Natal 2007: Cape, Senang, Sedih
Natal tahun ini, kebagian “tugas negara-yang-satu-lagi” seperti Paskah sembilan bulan lalu. Dengan berharap bahwa pengalaman dari Paskah itu bisa menolong meringankan beban saat ini… tapi kok ya ternyata nggak juga. Mungkin karena semua hal itu adalah pengalaman baru yang nggak bisa dibanding-bandingkan, atau kalo kayak orang bule bilang: “terbang hanya dengan pantat celana” ajah. Ya, sebisa-bisanya ajah.
Panik juga sih, dengan 100 lebih kawanan wartawan yang dateng, dan saya yang biasanya cablak dan serampangan ini harus bisa jadi tuan rumah yang baik untuk mereka. Belum lagi waktu terkena isu bom, dan harus kerja ekstra untuk meyakinkan umat bahwa yang namanya hujan, geledek dan mati lampu sebentar itu cuma kebetulan, dan sweeping dari teman-teman di tim gegana dan detasemen itu cuma “rutin” ajah.
Kalo dirangkum menjadi lima perasaan, kira-kira jadinya seperti ini:
Kaget (campur seneng) Ketemu dengan Dodi. Tau sih, Dodi sebenernya pekerjaannya wartawan, tapi tetep aja lagi… kaget lho tiba-tiba lagi berberes meja pers/humas, lalu menengok sebentar ke belakang dan… WAH! DODI! Sayangnya, saya belum sempet ngajak Dodi tur keliling gedung, karena sudah keburu disteril dulu. Tapi lain kali, janji deh, saya ajak keliling sampe ke museum dan ruang lonceng. Hehehe.
Seneng Gimana nggak, dua hari penuh bersama dengan teman di tempat yang begitu ramai. Nggak cuma dengan temen lama aja, tapi ketemu dengan teman-teman baru juga. Usai misa terakhir pada malam natal (tengah malam), semua panitia humas/pers yang berpakaian hitam-hitam dan bertopi santa berkumpul di depan gerbang dan menyanyikan lagu “Selamat Hari Natal” dan mengucapkan selamat natal buat umat yang baru keluar. Seneng banget ngeliat wajah-wajah yang tadinya kecapekan, anak-anak yang tadinya ngantuk, tiba-tiba tersenyum dan menari bersama kami.
Cape Ya ini juga semua juga ngerasain kali ya. Tugas yang dimulai jam 10 pagi di hari Senin sampai jam delapan malam di hari Selasa, dengan jeda 3 jam (jam 2 malam sampai jam 5 subuh). Tapi ya gitu deh, perasaan cape kok ya nggak berasa kalau kita lagi seneng-seneng ya. Cuma, pas pulang aja baru berasa badan pada renteg semua.
Sedih Usai tugas siang, dan ketika sedang menunggu tugas sore, kami diajak oleh seorang humas senior dan wartawan dari SCTV ke Panti Asuhan Vincentius Putra di Kramat Raya. Hal pertama yang dirasakan ketika masuk ke pelataran parkir, dan menembus kantor pengurus adalah: Kok sepi begini? Di gedung tua dan besar itu minim hiasan natal, minim keceriaan natal. Cuma ada dua pohon natal yang berkelip-kelip sedih dan dihiasi dengan cup plastik bekas makanan ringan. Nggak ada bola-bola natal mentereng, nggak ada hiasan natal yang mahal. Nggak ada streamers yang menghiasi dinding atau langit. Semuanya kosong melompong.
Semakin kami berjalan ke dalam, semakin sedih melihatnya. Panti Asuhan yang menampung anak-anak pria mulai usia SD sampai STM itu bener-bener sepi. Para “anak panti” cuma bisa tiduran, selonjoran seperti tidak bernyawa di atas sofa-sofa yang sudah bolong, bangku-bangku batu panjang, atau di atas lantai. Cuma satu radio dengan lagu “dugem natal” yang memecah keheningan.
Nggak ada pesta natal untuk mereka, nggak ada rumah kerabat untuk mereka sambangi, nggak ada pengasuh bahkan. “Yah, cuma untung aja masih ada atap di atas kepala, dan kasur di ruangan tidur,” mereka menghibur diri mereka sendiri.
Ada satu anak, Yanto Hutasoit namanya, yang ingin sekali ketemu dengan orang tuanya. Dia, bersama dengan kembarannya Yanti (yang sekarang ada di Panti Asuhan Vincentius Putri) ditaruh di Pondok Si Boncel, sebelas tahun yang lalu, ketika keduanya masih bayi. Sampai sekarang, dia belum pernah melihat kerabat keluarganya, nggak tau ke mana harus mencari orang tua atau orang yang bisa disebut saudara. Sedih sekali melihat dia bicara ke arah kamera, memohon agar mungkin ada yang masih mencarinya hingga kini.
Bangga Ketika semua pekerjaan sudah selesai, dan ketika sepertinya pekerjaan itu dilihat, dinilai dan diberi ponten, dan dinyatakan “baik”… Ada sedikit perasaan bangga yang menyembul masuk. Tapi emang sih, nggak boleh terlalu terbuai atau terlalu bangga, soalnya… walau banyak ponten bagus (hehehe, jarang-jarang lho dipuji sama ‘Mo Broto, biasanya cuma dipanggil “perusuh” doang), tapi banyak juga hal-hal yang harus dibenahi. Hufffff… Pe eR kok ya nggak habis-habis
Celebrity Watch
Tak lupa juga, laporan celeb watch untuk Natal ini. Setelah Meriam Bellina dan Marcellino waktu paskah, waktu natal ini kami ketemu dengan Ade Juwita, ada Debby Sahertian (atau paling nggak yang mirip banget sama Debby Sahertian), dan ada Femmy Permatasari. Delon nyanyi di Paroki Petrus Paulus, Mangga Besar. Nikita sempet naek sampe ke Museum Katedral dengan rombongan wartawan inpotenmen. Trus… apalagi ya?