Fri 10th Nov, 2006, Education, Case, Health

[Basbang Tak Mengapa] Dokter Google

Ngubek-ngubek internet untuk nyari informasi itu bukan hal yang baru. Dan tentunya, Internet yang nggak jelas bentuknya, dan nggak berat (cuma seberat perangkat yang digunakan… kalo desktop ya berat, kalo cuma henpon mah ringan kan ya). Bandingin ajah sama ngubek-ngubek perpustakaan untuk mencari informasi. Segitu banyaknya buku, segitu tinggi rak-raknya (ya, ya, saya memang pendek), dan segitu harusnya menjaga ketenangan (ga bisa pasang musik kenceng-kenceng, nggak boleh bawa makanan dan minuman, gak boleh ini, gak boleh itu). Belom lagi hukuman yang dijatuhkan oleh ibu-ibu perpus yang galak dan perawan tua… buku ga boleh lecek, ga boleh robek, ga boleh lecet, ga boleh kesobek, ga boleh kecabik. Belom lagi ngadepin buku-buku yang lebih tua daripada yang paling tua… yang nyentuhnya aja mesti pake sarung tangan (biar minyak dari kulit kita nggak ngerusak buku), dan harus ekstra hati-hati (biar nggak rusak, lah wong udah ratusan tahun bertahan, masa’ gara-gara si sayah ga hati-hati terus rusak. Ga ada gantinya tuh. Pake mesin waktu juga kayaknya nggak mungkin).

Tapi sekarang… tidak usah susah-susah lagi! Tinggal duduk di depan komputer (atau selonjoran, atau tengkurep, atau dengan gaya apa saja), buka salah satu search engine, ketik hal yang ingin diketahui di kolom yang tersedia, lalu… tinggal tunggu hasilnya. Dengan waktu yang relatif lebih singkat, aku udah dapat banyak link (tautan) ke artikel berita, catatan blog, atau pun laman web yang mungkin sesuai. Tapi tunggu dulu… seberapa akurat informasi yang didapat dari search engine ini? Kita-kita sih udah tau seberapa ampuhnya Om Gugel ini. Tapi sekarang… sudah ada bukti empiris, yang sudah terbukti secara formal (lewat penelitian segala loh) tentang betapa ampuhnya internet!

“Enam puluh persen,” kata para dokter yang menggunakan Google untuk mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan sukar seputar keluhan pasien. Dan keluhan-keluhan ini bukan keluhan-keluhan gampang. Kalo gampang mah, dokter junior juga tau.


researchers found that almost 6-in-10 difficult cases can be solved by using Google as a diagnostic aid. (How Powerful is Google?, cfn13.com)

Menurut sebuah jurnal medis dan kesehatan, Google berhasil menjawab 16 dari 25 kasus penyakit yang tergolong langka dan maha-rumit, dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan dokter yang hanya mengandalkan buku, perpustakaan, dan cara-cara tradisional (menelepon, mengirimkan fax, atau konsultasi via e-mail dengan kolega).

Mencari Pendapat Kedua (Second Opinion)
Jadi pasien itu nggak gampang. Udah tertimpa penyakit, masih harus mencari dokter yang “cocok”. Mungkin untuk penyakit-penyakit yang sudah biasa (common illnesses), seperti batuk, pilek, atau penyakit musiman, semua dokter yang baik bisa mengatasinya. Tapi untuk penyakit yang agak-agak ajaib, yang nggak biasa, pasien sering kali menemukan bahwa dia nggak bisa hanya bergantung pada perkataan atau diagnosa satu dokter saja. Bahkan sesama dokter spesialis saja bisa berbeda pendapat mengenai cara yang tepat untuk menangani suatu kejadian (symptom). Misalnya, dokter A akan menyarankan operasi (invasive procedure), sedangkan dokter B hanya menyarankan untuk minum obat, melakukan terapi, atau menjalani perawatan homeopati.

Makanya, nggak jarang seorang pasien dianjurkan untuk mencari second opinion, atau pendapat pihak ketiga — biasanya dari dokter spesialis lain, atau dari rumah sakit lain (yang selain rumah sakit rujukan). Untuk mereka yang lebih mampu, kegiatan mencari pendapat ini bisa menjadi sebuah perjalanan yang jauh ke negeri orang. Oh iya, ada juga yang mencari second opinion dari saudara-jauhku-yang-sedang-belajar-jadi-tukang-dokter, mailing list, dukun, praktisi kesehatan tradisional, ahli pengobatan alternatif, dan lain sebagainya.

Tidak punya sanak keluarga yang juga dokter? Nggak punya duit lebih untuk membayar biaya konsultasi dokter? Tidak punya waktu untuk pergi ke rumah sakit yang letaknya jauh dari rumah? Tidak tau di mana perpustakaan terdekat? Rumah Anda tidak dilewati oleh perpustakaan keliling? Tidak percaya pada dukun yang tampangnya menyeramkan itu? Alergi pada jamu-jamuan? Tidak tahu mau berpaling ke mana? Punya internet? Sekarang, Anda bisa mendapatkan second opinion dari Google. Gratis (atau paling nggak seharga warnet) dan nggak basa-basi. Keakuratan solusi yang diberikan oleh hasil pencarian Google sudah diuji dan dibuktikan oleh sekelompok dokter di Australia.

A team of Australian doctors Googled the symptoms of 26 cases for a study in the New England Journal of Medicine.

In 15 cases, the web search came up with the right diagnosis, the paper published on the British Medical Journal website reports. ( Google ‘aids doctors’ diagnoses’, BBCnews.com)

Mencari itu Gampang-Gampang Susah
Asal tau apa yang hendak dicari, kegiatan mencari pun akan gampang. Tapi kalo nggak tau… ya susah. Begitu juga dengan Google. Nggak bisa dengan mudahnya nyodorin pasien ke depan komputer dan bilang “Dok Gugel, ini sodara saya. Dia sakit. Kira-kira sakit apa ya?”

Kalau mencari second opinion dari dokter lain, dari teman, dari milis, dan lain sebagainya, kita masih punya kebebasan untuk cerita panjang lebar dan sedetil mungkin. Tapi kalo sama Google, kayaknya kita harus bisa memasukkan kata-kata kunci yang tepat dan singkat ke dalam kolom pencarian.

“…using Google to search for a diagnosis is likely to be more effective with unique symptoms and signs that can be easily used as search terms,'’ the researchers wrote. “Searches are less likely to be successful in complex diseases with non-specific symptoms or common diseases with rare presentations.'’ (Google a Diagnosis, Bloomberg.com)

Nah, nyari kata-kata kunci inilah yang rada susah. Salah satu kesulitannya adalah untuk mencari tau kira-kira kondisi apa sajakah yang penting untuk ditanyakan. Kesulitan kedua adalah untuk mencari tau istilah medis yang tepat untuk kondisi tersebut.

Ditipu Dokter Gadungan
Pernah nggak ditipu sama pedagang obat keliling? Atau ditipu oleh dokter yang ternyata gelarnya boleh ngembat? Mungkin kalo dalam kehidupan sehari-hari insting kita udah terasah untuk waspada terhadap orang-orang yang terlihat aneh, nggak meyakinkan, atau ya begitulah.

Tapi kalo di Internet? Jeleknya ya itu, Google nggak akan pernah bilang: informasi dari situs ini boleh didengar, informasi situs itu sama sekali menjerumuskan. Google hanya bisa menampilkan hasil pencarian berdasarkan algoritma. Walaupun secara teori, Google seharusnya memunculkan hasil yang paling kredibel di urutan-urutan atas… kadang-kadang ada aja website gadungan yang bisa menyelinap di antara website yang aseli dan paten.

Bahkan nama besar Wikipedia aja nggak bisa menjamin bahwa artikel-artikelnya seratus persen benar. Sifat Wikipedia yang terbuka bagi siapa pun untuk menjadi editor dan hanya mengandalkan goodwill (itikad baik) kontributornya, membuatnya rentan bagi orang-orang jahil (atau terlalu naif) untuk memberikan info yang “salah”.

Surat kabar The Times nyoba ngasih tuntunan buat kita-kita yang bukan dokter (dan mereka-mereka yang udah jadi dokter) untuk bisa nyari informasi yang cocok dari belantara internet. Informasi selengkapnya bisa dilihat di: bagian 1 dan bagian 2.

  1. Alamat Web dan Nama Organisasi. Pada daftar hasil pencarian Google, pilih situs yang namanya udah nggak asing lagi, atau sering didengar (atau dibaca) di media massa. Misalnya: Ikatan Dokter Indonesia (IDI); lembaga penelitian universitas semisal Mayo Clinic, atau John Hopkins; atau organisasi internasional seperti WHO, UNICEF; lembaga pemberitaan yang bonafide, misalnya BBC; dll.
  2. Utamakan Situs Gateway. Dahulukan juga situs layanan masyarakat (bukan komersil atau sepihak) seperti Medline Plus, National Electronic Library for Health, National Health Service, Intute Health & Life Sciences Research Database.
  3. Perhatikan Lembaga Swadaya Masyarakat untuk Penyakit Tersebut. Kadang-kadang, ada beberapa LSM yang menjadi lembaga pemerhati masing-masing “penyakit”. Misalnya: Yayasan Jantung Indonesia, Cancer Research UK, dll.
  4. Waspadalah terhadap situs komersil. Misalnya situs perusahaan (tukang jualan obat), situs MLM, atau situs kesehatan yang disponsori oleh perusahaan. Hati-hati juga dengan situs yang dibikin oleh orang frustrasi misalnya DoctorsRuinedMyLife.com, atau situs-situs yang bilang mereka bisa menyembuhkan tanpa perlu bantuan dokter (dan tanpa perlu keluar kamar). 68% Hoax itu mah! Kadang-kadang situs ini menarik, tapi ya gitu deh. Pilih yang .edu dan .org sebelum yang .com
  5. Cari tau tentang penulis artikel atau diagnosa itu. Jangan cuma nge-search penyakitnya doang. Jangan ragu-ragu untuk nge-search latar belakang si penulis artikelnya. Siapa dia? Jangan-jangan dia dokter gadungan, atau mungkin dia dokter yang sudah dicabut izin prakteknya. Tinggal masukin nama si penulis ke kolom pencarian, dan tunggu hasilnya.
  6. Latihan Mencari. Nggak cuma untuk informasi medis, tapi untuk informasi apa pun, mulai dari informasi filem, sampe informasi pekerjaan rumah si Adik. Hal ini bisa membantu si pencari untuk mengetahui selah-selah menggunakan search engine dengan baik dan benar juga efektif.

Blog sebagai Sumber Informasi
Ngebahas soal internet, pasti gak akan jauh dari Blog. Boleh nggak kita ngerujuk ke Blog? Boleh ga sih?
Ya boleh lah. Asal kita tau aja kalo Blog itu bener-bener pendapat pribadi, dan mungkin aja si penulis bukan dokter. Yang tertulis di blog biasanya adalah pendapat pribadi, atau bahkan pendapat yang ditulis dengan menggunakan Aan.

Banyak orang yang bilang informasi yang didapat dari Blog lebih bersifat personal, misalnya mengetahui gimana caranya orang lain menghadapi musibah dalam keluarganya. Apa saja masalah yang dihadapi ketika merawat seseorang yang menderita kanker tingkat lanjut. Dari Blog, informasi yang didapat bersifat subjektif dan lebih personal. Memahami cara mengatur luapan emosi (coping strategies) dan menemukan orang yang senasib dengan kita di luar sana bisa menjadi hal yang sama pentingnya dengan informasi medis yang kita dapat.

You are not alone lah, kalo kata Michael Jackson.

Dasar Pasien Sok Tahu
Nggak cuma dokter aja yang bisa menggunakan Google. Semua orang, termasuk calon dokter, pasien dan kerabat pasien bisa menggunakan Google, atau search engine lain seperti Yahoo, Clusty, AskJeeves, dll untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak tentang suatu kondisi medis atau penyakit.

Kadangkala dokter-dokter akan merasa sedih, kesal, marah, terhina, apabila pasien masuk ke ruangan prakteknya sambil membawa satu folder penuh printout dari Google. “Dasar pasien sok tahu,” kata dokter. Mungkin saja masih ada dokter yang merasa pengalamannya diremehkan oleh pasien yang merasa lebih tahu karena baru saja bercengkrama dengan Google.

Tapi dokter-dokter seharusnya tidak khawatir. Kemungkinan besar pasien-pasien ini membawa informasi yang didapat dari website terpercaya, yang dikelola oleh rekan seprofesi. Atau mungkin si pasien membawa salinan dari artikel jurnal yang mungkin ditulis oleh si dokter sendiri, atau oleh guru yang pernah mengajar si dokter. Atau mungkin si pasien malah membawa artikel gress banget yang nggak sempet dibaca si dokter karena si dokter ini lagi sibuk banget. Ya, namanya juga perkembangan teknologi dan pengetahuan. Tiap hari mah ada aja informasi baru, terobosan baru, penemuan baru, bahkan virus baru yang kadang-kadang si dokter sendiri juga nggak sadar udah ada di luar sana. Bagus malah ada yang mengingatkan.

And GPs who grumble when their patients turn up with printouts from the internet claiming that they have some obscure disease will have to be more circumspect. Having access to Google, the patients might just be right.

The doctors started their research after examining a 16-year-old water polo player with a blockage in a vein, and explaining that the cause was uncertain. His father immediately interrupted to say: “But of course he has Paget-von Schrötter syndrome.” He had successfully Googled the symptoms and proceeded to give the doctors a mini-tutorial on the cause of the condition — huge neck muscles compressing the axillary vein — and the correct treatment. (Baffled GPs urged to try diagnosis by Google, Times Online)

Untuk pasien juga, dengan cara belajar dari internet (dari sumber yang bener), semoga aja dia jadi lebih ngerti kondisi sendiri, lebih ngerti kebutuhan yang perlu dipenuhi supaya sehat kembali (atau tetap sehat). Mungkin aja ini bisa menghentikan kebiasaan jelek pasien: “sok tau” dan “main dokter sendiri”. Dengan ngerti betapa berbelitnya masalahnya, mungkin dia akan mengerti bahwa penyakit nggak bisa disembuhkan secara digital, tanpa bertemu muka dengan dokter, dan mungkin akan sadar “oh ternyata ketrampilan seorang dokter itu penting banget”.

The British Medical Association opposes online consultations, although it concedes that they are legal. Paul Cundy, the BMA spokesman on computers and general practice, calls them “very dangerous”. He says that online doctors are “operating blind” and that the phrase “online consultation” is a nonsense because the GP “cannot see, speak to or enter into proper dialogue with a patient”. (Wellbeing on the web, Times Online)

Dengan begini, interaksi antara dokter dan pasien mungkin akan menjadi lebih berarti, lebih bermutu, dan lebih bermanfaat untuk masyarakat dalam jangka panjang. Semoga nggak ada lagi dokter yang “ketinggalan jaman”, dan nggak ada lagi pasien yang “berusaha menyembuhkan diri sendiri”.

Bertukar pikiran dan membuka wawasan itu penting untuk bisa mewujudkan masyarakat yang sehat. Bahwa dokter menghormati usaha pasien untuk mencari tau lebih banyak akan kondisi dirinya (toh itu adalah hak pasien), dan bahwa pasien juga menghormati sang dokter dan pengalamannya. Mungkin di kemudian hari, si pasien dan si dokter juga mau berbagi pengalaman (dan nggak cuma rajin nge-forward hoax) dengan orang lain yang membutuhkan, entah itu lewat ngobrol, lewat milis, lewat blog, atau apa aja. Karena pengalaman itu bernilai lebih dari sekadar teori ilmu kedokteran atau hoax.

4 Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by Gabrielle, November 11, 2006 @ 1:54 am

    Kalo someday gue punya anak & ternyata pada jamannya nanti dia masih bercita2 jadi dokter, spt anak2 sekarang, mending dia gue suruh “main” internet dari kecil ya :)

    Gimana kabar, bu?

  2. Comment by jesie, November 11, 2006 @ 12:53 pm

    *ngosh2an*

    Hen, puanjang banget :D , gw kira2 ada kata2 ajaib enam puiluh delapan persen, taunya kurang delapan toh :p

  3. Comment by alex, November 21, 2006 @ 4:56 am

    halahh… si henny, kalo lagi napsu nge-blog daku bisa kalah panjang ketikannya :) )

    tapi bagus… bagus… mudah2an anaknya jadi dokter :P

    *komennya nyambung gag yah?*

  4. Comment by dian ina, November 23, 2006 @ 7:02 am

    *kelelahan*

    seperti abis membaca jurnal kedokteran itu sendiri. slamat siang, bu dokter!

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>