Waria dari Masa ke Masa
Beberapa hari yang lalu, aku baca beberapa keluhan dari beberapa orang tua tentang semakin maraknya karakter waria (wanita yang diperankan pria) di televisi, media massa, bahkan panggung sandiwara dan lain-lain. Dia takut sekali nanti anaknya (dan anak-anak Indonesia) jadi “rusak”. Sebenernya sih, menurut sang orang tua di atas, waria itu bukannya buruk, tapi sayangnya banyak penggambaran tentang waria di teve-teve, di acara komedi, acara guyonan, sampai acara lainnya itu nggak disampaikan dengan “pendidikan” yang benar. Dan tau sendiri lah, seusaha apapun orang tua mendidik anaknya, tapi kalau media massa berkata lain, kadang-kadang anak-anak lebih percaya pada bintang pelem (dan karakter yang diperankan) daripada pada orang tuanya sendiri.
Yah, aku sih nggak gitu ngerti soal beginian, mungkin harus diserahkan ke ahli (atau pakar) jender kali ya…
Lucunya (atau mungkin nggak lucu), malamnya aku membaca cerita mitologi orang-orang Eropa Utara, dan kebetulan mbaca cerita tentang “waria”. Begini ceritanya…
Thor Mendapatkan Kembali Palunya yang Hilang
Pada suatu hari, karena satu dan lain hal, palu milik Dewa Thor jatuh ke tangan Thrym, si Raksasa. Thrym kemudian menguburkan palu keramat itu lima puluh kaki di bawah bebatuan Jotunheim. Thor tidak tinggal diam. Ia mengirimkan Loki untuk bernegosiasi dengan Thrym, tetapi Loki tidak dapat berbuat banyak. Si raksasa hanya mau mengembalikan senjata itu apabila Freya setuju menjadi istrinya. Loki pun pulang dan melaporkan permintaan raksasa itu.
Tentu saja Freya, sang dewi cinta yang cantik jelita itu, ketakutan. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia harus menyerahkan diri kepada raksasa itu. Akhirnya Loki menyarankan supaya Dewa Thorlah yang menyamar menjadi Freya, dengan mengenakan pakaian sang Dewi itu. (Padahal Dewa Thor kan kekar dan berotot dan guede banget ya? Atau mungkin dia pake kemben ajaib?) Kemudian, keduanya berangkat bersama-sama menunju Jotunheim.
Thrym si raksasa dengan senang hati menerima calon istrinya, yang datang padanya dengan muka tertutup cadar. Tapi kebahagiaannya dengan cepat berubah menjadi kekagetan yang luar biasa. Apalagi setelah menyaksikan bahwa calon istrinya ini ternyata tukang makan! Calon istrinya melahap habis delapan ikan salmon dan seekor kerbau dewasa, dan masakan lainnya. Selain itu, istrinya juga meminum tiga gentong bir gandum.
Tetapi, Loki yang cerdik menenangkannya dengan alasan bahwa Freya sudah delapan hari tidak makan. Sang Dewi kehilangan nafsu makan karena tak sabar bertemu dengan calon suaminya, sang penguasa Jotunheim yang tersohor itu.
Tak lama kemudian, Thrym yang penasaran mengintip ke balik cadar istrinya. Betapa kaget ia ketika melihat tatapan mata yang berapi-api. Lagi-lagi Loki mengulangi alasan yang sama, dan raksasa itu puas dengan penjelasan itu.
Freya gadungan kemudian minta agar palu Thor ditunjukkan kepadanya. Thrym yang bahagia itu (dan juga rada kurang pinter, kayaknya sih) segera memerintahkan agar Palu Thor dikeluarkan dan dipersembahkan kepada sang dewi. Saat palu itu diletakkan di pangkuannya, Thor langsung melepaskan penyamarannya, merenggut palunya, dan memukul Thrym si raksasa dan pengikut-pengikutnya hingga mati.
Diterjemahkan secara bebas dan lepas (walaupun agak akurat tapi mungkin tidak) dari:
Bulfinch, T (1993, 1997) The Golden Age of Myth & Legend (Ware: Wordsworth)
Yang aneh, di dunia hiburan (indonesia), pria lemah gemulai itu kadang laris lho, nah pantas aja ibu² takut anaknya gitu
sebel dah gw kalo lihat laki yang gerak-geriknya kayak cewe, bukan benci sama orangnya sih cuman jijik ajah lihat tingkahnya
(maaf rada kasar)
tapi laki-laki yang lemah gemulai biasanya lebih sensitif dan lembut hatinya, mudah memahami perempuan.
hihihi
Kesimpulannya : Ciptaan Tuhan semakin harus banyak yang kita mesti ketahui karena menghargai ciptaan dengan membaca, menela’ah buku-buku zaman dahulu. Waria sudah dari dulu dan bukan hanya sekarang aja kok…