Mon 16th Oct, 2006, Daily Rants, Case

Ritual Berbelanja dan Hari Raya

Hari Senin, jam pulang kantor sonoan dikit. Saya diajak belanja ke Carrefour untuk melengkapi bingkisan Lebaran yang nanti akan dibuat (disusun?) oleh Nenek. Nyokap udah berbekal daftar belanjaan, yang isinya sudah bisa ditebak: biskuit, wafer, sirup, dan hal-hal semacam itu. Jalan Gajah Mada (Harmoni) terlihat agak lengang, nggak banyak kendaraan. Halte Busway Sentral Harmoni menjadi sumber cahaya, dengan bayang-bayang pohon beringin tua yang gundul tetapi tetap pe-de dengan balutan kain kotak-kotak hitam-putih.

Masuk ke parkiran Duta Merlin… nggak banyak kendaraan yang lalu lalang, dan parkiran juga masih luas. Kok nggak keliatan ramenya ya? Tapi seneng juga kalo nggak rame mah. Tapi, baru aja melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung belanja… whuzz whuzz whuzzz kereta dorong sudah berseliweran di mana-mana. Yang didorong oleh anak-anak, remaja yang lagi pacaran, pasutri baru, pasutri kelas kakap, dan seterusnya. Apakah saya harus mati karena kegiles kereta belanja?

Navigasi kereta belanja itu susahnya minta ampun. Ada tumpukan kaleng biskuit yang hampir ngalahin menara kembar Petronas di Malaysia, dan yang dari jauh aja udah keliatan goyang-goyang seakan mau runtuh… ada sekelompok anak kecil yang malah ngariung di tengah jalan… ada juga cewek dan cowok yang nggak tau kalo pasar swalayan di H-7 sebelom lebaran adalah bukan tempat pacaran yang bagus.

“Mah! Mamah! Dulu sebelom ada supermarket, mamah belanja di mana?” Seorang anak kecil bertanya pada ibunya, sambil menunggu dilayani oleh kasir.

“Jaman dulu sih udah ada toserba. Paling ke toserba, terus ke pasar, ke pusat grosir.” Si Ibu itu menjawab sambil memindahkan barang belanjaan dari kereta ke atas meja kasir.

“Oh gitu ya, mah? Kok nggak seru ya, ma?”

“Nah, kalo nenek kamu tuh… dulu malah nggak ada toserba gede. Semuanya dibeli di pasar becek. Kalo ada toko, paling toko kelontong, atau togaya kecil-kecilan.”

“Togaya?” Anak itu bertanya sambil mengunyah wafer yang belum dibayar. Si ibu menyodorkan bungkusan wafer yang sudah dibuka kepada kasir.

“Iya, toko sagala aya… Ya, warung toko kelontong, kayak gitu deh. Mamah juga bingung ngejelasinnya. Dulu jamannya nenek, barang-barang yang dijual juga nggak banyak macam, jadi nggak perlu toko segede gini. Susu paling adanya KLIM, susu glukosa… nggak ada susu macem-macem, nggak ada tuh susu coklat, stroberi, pisang. Dulu semuanya minum satu jenis susu, nggak kayak kamu sekarang — ada susu untuk kamu, susu untuk adek, susu untuk mamah, susu untuk nenek.”

“Wah… menderita nggak, ma?” Si anak berkata sambil menyodorkan sisa wafer kepada ibunya.

“Ya nggak lah. Ya emang nggak ada, mau diapain lagi. Dulu nggak ada tissue gulung, malah. Pake kertas, atau cuma pake air doang.” Ibunya membuka botol air mineral dan menyuruh anaknya untuk minum. “Dulu nggak ada botol begini, nggak ada air di botol, semuanya air rebus. Terus…” Ibu itu menghentikan percakapannya untuk membayar belanjaannya.

“Wah, bu… Maaf ibu harus menunggu. Karena mesin kartu di sini rusak, saya harus ke counter lain dulu ya, bu. Mohon tunggu sebentar.”

Si Ibu itu hanya mengangguk dan tersenyum, sambil melanjutkan ceritanya. “Dulu, Coca-cola atau yang seperti itu, nggak ada yang di botol plastik. Semuanya botol beling…”

“Kayak teh botol ya, ma?”

“Iya, di botol kayak teh botol begitu. Jadi belinya harus banyak. Nanti kalau sudah habis diminum, botol kosongnya ditukar dengan botol yang ada isinya.”

“Gitu ya, ma?”

“Iya gitu.”

Si anak itu lalu terdiam, seperti sedang mencoba mengerti apa yang diceritakan oleh ibunya. Tak lama kemudian… “Maaaaa… ngantuuuk… Pulang yuk maaa.. Capek niiih.”

“Tunggu ya… sebentar. Nunggu kakak kasirnya balik dulu.”

“Pulang aja deh, maaaa… ngantuk maaaaa.. mamaaaa…”

Kakak Kasir itu kembali ketika anak itu sudah menangis meraung-raung dan si ibu sudah kewalahan untuk menghibur anaknya.

8 Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by chiank, October 17, 2006 @ 2:24 am

    anak kecilnya hendro ? :D

  2. Comment by adis, October 17, 2006 @ 7:50 am

    ndro, ini lebaran jaman taun kapan? *disorientasi waktu*

  3. Comment by Hedi, October 17, 2006 @ 8:08 am

    Jadi, enak mana nih, dulu atau sekarang?

  4. Comment by andriansah, October 18, 2006 @ 2:08 am

    jadi agar loe diem dikasih apa? waktu di kasir itu

  5. Comment by endhoot, October 18, 2006 @ 7:01 am

    *nunggu dapet kiriman parsel Lebaran dari Hendro* hihihihihiihh…..

  6. Comment by isdah junker ngalam, October 30, 2006 @ 2:15 pm

    “Ya nggak lah. Ya emang nggak ada, mau diapain lagi. Dulu nggak ada tissue gulung, malah. Pake kertas, atau cuma pake air doang.” Ibunya membuka botol air mineral dan menyuruh anaknya untuk minum. “Dulu nggak ada botol begini, nggak ada air di botol, semuanya air rebus. Terus…” Ibu itu menghentikan percakapannya untuk membayar belanjaannya.

    ada yang aneh di kalimat itu… apa hubungannya botol air mineral ama tissue?

  7. Comment by Mira, November 2, 2006 @ 4:41 pm

    Kata emakku, dulu tidak ada sikat gigi, nyikat gigi pake pucuk alang-alang.

  8. Comment by peruginismo, November 7, 2006 @ 12:22 pm

    Elo ke swalayan bawa tape recorder yah?

    eheh

    ciao
    unmacchiato.blogspot.com

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>