Mon 16th Oct, 2006, Daily Rants, Case

Ritual Berbelanja dan Hari Raya

Hari Senin, jam pulang kantor sonoan dikit. Saya diajak belanja ke Carrefour untuk melengkapi bingkisan Lebaran yang nanti akan dibuat (disusun?) oleh Nenek. Nyokap udah berbekal daftar belanjaan, yang isinya sudah bisa ditebak: biskuit, wafer, sirup, dan hal-hal semacam itu. Jalan Gajah Mada (Harmoni) terlihat agak lengang, nggak banyak kendaraan. Halte Busway Sentral Harmoni menjadi sumber cahaya, dengan bayang-bayang pohon beringin tua yang gundul tetapi tetap pe-de dengan balutan kain kotak-kotak hitam-putih.

Masuk ke parkiran Duta Merlin… nggak banyak kendaraan yang lalu lalang, dan parkiran juga masih luas. Kok nggak keliatan ramenya ya? Tapi seneng juga kalo nggak rame mah. Tapi, baru aja melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung belanja… whuzz whuzz whuzzz kereta dorong sudah berseliweran di mana-mana. Yang didorong oleh anak-anak, remaja yang lagi pacaran, pasutri baru, pasutri kelas kakap, dan seterusnya. Apakah saya harus mati karena kegiles kereta belanja?

Navigasi kereta belanja itu susahnya minta ampun. Ada tumpukan kaleng biskuit yang hampir ngalahin menara kembar Petronas di Malaysia, dan yang dari jauh aja udah keliatan goyang-goyang seakan mau runtuh… ada sekelompok anak kecil yang malah ngariung di tengah jalan… ada juga cewek dan cowok yang nggak tau kalo pasar swalayan di H-7 sebelom lebaran adalah bukan tempat pacaran yang bagus.

more…

Fri 13th Oct, 2006, Daily Rants

(Katanya) Untung Pakai Esia

Jadi gini, ceritanya saya sejak bulan Juni (atau Juli ya?) punya hengpon kedua (weh, terdengar keren pisan yeuh), yang mana hengponnya diisi (di-inject, menurut Si Mbak Manis Penjaga Toko) dengan nomor telepon Esia.

Kata website Esia, pakai Esia pasti untung. Pengalaman saya selama beberapa bulan pakai Esia sih memang begitu. Pasti Untung, karena dapet banyak pahala buat nanti saya tebus di surga (ditebus pulsa telepon di Surga mungkin).

more…

Tue 3rd Oct, 2006, Daily Rants

Bagai pungguk merindukan hujan

Pada suatu hari, sang pungguk berkata pada ibunya: “Emak, saya merindukan hujan.” Emak Pungguk langsung menyentil Anak Pungguk, “Hush, harusnya kamu merindukan bulan.”

“Ah, si Emak!” sahut Anak Pungguk, “Aku kan udah sering ngeliat bulan — ada bulan yang bundar kayak piring; bulan yang kurus kayak sabit; ada juga bulan yang agak gemuk seperti sabit kekenyangan makan. Tapi aku sudah lama nggak main hujan-hujanan nih! Panas banget, Mak! Siang panas banget, malam pun panas!”

Seperti si Anak Pungguk, saya pun merindukan hujan, guntur yang menggetarkan kaca jendela, dan wangi rumput basah. Tapi, saya tidak merindukan banjir, atau bau got yang semerbak setiap kali hujan datang mengisi saluran air di depan rumah. Mungkin saya agak jahat apabila menyalahkan restoran-restoran yang ada di depan rumah, tapi saya merasa bahwa limbah restoran-restoran ini sedikit banyak mempengaruhi kualitas air got di sekitar rumah — mulai dari bekas minyak yang sulit hilang dan berbau tajam, hingga sisa-sisa makanan yang menghalangi aliran air dalam got.

Kekeringan itu menyeramkan. Akhir pekan yang lalu, saya pergi ke Bandung bersama keluarga saya. Sepanjang jalan tol, banyak rumput-rumput liar yang sudah mengering, merunduk, dan sepertinya menunggu nasib. Ada banyak bercak-bercak hangus, di sela-sela pepohonan yang tertunduk lesu.

Jalan di depan kami tertutup asap, dan dari kejauhan terdengar suara api yang sedang melahap hamparan rumput kering. Baru pertama kali itu aku melihat api unggun di siang hari. Bau hangusnya menusuk hidung; panas dari teriknya matahari siang dan dari api yang menari-nari terasa seperti pertanda buruk.

Tapi nggak semua rumput dan sawah di pinggiran jalan tol itu kering dan lesu begitu. Nggak jauh dari tempat kebakaran, ada hamparan sawah yang masih hijau, yang seger banget buat dilihat. Kayaknya semua perasaan semi-tertekan ketika ngeliat api unggun jejadian tadi itu langsung hilang… langsung lega dan plong gitu rasanya.

Kata temanku: “kamu itu, baru ngeliat semak kebakaran aja udah stress, apalagi hidup di pinggir kebakaran hutan, dan setiap hari harus menghirup asap hitam?”

Mungkin aku anak yang penakut, tapi kering itu menyeramkan deh. Banjir juga menyeramkan.

Teman yang sama berkata: “Serba salah ya? Musim kemarau susah, musim hujan juga susah. Bingung ah!”