Perompak Jalan Raya: Ranjau Paku dan Air Keras
Penodongan pengendara bermotor emang bukan hal yang baru. Modus operandinya ya macem-macem, ada yang sengaja menabrakkan diri ke kendaraan korban, atau yang bilang bahwa ada ban kita yang kempes, atau yang nyiramin spiritus atau air keras ke arah ban (seakan-akan bannya ngebul). Korbannya tipikal yang dipelem-pelem gitu: cewek/cowok yang nyetir sendirian, semobil isinya cewek-cewek kemayu, atau pengendara motor yang badannya kecil, dll. Pokoknya yang seseorang atau sekelompok orang yang tampangnya imut-imut, kemayu, atau tampang korban. Kalau wajahnya sangar, mirip Sumanto, mirip tukang pukul, mirip binaragawan, mungkin agak jarang jadi korban.
Baru-baru ini yang sering kejadian itu di daerah Pecenongan, terutama di Gang Kingkit hingga Sawah Besar. Waktu kejadiannya biasanya ketika matahari sudah terbenam, karena di daerah-daerah itu emang agak gelap dan agak sepi kalau semua toko sudah tutup.
Seminggu yang lalu, tante yang hampir jadi korban. Ceritanya, dia pulang kantor lewat gang itu dan dari belakang ada satu sepeda motor (dengan dua penumpang) yang mencoba menarik perhatiannya. Mereka berteriak-teriak seakan-akan ada masalah dengan salah satu ban kendaraan tante. Tentu aja tante takut dan nggak mau minggir. Lagian di gang sempit gitu, sama aja nyari gara-gara. Merasa teriakan mereka nggak digubris, mereka pun masuk ke dalam salah satu gang yang lebih kecil. Tante sengaja memperlambat mobil dan mematikan lampu dan melihat ke dalam gang tersebut. Boncengannya lompat turun dan bertukar dengan pengemudi motor, sambil bertukar helm juga (helm ketiga) dan kemudian langsung melaju keluar, mendekati kendaraan tante lagi. Dia pun berteriak-teriak menyuruh tante minggir. Dengan kata-kata yang sedikit berbeda, seolah-olah dia itu orang lain. Logikanya: kalau lebih dari dua atau tiga kelompok yang bilang ada masalah dengan kendaraan kita, berarti memang ada masalah kan?
Tapi, tante yang sudah sempat melihat pertukaran mereka malah semakin seru ngebut untuk kabur dari sana. Dan ternyata si pengendara motor itu pun mengejar sambil memukul-mukul sisi kendaraan. Wah! Yang ada malah semakin ngebut dong. Apalagi sebenernya udah deket banget sama rumah. Pokoknya, dalam pikiran tante cuma satu: “buru-buru pulang ke rumah”. Kalaupun memang ada masalah dengan kendaraan, toh nanti bisa dibetulkan di rumah. Bodo amat deh, katanya. “Mau tiba-tiba bannya ngegelinding kek, tinggal velgnya doang kek, pokoknya tante nggak mau berhenti.”
Setelah selesai berpanik-panik ria, dan sampai di rumah dengan selamat (ternyata emang kendaraan tante nggak kenaVa-kenaVa kok…), beginilah nasihat darinya:
- Jangan pernah berhenti. 68% adalah hoax. Katanya sih, ban jaman sekarang nggak akan meledug cuma karena satu paku. Dicoblos banyak paku pun nggak serta merta meledaknya. Sering kali kempesnya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Beberapa hari yang lalu ada temenku yang bannya akhirnya kempes juga, ditemukan ada selusin paku di bannya. Sayang, tukang ban nggak mau tukeran ban pake paku. (Lah emangnya tukang sayur, kadang-kadang tukeran cabe dengan koran bekas?). Kalau kena ranjau paku, atau ranjau besi, itu mah pasti disengaja sama penjahatnya.
- Perhatikan letak pos-pos polisi atau semacamnya. Kalau memang harus berhenti, berhentilah di sana.
- Kalau tidak ada pos polisi, masuklah ke gedung parkir (gedung perkantoran), atau tempat parkir yang umum.
- Jangan berhenti di warung atau semacamnya, apalagi kalau jalanan sepi. Bisa aja mereka itu sekomplotan.
- Selalu bawa ban serep dan alat dongkrak. Harus bisa ganti ban sendiri. Paling nggak bisa ngelak harus berhenti di tempat yang “menyeramkan”.
- Bawa ajudan bertampang sangar.
Jadi?
== Bawa ajudan bertampang sangar.
kayaknya elo cocok ndro.. elo kan preman.. *ngumpet dalam panci*