Wed 7th Mar, 2007, Books

Yang duluan, menang: Ungkapan Terkenal Sepanjang Masa

Ternyata banyak juga ungkapan yang kita pake sekarang yang bisa digolongkan “basbang”, alias sudah dipake sejak jaman dulu kala… maksudnya sejak jaman Obelix belom kecemplung ke dalam gentong jamu ajaib. Misalnya, carpe diem, yang dulu bener-bener tidak berkonotasi “gapai cita-cita setinggi mungkin” tapi lebih berarti: “udah jangan mikir yang muluk-muluk, kerjain aja yang ada di depan mata. Atau misalnya E Pluribus Unum, moto negara Amerika Serikat yang ternyata diambil dari puisi tentang cara meracik salad dengan benar.


Waktu Adalah Uang
Ini adalah ungkapan favorit Ben Franklin (kalo ga salah sih presiden Amerika Serikat yang ke berapa gitu). Ini juga ungkapan favorit Theophrastus, filsuf Yunani kuno. Menurut penulis biografinya, Diogenes Laertius, Theophrastus suka sekali berkata bahwa “waktu sangatlah mahal”. Dan, sesuai dengan ungkapan ini, semasa hidupnya, ia menulis paling tidak 226 karya yang tersebar dalam 498 jilid. Jadi, kalau dia mulai menulis ketika berumur 10 tahun, berarti dia menulis sekitar 14 jilid per tahunnya. Rajin banget ya? Kata seseorang “insanely prolific”.

Selain Theophrastus, ada juga Antiphon, seorang orator dari Athens yang mengatakan “pengeluaran yang paling mahal adalah pengeluaran dalam bentuk waktu.”

Semua Jalan Menuju ke Roma
Ungkapan ini mungkin saja digunakan oleh orang-orang jaman baheula untuk menggambarkan waktu ketika semua jalan yang bagus itu dibangun oleh bangsa Romawi (mungkin Dinas PU dan Jalan Tol bisa belajar sama orang Romawi kuno).

Tapi secara tertulis, ungkapan ini muncul pertama kali ketika seorang penyair dari Perancis, Jean de la Fontaine menuliskannya dalam sebuah fabel yang diterbitkan pada tahun 1694 (”Tous chemins vont a’ Rome“). Voltaire mengulangi ungkapan ini kepada seorang Fontaine yang lain di tahun 1750.

Chaucer juga pernah menuliskan “banyak jalan membawa banyak orang ke Roma.”

Fanatik
Berdasarkan etimologi yang paling sederhana, kata ini diambil dari kata dalam bahasa Latin “fanum”, yang artinya “kuil”. Tetapi arti kata “fanatik” seperti yang kita ketahui sekarang ini mungkin berasal dari perilaku aneh bin ajaib para imam pelayan Dewi Bellona (Dewi Perang orang Romawi Kuno), di suatu fanum yang dibangun oleh Sulla, diktator militer.

Setiap tahun para imam pelayan ini mengadakan sebuah festival di mana mereka akan merobek-robek jubah mereka dan memukul-mukul tubuh mereka dengan kapak, darah muncrat ke mana-mana. Kelakuan ini dianggap sebagai hasil inspirasi ilahi, dan oleh karenanya kata “fanaticus” berarti “menjadi gila karena para dewa” (kalo kasarnya: “kesurupan”).

Ketika kata “fanatic” pertama kali muncul ke dalam khazanah bahasa Inggris di abad ke-16, artinya adalah “orang gila” (semua orang gila tanpa terkecuali). Baru belakangan kata ini mendapat konotasi spesifik “orang yang dirasuki kemarahan ilahi” (intinya: “kesurupan”). Hingga sekarang, arti utama dari kata “fanatik” adalah “maniak agama” (religious maniac). Tapi, kata ini dalam bentuk pendeknya “fan” cuma berarti “penggemar” atau “pengikut”.

Mausoleum
Ketika Raja Mausolus dari Caria mangkat pada tahun 353 S.M., Artemisia — istrinya — menjadi sangat sedih. Tak hanya ia kehilangan seorang suami, tapi ia juga kehilangan seorang saudara laki-laki (bokap mereka emang agak-agak paranoid, dan berusaha untuk menjaga agar tahta tetap berada di dalam keluarganya lewat pernikahan antar-saudara).

Setelah jasad Mausolus dikremasi, Artemisia mencampur abunya ke dalam secawan anggur dan meminum semuanya. Mungkin inilah mengapa Artemisia kemudian mendapat inspirasi (baca: ide gila) untuk membangun sebuah monumen yang luar biasa mahal dan mentereng untuk mengenang sang almarhum.

Artemisia mempekerjakan empat orang arsitek — satu untuk setiap sudut bangunan — dan seorang arsitek lagi khusus untuk merancang dan membangun atap piramida dari mausoleum tersebut. Patung raksasa serupa sang raja dan ratu rencananya juga akan diletakkan di dalam bangunan itu, berukuran 250 kaki lebarnya dan 135 kaki tingginya. Saking rumitnya pembangunan ini, Artemisia pun meninggal sebelum bangunan itu sempat diselesaikan.

Tapi, setelah selesai, bangunan ini masuk ke dalam daftar 7 keajaiban dunia kuno, dan dikenal sebagai “Mausoleion” dalam bahasa Yunani, sebagai penghormatan para Mausolus. Bangunan ini sekarang sudah tidak utuh indah seperti dulu lagi, diperkirakan runtuh akibat gempa bumi, atau mungkin hancur akibat Perang Salib pada jaman pertengahan. Reruntuhannya diekskavasi pada tahun 1950an.

Sejarah mencatat penggunaan kata “Mausoleum” pertama kali dingunakan pada tahun 1540an, sebagai serapan langsung dari bahasa Yunani. Sejak tahun 1600an, kata “mausoleum” digunakan untuk menggambarkan tempat peristirahatan terakhir yang dibangun sebagai monumen peringatan (seringkali besar dan megah pula).

Disadur sembarangan dari: Macrone, M (1991, 1999) Brush Up Your Classics. Illustration by Tom Lulevitch (New York: Gramercy Books)

Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>