Numerologi dan Pernikahan
Kata bundaku tercinta, dua atau tiga hari sebelum hari H pernikahan, keluarga dari pihak mempelai perempuan bertandang ke rumah pihak mempelai laki-laki. Tujuannya, selain untuk bersilaturrahim juga untuk membawa barang-barang si perempuan untuk di simpan di “kamar baru”. Mungkin simbolis bahwa keluarga sudah merelakan anak perempuannya “keluar” dari rumah dan masuk menjadi anggota keluarga suaminya. Ya, kalau kedua mempelai punya rumah sendiri, tentu saja ngumpulnya di rumah baru itu dengan keluarga mempelai laki-laki sebagai tuan rumahnya.
Nah, berhubung sepupuku akan menikah hari Sabtu ini, jadilah mereka menggelar acara sambut-menyambut tamu hari Rabu kemarin. Dan… persiapannya ribet. Dari persiapan kamar pengantin (nggak boleh jorok dan berantakan, tapi harus rapi dan layak dipertunjukkan ke orang-orang yang datang), dekorasi ruangan, hingga menu makanan.
Sebagai peraturan, kalau mengadakan perayaan apa pun, atau kalau hendak menjamu tamu (entah itu di rumah sendiri atau di rumah makan, atau mungkin acara kebun), ada hal-hal yang mesti diperhatikan, dan salah satu yang paling penting adalah jumlah hidangan (tidak termasuk nasi dan minuman). Dan hal kayak gini banyak yang memperhatikan. Kemarin saja, banyak anggota keluarga yang tergolong dituakan, sebelum makan hampir dipastikan akan menghitung jumlah hidangan.
Untuk perayaan, jumlah hidangan harus delapan (atau kalau benar-benar ingin mewah: sepuluh atau lebih, asal genap,tapi itu juga kayaknya masih ada peraturannya). Delapan itu angka keberuntungan buat tradisi Cina (makanya ada iklan sebuah kartu kredit yang menggambarkan sebuah lelang pelat mobil di Hong Kong, dan nomor di pelat mobil itu adalah “8″).
Kemarin aku diceramahin soal itu, “Catat! Dan ingat!” katanya. Dan aku duduk mendengarkan peraturan hitung-hitungan menu makanan yang belum pernah aku tau sebelumnya (ya, ya. Saya memang nggak tradisional, dan kadang-kadang jadi malu sendiri.)
Hidangan di perjamuan jangan berjumlah enam. Menurut sejarah, dulu… dulu banget… jamannya kaisar-kaisar Cina, jamannya golok pembunuh naga dan jamannya pendekar kendor (Condor Heroes), enam adalah jumlah hidangan makan terakhir (last meal) yang diberikan bagi narapidana hukuman mati, semacem last burger dan last cigarettenya napi bule yang sering nongol di pilem-pilem.
Hidangan di perjamuan juga sebaiknya jangan berjumlah lima, karena itulah jumlah hidangan yang biasanya disiapkan untuk nyekar (atau “sembahyang roh orang yang sudah mati,” kata salah satu tetua). Menurut tradisi yang masih diikuti oleh sebagian anggota keluargaku, untuk kegiatan mendoakan roh yang sudah meninggal itu selain dupa dan pernik-pernik begitu, juga harus menyiapkan hidangan berupa tiga daging, satu jenis sayur, dan buah-buahan.
Hidangan di perjamuan jangan berjumlah empat, karena “empat” melambangkan kesialan. Kata “empat” dalam bahasa Cina memiliki lafal yang sama dengan kata “mati” dalam bahasa itu. Hidangan perjamuan juga jangan tiga atau kurang, karena terlalu sederhana dan mungkin tidak baik bagi harga diri sang tuan rumah.
Aku baru sadar, mungkin karena hal yang maha-ribet inilah, menurut tradisi, sebaiknya saudara sekandung tidak menikah di tahun yang sama (ini aku baru tau juga!). Selain karena dikira akan membawa kemalangan karena dua kali membuang keberuntungan (bagi yang anaknya keluar dari rumah), ya itu tadi. Persiapan untuk menikahkan sepasang aja udah heboh banget… Mulai dari sejak acara lamar-melamar, hingga acara antar-antaran (seminggu sebelum menikah), hingga acara seperti di atas ini, sampai acara hias-menghias kamar pengantin… sampai akhirnya menikah… fiuh!
Kurus seketika! Tapi seru lah. Walaupun sepupu yang menikah… tapi hebohnya rame!
Selamat
Bikin bukunya, Hen
Hendro kapan?
8 kedengerannya jadi lapang kali ya hen?
wah hendro mo nikah yah?
selamat selamat selamat
*ngumpet di balik pohon toge
saya hanya terbawa arus dari milis..
ta kirain…
ternyata..
hehehe..
jgn lupa ngundang2 ya..
*kabur makan coto*