Belajar Menjadi Pemulung
Dengkul pegot, celana sobek, kepala benjot… padahal baru lima menit tiba di Gunung Geulis, lokasi berkumpul anak-anak muda yang aneh-aneh dan lucu-lucu.
Akhir pekan kemarin mungkin adalah salah satu akhir pekan terseru dalam beberapa bulan terakhir. Banyak yang dikerjakan, banyak yang dipelajari, dan banyak teman yang diperoleh. Bilangnya sih raker, tapi kok nggak kayak raker ya… lebih sering ketawanya, lebih sering santainya, dan lebih banyak belajarnya (baik dari sesi maupun di ruang tamu sambil ngobrol-ngobrol nyeruput kopi hitam pekat dan makan ubi goreng). Belajar tentang apa ya? Ada tentang daur ulang kreatif, tentang pemilahan sampah, dan tentang kompos. Hehehe, aku sendiri ikut, sebenarnya bukan karena felem The Inconvenient Truth (yang baru aja dipresentasiin oleh Bapak Emerald Starr di Pusat Perfileman Usmar Ismail), tapi lebih karena… em… pengen bisa bikin pernik-pernik keren dari sampah dan juga karena pak tukang sampah yang sering keliling rumah sekarang sudah semakin tua dan kita semakin bingung kalau sampah udah numpuk dan nggak ada yang jemput.
Belajar Daur Ulang
Pulang dari sana, masing-masing dari 40 orang yang ikut raker itu dapet tugas yang ya, relatif sama susahnya. Tugasnya nggak jauh-jauh dari sampah (berhubung ini rakernya “anak-anak sampah”, alias anak-anak dari GroPeSH): ngumpulin sampah-sampah yang bisa didaur ulang. Sampah plastik (seperti bekas bungkus permen atau kopimiks), bungkus refil deterjen atau minyak, dll. Dikumpulin buat apa? Diloakin? Itu juga sih, karena semuanya bisa mendatangkan rejeki yang cukup lumayan (apalagi kalau bersih dan belum tercampur dengan sampah basah atau bahkan sampah busuk). Tapi, kita bisa selangkah lebih daripada cuma menjualnya mentah-mentah. Bungkus-bungkus itu bisa dikaryakan menjadi asesoris, tas, map, bahkan tong sampah yang bentuknya nggak ndeso. Keren kan? Aku dan beberapa teman pengen banget bisa bikin ginian, karena selain hasilnya bagus, asik juga mengurangi sampah yang dianter ke Bantar Gebang kan?
Belajar Memilah Sampah
Om Brother Dieng (ciyeh) ngingetin kita, walaupun kita nggak bisa mengkaryakan supaya jadi hiasan, kita tetep bisa nolong para pemulung dan para pengais rejeki dengan memilah sampah. Yang plastik-plastik dipisahin dan dimasukkan ke dalam tempat yang lebih bersih. Dengan begini, para pemulung nggak usah ngobrak-ngabrik sampah kita, dan mereka jadi punya lebih banyak waktu untuk keliling. Jadi sama-sama senang juga sih sebenernya. Supaya lebih afdol, kegiatan memilah dan mengumpulkan ini bisa juga diomongin se-RT atau bahkan sekelurahan.
Selain memilah plastik dan non-plastik, memilah organik dan non-organik juga penting dan mungkin berguna. Apalagi kalo sampah organik bisa diberdayakan jadi kompos…
Mengolah Sampah Organik
Nah mengolah sampah jenis organik (bisa busuk) ini yang dijadiin pe-er anak-anak yang di’usir’ pulang dari raker sehari semalam itu. Ada yang disuruh mengurusi bibit dengan media daur ulang, ada yang disuruh belajar bikin kompos, ada yang disuruh jadi penyuluh lapangan. Sebenernya aku pengen juga sih ngurusin bibit, apalagi yang ditawarkan kayaknya seru-seru banget: ada bibit cabe gompyok, bibit bayem tailan, bibit apa lagi ya (semacem bumbu dapur gitu deh…). Tapi udah keburu disikat sama temen yang lain.
Aku kebagian belajar bikin kompos sambil nulis catatan harian. Kata Ibu Endang –sang pembimbing– untuk pemula yang limbah dapurnya sedikit (kan di rumahku masaknya cuma sekali doang di pagi hari) dan pohonnya udah botak (pohon belimbing di rumahku dulunya memang lebat banget, tapi beberapa bulan yang lalu dibotakin masal oleh ibuku), mungkin cocok dengan yang namanya Metoda Pengomposan Pak Takakura. Metode ini dipatenkan oleh Pusdakota Surabaya, dan merupakan hasil dari kerjasama antara pemkot Surabaya, pemkot Kitakyushu dan perusahaan JPec dari Jepang sana. Asiknya, kalo dikerjain dengan bener, proses pembuatan kompos ini relatif tidak beresiko besar dan nggak ada dampak negatif — nggak berbau, nggak belatungan, nggak berlendir atau ngeluarin cairan Lindi (yang agak lebih repot ngurusnya, tapi sangat berguna banget). Bahkan, katanya Ibu Endang, kotak pembuatan komposnya itu ditaruhnya di ruang makan! (Saking nggak berbau dan nggak joroknya).
Kata Ibu Endang, nanti kalau sudah beberapa kali berhasil pakai Keranjang Pak Takakura ini, boleh naik pangkat pakai MiniComposter Pepulih. Kalau misalnya pake metode Pak Takakura itu butuh kira-kira sebulan sampai dua bulan untuk bener-bener jadi kompos, pake MiniComposternya Pepulih ini cuma butuh lima sampai tujuh hari. Bedanya ya, karena MiniComposter itu pake bahan tambahan (aktivator, biasanya berupa mikroba laktobasilus aktif) yang bikin proses fermentasi jadi lebih cepat. Tapi ya itu, karena cepat banget, marjin untuk kesalahan juga lebih besar.
Jadi ya gitu deh. Rencananya aku mulai Sabtu ini, dengan sampah dari dapur aku dan dari dapur tetangga aku, juga sampah kebun dari rumah temanku. Semoga berhasil yaaaa… *serem juga ntar kalo nggak berhasil bentuknya jadi kayak gimana ya?*
Dan buat temen-temen yang punya sampah plastik (apalagi hayo para kalong yang rajin bikin kopimiks), jangan dibuang yaaa.. Tapi dikasihin ke aku aja… *pemulung mode, on*
jadi henz, kapan ‘bahan-daur-ulang’ ini mo dikasihin ke kamu?
*lirik tumpukan plastik*
hueheuheue… asli, ndak bisa bayangin henz yang kacamataan jadi pemulung…
kebayangnya sinetron2 penuh penderitaan itu =))