Tue 19th Jun, 2007, Daily Rants, Words

Jalan Bebas Menghambat

“Sial ini jalan tol, macetnya nggak tanggung-tanggung.”

Begitulah cara temanku menggerutu sepanjang jalan tol dari tempat A (ada deh) ke tempat B (ya situ lah). “Katanya jalan tol itu jalan bebas hambatan, tapi udah mahal-mahal bayar kok ya mampet begini.”

Mungkin ini ada kesalahan persepsi, ada kesalahan penerjemahan atau kesalahan pengertian. Mungkin kalau jalan tol bisa ngomong, dia akan membela diri dengan menyatakan bahwa tol itu tidak sama dengan bebas hambatan. Entah ini kesalahan siapa yang memadankan bahasa londo “Toll Road” dengan “Jalan Bebas Hambatan” dalam bahasa Indonesia.

Padahal “Toll Road” itu lebih bagus diterjemahkan menjadi “Jalan Berbayar”, karena memang seperti itu adanya.

“Toll”, dalam bahasa Inggris artinya:

  1. Biaya yang dikenakan (atau dibayarkan kepada) pemerintah atau negara, sebagai ganti hak atau keistimewaan, misalnya hak untuk menggunakan seruas jalan atau jembatan.
  2. Jumlah kerusakan, kerugian, atau kesusahan (penderitaan) akibat suatu bencana.
  3. Pajak, bea, atau biaya yang dikenakan atas suatu jasa atau penggunaan fasilitas.
  4. Biaya yang dikenakan untuk melakukan panggilan (telepon) jarak jauh.

Dan masih banyak lagi.

Jadi, pernyataan di bawah ini sebenarnya menyesatkan, bila tidak sepenuhnya salah:

…pemerintah agar mengizinkan penggunaan jalur bebas hambatan (tol) bagi pengendara… (dari sini)

Mon 18th Jun, 2007, Daily Rants

Menghibur Diri di Hari Minggu

Setelah berlembur-lembur ria pada hari Sabtu dan berlembur-lembur ria pada hari Minggu (untuk dua pekerjaan yang berbeda), saya secara tidak sengaja menemukan cara menghibur diri di hari Minggu.

Sebenarnya, saya itu sudah merasa enggan ketika tante mengajak saya dan emak untuk menemaninya ke pernikahan temannya, tapi akhirnya saya ikut juga. Melanglang buana (dari rumah saya di Kota, sampai ke Sumur Batu itu sudah termasuk melanglang buana, mengarungi jagat, menyebrangi sabuk asteroida Senen) hingga akhirnya nyasar (hobi baru), hingga akhirnya takut sudah tidak sempat lagi… ternyata pemberkatan pernikahan yang diadakan di salah satu gereja di Cempaka Putih itu molor sejam. Adalah akhirnya saya, emak, dan tante ngegosip di “rumah Tuhan”. Padahal kan nggak boleh ya?

Sepulangnya dari sana, kami ke salah satu mal di Jakarta untuk “menghibur diri a la orang gedongan.” Maklum, dandanan pesta masih dipakai dan rasanya cocok juga untuk masuk ke butik-butik mahal itu. Mungkin ini adalah hiburan yang ndeso banget, tapi bagi saya, ini lucu sekali juga. Kami keluar masuk butik, mencoba berbagai pakaian, sepatu, dan asesoris yang tak terbeli walau sudah menjual delapan dari sembila nyawa kucing angora. Serasa menjadi ratu, walaupun barangnya pinjaman semua. Mulai dari gaun malam yang terbuat dari crushed silk, hingga jaket terbuat dari kulit yang halusnya seperti mentega (dicolek rusak kayaknya), baju pesta yang berpayet mewah (mencontek modelnya untuk dibawa ke modiste langganan), sepatu kitten heels yang dipakai artis-artis Holiwut dan Boliwut (mengingat bentuknya untuk nanti dicari yang mirip (bukan palsunya loh ya, tapi yang mirip) di Mangga Dua), mengitari supermarket melihat produk-produk dan bungkusan-bungkusan mereka yang warna-warni menarik dan melirik menu makanan yang menggugah selera (”Emak, bikin makanan yang mirip itu dong…”)

Di bawah pancaran lampu neon, dikelilingi gemerlap benda-benda itu yang melongok dari dalam toko, benar-benar merasa seperti Holly Golightly, ya?

Akhirnya, kami duduk di luar dan makan nasi rendang yang kami dapat dari panitia pernikahan teman tanteku tadi.

Hiburan yang aneh, norak, murah-meriah.

Oh iya, aku sempat juga beli buku tentang Art Nouveau, yang ditulis oleh Alastair Duncan dari aksara, yang didiskon 50% eh… atau 70% ya? *sayang strook sudah dibuang*

Aku suka banget sama yang namanya Art Noueveau. Entah ya, dari garis-garis tegas Renie Mackintosh, hingga keanggunan Lalique dan Tiffany. Keren banget rasanya, mulai dari komposisi geraknya, hingga pemilihan warna-warna yang seperti mimpi itu. Seperti masuk ke dunia fantasi ya?

Tue 12th Jun, 2007, Daily Rants

Budaya Antri dan Kucing

Kemarin di Metro TV World News, ada berita tentang usaha warga Beijing (dan warga Cina bagian lainnya?) untuk mensukseskan Olimpiade 2008. Membangun, menyediakan, memperbaiki, memperindah sarana dan prasarana memang penting, tapi yang tak kalah pentingnya adalah memperbaiki “budaya” atau “kebiasaan” yang dianggap jelek, supaya nantinya nggak malu-maluin sebagai tuan rumah. Salah satunya adalah latihan antri.

Pada tanggal 11 setiap bulannya, pemerintah Cina mencanangkan “Hari Mengantri dengan Sopan” di mana ada banyak petugas keamanan dan petugas “pengatur kesopanan” yang nongkrong di tempat-tempat yang biasa dijadikan tempat ngantri (misalnya: setopan bis, antri di ATM, di peron, dll) untuk memastikan bahwa semua warga mengantri dengan tertib dan sopan.

Harapannya sih, nggak cuma berhenti sampai di tahun 2008 saja, tapi seterusnya, walaupun olimpiade sudah berakhir dan pindah ke London.

more…