Fri 30th Mar, 2007, Daily Rants, Case

Perompak Jalan Raya: Ranjau Paku dan Air Keras

Penodongan pengendara bermotor emang bukan hal yang baru. Modus operandinya ya macem-macem, ada yang sengaja menabrakkan diri ke kendaraan korban, atau yang bilang bahwa ada ban kita yang kempes, atau yang nyiramin spiritus atau air keras ke arah ban (seakan-akan bannya ngebul). Korbannya tipikal yang dipelem-pelem gitu: cewek/cowok yang nyetir sendirian, semobil isinya cewek-cewek kemayu, atau pengendara motor yang badannya kecil, dll. Pokoknya yang seseorang atau sekelompok orang yang tampangnya imut-imut, kemayu, atau tampang korban. Kalau wajahnya sangar, mirip Sumanto, mirip tukang pukul, mirip binaragawan, mungkin agak jarang jadi korban.

Baru-baru ini yang sering kejadian itu di daerah Pecenongan, terutama di Gang Kingkit hingga Sawah Besar. Waktu kejadiannya biasanya ketika matahari sudah terbenam, karena di daerah-daerah itu emang agak gelap dan agak sepi kalau semua toko sudah tutup.

Seminggu yang lalu, tante yang hampir jadi korban. Ceritanya, dia pulang kantor lewat gang itu dan dari belakang ada satu sepeda motor (dengan dua penumpang) yang mencoba menarik perhatiannya. Mereka berteriak-teriak seakan-akan ada masalah dengan salah satu ban kendaraan tante. Tentu aja tante takut dan nggak mau minggir. Lagian di gang sempit gitu, sama aja nyari gara-gara. Merasa teriakan mereka nggak digubris, mereka pun masuk ke dalam salah satu gang yang lebih kecil. Tante sengaja memperlambat mobil dan mematikan lampu dan melihat ke dalam gang tersebut. Boncengannya lompat turun dan bertukar dengan pengemudi motor, sambil bertukar helm juga (helm ketiga) dan kemudian langsung melaju keluar, mendekati kendaraan tante lagi. Dia pun berteriak-teriak menyuruh tante minggir. Dengan kata-kata yang sedikit berbeda, seolah-olah dia itu orang lain. Logikanya: kalau lebih dari dua atau tiga kelompok yang bilang ada masalah dengan kendaraan kita, berarti memang ada masalah kan?

Tapi, tante yang sudah sempat melihat pertukaran mereka malah semakin seru ngebut untuk kabur dari sana. Dan ternyata si pengendara motor itu pun mengejar sambil memukul-mukul sisi kendaraan. Wah! Yang ada malah semakin ngebut dong. Apalagi sebenernya udah deket banget sama rumah. Pokoknya, dalam pikiran tante cuma satu: “buru-buru pulang ke rumah”. Kalaupun memang ada masalah dengan kendaraan, toh nanti bisa dibetulkan di rumah. Bodo amat deh, katanya. “Mau tiba-tiba bannya ngegelinding kek, tinggal velgnya doang kek, pokoknya tante nggak mau berhenti.”

Setelah selesai berpanik-panik ria, dan sampai di rumah dengan selamat (ternyata emang kendaraan tante nggak kenaVa-kenaVa kok…), beginilah nasihat darinya:

  • Jangan pernah berhenti. 68% adalah hoax. Katanya sih, ban jaman sekarang nggak akan meledug cuma karena satu paku. Dicoblos banyak paku pun nggak serta merta meledaknya. Sering kali kempesnya bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Beberapa hari yang lalu ada temenku yang bannya akhirnya kempes juga, ditemukan ada selusin paku di bannya. Sayang, tukang ban nggak mau tukeran ban pake paku. (Lah emangnya tukang sayur, kadang-kadang tukeran cabe dengan koran bekas?). Kalau kena ranjau paku, atau ranjau besi, itu mah pasti disengaja sama penjahatnya.
  • Perhatikan letak pos-pos polisi atau semacamnya. Kalau memang harus berhenti, berhentilah di sana.
  • Kalau tidak ada pos polisi, masuklah ke gedung parkir (gedung perkantoran), atau tempat parkir yang umum.
  • Jangan berhenti di warung atau semacamnya, apalagi kalau jalanan sepi. Bisa aja mereka itu sekomplotan.
  • Selalu bawa ban serep dan alat dongkrak. Harus bisa ganti ban sendiri. Paling nggak bisa ngelak harus berhenti di tempat yang “menyeramkan”.
  • Bawa ajudan bertampang sangar.

Jadi?

Mon 26th Mar, 2007, Daily Rants

Dulu dan Sekarang: Sudah tidak sekolah lagi

Ternyata sudah sepuluh tahun berlalu. Cepet ya? Padahal kalau dijalankan per hari kok rasanya lambat… Sering banget aku bilang “Wah! Kok akhir pekan masih lama ya?” Eeeeh, tau-taunya sudah sepuluh tahun.

Maret 1997. Aku sibuk persiapan Ebtanas, diselingi kesibukan menyiapkan buku tahunan angkatan. Oh iya, diselingin sibuk baca komik Topeng Kaca juga. Ya ampun deh. Ujian tanpa akhir banget deh rasanya. EHB, Pra-EBTA, EBTA, EBTANAS, Ulangan Umum Sekolah, Ujian Praktek, dan entah ada ujian apa lagi. Di tengah-tengah deraan ulangan harian dan tes persiapan, ada sebersit harapan setiap kali melihat kakak kelas berseragam putih abu-abu. Gue bakal kayak gitu juga sebentar lagi. Rok biru gelap akan ditinggalkan untuk rok abu-abu itu. Entah gimana, rasanya keren aja. Mungkin semakin “tidak hidup” suatu warna pakaian, semakin dewasa seseorang terlihat? Maksudnya, bagus juga rok biru toh… Apa lagi merah SD.

more…

Sun 11th Mar, 2007, Foodstuff, Health

Teh Hijau sebagai Obat Luar: Jangan Ditelan

Temenku demen banget sama yang namanya teh hijau, mulai dari teh hijau sebagai minuman, hingga teh hijau sebagai pelicin kulit. Kalau pernah ke rumah dia, pasti baru masuk pun sudah akan disambut dengan wangi teh hijau yang digunakan sebagai pengharum ruangan. Lalu, bukalah kulkasnya, pasti ada minuman teh hijau dan es krim teh hijau (katanya sih bikin sendiri). Di kamar mandi pun, teh hijau ada di mana-mana. Dari sabun cuci muka, sabun dan scrub, hingga obat penangkal jerawat yang dioleskan. Teh hijau kabeh.

Gara-gara dia pula aku jadi mulai doyan yang namanya teh hijau. Entah itu yang dimakan (aku doyan banget yang namanya es krim teh hijau bikinan Haagen Daz), atau buat muka (aku dapet spot wand, obat oles untuk jerawat yang bahan dasarnya adalah teh hijau, walau rada aneh baunya. Tapi ampuh… jerawat cepet “mateng”).

Tapi ini ada dua resep penggunaan teh hijau yang aku baru tau.

Teh hijau pengusir jamur kaki
35gram matcha (bubuk teh hijau); 15gram baking soda (soda kue); 15gram tepung maizena, dan 8 tetes lavender essential oil (buat wanginya).

Semua bahan di atas dicampur rata (dan jangan dimakan, soalnya essential oil kadang-kadang nggak cocok untuk dimakan dan kadang-kadang bisa bikin alergi. Taburkan sedikit di atas jari-jari kaki, sebelum memakai sepatu, kalau mau berpergian. Jangan dipake semua tentunya. Sisanya, disimpen di dalem peles untuk dipake kapan-kapan. Katanya sih ampuh.

Matcha Mayonnaise bikin muka berbinar-binar
240ml mayones, dan 1/8 sendok teh matcha

Semua bahan di atas dicampur rata (kalo dimakan rasanya aneh kali ya? Ga berani nyoba ah). Terus dipakein ke muka (awas jangan sampe kena mata, hmm hmm). Tinggalin di muka selama 20 menit (jangan iseng, jangan dipegang-pegang, dan jangan seliweran di luar rumah, nanti dikira hantu). Setelah 20 menit, basuh pake air (jangan panas, jangan aer es juga). Basuh sampe bersih dan tidak tersisa.

Kalau dipake siang hari, habis muka dibasuh dan diseka dengan handuk, pakai pelembab, biar mukanya nggak kering. Kalau dipake malem hari menjelang bobo, ga usah pake pelembab juga nggak apa-apa, soalnya muka kita suka rajin bikin pelembab kalo malem.

Dari: Femina edisi 07/XXXV.
Komentar-komentar miring: dari temanku, sang maniak teh hijau.

Wed 7th Mar, 2007, Books

Yang duluan, menang: Ungkapan Terkenal Sepanjang Masa

Ternyata banyak juga ungkapan yang kita pake sekarang yang bisa digolongkan “basbang”, alias sudah dipake sejak jaman dulu kala… maksudnya sejak jaman Obelix belom kecemplung ke dalam gentong jamu ajaib. Misalnya, carpe diem, yang dulu bener-bener tidak berkonotasi “gapai cita-cita setinggi mungkin” tapi lebih berarti: “udah jangan mikir yang muluk-muluk, kerjain aja yang ada di depan mata. Atau misalnya E Pluribus Unum, moto negara Amerika Serikat yang ternyata diambil dari puisi tentang cara meracik salad dengan benar.

more…

Thu 1st Mar, 2007, Daily Rants

Mencari Berita bak Manusia Ikan

Dulu ada hoax tentang Deni (?) si Manusia Ikan. Yang katanya dikutuk a la Malin Kundang, bukan jadi batu tapi jadi manusia ikan. Tapi ini bukan tentang dia.

Saya beberapa hari yang lalu menonton liputan MetroTV tentang kapal Levina I yang terbakar dan memakan banyak korban. Tidak hanya korban yang tewas (atau hilang) pada saat kapal itu terbakar, tapi juga korban yang tewas (atau hilang) ketika kapal itu sudah tidak terbakar dan sedang diinspeksi.

Yang aku bingung, hampir tidak ada (ada gitu beberapa, tapi banyakan sih nggak) satu pun dari tim inspeksi, anak buah kapal, atau reporter yang menggunakan pelampung ketika naik ke atas kapal yang udah hangus gosong dan oleng. Bahkan dari pertama sekali banget sudah kelihatan kalo yang namanya kerangka kapal itu udah nggak aman dan oleng terus. Kok mbok ya nggak ada satu orang pun juga yang kepikiran untuk pake pelampung? Kok malah semuanya mengambil resiko, atau merasa “ah nggak mungkin terjadi apa-apa pada saya”. Atau merasa keberuntungan sedang berpihak kepadanya?

Bukannya itu adalah standar keselamatan internasional untuk menggunakan pengaman kalau memasuki/menaiki/menjelajahi tempat-tempat yang nggak jelas tingkat keselamatannya? Masuk gedung atau rumah yang hangus terbakar, minimal pakai topi besi, supaya terlindung dari reruntuhan atap. Masuk ke areal konstruksi, minimal pakai topi besi, supaya terlindung dari jatuhnya plafon. Masuk ke dalam perut bumi, minimal pakai topi besi biar tidak tertimpa langit-langit gua, dan pakai pelampung supaya tidak terseret arus sungai bawah tanah.

Begitu pula menaiki kapal yang baru terbakar dan sudah terlihat hangus, gosong, dan tidak stabil lagi. Mungkin saja kapal itu tidak akan meledak (katanya), tapi ada kemungkinan kalau kapal itu tiba-tiba tenggelam atau oleng kan? Apalagi yang naik ke kapal itu banyak banget. Manusia, peralatan forensik, peralatan tim peliput. Jangan pernah lalai menggunakan pelampung atau alat keselamatan lainnya. Walaupun kedengarannya sepele, atau hal kecil, tapi pelampung itu banyak gunanya kok. Kadang-kadang, kan kita nggak boleh terlalu bergantung sama nasib, tapi juga pro-aktif dalam menjaga nyawa yang telah dikaruniai Tuhan ini.

Akhir kata, aku turut berduka cita atas apa yang terjadi. Tapi di samping itu, aku juga berpikir, mungkinkah ada yang terselamatkan dari maut yang sia-sia ini jika ada yang mau mengingatkan tentang hal yang kelihatannya sepele ini? Entahlah.