Ah, selamat hari palentin dulu.
Hari ini, di milis kampoeng gadjah, sedang ada bahasan mengenai taksi dan tata krama mbayar (tentu saja termasuk tip di dalamnya). Aku jadi inget pengalaman naik taksi.
Waktu itu, di tahun yang lalu, hari hujan, dan aku diundang untuk dateng Desi ke satu seminar di… lupa… gedung pers kayaknya (yang di kebon sirih itu). Gara-gara kayaknya ujan udah mau deres dan saya males (lebih malesnya daripada ujannya), akhirnya bertekad untuk nyetopin taksi.
Taksi yang akhirnya setop berwarna putih. Masuk ke dalam taksi, minta dianterin ke alamat yang dituju, lalu langsung sms ke Desi kalau saya sudah “otw”. Selesai ber-sms, baru sadar kalau argo taksi itu belum dipasang.
“Pak,” aku bilang, “Kok argonya nggak dipasang sih, Pak?”
“Nggak usah pake argo deh ya, neng?”
“Lha, emangnya Bapak mau berapa?” aku tanya, mungkin dia maunya harga borongan. Yah, asal harga borongannya nggak keterlaluan, ya udah lah ya.
“Terserah si Neng aja mau ngasih berapa.”
“Maksud Bapak? Emangnya Bapak kira-kira maunya berapa?”
“Ya terserah aja. Mau ngasih berapa, terserah Neng pikir saya layak dikasih berapa.”
Waduh, ya bingung juga. Seumur-umur belum pernah naik taksi model begini. Antara bingung dan takut masuk jebakan betmen nih. “Pak, mungkin enaknya sih pake argo aja deh. Saya paling nggak pinter ngitung.”
“Ya udah, terserah si Neng aja.” Dan pada saat dia menyalakan argonya, kami sudah berada di Jalan Medan Merdeka (padahal kan aku naeknya dari Halte Sawah Besar), berarti mungkin aku harusnya udah bayar berapa rupiaaah gitu.
Sepanjang jalan — yang macet karena hujan dan yah biasa deh, nggak ujan aja macet — ia bercerita tentang pengalamannya sebagai ex-pemilik perkebunan yang kena imbas krismon, tentang dia yang lulus sebagai seorang Insinyur Pertanian/Perkebunan (sampai dia ngeluarin ktp yang ada tulisan “Ir.” di depan namanya, dan di permit taksinya juga ada tulisan “Ir.” di depan namanya). Dia juga cerita dulu dia aktif di Walhi, dan kenal dengan beberapa pejabat Walhi yang adalah teman seangkatan/adik kelasnya. Dia juga sempat ngasih wejangan mengenai hidup berorganisasi dan hidup sebagai relawan dan pelayan publik. Pokoknya ngalor ngidul tanjung kimpul kami bercerita. Sementara hujan ya gitu-gitu aja, dan macet ya seperti biasa.
Setibanya di tempat tujuan, argo menunjukkan angka sekitar 13.000an (atau 14rebuan ya? lupa deh) dan mungkin harusnya lebih dari itu ya, karena dia kan nyalain argonya udah telat banget tuh. Dan karena aku cuma punya uang 50ribuan dan yang receh ada 11.000an, aku kasih yang 50ribu.
Sebelum aku sempet bilang apa-apa, dia nyeletuk, “Waduh Neng, saya mah ga punya kembalian buat 50 rebuan. Yang kecilan aja deh.”
Aku langsung ngerogoh saku celana dan mengeluarkan uang yang 11.000 yang udah kelipet-lipet itu. “Waduh, selaen yang 50 rebu ini aku cuma ada 11.000, Pak.” Terus aku berhasil ngeluarin 100 perak lagi dari kantong. “Sebelas ribu seratus doang, Pak. Nggak cukup buat mbayar Bapak.”
Tapi kaget banget, pas dia bilang, “Ya udah, Neng kasih saya yang 11.000 ajah. Yang 50 rebu sama yang 100, Neng simpen lagi.”
“Beneran nih, Pak?”
“Beneer…”
Ya ampyun. Setelah 1 menit debat-debatan lagi sambil diplototin sama satpam gedung (”ni taksi nongkrong ga pergi-pergi,” mungkin gitu pikir si satpam), akhirnya aku pasrah mbayar 11.000 ke si Bapak Taksi ini.