Mencari Berita bak Manusia Ikan
Dulu ada hoax tentang Deni (?) si Manusia Ikan. Yang katanya dikutuk a la Malin Kundang, bukan jadi batu tapi jadi manusia ikan. Tapi ini bukan tentang dia.
Saya beberapa hari yang lalu menonton liputan MetroTV tentang kapal Levina I yang terbakar dan memakan banyak korban. Tidak hanya korban yang tewas (atau hilang) pada saat kapal itu terbakar, tapi juga korban yang tewas (atau hilang) ketika kapal itu sudah tidak terbakar dan sedang diinspeksi.
Yang aku bingung, hampir tidak ada (ada gitu beberapa, tapi banyakan sih nggak) satu pun dari tim inspeksi, anak buah kapal, atau reporter yang menggunakan pelampung ketika naik ke atas kapal yang udah hangus gosong dan oleng. Bahkan dari pertama sekali banget sudah kelihatan kalo yang namanya kerangka kapal itu udah nggak aman dan oleng terus. Kok mbok ya nggak ada satu orang pun juga yang kepikiran untuk pake pelampung? Kok malah semuanya mengambil resiko, atau merasa “ah nggak mungkin terjadi apa-apa pada saya”. Atau merasa keberuntungan sedang berpihak kepadanya?
Bukannya itu adalah standar keselamatan internasional untuk menggunakan pengaman kalau memasuki/menaiki/menjelajahi tempat-tempat yang nggak jelas tingkat keselamatannya? Masuk gedung atau rumah yang hangus terbakar, minimal pakai topi besi, supaya terlindung dari reruntuhan atap. Masuk ke areal konstruksi, minimal pakai topi besi, supaya terlindung dari jatuhnya plafon. Masuk ke dalam perut bumi, minimal pakai topi besi biar tidak tertimpa langit-langit gua, dan pakai pelampung supaya tidak terseret arus sungai bawah tanah.
Begitu pula menaiki kapal yang baru terbakar dan sudah terlihat hangus, gosong, dan tidak stabil lagi. Mungkin saja kapal itu tidak akan meledak (katanya), tapi ada kemungkinan kalau kapal itu tiba-tiba tenggelam atau oleng kan? Apalagi yang naik ke kapal itu banyak banget. Manusia, peralatan forensik, peralatan tim peliput. Jangan pernah lalai menggunakan pelampung atau alat keselamatan lainnya. Walaupun kedengarannya sepele, atau hal kecil, tapi pelampung itu banyak gunanya kok. Kadang-kadang, kan kita nggak boleh terlalu bergantung sama nasib, tapi juga pro-aktif dalam menjaga nyawa yang telah dikaruniai Tuhan ini.
Akhir kata, aku turut berduka cita atas apa yang terjadi. Tapi di samping itu, aku juga berpikir, mungkinkah ada yang terselamatkan dari maut yang sia-sia ini jika ada yang mau mengingatkan tentang hal yang kelihatannya sepele ini? Entahlah.
Tanpa bermaksud menghakimi dan lepas dari urusan takdir, kalau wartawan yang menjadi korban Levina tenggelam, bisa jadi salah mereka sendiri. Jelas, pelampung tak dipakai dan itu adalah area TKP (ada police line).
Cuma wartawan kita memang terbiasa ngotot cari berita. Mungkin mereka ga salah, tapi setidaknya redaktur harus tanggung jawab karena mereka yang memberi perintah peliputan.
Hen, emang bener si Deni dikutuk? kalo engga salah dia kan ceritanya ilang ketinggalan kapal ortunya di peraian Pasifik deket Irian, karena kelamaan berendam dan berenang terus tumbulah selaput dan insang. O ya sebenernya dia ketemu orang tuanya ga sih? *klub pecinta Deni Manusia Ikan*
Kalo soal Levina ini emang tragis banget ya, *narik napas sedih tiap inget*. Memang kalau sudah takdir bagaimana lagi. Namun namanya takdir kan bukan tidak bisa diantisipasi. Dan rasanya memakai pelampung adalah standar keselamatan. Kemarin dulu waktu saya latihan SAR, semua orang kudu pake pelampung. Bisa atau tidak bisa berenang. Namanya celaka kan engga tahu, siapa tahu tiba-tiba kram lah, pingsan ketimpa perahu karet lah.. Jangan sampai ceritanya mau jadi tim penolong malah harus ditolong.
ciao dari italiaaaaa…