BBTB: Bule Belom Tentu Bener
Jadi, ceritanya, kapan hari gitu aku nemenin sang teman ke salah satu mal yang baru buka di Jakarta. Jadi, walaupun toko itu dibuat untuk para bule dan warga negara kelas menengah atas, belum tentu bahasa inggrisnya paten. Ternyata lho. Atau mungkin karena toko itu adalah waralaba dari Jepang, dan masih hendak mempertahankan ke “Engrish“annya, entahlah. Jadilah pengejaan yang agak ajaib tapi yasudahlah seperti “Japanesse”. (Skrinsyut menyusul ya).
Kalau itu tentang impor-mengimpor Engrish (maklum dari Jepang, bukan dari “bule”, kata temenku), beda lagi dengan film “The Brave One”, keluaran Amerika. Pada credit roll di bagian akhir, penjual alat tulis (sebenernya sih dia jual jasa cetak undangan nikah lengkap dengan kertas dllnya) ditulis sebagai “Stationary Saleswoman”. Nggak cuma di filemnya, tapi di imdb.com juga. Kesalahan ini juga ditemukan di Sarinah yang mengajak orang untuk pergi ke toko “tidak bergerak” di lantai 6. Padahal mungkin maksudnya itu toko alat tulis, ya?
Akhirnya sang teman pun jadi nggak tahan untuk “curhat”, bagaiamana kalau masih banyak orang di Indonesia yang meninggikan “native speaker” dan merendahkan kemampuan orang Indonesia, padahal persepsi belum tentu benar. Dia cerita waktu dia lagi ambil cuti antara S1 dan S2, dan dia ngedaftar di sebuah lembaga les-lesan bahasa inggris di Indonesia, dan CVnya ditolak dengan alasan dia bukan “native speaker”, padahal selama di luar negeri dia itu ngajar bahasa inggris ke orang bule (dan katanya bukan orang “bule” hasil transmigrasi/imigran, tapi memang tulen), mulai dari jenjang TK sampai jenjang kuliah (”Academic English” kerennya). Jadilah dia samperin ke lembaga itu dan mendebat. Walau akhirnya dia diterima, tapi dia sudah menaruh sedikit rasa benci pada orientasi perekrut lembaga les-lesan ini yang kekeuh bahwa semua “native” pasti lebih baik daripada orang Indonesia. Padahal kan belum tentu.
Pengalamanku juga begitu. Adikku pernah les di sebuah lembaga les bahasa Inggris, yang gurunya nggak begitu mempedulikan tata bahasa dan kosakata, walaupun penggunaannya salah. Padahal guru itu adalah seorang “native”, yang dibangga-banggakan. Gimana nggak kesel.
Ah, jadi ngalor ngidul.
Err..
Gini nih klo orang pinter curhat..
Bikin keder..
*ngumpet*
Gara2 bule gue jadi nggak tau lagi right from wrong. Language-wise, that is. Go figure…
aku boten ngertos…ach
loh, jadi Hendro itu native speaker yang sedang menyamar ya?