Fri 27th Apr, 2007, Daily Rants, Non-sequitur

Cold Calling: Kredit Tanpa Agunan

Cold Calling atau telepon di dalam kulkas itu terkadang bisa membantu, tapi lebih sering membuat geram. Beberapa minggu terakhir ini saya sering ditelepon oleh berbagai macam agen penyedia kredit tanpa agunan (KTA, tapi sebenernya biasanya minimal “nyetor” motor) dari berbagai perusahaan dan sebagainya.

Belom ngutang aja udah diteleponin terus tiap hari, apalagi kalo udah ngutang yak?

Berikut ini percakapan teman saya yang saya tiru setiap ditelepon oleh agen kredit ini.

“Saya nggak ingin KTA, saya maunya KTB.”

“KTB? Apakah itu?” tanya sang agen.

“Kredit tanpa Bayar,” jawab temanku sambil mengetik sesuatu di layar chatting.

“Ya, mana ada atuh,” sang agen berkata sambil tertawa canggung.

“Ya udah, KTB yang satu lagi aja. Kredit tanpa Bunga.”

“Duh, si Mbak ada-ada saja. Mana ada bank atau perusahaan kredit yang ngasih kredit ga pake bunga?”

“Siapa bilang? Buktinya saya dapet kok kredit tanpa bunga.”

“Ah, yang bener? Saya sudah malang melintang di dunia ini belum pernah dengar. Bank mana yang seperti itu? ”

“Bank Ayah Bunda.”

“Wah! Ya itu mah curang dong,” sang agen merasa bahwa kekalahan sudah di depan mata.

“Nah, sekarang Mbak bisa nggak nawarin yang sama, tanpa bunga?” sedangkan teman saya sudah bisa mencium wanginya rendang untuk makan siang.

“Ya, kalo begitu mah, no contest, dong?”

“Ya iya memang begitu. Makasih ya Mbak, sudah mau menelepon dan menawari kredit, dan nemenin saya ngobrol. Selamat siang.”

“Oh, iya. Selamat siang juga.”

Wed 11th Apr, 2007, Daily Rants, Health

Tiga Cara Memerangi Sariawan

Akibat kegigit, kemudian kegigit lagi, kemudian akibat bergadang yang membabi buta, akhirnya timbulah sariawan sedanau toba sekawah ijen di bibir, yang membikin bibir maju nan jontor macam Angelina Jolie salah operasi.

Ini ada tiga cara jitu memerangi sariawan, diurutkan berdasarkan tingkat penderitaan.

  1. Minum Xiasangju Chongji, sehari dua kali, setiap kali dua sachet. Minuman ini adalah minuman bubuk dari ekstrak bunga krisan dan mulberry, bisa diseduh dengan air dingin, air panas, atau air hangat. Enak dan manis deh pokoknya. Dijual di kebanyakan toko obat-obatan Cina atau toserba seperti Toserba Rejeki di Harmoni, Jakarta Pusat. Pokoknya nggak ada menderita-menderitanya deh. Sekitar dua sampai tiga hari, langsung sembuh. Kalo nggak yang ini, bisa juga minum larutan Lohanguo (kalo ini mesti diseduh pake air panas, dan buka kemasannya rada-rada susah).
  2. Menaburkan bubuk Hao Fung San di atas luka sariawan. Bubuk ini rasanya agak pahit, makanya aku nggak gitu suka. Selain itu, bubuk yang berwarna kehijauan ini, kalau sudah mengenai air (ludah) pasti menggumpal dan kadang-kadang membuat gigi tampak seperti agak hitam (jadi penampilan juga agak menyeramkan), mirip nenek lampir dikit lah gitu. Ampuh sih, dan agak adem. Rasa perih sariawan juga agak berkurang. Sekitar dua hari gitu deh sariawan bisa hilang.
  3. Menaburkan garam di atas luka sariawan. “Dijamin besok sembuh,” kata temanku. “Elu mo bunuh gue apa ya?” Cepat dan menyakitkan. Direkomendasikan bagi para pahlawan berani mati.
Tue 10th Apr, 2007, Daily Rants

Cerita Hari Senin: Hikayat Hakim Jalanan

Dulu ada felem tentang hakim jalanan bule. Apa ya judulnya? Ada macem-macem sih. Ada yang naek motor gede, ada juga hakim yang buta. Kemaren, di gang deket kantorku juga ada hakim jalanan. Banyak lagi.

Ceritanya, ada ibu-ibu yang merasa kecopetan di dalem metromini (apa mikrolet ya?), dan meneriakkan teriakan standar: “MALING! MALING!”

Dengan serempak, semua pemuda-pemuda yang pada saat itu sedang seliweran di gang dan tidak sedang belajar untuk Ujian Nasional atau pun Ujian-ujian lainnya, atau yang tidak sedang sibuk bekerja disuruh-suruh sama bos tiran, keluar semua berhamburan.

Mereka mengejar dan menangkap orang yang dituding sebagai maling itu. Lalu mereka menyeret maling itu ke pos ronda. Sampai di pos ronda si tertuduh ditanyain macem-macem. Salah satunya, “Kamu copet ya?”

“Bukan,” jawab sang tertuduh.

“Itu dia orangnya!” teriak sang ibu yang dompetnya kecopetan.

“Mana dompetnya si Ibu?” tanya para pemuda.

“Saya bukan copet,” jawab sang tertuduh lagi, sambil mencoba melepaskan diri dari cangkeman para cowok-cowok. Sementara itu, penonton sudah banyak berkumpul. Pengen juga sih narikin seceng seorang buat tiket masuk ya.

“Bohong!” teriak sang ibu lagi.

Dan entah siapa yang memulai tiba-tiba sudah bak buk bak buk. Dan sang tertuduh ini badannya juga lumayan gede. Tenaganya juga badak.

“Saya bukan maling! Saya brimob!” teriaknya. Tapi cowok-cowok di sana udah pada nggak mau mendengar dan terus memukul. Satu pukulan dari pemuda sana, satu pukulan balasan, dan seterusnya. Belum lagi adegan dia mencoba melepaskan diri dan lari kabur tak ada tujuan. Ketika dia berhasil lepas, kerumunan penonton menyebar (takut dipukul), sampai-sampai ada ibu yang nyemplung ke selokan. Ketika dia sudah berhasil ditangkap dan dipukuli sampai berlutut, semuanya berkerumun lagi. Dan selama itu pula sang tertuduh berteriak, “Saya bukan maling! Saya brimob!” Sedangkan sang korban berteriak, “Bohong! Dia malingnya!”

Akhirnya polisi datang melerai.

Anti-klimaks banget ya?

Tue 10th Apr, 2007, Daily Rants, Datelines

Pekan Suci: Paskah dan Reportase

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya nancep di meja registrasi pers untuk musim paskah tahun ini. Pertama-tama dikiranya hanya untuk beberapa jam saja, tapi karena (katanya) personilnya masih sedikit, akhirnya jadi tugas berhari-hari, tepatnya mulai hari Kamis Putih hingga Minggu Paskah. Kata Ibu Grace, yang udah veteran soal begini-beginian, pekerjaannya bakal rada riweh, apalagi kalo semua wartawan berbondong-bondong datang. Padahal dari pihak panitia paskahnya cuma boleh ngijinin maksimal 6 media di dalam gereja, dan waktu peliputan cuma boleh lima belas menit tiap medianya, dan wajib diikutin sama pendamping pula. Sisanya nunggu dong? Trus kalo waktunya kurang gimana?

“Bu, ntar mereka marah nggak, kalo nggak kebagian momen penting?” Aku kan masih baru dalam hal-hal beginian. Nanti kalo aku dimarahin gimana? “Kalo lima belas menit belom puas gimana dong, bu?”

“Ya marah lah. Tinggal pinter-pinternya kamu aja kali ya,” si Ibu menjawab dengan santai dan ngloyor pergi mencari minum.

more…

Thu 5th Apr, 2007, Non-sequitur

Emak-emak Posmoderen Menghukum Anak

Dulu aku sering dihukum emak. Hukumannya standar lah: dikunciin di WC, dipukul, dicabein, atau disuruh berdiri di pojokan. Adikku juga. Ya, namanya juga anak-anak ya?

Sekarang ini kekerasan terhadap anak itu bukan hal yang lumrah dan boleh lagi. Jadilah orang tua dan para psikolog mencari cara untuk “menjatuhkan hukuman” yang agak lebih manusiawi sedikit. Berdiri di pojokan sih masih banyak diterapkan kayaknya, duduk di tengah ruangan sambil mingkem selama sejam atau lebih juga masih.

Atau seperti temenku. Kalau anaknya nakal dan harus dihukum, hukumannya adalah mengiringi emaknya masak dengan membaca berita di koran keras-keras. Maklumlah emaknya kan salah satu anggota golongan ibu-ibu bekerja (working mother, kerennya), dan jarang punya kesempatan untuk baca koran atau nonton siaran berita. Pulang dari kantor biasanya sudah harus mempersiapkan makan malam yang harus empat sehat lima sempurna.

Kemarin, ia cerita tentang anaknya yang baru sembuh dari sakit. Aku cuma bisa ketawa terpingkal-pingkal ketika temenku bercerita sambil menirukan suara anaknya.

“Kamu itu! Udah dibilangin, nggak boleh main bola dulu, eh… masih-masih aja,” omel sang emak.

“Maap deh, ma…” kata anaknya dengan tampang nggak bersalah.

“Maap, maap. Pokoknya kamu harus mama hukum!”

Sang emak mengambil koran, mendudukan anaknya di kursi di pojokan dapur, dan menyuruh anaknya membacakan isi berita yang ia tunjuk. “Baca yang ini, yang ini sama yang ini. Yang kenceng. Mama mau masak dulu.”

“Ya mama. Males ahhhh…. Aku kan ga suka baca koran.”

“Siapa yang suruh suka?” Tanya emaknya sambil memakai celemek. “Namanya juga hukuman. Kamu nggak perlu suka. Cuma perlu ngejalanin aja.”

“Nyalain teve aja deeeeh. Di MetroTV juga banyak berita.”

“Buat apa teve kalo ada adek… Iya ga? Udah ayo cepet dibaca.”

“Ya mamaaaaaa. Tau nggak sih maaaa.. Di sekolah, cuma aku doang yang hukumannya baca koran, tau nggak ma? Kenapa sih nggak disetrap aja, atau dipukul aja siiiih. Ini tuh menderita banget, tau nggak sih mamaaaaaaaa.”

“Emangnya enak mukul orang. Tangan mama juga sakit tau, kalo dipake buat mukul. Hukum fisika kan? Hukumnya siapa hayo?” Sang emak bertanya sambil memasak.

“Meneketeheeeee.”

“Hukumnya Om Newton yang ketiga, tau? Kalo ada tindakan selalu ada balasan yang setimpal. Udah sana baca beritanya. Ntar mama keburu selesai masak.”

“Itu bukannya Hukumnya Tuhan, ma?”

“Baca nggak?”

“Iya… baca… baca… Sebel. Hukuman kok aneh begini.”

Dan membacalah sang anak, sambil setengah ngedumel dan tidak senang.

Mon 2nd Apr, 2007, Daily Rants, Datelines

1 April 2007: Minggu Palma dan Kejepit

Minggu Palma (Minggu Palem, Palm Sunday, dll, dst) adalah hari minggu terakhir masa pra-paskah (Lent Period), dan awal dari Pekan Suci. Gereja juga udah mulai meriah, tenda udah mulai dipasang, dan segala macam kegiatan udah direncanakan. Tapi sebelum sampai ke kemeriahan Paskah minggu depan (minggu ini?), masih banyak hal yang harus dilalui. Hari Jum’at Agung misalnya, untuk mengenang wafatnya Yesus.

Tahun ini aku nggak ngebotakin pohon palem sendiri, biasanya kan suka bawa daon palem sendiri dari rumah. Tapi kali ini sih pengen minta dari gereja aja. Kali-kali boleh dong. Lagian sayang pasti bakal banyak sisanya. Pucuk palem itu ceritanya sih menandakan keberhasilan dan kemenangan (dalam tradisi Yahudi) dan menurut tradisi nasrani, orang-orang jaman jadul dulu melambai-lambaikan pucuk palem ketika Yesus masuk kota Yerusalem naik keledai. Oh iya, katanya sih naek keledai juga merupakan simbolisme jaman dulu juga. Jadi ceritanya, jaman dulu itu kalo raja (atau wakilnya, atau siapanya lah) masuk suatu kota naek kuda (apalagi kuda cowok gagah nan berwibawa) itu artinya lagi ada pernyataan perang. Tapi kalau dia naek keledai (apalagi keledai cewek), itu artinya dia datang dengan damai (kayak alien kali ya? “we come in peace,” ceunah).

more…

Mon 2nd Apr, 2007, Daily Rants, Datelines

1 April 2007: Ceng Beng tahun ini

Hari minggu, 1 April 2007, adalah hari yang sibuk. Pagi-pagi sekali sekeluarga besar sudah harus bersiap dari pagiiiii sekali untuk kegiatan nyekar. Sorenya, ke gereja untuk misa Minggu Palma, misa yang menandakan dimulainya Pekan Suci Paskah. Dan malemnya masih sempet juga April Mop-an. Cape’ deh… eh… seru deh…

Persiapannya Ceng Beng itu malah udah dari jum’at. Ada yang masak untuk makanan makam dan makanan peziarah (biasanya makanan makam itu makanan yang hambar (biar nggak diambilin orang maksudnya), dan makanan peziarah ya macem-macem, dari kue sampe ba’cang). Ada juga yang pergi beli bunga (makanya kalo sekitar-sekitar hari gini bunga jadi mahal banget di pasar). Ada yang beli benda-benda kertas untuk dibakar (biasanya sih duit-duitan, biar gampang dibawanya. Tapi ada juga yang beli hengpon-hengponan atau bahkan viagra-viagraan… Buset deh).

Sebenernya Ceng Beng itu jatuh pada tanggal 5 April setiap tahunnya. Tapi mungkin gara-gara tahun ini tanggal 5 April itu bukan hari libur, jadinya banyak yang “ngemajuin” Ceng Beng. Jadinya lah pas hari sabtu dan minggu itu yang namanya tanah perkuburan ramai didatangi orang.

more…