Tue 20th Feb, 2007, Non-sequitur

Imlek: Mengapa Pertikaian Ortu…

… tidak boleh dilakukan di depan anak-anak? Atau paling tidak, tidak boleh menjelek-jelekkan pasangan di depan anak? Ini cerita temanku (Teman yang sama dengan yang diceritakan di posting sebelum ini).

Jadi, setelah berlelah-lelah keliling dari satu rumah keluarga ke rumah keluarga lain, sang ibu bersama suami dan anaknya pulang ke rumah. Setibanya di rumah, anaknya langsung menuntut ibunya mengeluarkan semua angpao yang dititipkan: “Mama… Angpao kakak manaaa? Keluarin semuanya! Hitung!”

Walaupun lelah dan letih, sang ibu mengajak anaknya duduk di ruang tamu dan mengeluarkan semua angpao milik anaknya dari dalam tasnya.

“Ini semuanya, Ma?”

“Iya, semuanya. Ayo di’itung bareng-bareng.”

“Beneran nih, Ma? Udah semuanya?” Tanya anaknya dengan tak yakin.

“Bener lah… masa’ Mama bohong sih?” Sang ibu pun merasa harus membela diri.

“Bener ya, Ma, yaaaa.. Mama nggak nilep kan?”

“Loh! Kamu ngga boleh ngomong begitu! Mama nggak pernah nilep!”

“Bohong! Kata Papa, Mama sering nilep duit dari dompet Papa!”

Tue 20th Feb, 2007, Non-sequitur

Imlek: Anak Melek Uang

Temanku punya anak yang berumur (hampir) empat tahun. Kalau soal perduitan… dia jagoan sekali.

“Tante,”kata anak itu pada tantenya. “Tante belom ngasih aku angpao loh…”

“Tante kan belum menikah,” kata tantenya. Lagipula, sang tante sudah membelikan baju dan sepatu baru untuk keponakannya ini.

“Yah… tante…”

“Ya udah deh… ini, tante kasih.” Sang tante memasukkan uang seadanya ke dalam amplop merah.

Anak itu langsung menghampiri ibunya sambil membuka angpao. Angpao yang sudah sobek-sobek dan uang disodorkan pada ibunya. “Mama! Mama! Ini berapa?”

“Ini dua lembar uang seribuan… Jadi ada dua ribu.”

Sang anak merengut dan pergi mencari tantenya. “Tante! Tante! Masa’ tante cuma ngasih dua ribu sih? Tukang parkir aja kadang-kadang nggak mau! Tante mah payah!”

Sun 4th Feb, 2007, Non-sequitur

Warna Angin

“… Jadi, kesimpulannya… Angin itu tidak dapat dilihat dan disentuh,” kata teman sekantorku, merangkum pelajaran tentang sifat-sifat angin.

“Jadi, angin itu transparan ya, ma?” tanya anak perempuannya.

“Iya. Angin itu tidak berwarna.”

“Adek jangan mau dong dibohongi sama mama! Angin itu berwarna kok!” timbal kakak laki-lakinya.

“Aduh, Kakak jangan ngajarin yang nggak-nggak ke adikmu dong…” kata emaknya.

“Eh, beneran tauk! Angin itu warnanya merah!”

“Merah, kak?”

“Coba aja kalo ga percaya. Kalo masuk angin, terus dikerok, terus keluarnya kan… warna merah!” sahut sang kakak bangga.