Ritual Berbelanja dan Hari Raya
Hari Senin, jam pulang kantor sonoan dikit. Saya diajak belanja ke Carrefour untuk melengkapi bingkisan Lebaran yang nanti akan dibuat (disusun?) oleh Nenek. Nyokap udah berbekal daftar belanjaan, yang isinya sudah bisa ditebak: biskuit, wafer, sirup, dan hal-hal semacam itu. Jalan Gajah Mada (Harmoni) terlihat agak lengang, nggak banyak kendaraan. Halte Busway Sentral Harmoni menjadi sumber cahaya, dengan bayang-bayang pohon beringin tua yang gundul tetapi tetap pe-de dengan balutan kain kotak-kotak hitam-putih.
Masuk ke parkiran Duta Merlin… nggak banyak kendaraan yang lalu lalang, dan parkiran juga masih luas. Kok nggak keliatan ramenya ya? Tapi seneng juga kalo nggak rame mah. Tapi, baru aja melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung belanja… whuzz whuzz whuzzz kereta dorong sudah berseliweran di mana-mana. Yang didorong oleh anak-anak, remaja yang lagi pacaran, pasutri baru, pasutri kelas kakap, dan seterusnya. Apakah saya harus mati karena kegiles kereta belanja?
Navigasi kereta belanja itu susahnya minta ampun. Ada tumpukan kaleng biskuit yang hampir ngalahin menara kembar Petronas di Malaysia, dan yang dari jauh aja udah keliatan goyang-goyang seakan mau runtuh… ada sekelompok anak kecil yang malah ngariung di tengah jalan… ada juga cewek dan cowok yang nggak tau kalo pasar swalayan di H-7 sebelom lebaran adalah bukan tempat pacaran yang bagus.