Menghibur Diri di Hari Minggu
Setelah berlembur-lembur ria pada hari Sabtu dan berlembur-lembur ria pada hari Minggu (untuk dua pekerjaan yang berbeda), saya secara tidak sengaja menemukan cara menghibur diri di hari Minggu.
Sebenarnya, saya itu sudah merasa enggan ketika tante mengajak saya dan emak untuk menemaninya ke pernikahan temannya, tapi akhirnya saya ikut juga. Melanglang buana (dari rumah saya di Kota, sampai ke Sumur Batu itu sudah termasuk melanglang buana, mengarungi jagat, menyebrangi sabuk asteroida Senen) hingga akhirnya nyasar (hobi baru), hingga akhirnya takut sudah tidak sempat lagi… ternyata pemberkatan pernikahan yang diadakan di salah satu gereja di Cempaka Putih itu molor sejam. Adalah akhirnya saya, emak, dan tante ngegosip di “rumah Tuhan”. Padahal kan nggak boleh ya?
Sepulangnya dari sana, kami ke salah satu mal di Jakarta untuk “menghibur diri a la orang gedongan.” Maklum, dandanan pesta masih dipakai dan rasanya cocok juga untuk masuk ke butik-butik mahal itu. Mungkin ini adalah hiburan yang ndeso banget, tapi bagi saya, ini lucu sekali juga. Kami keluar masuk butik, mencoba berbagai pakaian, sepatu, dan asesoris yang tak terbeli walau sudah menjual delapan dari sembila nyawa kucing angora. Serasa menjadi ratu, walaupun barangnya pinjaman semua. Mulai dari gaun malam yang terbuat dari crushed silk, hingga jaket terbuat dari kulit yang halusnya seperti mentega (dicolek rusak kayaknya), baju pesta yang berpayet mewah (mencontek modelnya untuk dibawa ke modiste langganan), sepatu kitten heels yang dipakai artis-artis Holiwut dan Boliwut (mengingat bentuknya untuk nanti dicari yang mirip (bukan palsunya loh ya, tapi yang mirip) di Mangga Dua), mengitari supermarket melihat produk-produk dan bungkusan-bungkusan mereka yang warna-warni menarik dan melirik menu makanan yang menggugah selera (”Emak, bikin makanan yang mirip itu dong…”)
Di bawah pancaran lampu neon, dikelilingi gemerlap benda-benda itu yang melongok dari dalam toko, benar-benar merasa seperti Holly Golightly, ya?
Akhirnya, kami duduk di luar dan makan nasi rendang yang kami dapat dari panitia pernikahan teman tanteku tadi.
Hiburan yang aneh, norak, murah-meriah.
Oh iya, aku sempat juga beli buku tentang Art Nouveau, yang ditulis oleh Alastair Duncan dari aksara, yang didiskon 50% eh… atau 70% ya? *sayang strook sudah dibuang*
Aku suka banget sama yang namanya Art Noueveau. Entah ya, dari garis-garis tegas Renie Mackintosh, hingga keanggunan Lalique dan Tiffany. Keren banget rasanya, mulai dari komposisi geraknya, hingga pemilihan warna-warna yang seperti mimpi itu. Seperti masuk ke dunia fantasi ya?