Mon 2nd Apr, 2007, Daily Rants, Datelines

1 April 2007: Ceng Beng tahun ini

Hari minggu, 1 April 2007, adalah hari yang sibuk. Pagi-pagi sekali sekeluarga besar sudah harus bersiap dari pagiiiii sekali untuk kegiatan nyekar. Sorenya, ke gereja untuk misa Minggu Palma, misa yang menandakan dimulainya Pekan Suci Paskah. Dan malemnya masih sempet juga April Mop-an. Cape’ deh… eh… seru deh…

Persiapannya Ceng Beng itu malah udah dari jum’at. Ada yang masak untuk makanan makam dan makanan peziarah (biasanya makanan makam itu makanan yang hambar (biar nggak diambilin orang maksudnya), dan makanan peziarah ya macem-macem, dari kue sampe ba’cang). Ada juga yang pergi beli bunga (makanya kalo sekitar-sekitar hari gini bunga jadi mahal banget di pasar). Ada yang beli benda-benda kertas untuk dibakar (biasanya sih duit-duitan, biar gampang dibawanya. Tapi ada juga yang beli hengpon-hengponan atau bahkan viagra-viagraan… Buset deh).

Sebenernya Ceng Beng itu jatuh pada tanggal 5 April setiap tahunnya. Tapi mungkin gara-gara tahun ini tanggal 5 April itu bukan hari libur, jadinya banyak yang “ngemajuin” Ceng Beng. Jadinya lah pas hari sabtu dan minggu itu yang namanya tanah perkuburan ramai didatangi orang.

Tanggal Ceng Beng itu adalah satu dari dua tanggal perayaan Cina yang nggak berubah setiap tahunnya. Bingung juga ya? Karena banyak orang (termasuk aku) yang mikirnya tanggalan Cina itu adalah tanggalan yang sesuai dengan peredaran bulan. Tapi ternyata, setelah usut sana sini dan tanya sana sini, tanggalan Cina itu belibet banget. Nggak cuma berdasarkan bulan, tapi juga matahari, dan lain sebagainya. Mungkin agak bisa sama ribetnya sama penanggalan Bali. Apa itu namanya ya, lupa.

Kelihatannya, kalender Tionghoa itu kalender bulan, tidak begitu halnya, karena ada faktor peredaran matahari di dalamnya, yaitu 24 posisi matahari. 1 posisi matahari adalah berjangka waktu 15 hari, ada 2 posisi matahari dalam 1 bulan. Posisi ini telah ada sejak zaman Huangdi (2697 SM, 4700 tahun lalu) didasarkan atas 12 cabang bumi yang diciptakan olehnya. (Rinto Jiang)

Mungkin dengan perhitungan serba belibet, jadilah Ceng Beng (atau Cing Ming) jatuh pada tanggal 5 April setiap tahunnya. Tapi nggak apa-apa juga, jadi enak setiap tahun udah bisa siap-siap tanpa harus bingung dulu.

Asal Mula Ceng Beng
Kaum Cina memang punya tradisi yang sedikit banyak tertuju pada peringatan leluhur (sebutannya “kia hao” atau “filial piety”, alias “rasa hormat anak pada orang tua/leluhurnya”) . Makanya di rumah-rumah Cina banyak ditemukan rumah abu atau meja sembahyang leluhur. Karena itulah, nyekar juga menjadi satu kegiatan wajib.

Konon, jaman dahulu, terutama bagi orang-orang yang berduit dan berharta, nyekar itu tidak hanya diadakan sekali setahun, tapi bisa berkali-kali (dua kali sebulan bahkan). Dan boro-boro kalau sederhana. Biasanya kaum bangsawan ini nyekarnya heboh, dan benar-benar mempertontonkan kekayaan. Kaum sanak keluarga ditandu ke sana lalu ke mari, diiringi dayang-dayang dan pengawal yang berjumlah banyak, makanan yang dibawa itu pasti yang enak-enak dan bunga yang disiapkan juga yang mahal dan harum-harum.

Suatu hari, Kaisar Tang Xuanzong melihat semuanya ini seperti pemborosan massal saja. Dia pun menitahkan agar semua membatasi diri dan hanya mengadakan urusan nyekar-menyekar ini sekali setahun. Dan ia menetapkan hari Ceng Beng (limabelas hari setelah Chunhun, atau hari di mana matahari tiba di katulistiwa) sebagai hari baik untuk ini.

Selain karena Ceng Beng adalah hari baik (arti kata Ceng Beng, atau Cing Ming, adalah “cerah dan terang”), hari ini dipilih karena banyak petani sudah selesai panen dan punya waktu senggang untuk mengunjungi makam leluhur. Jadilah Ceng Beng bukan hanya kegiatan orang kaya, tapi kegiatan untuk semua orang.

Kesederhanaan Ceng Beng juga berkaitan erat dengan cerita Kaisar Cong Er dari Dinasti Tang. Seperti cerita-cerita Cina kolosal biasanya (yang sering dilihat di filem-filem sekarang ini), pasti latar belakangnya adalah kudeta atau usaha perang selir vs. permaisuri, dll, dsb (li. filem ‘Kutukan Kemben Melorot’ (Curse of Golden Flower) yang dibintangi Gong Li, atau filem ‘Pesta Makan-makan’ (The Banquet) yang dibintangi Zhang Ziyi).

Pendek cerita, pada masa pelarian (karena takut sama selir kejam) ketika masih jadi putra mahkota Cong Er ini ditemani oleh teman (dan bawahan) yang sangat setia, Jie Zhitui namanya. Saking setianya, dia rela untuk mengorbankan dagingnya supaya si pangeran ini bisa makan dan nggak mati kelaparan. Suatu hari, tiba kabar bahwa Cong Er sudah tidak perlu lari lagi, karena ibu tirinya sudah mati. Bersiaplah Cong Er untuk kembali ke istana dan jadi kaisar. Tapi Je Zhitui nggak mau ikut balik ke istana, tapi malah nyepi ke sebuah gunung bareng emak.

Cong Er yang sudah jadi kaisar itu tetep kekeuh minta temannya ini balik dan hidup bahagia di istana. tapi Jie Zhitui bukannya balik ke istana malah semakin sembunyi ke pedalaman gunung. Cong Er yang sudah habis akal menyuruh prajuritnya untuk membakar gunung, maksudnya sih supaya Jie Zhitui keluar dari persembunyian. Tapi, apa mau dikata, bukannya keluar, malah Jie Zhitui dan emaknya tewas terbakar.

Sedihlah sang kaisar. Lalu ia mencanangkan Hari Hanshi (Hari Makanan Dingin), satu hari dalam setahun (setiap tahunnya) di mana orang-orang tidak boleh memasak/memanaskan makanan dengan api. Lambat laun Hanshi pun diintegrasikan ke dalam perayaan Ceng Beng, di mana makanan yang disediakan itu dingin dan hambar.

Legenda Ceng Beng yang Satunya Lagi
Ada lagi satu cerita lain tentang Ceng Beng. Ceritanya ada seorang Raja (nggak tau namanya siapa) yang sudah bertahun-tahun pergi perang (jaman perang antar kerajaan di Cina dulu). Udah jauh-jauh pergi perang, udah ngabisin waktu lama, eh… kalah pula dia. Jadilah dia tawanan perang yang tidak terhormat di negeri lawan. Tapi si raja ini nggak tinggal diam dan tidak bunuh diri, tapi diam-diam mengumpulkan sekutu dan mempersiapkan serangan balas dendam. Dan ya, seperti cerita-cerita kolosal lainnya, si raja ini berhasil melakukan balas dendam dan negaranya pun kembali ke dalam tangannya.

Waktu ia kembali ke rumah… eh istananya yang dulu, dia baru tahu kalau orang tuanya sudah lama meninggal — dibunuh oleh raja musuh. Dan parahnya lagi nggak ada yang tau di mana orang tua sang raja dimakamkan. Sang Raja akhirnya punya akal dan mencanangkan hari kunjungan makam leluhur. Pada hari yang telah ditentukan, semua orang di negaranya harus dan wajib nyekar. Logikanya, makam yang sepi dan nelangsa, pastilah makam orang tuanya.

Dan benar saja, di negara itu ada makam yang tak berpengunjung dan itu adalah makam orang tuanya. Sejak hari itulah, setiap tahun semua wajib nyekar ke makam leluhur.

Emang sih, cerita ini banyak yang nggak masuk akalnya. Tapi namanya juga legenda, ya?

Tautan lainnya:

1 Comment »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by Gabrielle, April 2, 2007 @ 4:50 pm

    wah, baru tau ada gangbaru.com. gang baru itu dkt rmh g d semarang, hen. daerah pecinan gt.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>