Budaya Antri dan Kucing
Kemarin di Metro TV World News, ada berita tentang usaha warga Beijing (dan warga Cina bagian lainnya?) untuk mensukseskan Olimpiade 2008. Membangun, menyediakan, memperbaiki, memperindah sarana dan prasarana memang penting, tapi yang tak kalah pentingnya adalah memperbaiki “budaya” atau “kebiasaan” yang dianggap jelek, supaya nantinya nggak malu-maluin sebagai tuan rumah. Salah satunya adalah latihan antri.
Pada tanggal 11 setiap bulannya, pemerintah Cina mencanangkan “Hari Mengantri dengan Sopan” di mana ada banyak petugas keamanan dan petugas “pengatur kesopanan” yang nongkrong di tempat-tempat yang biasa dijadikan tempat ngantri (misalnya: setopan bis, antri di ATM, di peron, dll) untuk memastikan bahwa semua warga mengantri dengan tertib dan sopan.
Harapannya sih, nggak cuma berhenti sampai di tahun 2008 saja, tapi seterusnya, walaupun olimpiade sudah berakhir dan pindah ke London.

Omong-omong soal antri, pas hari Sabtu kemarin (tanggal 9 Juni), aku jalan-jalan naik Bis Transjakarta dari Harmoni ke Kramat Sentiong. Karena perginya pagi-pagi sekali (eh, nggak amat sangat pagi sih, tapi jam 7 di hari Sabtu bagiku sudah cukup pagi, lho) jadi bis-bis itu belum penuh sesak. Dari Harmoni Central Busway, berangkat ke arah Halte Senen, lalu menyebrangi jembatan penyebrangan yang agak sempit ke Koridor sebelah (Halte Senen Sentral), lalu melanjutkan perjalanan ke Kramat Sentiong. Setiba di sana, aku duduk manis menunggu temanku yang masih on de wei di bangku panjang, memunggungi sinar matahari yang perlahan-lahan membikin gosong punggung.
Ternyata di Halte sana ada “Kucing Baswei”, kucing yang kadang atau sering mangkal di sana. Kerjanya berlari (atau tepatnya, melenggang) dari satu satu pintu ke pintu lain, kalo ada bis yang datang.
Bis yang jurusan Kramat Sentiong ternyata keren juga. Ada 2 pintu (satu yang di tengah dan satu yang di bagian belakang bis), jadi pembagian penumpang nggak selamanya numpuk di tengah aja. Tapi di haltenya, dua pintu itu dipakai untuk dua tujuan berbeda. yang satu untuk masuk dan yang satu untuk keluar. arahnya digambar di lantai halte.
Entah kebetulan atau tidak, si kucing selalu berdiri di pintu yang “benar”, yaitu yang panahnya menunjukkan arah “masuk”. Ternyata, walau kucing dia tetap mengerti aturan mengantri, ya?
Kadang-kadang dia ikut masuk ke dalam bis (apalagi kalau bisnya kosong), tapi langsung dirauk oleh Bapak (atau Ibu) Kenek dan diletakkan lagi di dalam halte. Kadang-kadang dia cuma menunggu di pinggir pintu sambil melihat penumpang keluar dan masuk dari bis. Dan tak pernah sekali pun dia menghalangi atau menyusahkan orang yang keluar masuk bis.
Kucing yang aneh. Sayang kemarin pas mau difoto close up dia malah kabur.
Setengah jam berlalu, bis-bis itu pun sudah mulai penuh sesak dengan penumpang. Halte juga sudah mulai penuh dengan “calon penumpang”. Kucing itu menengok ke kiri dan ke kanan, lalu diam sebentar. Tak lama kemudian, ia berlari ke arah jembatan dan menghilang di tengah keramaian.