Sat 18th Aug, 2007, Daily Rants, Datelines, Art

Tujuh Belasan dan Festival Seni

Bulan Agustus, bulan peringatan proklamasi kemerdekaan, bulan gerek bendera, bulan pesta rakyat, dan bulan festival seni tradisional… Atau paling tidak, setengah pertama Bulan Agustus. Mulai dari minggu pertama hingga minggu tujuhbelasan (kalo bulan ini berarti hari minggunya mentok di tanggal 19 Agustus). Sejak awal bulan hingga pertengahan bulan banyak festival seni yang dilangsungkan, baik itu di mal, di tingkat propinsi dan kotamadya, atau di Istana Negara.

Aku sendiri beruntung bisa melihat (walau dari jauh banget, dan kadang hanya mendengar) paling tidak dua ‘festival’ seni tradisional yang digelar lumayan heboh dan meriah, walau masih kalah santer suara dan kalah pamor bila dibandingkan dengan dengung festival musik kontemporer, urban, dan indie.

11-12, 18-19 Agustus: Parade Seni Pertunjukan SMA
Acara ini diadakan di dua mal besar di Jakarta dan dikoordinir oleh Forum Apresiasi Seni Pertunjukan pimpinan Ratna Riantiarno. Sebenernya aku tau ada acara ini juga karena secara kebetulan nyambangin salah satu mal itu pas tanggal 11, nganterin tante untuk ketemu dengan kawannya yang kerja di sana. Dari arah lobi sayup-sayup terdengar bunyi tetabuhan. Si tante sih sedang asyik ngobrol bareng temennya, jadilah sayah tinggal sebentar.

Ternyata daerah pintu utama disulap jadi panggung seni, dan pengunjung sudah berjubel menyaksikan pertunjukan yang dipersembahkan oleh anak-anak SLTA (dan guru-gurunya) dari seantero Indonesia. Menurut siaran persnya (dan selebaran yang ternyata sudah habis dibagikan) ada tarian dan musik dari daerah Jawa, Sumatra, Kalimantan, dll. Sayangnya kayaknya aku cuma kebagian ujungnya doang, atau mungkin cuma tengahnya doang, karena waktu nongkrong-nongkrong di sana nggak banyak.

Yang aku tonton itu Tari Saman, atau mungkin tarian yang mirip tari saman, menggunakan benang tebal yang dioper-oper dari satu penari ke penari lain, berputar dan akhirnya terbentuk jala. Lagu dan gerakan yang dinamis itu bikin banyak sekali pengunjung yang berdecak kagum. Ada beberapa wisatawan (dan wisatawati… hehe) yang tak henti-hentinya memotret sambil berulang-ulang kali berkata “wow!” dan “amazing!” Dan ada satu wisatawan yang berceletuk pada kawannya, “We’re lucky…” Siapa menyangka bisa disuguhi pertunjukan seperti ini, karena memang pertunjukan seperti ini jarang ada, ya?

Anak-anak juga kayaknya senang sekali nonton pertunjukannya. Warna-warna kostum yang cerah, wajah-wajah penari yang bersinar-sinar bahagia, kayaknya sih bikin mereka pengen juga ya bisa nari seperti itu. Sampai ada yang berceletuk pada ayahnya dengan bahasa Indo-nglish, “Dad, aku mau belajar menari like that!”

FASP

Dan, siapa bilang seni tradisional ketinggalan zaman? Dari tanya-tanya dengan salah seorang yang turut menari, ternyata walau azas tarian dan musiknya masih setia pada akar, aransemennya bener-bener baru, lebih bernuansa muda dan lebih dinamis. Seperti mendengar tabuh-tabuhan ala Safri Duo tapi lebih tradisional lagi. Gerakan-gerakannya juga dibuat lebih moderen (ada yang lebih atletis, ada juga yang lebih gemulai), tapi semuanya diracik supaya tidak mengubah tradisi terlalu banyak. Katanya, “bumbu secukupnya bisa membuat makanan semakin sedap.”

17 Agustus 2007: Acara Kesenian Perayaan HUT Ke-62 RI
Jalan di mana-mana diblokir, tetapi hingar bingar dari Istana Kepresidenan terdengar sampai ke ujung jalan. Cuma bisa nonton dari jauh sih (tepatnya sih numpang denger luapan suara yang nyasar), tapi kelihatannya seru. Sayang ya, nggak bisa nelusup ngambil foto-foto, padahal pengen. Ah, tapi saya juga nggak pinter motret, jadi ya suds lah ya?

Dari buku acara yang boleh dapet boleh nemu itu, ternyata banyak banget kesenian tradisional yang digelar di Istana sana, dan nama-namanya terasa asing.

Untuk acara di pagi hari, ada musik tradisional dari Batanghari Sembilan (propinsi Sumatera Selatan), musik Saluang Sirompak (kabupaten Limapuluh Kota, propinsi Sumatera Barat), musik dari Kalimantan Tengah, dan musik keroncong (oleh tim dokter kepresidenan). Musik keroncong ini khusus diperdengarkan ketika acara ramah tamah dengan para veteran.

Untuk acara di sore hari — gelar senja gitu ya, kalo nggak salah? — ada musik Suling Bambu dari SD Pulelang (Kabupaten Alor, propinsi NTT), musik kolaborasi anak-anak Papua, Rampak Bedug (provinsi Banten), Tari Jejer Gandrung (Kabupaten Banyuwangi), Rampak Kenthong (Kabupaten Purbalingga), dan medley tiga tarian dari Kalimantan Tengah (Barito, Kapuas, dan Katingan).

Wah! Buat aku ini kesenian yang terdengar asing banget, belum pernah rasanya ngedenger nama-nama itu. Kayaknya beberapa hari ini harus rajin ubek-ubek Um Gugel untuk cari tahu lebih dalam lagi. Dulu kan waktu di SD, cuma disuruh bikin kliping gambar-gambar doang, dan itu juga nggak usah repot karena sudah ada buku seni satu nusantara. Sayangnya buku-buku itu ya gitu, cuma gambar thok. Sayang juga sih, nggak ada penjelasannya. Di Buku Pintar juga kayaknya nggak ada ya?

Lewat dari pertengahan tahun, kegiatan/perhelatan seni besar perlahan-lahan berkurang, hingga akhirnya September menandai waktu untuk menyimpan bendera, menyimpan seni, menyimpan sedikit banyak nasionalisme untuk dikeluarkan lagi tahun depan.

Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>