Thu 5th Apr, 2007, Non-sequitur

Emak-emak Posmoderen Menghukum Anak

Dulu aku sering dihukum emak. Hukumannya standar lah: dikunciin di WC, dipukul, dicabein, atau disuruh berdiri di pojokan. Adikku juga. Ya, namanya juga anak-anak ya?

Sekarang ini kekerasan terhadap anak itu bukan hal yang lumrah dan boleh lagi. Jadilah orang tua dan para psikolog mencari cara untuk “menjatuhkan hukuman” yang agak lebih manusiawi sedikit. Berdiri di pojokan sih masih banyak diterapkan kayaknya, duduk di tengah ruangan sambil mingkem selama sejam atau lebih juga masih.

Atau seperti temenku. Kalau anaknya nakal dan harus dihukum, hukumannya adalah mengiringi emaknya masak dengan membaca berita di koran keras-keras. Maklumlah emaknya kan salah satu anggota golongan ibu-ibu bekerja (working mother, kerennya), dan jarang punya kesempatan untuk baca koran atau nonton siaran berita. Pulang dari kantor biasanya sudah harus mempersiapkan makan malam yang harus empat sehat lima sempurna.

Kemarin, ia cerita tentang anaknya yang baru sembuh dari sakit. Aku cuma bisa ketawa terpingkal-pingkal ketika temenku bercerita sambil menirukan suara anaknya.

“Kamu itu! Udah dibilangin, nggak boleh main bola dulu, eh… masih-masih aja,” omel sang emak.

“Maap deh, ma…” kata anaknya dengan tampang nggak bersalah.

“Maap, maap. Pokoknya kamu harus mama hukum!”

Sang emak mengambil koran, mendudukan anaknya di kursi di pojokan dapur, dan menyuruh anaknya membacakan isi berita yang ia tunjuk. “Baca yang ini, yang ini sama yang ini. Yang kenceng. Mama mau masak dulu.”

“Ya mama. Males ahhhh…. Aku kan ga suka baca koran.”

“Siapa yang suruh suka?” Tanya emaknya sambil memakai celemek. “Namanya juga hukuman. Kamu nggak perlu suka. Cuma perlu ngejalanin aja.”

“Nyalain teve aja deeeeh. Di MetroTV juga banyak berita.”

“Buat apa teve kalo ada adek… Iya ga? Udah ayo cepet dibaca.”

“Ya mamaaaaaa. Tau nggak sih maaaa.. Di sekolah, cuma aku doang yang hukumannya baca koran, tau nggak ma? Kenapa sih nggak disetrap aja, atau dipukul aja siiiih. Ini tuh menderita banget, tau nggak sih mamaaaaaaaa.”

“Emangnya enak mukul orang. Tangan mama juga sakit tau, kalo dipake buat mukul. Hukum fisika kan? Hukumnya siapa hayo?” Sang emak bertanya sambil memasak.

“Meneketeheeeee.”

“Hukumnya Om Newton yang ketiga, tau? Kalo ada tindakan selalu ada balasan yang setimpal. Udah sana baca beritanya. Ntar mama keburu selesai masak.”

“Itu bukannya Hukumnya Tuhan, ma?”

“Baca nggak?”

“Iya… baca… baca… Sebel. Hukuman kok aneh begini.”

Dan membacalah sang anak, sambil setengah ngedumel dan tidak senang.

1 Comment »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by andriansah, April 16, 2007 @ 2:49 am

    Tips yang bagus, semoga berguna buat gw nanti :)

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>