal, dst dst, orang jahat yang dulunya datang ke kampung Evolet, datang juga ke kampung D’Leh. Semua yang gagah dan yang cantik diculik. Hampir semua yang tidak gagah dan tidak cantik dibunuh. Raja Penyamunnya kesengsem sama Evolet dan menculiknya juga.

D’Leh dan pamannya (Tic’Tic, yang mirip banget sama Amitabh Bachan) selamat dari pembantaian itu, dan bertekad untuk menyusul dan menyelamatkan anggota sukunya yang diculik itu. Setelah diludahin oleh Ibu Tua sebagai tanda restu, berangkatlah mereka mengikuti jejak penyamun. Tapi, belum berapa jauh ternyata mereka tidak sendiri. Seorang anak lelaki kampung mereka, Baku, ternyata diam-diam ikut dari jauh. Baku, walau masih kecil, kekeuh pengen membantu.

Sampe di sini, aku ngerasa skrip felem ini diambil dari Super Mario Bros deh: Princess Toadstool diculik oleh King Coopa, dan Mario beserta Luigi pergi untuk menyelamatkan. Di tengah perjalanan, mereka sadar bahwa Dino mengikuti dari jauh. Sama seperti Mario, D’Leh juga harus melewati berbagai jenis “dunia”/stage, sebelum sampai ke Raja Terakhir.

Stage pertama yang harus dilalui adalah Hutan Hujan Tropis, yang dihuni oleh makhluk seperti anak ayam raksasa (seperti Cocobo Pendendam). Di sini, D’Leh sempat ketemu sama Evolet, tapi ternyata terpaksa harus terpisah. Tic’Tic luka parah karena diserang oleh anak ayam raksasa itu, tapi masih bisa bertahan hidup.

Stage kedua adalah padang rumput savannah. Di sini, ceritanya D’Leh nyemplung ke dalam sumur perangkap. Di dalam sumur ini ternyata ada Macan Raksasa Bertaring Raksasa Pula (Sabre-tooth Tiger) yang terperangkap. Entah bodoh, entah terlalu pintar, si D’Leh berkata, “Janji ya, kalau kamu saya bebaskan, kamu tidak akan memangsa saya.” Si Macan ini memandang D’Leh seperti sedang berpikir, “Janji deh, yang penting kamu kasih saya Lasagna”. Akhirnya macan ini bebas, dan D’Leh maju ke level selanjutnya.

Stage ketiga adalah negara semacam Afrika (dengan rumah-rumah berdinding lumpur dan beratap rumbia). Di sini D’Leh bertemu dengan orang-orang suku Afrika yang ternyata bernasib sama dengan dia (jadi korban perampasan). Sempat terjadi pertikaian, dan hampir berperang, tetapi setelah D’Leh berhasil menyelamatkan mereka dari Macan Raksasa yang hendak memangsa mereka, mereka sepakat untuk bergabung dan pergi menyusul rombongan penyamun jahat itu. Sejak saat itu pula Macan Raksasa itu merasa kalau makan Lasagna lebih baik daripada makan manusia.

Stage empat adalah gurun luas yang super panas dan super gersang. Menurut narator, “Mereka mengarungi gurun selama berhari-hari tanpa makan atau istirahat.” YA AMPYUN! Lagian mau makan apa juga di sana? Isinya cuma pasir. Anehnya lagi, D’Leh yang datang dari gunung salju sehat-sehat saja lho nyebrangin gurun itu. Malah orang Afrika yang notabene seumur hidup tinggal di gurun pada pingsan kepanasan. Sebenarnya di sini mereka hampir menangkap penyamun jahat. Tetapi penyamun jahat keburu naik kapal laut dan mengarungi sungai. Sebenarnya D’Leh dkk bisa saja menyusuri sungai untuk mengejar kawanan penyamun, tetapi demi mendapatkan kode kombo untuk Secret Level, dia memilih untuk melewati (dan nyasar) di gurun luas tanpa penunjuk arah.

Stage lima adalah negara seperti Mesir kuno, dengan piramid-piramid. Piramid ini dibuat untuk Raja Terakhir. Ke negara inilah suku-suku terculik itu dibawa. Ternyata mereka dibawa ke sana sebagai buruh kerja paksa. Mereka diculik supaya dapat membangun piramid-piramid. D’Leh bersama teman-teman barunya menyusun rencana untuk membebaskan para tawanan.

Anehnya lagi, walau siang hari sepertinya banyak banget penjaganya, di malam hari penjaganya hampir nggak kelihatan (wong D’Leh bisa keluar masuk kamp penampungan tawanan dengan mudahnya). Malam itu, D’Leh pergi menemui para tawanan untuk memberitahukan rencana jitunya. Dan dengan menggunakan Kombo Atas Bawah Kiri Kanan X X Y Y, dia berhasil untuk kabur dari kejaran para penjaga. Sayangnya, Tic’Tic mati tertusuk tombak. Sayangnya koinnya habis jadi nggak bisa nambah nyawa.

Keesokan paginya, D’Leh memimpin aksi demo buruh paling keren. Sebelum maju “perang”, dia berpidato dulu, tanpa bantuan TOA atau mikropon, suaranya terdengar jelas sampai ke ujung gurun sebelah sana. “Yahala! Yahala!” adalah teriakan perang mereka. Mungkin mirip “Ya’elah” di Indonesia, atau “Spartaaaa!” di 300. Berjuta-juta buruh, dibantu oleh Manuk-Manuk**), berdemo dengan tombak dan palu godam. Mereka demo di depan Istana Raja Terakhir.

Tapi Raja Terakhir ini pandai. Dia tahu kalau provokatornya itu D’Leh. Maka dia mengancam akan membunuh Evolet kalau D’Leh tidak menyerah.

Tapi D’Leh tidak mau menyerah, karena dia adalah atlit Lempar Lembing paling hebat dalam sejarah Olimpiade Kuno. Maka, dengan satu sambitan jitu, dia membunuh si Raja Terakhir. Dan ya udah. Raja Terakhir mati begitu saja. Nggak pake ngomong, nggak pake ceramah, nggak ada “Luke, I am your father.” Gak asik ah.

Akhirnya, hepi end deh walaupun Evolet sempat disconnect sebentar. Tapi D’Leh menghubungi Help Desk (a.k.a: Ibu Tua) melalui telepati dengan perantaraan Manuk, Evolet kembali online seperti sedia kala. D’Leh dan Evolet dan kawan-kawan pulang ke negeri mereka lagi. Tanpa bantuan GPS apa pun mereka berhasil pulang ke gunung salju mereka dan hidup bahagia selamanya. ***)

Sekian.

catatan kaki:
*) Cuma suku Yagahl yang bisa bahasa Inggris. Suku-suku lainnya, ngomong bahasa planet.
**) Jangan tanya kenapa Manuk-Manuk berbulu tebal itu bisa hidup di Mesir, tidak mati kepanasan, atau paling tidak kurus karena keringatan terus-menerus. Mungkin di sana bulu mereka dicukur secara periodik. Mungkin kandang mereka ada ACnya. Mungkin mereka cuma zombie. Entahlah.
***) MANA T-REXnyaaaaaa? Dari awal sampe akhir aku nunggu T-rex, ya nggak kelihatan. Ada gajah, ada anak ayam, ada kucing, ada rusa. Tapi nggak ada T-rex. Penonton kecewa deh.

9 Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by bunjems, March 9, 2008 @ 3:07 am

    lha kok ada cerita demo buruhnya ?

  2. Comment by Trinie, March 9, 2008 @ 8:12 am

    huhuhuhu… kenapa pas aku di Bandung mendadak kopdarnya? :(

  3. Comment by Naif Al'as, March 9, 2008 @ 2:32 pm

    Yahala! Yahala! = Ahlan wa sahlan

    hihihihi *ngasal*

  4. Comment by arjuna, March 10, 2008 @ 1:42 am

    yahala = keheula!

  5. Comment by Imansyahâ„¢, March 10, 2008 @ 2:37 am

    YAHALA!!!

    eh, mana tag sopiler nya?

  6. Comment by Imansyahâ„¢, March 10, 2008 @ 2:50 am

    WAKAKAKA.. :) )
    INI SOPILER, ATO SINOPSIS, ATO PARODI SIH?!

    Wong filmnya keren (YEAH) tapi kog pas hentjeh yang cerita, jadi kaya gini?! *geleng-geleng*

    PS. Iya deh. Iya deh. Aku ngaku kalo tadi sebenernya belom baca. Tapi sekarang udah kog.. :-p

  7. Comment by mobiheker, March 12, 2008 @ 12:23 pm

    jangan lupa, boneka retak

  8. Comment by D, April 14, 2008 @ 1:18 pm

    Eh, nyasar? Ya saya?

    Hen, bikin dinosaurus itu muahal. Beneran deh.
    Tapi ada lagi yang lebih mahal, bikin adegan superman terbang. Itulah kenapa adegan terbang di film layar lebarnya ga banyak.

  9. Comment by dian ina, May 10, 2008 @ 8:38 am

    aku juga nonton film ini, sama adikku, di malang. dan menurutku, film ini juga rada rasis, deh. itu orang afrikanya jauh lebih kuat, lebih banyak, tapi tetep ‘harus’ orang kulit putih yang memimpin mereka mendapatkan kebebasan.
    dan iyah, masa ayamnya ganas gitu t-rexnya nggak ada. eh, tapi, emang jaman t-rex manusia udah ada ya?
    uhm… yang terakhir… daging gajah apa enaknya yah?! apa nggak alot gitu? kebayang nggak goreng belalai kayak fried calamari. ngunyahnya pasti laaammaaaaa

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>