Antara Sinetron dan Dongeng
Kemarin, di milis, muncul bahasan tentang judul-judul sinetron hidayah dan tentang cerita-cerita yang mengajarkan bahwa semua ang kita lakukan punya konsekuensi. Sebenarnya, waktu aku masih kecil dan jauh sebelum sinetron seperti ini bermunculan (atau jauh sebelum aku diperbolehkan nonton acara lain selain Unyil dan Sesame Street yang dialihsuarakan… eh.. dan Ria Jenaka, Album Minggu Ini, atau samting laik det), banyak juga cerita-cerita macam ini. Dari mulai cerita fabel Aesop, cerita wayang, sampai cerita perumpamaan si Kancil dan Kuda Nil, cerpen-cerpen di Majalah Bobo dan seterusnya. Bundaku yang tercinta juga sering bercerita yang model beginian (model cerita berpetuah, maksudnya) sebagai pengiring tidur.
Akhir ceritanya bisa ditebak. Misalnya, anak yang nakal jatuh ke dalam kubangan; berang-berang yang pemarah disengat ratusan lebah; anak yang baik hati dikaruniai kecantikan dan menikah dengan pangeran; kakak tiri yang jahat berubah menjadi nenek lampir dan seterusnya. Atau kalau di sinetron, orang jahatnya ketemu akhir yang mengenaskan.
Nah, tadi aku juga baru membaca cerita yang cocok banget dijadikan skenario cerita sinetron di Indonesia. Kalau inspirasi dari Taiwan atau dari Korea atau Jepang sudah habis, bisa juga membaca cerita rakyat dari Norwegia ini. Judul aslinya sih: “Lelaki Penjaga Rumah”. Tapi mungkin kalo disinetronkan, judulnya bisa jadi begini.
Azab Suami Cerewet yang Selalu Protes
Jaman dahulu kala, hiduplah seorang lelaki pemarah dan penggerutu yang selalu beranggapan bahwa istrinya pemalas dan tidak cukup keras bekerja di rumah. Suatu sore, ia pulang ke rumah setelah seharian membuat jerami. Seperti biasanya ia langsung menyumpah-nyumpah dan menggerutu seperti beruang yang sedang sakit kepala.
“Oh sayangku! Janganlah marah begitu,” kata istrinya. “Bagaimana kalau besok kita bertukar pekerjaan saja. besok saya akan pergi bekerja dengan pembuat jerami lainnya, dan kamu boleh tinggal dan melakukan pekerjaan rumah.”
Sang suami menyukai ide ini dan langsung setuju.
Keesokan harinya, setelah sang istri pergi memanggul sabitnya yang besar dan berangkat ke padang rumput untuk mengumpulkan jerami, sang suami mulai bekerja.
Pertama-tama, ia akan mengolah mentega untuk makan malam. Setelah beberapa waktu, ia merasa haus dan pergi untuk mengambil mead (sejenis minuman beralkohol yang terbuat dari madu dan air beragi) di ruang penyimpanan bawah tanah. Ketika ia sedang menuangkan minumannya ke dalam mangkuk minumnya, ia mendengar babi peliharaannya masuk ke dalam rumah. Segeralah ia berlari keluar, hendak menghalau babi sebelum hewan itu menumpahkan menteganya. Tapi, ia terlambat! Krimnya tumpah dan babi itu sedang melahap semuanya. Lelaki itu marah sekali. Ia menghampiri hewan itu, menangkapnya, dan menendangnya hingga babi malang itu tidak dapat bangkit kembali.
Setelah meluapkan kemarahannya, ia baru sadar kalau ia belum menutup keran gentong minumannya. Dan saat ia kembali ke ruang penyimpanan bawah tanahnya, ia hanya bisa diam melihat gentong yang sudah kering itu.
Akhirnya, haus dan lelah, ia pergi ke gudang susu lagi. Untungnya ia menemukan cukup krim untuk diolah. Kali ini ia berusaha untuk tidak berhenti mengaduk krim, karena ia ingin punya cukup mentega untuk makan malam nanti.
Tetapi, belum lama waktu berselang, ia teringat bahwa sapinya belum diberi makan atau minum, padahal hari sudah mulai siang. Untuk pergi ke padang rumput, rasanya terlalu jauh (padahal ia masih harus melakukan banyak hal). Jadi mungkin ia akan membawa sapi itu ke atas atap saja, karena atap rumahnya terbuat dari rumput yang baik dan banyak. Nah, kebetulan pula rumahnya didirikan di sisi bukit yang curam. Lelaki itu yakin dapat membentangkan sebuah balok kayu antara sisi bukit dan atap rumahnya agar sapinya dapat berpijak naik ke atas atapnya.
Ia juga tidak ingin meninggalkan pengolah menteganya karena ia takut menteganya akan tumpah lagi, kali ini oleh anaknya yang senang merangkak ke sana kemari. Maka, ia mengikatkan pengolah mentega itu ke punggungnya dan menuntun si sapi keluar dari kandangnya dan naik ke atas atap. Ia kemudian pergi ke sumur untuk menimba seember air untuk minum sapinya. Sialnya, ketika ia merunduk di sisi sumur untuk menarik embernya ke atas, krim mentega mengalir keluar dari pengolahnya dan mengalir turun membasahi tengkuk dan kepalanya.
Sekarang ia sudah tidak punya mentega, padahal sudah hampir waktu makan malam. Ia memutuskan untuk memasak bubur saja. Ia pun menggantungkan sebuah panci besar berisi air di atas tungku api. Ia melihat bayangan sapi dari bawah cerobong asap. Ia takut sapinya akan jatuh dan mematahkan kaki atau lehernya. Maka, naiklah ia ke atas atap untuk mengikat sapinya. Ia mengikatkan satu ujung tali ke leher si sapi, dan melemparkan ujung satunya lagi ke bawah melalui cerobong. Ia kemudian turun, mengambil tali itu, dan mengikatkannya pada kakinya sendiri.
Setelah airnya mendidih, ia mulai mengaduk buburnya. Tak lama kemudian, betul saja! Sapinya tergelincir dan terjatuh dari atap. Serta merta laki-laki itu tertarik ke atas, dan masuk ke dalam cerobong. Dia terperangkap di dalam cerobong, dengan tali yang menarik kakinya kuat-kuat. Sedangkan, sapinya tergantung-gantung di luar tembok rumah, tetapi tidak apa-apa.
Sementara itu, sang istri sudah berjam-jam menunggu panggilan makan malam. Akhirnya sang istri sudah tidak sabar lagi. Ia memutuskan untuk pulang.
Betapa kagetnya sang istri ketika ia mendapati sapi peliharaannya yang malang tergantung-gantung seperti itu. Tanpa berpikir panjang, ia memotong tali yang mengikat sapi itu. Setelah tali itu terpotong, sapinya pun terbebas dan sang suami terjatuh ke dalam panci panas berisi bubur itu.
Dari: Asbjornsen & Moe (1962, 1992) A Time for Trolls. Fairy Tales from Norway (Oslo: Aschehoug)
Hihihihi, dulu juga pernah baca cerita ini dan terkikik-kikik. Membayangkan kalo Papa tukeran kerjaan sama Mama, kayaknya nasibnya juga bakal kayak gitu. Ibu-ibu rumah tangga memang jagoan