Mon 20th Aug, 2007, Daily Rants, Non-sequitur

Survey Ha-Pe

*brak!*
wah! kepala benjot. Ditimpuk Hapenya Geg Ina dan Alex. Hihhihi.. Em.. katanya disuruh mengisi survey kepemilikan hengpon, a la sensus kependudukhenponan. Hmm.. mari kita cobak satu-satu.

Menurut serinya, henpon saya namanya Nokia 6233, ini hapeku yang kedua? Eh yang ketiga deh. HP yang pertama saya dapat waktu masih kuliah dulu, dibayar melalui pinjaman dan dilunasi dengan gaji pertama kantor kuliah dan itu sudah kuhibahkan ke sahabat di kantor. HP yang kedua dibeli dengan gaji pertama kantor Jakarta, dan sekarang masih saya pakai sebagai HP cadangan. Tapi HP yang baru ini didapat karena semua sudah mengeluh kalau HP saya yang terdahulu sudah sulit dihubungi. Akhirnya dengan berbelas kasihan, aku dapat juga HP baru.

Menurut aku HP ini bagus, karena bentuknya lucu tapi nggak lucu-lucu amat (agak dewasa tapi tidak tua), dan tombol-tombolnya mudah dipencet, beda dengan HP yang terdahulu (Motorola C200) yang minta ampun kalo mau ngetik sms. Menunya mudah dan fiturnya juga banyak. Bisa gigibiru, bisa inframerah, bisa tiga-ge juga kayaknya, bisa mms juga. Yang pasti, fitur-fitur itu jarang sekali aku gunakan karena aku agak Gagal Teknologi. Suatu hari, kayaknya aku harus ikut kursus penggunaan HP. Tapi, yang pasti, HP ini sangat membantu dalam urusan per-sms-an dengan kemudahan pencetannya.

Fitur yang paling sering digunakan itu: Kalkulator (apalagi kalo belanja bulanan), Notes, dan Music Player kalo sedang bosan. Kebelakangan ini jadi rajin menggunakan fitur tustel kamera, karena sering kelupaan bawa kamera kodak (hoho).

Wallpaper yang ada di HPku tergolong produk iseng. Maksudnya, kadang-kadang nggak tentu arah dan nggak jelas alasan dibalik penggunaan itu. Wallpaper yang sekarang gambarnya langit senja di Senayan, diambil ketika aku sedang menyusuri jalanan Senayan yang penuh sesak untuk pergi kaondangan. Sebelum ini, ada foto Pira, boneka beruang kutubku yang setia. Sebelumnya lagi, kayaknya wallpaper default bawaan Nokia deh (yang gambarnya kelereng-kelereng warna hijau itu).

Mengenai nomor yang digunakan, sebenarnya ini nomor kedua saya, karena nomor pertama itu hangus karena lupa dikasih makan pulsa. Hehe. Pemilihan nomor ini juga sengaja cari yang agak bagus, supaya mudah diingat, berhubung ingatan saya tergolong lamur. Pun sudah punya nomor yang tergolong cantik tidak membantu — seringkali lupa nomor sendiri, dan akhirnya teman-teman dan kenalan pun jadi korban “salah kasih nomer”. Bahkan nTub pernah sayah kasih nomor yang salah, dan nyasar ke HP anggota keluarga yang lain. Huhuhu, maafkan yah!

Selain wallpaper yang diganti, ringtone juga berubah. Untuk telepon masuk deringnya menggunakan lagu U2-Beautiful Day, dan untuk SMS masuk, bunyinya lagu X-Ray Dog - Here Comes the King.

SMS terakhir datang dari Vendor, yang menanyakan apakah pelatihan masih dilakukan sesuai dengan jadwal.

Kalo soal spesifikasi sih, masih standar dan sama dengan yang dikeluarkan oleh pabrikan. Belom dioprek, belom dianeh-anehin, dan bodinya aja masih sesuai dengan yang keluar dari kotaknya. Oh iya, cuma memorinya aja nambah, sakingan dapet hibahan kartu microSD yang satu giga. Itu juga kok lama ya penuhnya. Ternyata satu giga itu banyuaaak!

Disimpan di manakah? HP ini tergolong benda yang kasihan. Letaknya tidak beraturan dan sering menerima miskol dari pemiliknya karena pemiliknya lupa si HP ditaro di mana. Kadang-kadang kalo lagi resik, si HP ditaro di saku HP yang ada di dalam tas (lucu juga kebanyakan tas kantorku ada saku khusus untuk HP). Kalau lagi males bawa tas, masuk di dalam celana, kalau nggak ada saku pada celana, palingan hanya dibawa di dalam tangan (untung gantungan HPku bentuknya seperti cincin, jadi bisa disangkutin di jari). Tapi seringnya mah HPnya nggak tau ada di mana.

HP aku sih diusahain nyala terus, kecuali kalo memang nggak boleh dinyalain, kayak kalo lagi naek pesawat terbang atau sematjamnya. Tapi seringnya sih dinyalain terus. Walaupun begitu, aku paling sering lupa membawa serta HPku (biasanya ditinggal di kamar, terus aku seharian ngendon di rumah tetangga atau di ruang tamu, atau pergi ke mana, tapi HPnya ditinggal), jadi yang namanya miskol biasanya banyak dan SMS kadang-kadang banyak juga. Atau kadang-kadang kalau batrenya sudah habis dan kebetulan aku lagi males, bisa lama banget itu HP didiemin mati. Kayaknya, sayah harus lebih rajin lagi dalam urusan perteleponan ini.

Ngomong-ngomong, batere biasanya habis dua hari sekali. Rekor terlama tidak harus mencoblos batre sejak pencoblosan terakhir adalah satu minggu, dan rekor terpendek adalah 14 jam. Hehehe.. HP yang aneh.

Nah… selesai sudah kayaknya sensus perteleponan. Sekarang, sebagai warga yang baik saya akan menimpuk: Connie, Isyana, Trinie, dan Herry.
*timpuk*

Sun 19th Aug, 2007, Daily Rants, Foodstuff, Datelines

20 jam di Semarang

Terima kasih untuk Didik dan kawan-kawan kampoeng gajah yang sudah banyak membantu saya sehingga bisa tiba dan menikmati Semarang walau hanya sebentar.

Akhirnya aku berangkat sama nyokap ke Semarang, biar nyokap bisa refreshing juga setelah sembuh dari bedrest. Pesawat sempet terdelay karena ganti ban dulu. Huh! Eh ga sempet nanya juga bannya nTubless atau Blubless.

Jam 13.30, tiba di bandara Ahmad Husni eh Ahmad Yani. Langsung telepon mBlub. Sempet pangling, ternyata yang njawab adiknya Blub. Hehehe :”> malu juga. Maapkan saya tublub karena saya tidak bisa datang menghadiri akad nikahnya. Semoga Tublub langgeng dan bahagia selalu sebagai keluarga yah.

Setelah ngantri bagasi dan menunggu giliran numpak taksi, jam 14.00 kami tiba di penginepan, ketemu sama keluarga pengantin pria yang juga nginep di sana (pas waktu itu belon tau kalo itu keluarga penganten pria tapinya).

Ternyata di Semarang panas banget ya! Setelah ngadem setengah jam di ruangan berAC, rame-rame keluar wisata kuliner Jalan Pemuda, sambil survey ntar nikahnya di mana. Ternyata antara penginepan dan tempat nikahan nggak terlalu jauh, cuma 3 perempatan sahajah.

Wisata Makan-makan
Wisata gastronomi berawal di Istana Wedang, Jalan Pemuda nomer 121 sekian. Makanan yang enak sebenernya ya Wedangnya. Walau porsinya kecil. Galantinnya lumayan, Nasi Langginya boljug lah. Wedangnya kurang panas (cuma hanget-hanget gitu tapi nendang jugak). Di sini juga nyobain yang namanya Kerupuk Seafood Bakar. Murah meriah dan enak. Rasanya mengingatkan pada Krupuk Kemplang, tapi Krupuk Bakar ini tidak sekeras Kemplang yang biasanya menantang gigi untuk tidak tanggal.

Dari situ, pengen makan Bakmi Jawa tapi belom buka benar tokonya, jadi jalan dulu ke Sri Ratu Convention Hall yang ternyata terletak di lantai 7 Sri Ratu Dep Store. Walah! Dan ternyata jam nikahan lift tidak berfungsi! Harus naik eskalator! jadilah tamu-tamu dan undangan itu naik eskalator satu per satu numpak eskalator — cantik-cantik, ganteng-ganteng, dan wangi-wangi diliatin semua pengunjung dep store. Tapi itu cerita untuk nanti.

Setelah tiba di Sri Ratu Dep Store kira-kira pukul 16.00, kiter-kiter dari bawah sampai atas sampai bawah lagi akhirnya mandeg di swalayannya. Beli manisan mangga merek Boneka yang enak tapi mahal, beli Telur Asin Bakar Elmata yang ternyata enak juga. Rasanya legit-legit dan tidak terlalu menyengat. Dan diakhiri dengan beli Baskin Robins yang lagi diskon 50%.

Dari sana nyebrang ke Jalan (Gang) Grajen, untuk nyobain Lumpia Mbak Lien yang enak juga ternyata. Gangnya agak sepi (tapi emang hari itu jalanan lagi pada sepi mungkin karena lagi banyak pesta dan lomba rakyat gitu). Enak sih, tapi harganya juga mahal euy. Rp 7000 buat satu lumpia lengkap dengan yang lain-lainnya. Saosnya enak, isinya garing-garing enak. Oh iya, mereka juga terima pesan antar loh!

Dari sana, balik ke arah penginapan mampir dulu di Toko Oen dan Toko Kaning yang spesialis es krim dan cokelat. Tapi di sana hanya melongok-melongok saja tidak makan, tapi berjanji bakal ke sana lagi. Kata Didik, Toko Oen itu masakannya semuanya home made.

Akhirnya malah nyangkut di Bakmi Jawa Condong Raos Pak Doel Noemani yang ada di Jalan Pemuda (deket Depdiknas? kantor apanya gitu). Ternyata di sana enak juga makanannya. Bihun Gorengnya kering (nggak basah dengan minyak goreng, padahal biasanya mi tek-tek gitu minyaknya buju gile buju buneng).

Pagi-paginya minum jamoe di Novotel Jalan Pemuda, dan jamunya enak banget, kental dan rasanya nggak kayak kebanyakan jamu gendong yang di Jakarta. Kayaknya kalo jamu yang di Jakarta rada beda racikannya mungkin. Hihihi.

Kota Lumpia, Stempel, dan Jakarta
Sepanjang Jalan Pemuda banyak pembuat stempel dan plat mobil, mungkin sekitar 100 meter sekali ketemu dengan para pembuat stempel ini. Didik kirim SMS bilang: “Selamat Datang di Kota Lumpia”, ah tapi kalo di Jalan Pemuda kok serasa ada di Kota Stempel ya?

Selama menyusuri jalan itu, sesaat dua saat merasa nostalgia banget. Pikir punya pikir ternyata Jalan Pemuda, Semarang itu mirip banget atmosfirnya dengan Pintu Air-Pasar Baru di Jakarta. Dengan ruko-ruko dan gedung-gedung agak tua yang berbaris di sisi kiri kanan jalan. Hanya saja, kalau di Jakarta yang ngetem dan berlalulalang itu kebanyakan bajay, sedangkan kalo di Semarang yang ngetem dan lewat-lewat itu becak.

Tiba-tiba juga syuuut dua becak dengan muatan lamtoro yang menggunung lewat di depan mata, selap-selip di antara kendaraan bermotor yang lewat. Wah! Sudah lama tidak melihat pemandangan yang seperti itu. Kalo di Jakarta ya sulit, ya?

Nuansa rindu-Jakarta selain Jalan Pemuda dirasa juga di Jalan Mgr Sugiopranoto, Semarang. Dari namanya aja udah mirip, mirip dengan Jalan Sukarjo Wiryopranoto, Sawah Besar, Jakarta. Bengkel demi bengkel berbaris-baris di pinggir jalan, seperti tukang onderdil dan bengkel di Big Rice Field.

Sayang aku cuma bisa meluangkan 20 jam waktu di sana, dan 6 jam di antaranya digunakan untuk molor. Kalau saja punya banyak waktu luang, pingin banget menjelajahi kota stempel… eh kota lumpia ini. Baik itu wisata kuliner maupun mungkin suatu hari nanti bisa ikut napak tilas Jalur Daendels membelah bumi Jawa.

Katanya daerah Kota Tua Semarang itu indah juga.

Sat 18th Aug, 2007, Daily Rants, Datelines, Art

Tujuh Belasan dan Festival Seni

Bulan Agustus, bulan peringatan proklamasi kemerdekaan, bulan gerek bendera, bulan pesta rakyat, dan bulan festival seni tradisional… Atau paling tidak, setengah pertama Bulan Agustus. Mulai dari minggu pertama hingga minggu tujuhbelasan (kalo bulan ini berarti hari minggunya mentok di tanggal 19 Agustus). Sejak awal bulan hingga pertengahan bulan banyak festival seni yang dilangsungkan, baik itu di mal, di tingkat propinsi dan kotamadya, atau di Istana Negara.

Aku sendiri beruntung bisa melihat (walau dari jauh banget, dan kadang hanya mendengar) paling tidak dua ‘festival’ seni tradisional yang digelar lumayan heboh dan meriah, walau masih kalah santer suara dan kalah pamor bila dibandingkan dengan dengung festival musik kontemporer, urban, dan indie.

11-12, 18-19 Agustus: Parade Seni Pertunjukan SMA
Acara ini diadakan di dua mal besar di Jakarta dan dikoordinir oleh Forum Apresiasi Seni Pertunjukan pimpinan Ratna Riantiarno. Sebenernya aku tau ada acara ini juga karena secara kebetulan nyambangin salah satu mal itu pas tanggal 11, nganterin tante untuk ketemu dengan kawannya yang kerja di sana. Dari arah lobi sayup-sayup terdengar bunyi tetabuhan. Si tante sih sedang asyik ngobrol bareng temennya, jadilah sayah tinggal sebentar.

Ternyata daerah pintu utama disulap jadi panggung seni, dan pengunjung sudah berjubel menyaksikan pertunjukan yang dipersembahkan oleh anak-anak SLTA (dan guru-gurunya) dari seantero Indonesia. Menurut siaran persnya (dan selebaran yang ternyata sudah habis dibagikan) ada tarian dan musik dari daerah Jawa, Sumatra, Kalimantan, dll. Sayangnya kayaknya aku cuma kebagian ujungnya doang, atau mungkin cuma tengahnya doang, karena waktu nongkrong-nongkrong di sana nggak banyak.

Yang aku tonton itu Tari Saman, atau mungkin tarian yang mirip tari saman, menggunakan benang tebal yang dioper-oper dari satu penari ke penari lain, berputar dan akhirnya terbentuk jala. Lagu dan gerakan yang dinamis itu bikin banyak sekali pengunjung yang berdecak kagum. Ada beberapa wisatawan (dan wisatawati… hehe) yang tak henti-hentinya memotret sambil berulang-ulang kali berkata “wow!” dan “amazing!” Dan ada satu wisatawan yang berceletuk pada kawannya, “We’re lucky…” Siapa menyangka bisa disuguhi pertunjukan seperti ini, karena memang pertunjukan seperti ini jarang ada, ya?

Anak-anak juga kayaknya senang sekali nonton pertunjukannya. Warna-warna kostum yang cerah, wajah-wajah penari yang bersinar-sinar bahagia, kayaknya sih bikin mereka pengen juga ya bisa nari seperti itu. Sampai ada yang berceletuk pada ayahnya dengan bahasa Indo-nglish, “Dad, aku mau belajar menari like that!”

FASP

Dan, siapa bilang seni tradisional ketinggalan zaman? Dari tanya-tanya dengan salah seorang yang turut menari, ternyata walau azas tarian dan musiknya masih setia pada akar, aransemennya bener-bener baru, lebih bernuansa muda dan lebih dinamis. Seperti mendengar tabuh-tabuhan ala Safri Duo tapi lebih tradisional lagi. Gerakan-gerakannya juga dibuat lebih moderen (ada yang lebih atletis, ada juga yang lebih gemulai), tapi semuanya diracik supaya tidak mengubah tradisi terlalu banyak. Katanya, “bumbu secukupnya bisa membuat makanan semakin sedap.”

17 Agustus 2007: Acara Kesenian Perayaan HUT Ke-62 RI
Jalan di mana-mana diblokir, tetapi hingar bingar dari Istana Kepresidenan terdengar sampai ke ujung jalan. Cuma bisa nonton dari jauh sih (tepatnya sih numpang denger luapan suara yang nyasar), tapi kelihatannya seru. Sayang ya, nggak bisa nelusup ngambil foto-foto, padahal pengen. Ah, tapi saya juga nggak pinter motret, jadi ya suds lah ya?

Dari buku acara yang boleh dapet boleh nemu itu, ternyata banyak banget kesenian tradisional yang digelar di Istana sana, dan nama-namanya terasa asing.

Untuk acara di pagi hari, ada musik tradisional dari Batanghari Sembilan (propinsi Sumatera Selatan), musik Saluang Sirompak (kabupaten Limapuluh Kota, propinsi Sumatera Barat), musik dari Kalimantan Tengah, dan musik keroncong (oleh tim dokter kepresidenan). Musik keroncong ini khusus diperdengarkan ketika acara ramah tamah dengan para veteran.

Untuk acara di sore hari — gelar senja gitu ya, kalo nggak salah? — ada musik Suling Bambu dari SD Pulelang (Kabupaten Alor, propinsi NTT), musik kolaborasi anak-anak Papua, Rampak Bedug (provinsi Banten), Tari Jejer Gandrung (Kabupaten Banyuwangi), Rampak Kenthong (Kabupaten Purbalingga), dan medley tiga tarian dari Kalimantan Tengah (Barito, Kapuas, dan Katingan).

Wah! Buat aku ini kesenian yang terdengar asing banget, belum pernah rasanya ngedenger nama-nama itu. Kayaknya beberapa hari ini harus rajin ubek-ubek Um Gugel untuk cari tahu lebih dalam lagi. Dulu kan waktu di SD, cuma disuruh bikin kliping gambar-gambar doang, dan itu juga nggak usah repot karena sudah ada buku seni satu nusantara. Sayangnya buku-buku itu ya gitu, cuma gambar thok. Sayang juga sih, nggak ada penjelasannya. Di Buku Pintar juga kayaknya nggak ada ya?

Lewat dari pertengahan tahun, kegiatan/perhelatan seni besar perlahan-lahan berkurang, hingga akhirnya September menandai waktu untuk menyimpan bendera, menyimpan seni, menyimpan sedikit banyak nasionalisme untuk dikeluarkan lagi tahun depan.

Mon 6th Aug, 2007, Non-sequitur

Pertanyaan IPA

Teman saya punya anak lucu sekali, dan saya senang sekali ibunya tipe ibu yang senang berbagi cerita tentang kejahilan anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Kapan hari dia menceritakan kembali apa yang diceritakan oleh wali kelas anaknya tentang anaknya dan pelajaran ilmu pengetahuan alam.

Alkisah (ciyeh, kayak lagi ndongeng), ibu guru sedang membahas bagaimana para ilmuwan di jaman jadoel doeloe bisa mengambil kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bukannya datar dan ditopang oleh kura-kura besar. Dan karena bumi bulat, tentu saja tidak ada “ujung dunia” seperti yang ditonton oleh anak-anak di filem Bajak Samudra Laut Karibia (wah gaul juga gurunya).

Tapi tentu saja di kelas harus selalu ada anak yang bertanya di luar kemampuan ilmu pengetahuan pada umumnya, “Bu guru! Kenapa bumi itu bulat?”

Sebelum bu guru menjawab, anak temanku nyeletuk duluan, “Kalau tidak bulat, bukan bumi saya!”

Wed 1st Aug, 2007, Daily Rants, Earth

Madesu Takakura-chan

Saya sekarang punya ‘anak angkat’, namanya Madesu Takakura-chan, atau Tacchan (sebenernya sih Macchan ya? hihihi tapi nggak cocok ah).

Dia adalah sebuah kotak aqua yang berisi sampah dapur dan starter untuk pupuk. Suatu hari nanti dia akan menjadi pupuk kompos yang berguna. Tetapi dia sekarang masih berupa sampah dapur dan sampah halaman rumah.

Ternyata mengurus Tacchan itu susah. Seperti mengurus bayi. Salah sedikit bisa fatal.

Tacchan cepat besar ya.