Kualitas Bangkok
Sepanjang minggu kemarin, dan minggu ini, kayaknya… salah satu supermarket besar (megamarket? pasar swalayan besar?) di dekat rumah sedang mengobral duren bangkok (duren monthong), harganya 7,000an per kilo. Dan sepertinya pembeliannya tidak dibatasi. Ada yang belinya segerobak dorong, ada yang belinya dua gerobak, ada juga yang kalap sampai lupa membeli. Kata salah satu ibu yang mengantri di kasir, duren monthong lebih enak daripada duren lokal karena bla bla bla [silakan masukkan promosi hasil karya negara lain di sini].
Teman saya ada yang baru saja pergi ke Thailand untuk urusan pekerjaan. Ia pergi bersama istrinya yang pergi ke sana untuk urusan pendidikan (klop lah jadinya, nggak perlu long-distant-long-distantan gitu. Sengaja mereka pergi di akhir pekan, jadi mereka sempat berberes rumah kontrakan dan menikmati hal-hal perturisan di sana.
“Hr ke1. Sampai, lgsg taro koper & b’buru duren,” begitu kira-kira isi SMS yang dikirimkan.
“Hr ke2. Ntn kabaret waria. Kualitet waria sini beda sm yg di Indo ya?” SMS pun datang keesokannya. Durennya aja bagus banget, apalagi warianya?
Selang beberapa menit, datang SMS dari istrinya, “Gw iri berat nih. Kalah bahenol. Ah, segera menghibur diri dengan manisan khas Thailand.”
Tapi, sampai hari ini saya belum tau manisan khas Thailand itu seperti apa. Semoga ketika mereka pulang ke Indonesia nanti, mereka mengoleh-olehkan manisan itu untuk saya. *AMIN*