Mon 29th Jan, 2007, Books, Story

Waria dari Masa ke Masa

Beberapa hari yang lalu, aku baca beberapa keluhan dari beberapa orang tua tentang semakin maraknya karakter waria (wanita yang diperankan pria) di televisi, media massa, bahkan panggung sandiwara dan lain-lain. Dia takut sekali nanti anaknya (dan anak-anak Indonesia) jadi “rusak”. Sebenernya sih, menurut sang orang tua di atas, waria itu bukannya buruk, tapi sayangnya banyak penggambaran tentang waria di teve-teve, di acara komedi, acara guyonan, sampai acara lainnya itu nggak disampaikan dengan “pendidikan” yang benar. Dan tau sendiri lah, seusaha apapun orang tua mendidik anaknya, tapi kalau media massa berkata lain, kadang-kadang anak-anak lebih percaya pada bintang pelem (dan karakter yang diperankan) daripada pada orang tuanya sendiri.

Yah, aku sih nggak gitu ngerti soal beginian, mungkin harus diserahkan ke ahli (atau pakar) jender kali ya…

Lucunya (atau mungkin nggak lucu), malamnya aku membaca cerita mitologi orang-orang Eropa Utara, dan kebetulan mbaca cerita tentang “waria”. Begini ceritanya…

more…

Fri 26th Jan, 2007, Books, Story

Antara Sinetron dan Dongeng

Kemarin, di milis, muncul bahasan tentang judul-judul sinetron hidayah dan tentang cerita-cerita yang mengajarkan bahwa semua ang kita lakukan punya konsekuensi. Sebenarnya, waktu aku masih kecil dan jauh sebelum sinetron seperti ini bermunculan (atau jauh sebelum aku diperbolehkan nonton acara lain selain Unyil dan Sesame Street yang dialihsuarakan… eh.. dan Ria Jenaka, Album Minggu Ini, atau samting laik det), banyak juga cerita-cerita macam ini. Dari mulai cerita fabel Aesop, cerita wayang, sampai cerita perumpamaan si Kancil dan Kuda Nil, cerpen-cerpen di Majalah Bobo dan seterusnya. Bundaku yang tercinta juga sering bercerita yang model beginian (model cerita berpetuah, maksudnya) sebagai pengiring tidur.

Akhir ceritanya bisa ditebak. Misalnya, anak yang nakal jatuh ke dalam kubangan; berang-berang yang pemarah disengat ratusan lebah; anak yang baik hati dikaruniai kecantikan dan menikah dengan pangeran; kakak tiri yang jahat berubah menjadi nenek lampir dan seterusnya. Atau kalau di sinetron, orang jahatnya ketemu akhir yang mengenaskan.

Nah, tadi aku juga baru membaca cerita yang cocok banget dijadikan skenario cerita sinetron di Indonesia. Kalau inspirasi dari Taiwan atau dari Korea atau Jepang sudah habis, bisa juga membaca cerita rakyat dari Norwegia ini. Judul aslinya sih: “Lelaki Penjaga Rumah”. Tapi mungkin kalo disinetronkan, judulnya bisa jadi begini.

more…

Thu 25th Jan, 2007, Case, Datelines

Numerologi dan Pernikahan

Kata bundaku tercinta, dua atau tiga hari sebelum hari H pernikahan, keluarga dari pihak mempelai perempuan bertandang ke rumah pihak mempelai laki-laki. Tujuannya, selain untuk bersilaturrahim juga untuk membawa barang-barang si perempuan untuk di simpan di “kamar baru”. Mungkin simbolis bahwa keluarga sudah merelakan anak perempuannya “keluar” dari rumah dan masuk menjadi anggota keluarga suaminya. Ya, kalau kedua mempelai punya rumah sendiri, tentu saja ngumpulnya di rumah baru itu dengan keluarga mempelai laki-laki sebagai tuan rumahnya.

Nah, berhubung sepupuku akan menikah hari Sabtu ini, jadilah mereka menggelar acara sambut-menyambut tamu hari Rabu kemarin. Dan… persiapannya ribet. Dari persiapan kamar pengantin (nggak boleh jorok dan berantakan, tapi harus rapi dan layak dipertunjukkan ke orang-orang yang datang), dekorasi ruangan, hingga menu makanan.

Sebagai peraturan, kalau mengadakan perayaan apa pun, atau kalau hendak menjamu tamu (entah itu di rumah sendiri atau di rumah makan, atau mungkin acara kebun), ada hal-hal yang mesti diperhatikan, dan salah satu yang paling penting adalah jumlah hidangan (tidak termasuk nasi dan minuman). Dan hal kayak gini banyak yang memperhatikan. Kemarin saja, banyak anggota keluarga yang tergolong dituakan, sebelum makan hampir dipastikan akan menghitung jumlah hidangan.

more…

Wed 10th Jan, 2007, Daily Rants

Jorok tapi Aman

Kapan hari gitu, aku ngobrol sama temenku yang anaknya baru mulai kuliah. Eh… nggak baru mulai juga deh, mungkin sudah tahun kedua gitu.

“Kamarnya berantakan banget deh,” katanya yang baru balik dari melakukan inspeksi mendadak ke asrama anaknya. “Kamar temen-temennya juga keliatannya sama aja. Nggak lelaki, nggak perempuan. Pokoknya, lantainya aja sampe ga keliatan. Dindingnya banyak poster rombeng, piring-piring bekas makanan yang kayaknya cocok buat eksperimen lab biologi…” Dia menghela nafas, “Kayaknya waktu saya kuliah aja nggak begitu-begitu amat deh”.

Dan aku inget kamar asramaku. Mungkin nggak bisa dibilang jorok, karena emang nggak banyak barang; dan aku emang suka bersih-bersih sebagai cara menunda belajar. Selain itu, ada teman kost yang memang maniak dalam hal bersih-bersih.

“Mungkin nggak ada waktu ngebersihin aja kali? Sibuk? Kuliah, kerja, sosialisasi. Ga ada waktu buat beresin kamar,” aku bilang.

“Ah, itu mah jorok biar nggak dirampok kayaknya. Kayaknya nggak ada rampok yang bernyali cukup gede untuk masuk ke kamar kayak gitu.”

Lain kali, kalau keponakanku sudah cukup usia untuk masuk kuliah, mungkin akan kubekali paku yang sudah karatan, buat ditebar di bawah tumpukan baju kotor.