Thu 26th Jul, 2007, Daily Rants, Non-sequitur

Patung-Patung Jakarta

Ada berapa patung di Jakarta? Dan apa saja namanya? Terus terang, aku juga nggak gitu bisa apal nama-nama patung (maupun orang, maupun nama jalan, maupun apa saja). Tapi kira-kira tau sih ada patung apa di mana.

Beberapa waktu lalu temenku datang dari Surabaya dan kami janjian mau ketemuan di sekitar Senen selepas jam kantor. “Eh, aku nunggu di depan patung ya?” katanya yang sudah dari pagi ngiter-ngiter di daerah sana.

“Depan patung yang mana, jeng?” aku tanya.

“Yang di depan sini lah.. Aduhh.. nama patungnya apa ya? Yang rame-rame itu lah.”

“Patung yang mana?” aku masih nggak jelas tapi kayaknya udah agak kebayang.

“Patung yang kayak orang demo kerusuhan itu.”

Sampe hari ini aku masih belom tau itu patung namanya apa. Tapi kalo menurut ini sih namanya Monumen Perjuangan.

Keesokannya, kami berjanji untuk ketemuan lagi setelah jam kantor. Jadilah hari itu dia menjelajahi ibu kota berbaswei berbekal peta rute transjakarta. Lumayan juga kan, katanya, asal jeli untuk tidak turun di terminal terakhir… bayar tiga rebu lima ratus rupiah bisa keliling kota.

Sepulang kantor, saya dan kawan yang lain meneleponnya, “Ada di mana kamu? Biar kita bisa nyusul ke sana.”

“Nggak tau nih. Baru aja turun ke halte.”

“Nama haltenya apa?” tanyaku.

“Ga jelas juga. Ketutupan nih. Tapi yang pasti di depan aku ada bunderan terus ada patung suami istri.”

Pokoknya selama di Jakarta, dia dengan bersenang hati mengubah semua nama patung yang dia lihat, sesuai dengan “kepercayaan masing-masing,” katanya. Patung Pemuda Senayan (atau Patung Pemuda Membangun, yang ada di Bundaran Senayan) jadi Patung Orang Ngangkat Wajan (atau Patung Master Chef, kalo bahasa londonya). Patung Pahlawan (yang sering disalahartikan sebagai Patung Tani oleh banyak orang) jadi Patung Pak Tani dan Keluarga. Patung Pembebasan Irian Barat yang di Lapangan Banteng jadi Patung Bangun Tidur. Patung Dirgantara yang di Pancoran, Jakarta Selatan (si 7-up atau si “itu rumah saya”) jadi Patung Superman Indonesia. Patung Arjuna Wijaya di Jalan Medan Merdeka Barat disebutnya sebagai Patung Kuda Setan.

Tapi, ternyata nggak cuma temanku saja yang ‘asal’ ngasih nama. Sore itu, ketika kami bertiga akhirnya bertualang naik bis transjakarta di sore hari, seorang anak berkata pada ibunya sambil mengacungkan jarinya pada Patung Sudirman. “Ma, om-nya kenapa? Lagi dihukum ya?”

Sedangkan ibunya cuma berkata, “Iya. Makanya kalo kamu nakal kamu akan dihukum seperti itu juga. Nanti disuruh hormat yang lama, sampe kamu jadi batu.” Anak itu, yang tadinya terus menerus mengeliat-geliat di bangkunya, yang tidak bisa diam, langsung tertegun dan ‘duduk manis’.

Entah baik atau tidak si Ibu tidak menjelaskan siapa Jendral Sudirman itu (yang tentu saja bukan anak nakal). Tapi itu adalah pembahasan untuk kali lain, mungkin.

Duh jadi ingat dulu kalau bercanda dalam barisan ketika upacara hari senin hukumannya pasti hormat bendera selama… ya sesuka gurunya.

Catatan: untuk daftar beberapa patung yang ada di Jakarta, klik di sini.

Tue 24th Jul, 2007, Daily Rants, Earth, Case, Health

Belajar Menjadi Pemulung

Dengkul pegot, celana sobek, kepala benjot… padahal baru lima menit tiba di Gunung Geulis, lokasi berkumpul anak-anak muda yang aneh-aneh dan lucu-lucu.

Akhir pekan kemarin mungkin adalah salah satu akhir pekan terseru dalam beberapa bulan terakhir. Banyak yang dikerjakan, banyak yang dipelajari, dan banyak teman yang diperoleh. Bilangnya sih raker, tapi kok nggak kayak raker ya… lebih sering ketawanya, lebih sering santainya, dan lebih banyak belajarnya (baik dari sesi maupun di ruang tamu sambil ngobrol-ngobrol nyeruput kopi hitam pekat dan makan ubi goreng). Belajar tentang apa ya? Ada tentang daur ulang kreatif, tentang pemilahan sampah, dan tentang kompos. Hehehe, aku sendiri ikut, sebenarnya bukan karena felem The Inconvenient Truth (yang baru aja dipresentasiin oleh Bapak Emerald Starr di Pusat Perfileman Usmar Ismail), tapi lebih karena… em… pengen bisa bikin pernik-pernik keren dari sampah dan juga karena pak tukang sampah yang sering keliling rumah sekarang sudah semakin tua dan kita semakin bingung kalau sampah udah numpuk dan nggak ada yang jemput.

more…