Busway belum oye
Kemarin, banyak topik “curhat” yang mengambang di antara mulut-mulut orang sekantor. Mulai dari tarif tol yang naik, hingga kelangkaan bahan bakar dapur yang membuat acara masak-memasak menjadi kurang oke. Ada satu topik yang datang terlambat.
Pukul sembilan lewat (hampir pukul sepuluh) teman saya tergopoh-gopoh masuk kantor. “GILA!” teriaknya sambil mencari titik terdingin di kantor. “Gila!” katanya lagi.
Usut punya usut, ternyata dia terjebak di lautan manusia yang mengantre hendak naik bis Transjakarta di Terminal Pulogadung. Sebegitu banyaknya manusia, tapi armadanya sangat jauh dari cukup. Ditambah lagi dengan kemacetan di ruas-ruas jalan yang dilewati bis Transjakarta ini, membuat turn over bis tidak secepat yang diharapkan (beda dengan Transjakarta jurusan Kota-Blok M di mana jalanan relatif lengang dan bis bisa melaju bolak balik dengan cepat). Parahnya lagi, menurut temanku, layanan kendaraan umum non-Transjakarta (mulai dari Patas hingga Kopaja) dipangkas habis-habisan (kalo ibarat rambut, udah hampir plontos) — entah itu yang dirute-ulangkan, atau yang dihentikan trayeknya (katanya sih supaya orang-orang lebih mau naik Transjakarta).
“Mereka mengeluhkan kalau jumlah penumpang tidak mencapai target!” seru temanku. “Ya gimana mau mencapai target, kalau calon penumpang sudah ilfil duluan. Sudah malas antre, males dijepit-jepit kayak sarden, dan memilih naik angkutan lain. Naek taksi, naek taksi deh gue! Kalo mau tambah penumpang, harus tambah armada dong!” ujarnya sengit. Ya seperti simalakama ya? Mau tambah armada, harus ada duit dulu. Kalau kurang penumpang, duit juga kurang. Kalau armada nggak nambah, penumpang semakin sedikit.
Pihak pengelola sudah memberi sinyal-sinyal bahwa tarif Transjakarta akan naik. Pihak pengelola sudah banyak mengeluhkan soal “modal yang tidak balik-balik” dan kerugian operasional. Namanya juga layanan umum. Masih muda lagi umurnya. Tentu aja duit nggak bisa balik secepat itu. Sulit juga ya? Yang namanya layanan umum, atau apa saja yang altruis (misalnya berbuat baik tanpa pamrih) itu ya bisa juga disebut “Proyek Thank You” atau “Proyek Rugi”. Kalau bisa untung atau bahkan cuma breakeven lebih cepat, ya itu namanya bonus, kan?
Entahlah. Mungkin “Proyek Rugi” sangat bertentangan dengan asas ekonomi kapitalis. Makanya saya nggak bakat jadi bos nih.
*kembali makan gaji*