Wed 19th Sep, 2007, Daily Rants, Datelines

Selamat Jalan, Kakek

Kemarin saya masih di kantor ketika emak nelepon mengabarkan kalau kakek, sang tetangga rumah, sudah meninggal dunia. Sedih juga, pertama kali mendengar berita itu. Tapi setelahnya ada perasaan lega. Kakek sudah hampir satu bulan tergeletak begitu saja di atas ranjangnya. Tidak makan, tidak minum, tidak mengenal orang, tidak lagi berjalan pagi atau mendengarkan siaran radio di pagi hari. Hanya selang infus dan suntikan dokter yang membuatnya bertahan satu hari lebih lama. Tetapi kini katanya Kakek sudah tidak sakit lagi, sudah tidak merasakan beban dunia lagi, Kakek sudah bisa bertemu dengan Nenek di surga.

more…

Mon 17th Sep, 2007, Daily Rants

BBTB: Bule Belom Tentu Bener

Jadi, ceritanya, kapan hari gitu aku nemenin sang teman ke salah satu mal yang baru buka di Jakarta. Jadi, walaupun toko itu dibuat untuk para bule dan warga negara kelas menengah atas, belum tentu bahasa inggrisnya paten. Ternyata lho. Atau mungkin karena toko itu adalah waralaba dari Jepang, dan masih hendak mempertahankan ke “Engrish“annya, entahlah. Jadilah pengejaan yang agak ajaib tapi yasudahlah seperti “Japanesse”. (Skrinsyut menyusul ya).

Kalau itu tentang impor-mengimpor Engrish (maklum dari Jepang, bukan dari “bule”, kata temenku), beda lagi dengan film “The Brave One”, keluaran Amerika. Pada credit roll di bagian akhir, penjual alat tulis (sebenernya sih dia jual jasa cetak undangan nikah lengkap dengan kertas dllnya) ditulis sebagai “Stationary Saleswoman”. Nggak cuma di filemnya, tapi di imdb.com juga. Kesalahan ini juga ditemukan di Sarinah yang mengajak orang untuk pergi ke toko “tidak bergerak” di lantai 6. Padahal mungkin maksudnya itu toko alat tulis, ya?

Akhirnya sang teman pun jadi nggak tahan untuk “curhat”, bagaiamana kalau masih banyak orang di Indonesia yang meninggikan “native speaker” dan merendahkan kemampuan orang Indonesia, padahal persepsi belum tentu benar. Dia cerita waktu dia lagi ambil cuti antara S1 dan S2, dan dia ngedaftar di sebuah lembaga les-lesan bahasa inggris di Indonesia, dan CVnya ditolak dengan alasan dia bukan “native speaker”, padahal selama di luar negeri dia itu ngajar bahasa inggris ke orang bule (dan katanya bukan orang “bule” hasil transmigrasi/imigran, tapi memang tulen), mulai dari jenjang TK sampai jenjang kuliah (”Academic English” kerennya). Jadilah dia samperin ke lembaga itu dan mendebat. Walau akhirnya dia diterima, tapi dia sudah menaruh sedikit rasa benci pada orientasi perekrut lembaga les-lesan ini yang kekeuh bahwa semua “native” pasti lebih baik daripada orang Indonesia. Padahal kan belum tentu.

Pengalamanku juga begitu. Adikku pernah les di sebuah lembaga les bahasa Inggris, yang gurunya nggak begitu mempedulikan tata bahasa dan kosakata, walaupun penggunaannya salah. Padahal guru itu adalah seorang “native”, yang dibangga-banggakan. Gimana nggak kesel.

Ah, jadi ngalor ngidul.

Tue 4th Sep, 2007, Daily Rants

Busway belum oye

Kemarin, banyak topik “curhat” yang mengambang di antara mulut-mulut orang sekantor. Mulai dari tarif tol yang naik, hingga kelangkaan bahan bakar dapur yang membuat acara masak-memasak menjadi kurang oke. Ada satu topik yang datang terlambat.

Pukul sembilan lewat (hampir pukul sepuluh) teman saya tergopoh-gopoh masuk kantor. “GILA!” teriaknya sambil mencari titik terdingin di kantor. “Gila!” katanya lagi.

Usut punya usut, ternyata dia terjebak di lautan manusia yang mengantre hendak naik bis Transjakarta di Terminal Pulogadung. Sebegitu banyaknya manusia, tapi armadanya sangat jauh dari cukup. Ditambah lagi dengan kemacetan di ruas-ruas jalan yang dilewati bis Transjakarta ini, membuat turn over bis tidak secepat yang diharapkan (beda dengan Transjakarta jurusan Kota-Blok M di mana jalanan relatif lengang dan bis bisa melaju bolak balik dengan cepat). Parahnya lagi, menurut temanku, layanan kendaraan umum non-Transjakarta (mulai dari Patas hingga Kopaja) dipangkas habis-habisan (kalo ibarat rambut, udah hampir plontos) — entah itu yang dirute-ulangkan, atau yang dihentikan trayeknya (katanya sih supaya orang-orang lebih mau naik Transjakarta).

“Mereka mengeluhkan kalau jumlah penumpang tidak mencapai target!” seru temanku. “Ya gimana mau mencapai target, kalau calon penumpang sudah ilfil duluan. Sudah malas antre, males dijepit-jepit kayak sarden, dan memilih naik angkutan lain. Naek taksi, naek taksi deh gue! Kalo mau tambah penumpang, harus tambah armada dong!” ujarnya sengit. Ya seperti simalakama ya? Mau tambah armada, harus ada duit dulu. Kalau kurang penumpang, duit juga kurang. Kalau armada nggak nambah, penumpang semakin sedikit.

Pihak pengelola sudah memberi sinyal-sinyal bahwa tarif Transjakarta akan naik. Pihak pengelola sudah banyak mengeluhkan soal “modal yang tidak balik-balik” dan kerugian operasional. Namanya juga layanan umum. Masih muda lagi umurnya. Tentu aja duit nggak bisa balik secepat itu. Sulit juga ya? Yang namanya layanan umum, atau apa saja yang altruis (misalnya berbuat baik tanpa pamrih) itu ya bisa juga disebut “Proyek Thank You” atau “Proyek Rugi”. Kalau bisa untung atau bahkan cuma breakeven lebih cepat, ya itu namanya bonus, kan?

Entahlah. Mungkin “Proyek Rugi” sangat bertentangan dengan asas ekonomi kapitalis. Makanya saya nggak bakat jadi bos nih.

*kembali makan gaji*