Wed 19th Sep, 2007, Daily Rants, Datelines

Selamat Jalan, Kakek

Kemarin saya masih di kantor ketika emak nelepon mengabarkan kalau kakek, sang tetangga rumah, sudah meninggal dunia. Sedih juga, pertama kali mendengar berita itu. Tapi setelahnya ada perasaan lega. Kakek sudah hampir satu bulan tergeletak begitu saja di atas ranjangnya. Tidak makan, tidak minum, tidak mengenal orang, tidak lagi berjalan pagi atau mendengarkan siaran radio di pagi hari. Hanya selang infus dan suntikan dokter yang membuatnya bertahan satu hari lebih lama. Tetapi kini katanya Kakek sudah tidak sakit lagi, sudah tidak merasakan beban dunia lagi, Kakek sudah bisa bertemu dengan Nenek di surga.

Walaupun aku nggak ada hubungan keluarga dengan Kakek, dan dia “cuma” tetangga, tapi Kakek adalah kakek angkatku. Seluruh keluarga tetangga adalah keluarga angkatku. Maklum, pasangan yang tinggal di sebelah rumah itu hanya dikaruniai putra. Ketika aku lahir, mereka langsung senang dan mengangkatku sebagai anak. Tidak secara formal sampai harus ke catatan sipil segala. Tapi aku dibesarkan dalam dua keluarga, keluargaku sendiri dan keluarga angkatku. Bahkan karena letaknya di sebelah rumah, aku lebih sering bermain dengan mereka daripada dengan sepupu-sepupuku sebenarnya.

“Engkong sebelah”, itu panggilan sayang. Untuk membedakan antara kakek-kakekku yang dari ibu dan dari bapak. Anak dan menantunya adalah “Papa Dut” (karena berat), dan “Mama”.

Aku ingat Engkong yang sudah bangun sebelum ayam jago berkokok, dan saya sering terbangun kalau Engkong memutar radionya terlalu keras, maklum pendengarannya semakin lama semakin payah. Ia selalu tersenyum. Senyumnya dan sapaannya mengantarkan aku setiap pagi — ke sekolah, ke tempat kerja, atau ketika aku berangkat bersama dengan teman-teman. Aku juga ingat Engkong yang sabar mendengarkan cerita-ceritaku, atau keluhan-keluhanku. Engkong yang selalu punya banyak cerita.

Aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada Engkong. Ketika aku tiba di rumah dari kantor, ibuku sudah ada di rumah Engkong, membantu Mama dan Papa Dut memandikan Engkong dan mengenakan pakaian pada tubuhnya yang semakin mendingin. Sedih sekali melihat Mama yang mencoba menahan tangis, yang sengaja menyibukkan diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Tapi, katanya Kakek sudah tidak sakit lagi, sudah bertemu dengan Nenek di surga. Lagipula sembilan puluh dua tahun melanglang di atas bumi manusia itu sudah cukup, apalagi sudah berpuluh tahun berpisah dengan Nenek. Katanya, Kakek sudah dipanggil pulang karena rumahnya di surga sudah selesai dibangun, dibangun atas dasar amal ibadahnya, dibangun dengan poin pahala dan poin doa dari anak cucunya. Mungkin doa dari aku nggak terhitung banyak, berhubung aku bukan cucu aslinya. Mungkin sekarang Kakek sudah ngumpul dengan teman-temannya yang sudah pergi lebih dahulu, sudah main gaple cina lagi dengan mereka, atau mendengarkan berita di radio.

Kakek, semoga Kakek bahagia di surga. Titip salam buat Nenek ya. Dan salam juga buat kakek-kakekku yang lain, kalo ketemu.

Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>