Dulu dan Sekarang: Sudah tidak sekolah lagi
Ternyata sudah sepuluh tahun berlalu. Cepet ya? Padahal kalau dijalankan per hari kok rasanya lambat… Sering banget aku bilang “Wah! Kok akhir pekan masih lama ya?” Eeeeh, tau-taunya sudah sepuluh tahun.
Maret 1997. Aku sibuk persiapan Ebtanas, diselingi kesibukan menyiapkan buku tahunan angkatan. Oh iya, diselingin sibuk baca komik Topeng Kaca juga. Ya ampun deh. Ujian tanpa akhir banget deh rasanya. EHB, Pra-EBTA, EBTA, EBTANAS, Ulangan Umum Sekolah, Ujian Praktek, dan entah ada ujian apa lagi. Di tengah-tengah deraan ulangan harian dan tes persiapan, ada sebersit harapan setiap kali melihat kakak kelas berseragam putih abu-abu. Gue bakal kayak gitu juga sebentar lagi. Rok biru gelap akan ditinggalkan untuk rok abu-abu itu. Entah gimana, rasanya keren aja. Mungkin semakin “tidak hidup” suatu warna pakaian, semakin dewasa seseorang terlihat? Maksudnya, bagus juga rok biru toh… Apa lagi merah SD.
Merah itu kan warna yang “hidup” sekali. Warna orang yang berani, warna orang yang pantang menyerah, pokoknya warna yang “hidup” gitu deh. Bingung juga ngejelasinnya. Sedangkan warna biru itu kan warna kesukaan banyak orang. Warna paporit lah. Biru itu seperti langit (birunya sih biru tua… tapi langit pun biru tua pun ada…) Tapi kalau diingat-ingat, warna biru itu juga mirip seperti warna orang yang keseringan ditonjok.
Warna abu-abu itu seperti warna langit kelabu, penuh kabut, atau warna langit yang awan semua nggak ada mataharinya.
Mungkin , pendidikan serba-industrialis seperti itu tercermin secara nggak langsung pada warna yang dikenakan murid-muridnya. Waktu masih SD, siapa aja dilawan. Waktu masih SMP, di”tonjok” dengan doktrin dan pakem-pakem. Waktu SMA, sudah hilang semua warna. Hohoho.
Tapi untungnya di sekolahku lebih sering pake rok taplak meja yang warnanya hijau, dibandingkan dengan rok biru maupun rok putih. Dan kebetulan aku suka hijau. Hore deh.
Pokoknya nggak sabar menunggu SMA deh. Mau melewati medan perang banjaran yang bernama EBTANAS, ya hayuk.
Percepat sepuluh tahun. Hah? Mana masa mudaku? SMAnya belom sempet dinikmati baik-baik pun sudah lewat. Masa kuliah pun sudah lewat. Sekarang… kerja. Udah bener-bener orang dewasa (bukannya orang setengah dewasa, atau orang hampir dewasa). Banyak yang dulu jaman SMA (masih hura-hura tanpa banyak tanggung jawab) sekarang udah nggak bisa lagi.
Mode, cara pandang, cara hidup pun sudah berbeda. Nilai-nilai yang dulu adalah “sakral” untuk anak SMA sekarang sudah beda lagi. Bisa dibilang, kalau melihat anak SMA yang sekarang, sangat sulit untuk bisa melihat diri saya di dalam diri mereka. Nggak bisa bilang, “Dulu gue juga gitu.” Karena dulu saya sepertinya tidak begitu.
Sempet ngobrol-ngobrol dengan teman seangkatan, dan ada yang mengutarakan hal lucu seperti ini. “Sekarang, anak-anak SMA udah kemakan iklan deterjen semua. Maunya baju yang cling putih bersih, maunya sepatu yang cling hitam. Padahal dulu, kita mah berlomba-lomba baju paling kumel, paling tipis, dan sepatu paling rusak. Biar keliatan senioritasnya gitu. Semakin kumel dan tua-looking (halah! tua-looking… bahasa apa pulak), semakin senior, ‘kan?”
Dulu pun, hukuman ala romusha masih sering dipakai. Ngosek WC, menyiangi rumput di halaman, dan pekerjaan kasar lainnya. Sekarang hukuman seperti ini tidak digunakan lagi, karena dengan mengidentikkan hukuman dengan kerja kasar, rasanya kita telah meletakkan persepsi yang salah: bahwa kerja kasar itu cuma untuk orang hukuman saja. Memang, dulu niat bu guru baik, supaya kita nggak nerima begitu saja kebersihan dan keasrian sekolah. Karena kebersihan itu butuh kerja keras. Dan karena takut nanti kena giliran dihukum, tidak dihukum pun murid-murid dengan sadar diri menjaga kebersihan WC, halaman, pelataran, ruang kelas dan semua fasilitas sekolah.
Nah, jadi sebenernya ini cerita tentang apa ya? Entahlah. Baru kali ini nulis blog yang nggak jelas ujung pangkalnya. (Ah masa’?) *kabur melarikan diri*
Duh, tahun 1997.. Kayaknya waktu itu saya masih eSDeh. Aih, imutnyah.. :”> *ditimpuks*
“Dulu pun, hukuman ala romusha masih sering dipakai. Ngosek WC, menyiangi rumput di halaman, dan pekerjaan kasar lainnya.”
Aduh, itu sekolah siapa hukumannya macem itu???? Woaaah ! Sekolah di JKT 10 taon lalu kaya gitu, sekolah saya ngga atuh!
lucu juga yach blognya bicara tentang hukuman eh yang punya blog g minta tolong doong kalo punya artikel ilmiah tentang hukuman kasih tau g yah …… krn g butuh banget……… thank’s kenalan doong
JASA SEDOT WC JASA SEDOT WC JASA SEDOT WC JASA SEDOT WC JASA SEDOT WC Terima Layanan Daerah Daerah JAKARTA; BOGOR; DEPOK; TANGERANG; & BEKASI : Sedot WC; Air Kotor; Saluran mampet;Rembesan & Bikin Septictank Silahkan Segera Hubungi YULI No. Tlp. 021-98736434 & 021-70560098