Cerita tentang ayam jago dan kebo buntel
Pada tahun 1759, Laurence Sterne menerbitkan jilid 1 dan jilid 2 dari bukunya The Life and Opinions of Tristram Shandy, Gentleman. Entah gimana, si Laurence Sterne ini kayaknya nggak puas cuma nerbitin 2 jilid, akhirnya… 10 tahun kemudian… terbitlah jilid 9. (Jadi inget felem sinetron “Tersanjung” deh).
Buku ini aneh. Buku ini bercerita tentang tokoh “Tristram Shandy” yang mencoba menulis riwayat hidupnya tapi nggak pernah bisa. Masalahnya, dia nggak tau bagian hidup mana aja yang mesti dimasukin ke dalam buku, dan bagian mana yang nggak perlu. Masalahnya, dia nggak tau gimana caranya menggambarkan kehidupan yang begitu serunya secara tertulis. Menurut dia, kehidupan itu terlalu keren untuk bisa dirangkum dan dimasukin ke dalam satu buku (atau sembilan buku). Akhirnya, buku ini bukan hanya nulisin tentang kehidupannya si Tristram, tapi malah jadi antologi cara berpikirnya si Tristram — penuh coretan, dan penuh halaman-halaman eksperimentasi (ada halaman yang dicetak hitam untuk mewakili hatinya yang berduka cita banget atas meninggalnya seorang teman). Si Tristram pengen nulis novel yang diawali dengan kelahirannya, sampe akhirnya dia tua. Tapi saking bingungnya si Tristram, sampe akhir jilid ke-9… ya dia belum lahir-lahir juga.
Buku ini nggak cuma nelusurin kehidupannya si Tristram dari mata si Tristram sendiri, tapi juga buku eksperimen si Tristram untuk jadi seorang penulis novel. Kalo baca buku ini, kita serasa jadi tukang ngintip (bahasa kerennya voyeur) — serasa ngintip seorang penulis novel yang lagi seru-serunya nulis novel. Kesannya, kita diajak untuk ngeliat gimana sih suka dukanya jadi penulis novel — ketika lagi kering ide, ketika lagi kebanyakan ide (sampe akhirnya cerita ngalor-ngidul ke sana ke mari), ketika lagi bingung gimana caranya menggambarkan adegan dengan pas… pemilihan kata, pemilihan gambar, pemilihan kalimat, juga ilustrasi.
Jenis novel kayak gini sekarang udah banyak — sebutannya novel post-modern. Tapi Laurence Sterne nulis novel ini pada abad ke-18, dan menurut banyak orang novel ini adalah salah satu dari segelintir novel yang nggak mungkin bisa difilemkan.
“This is a postmodern novel before there was any modernism to be post about,” kata Steeve Coogan, yang berperan jadi Tristram Shandy di filem adaptasi karya sutradara Michael Winterbottom.
Filem? Bukannya tadi bilang novel ini nggak bisa diadaptasi?
Si sutradara Michael Winterbottom nggak mengadaptasi bulet-bulet novel itu, melainkan ngambil ’semangat’ dari novel itu. Jadilah filem Tristram Shandy: A Cock and Bull Story. Dirilis tahun 2005, filem ini bercerita tentang seorang aktor asal Inggris bernama Steve Coogan dan jatuh bangunnya sebuah komunitas kecil bernama “tempat syuting”. Jadi, mirip kayak novelnya, filem ini juga ngajak kita untuk ngeliat gimana sih susahnya syuting itu, pergumulan orang-orang yang terlibat di dalem proses pengambilan gambar dan lain-lain. Nggak ada yang sepesial sih… Ya, udah sering lah nonton yang namanya acara Behind the Scenes berbagai pilem.
Karakter Steve Coogan, diperankan oleh Steve Coogan, memerankan Tristram Shandy (yang bertugas sebagai narator), yang kadang-kadang juga memerankan Walter Shandy (yang adalah bokapnya Tristram Shandy). Si Steve Coogan juga punya masalah sendiri: masalah dengan para co-star, masalah dengan para penata rias, masalah dengan para penyelia pakaian, masalah dengan istri (”nggak dia bukan istri, lebih ke semacam teman dekat”), selingkuh dengan personal assistantnya yang gandrung filem-filem arthouse keluaran Jerman (misalnya karya-karya: Rainer Fassbinder).
Tapi filem ini nggak cuma tentang Steve Coogan, atau Rob Brydon (co-starnya, yang juga diperankan oleh Rob Brydon, yang selain memerankan dirinya sendiri juga memerankan Toby Shandy, paman dari Tristram Shandy), atau tentang Jennie (sang personal assistant) atau Jenny (sang istri), atau tentang Gillian Anderson (yang seharusnya memerankan Widow Wadman, tapi ternyata nggak). Filem ini bercerita tentang politik syuting filem (continuity, skandal selebriti, kekurangan uang, pencarian dana, dan nyari orang terkenal untuk dijadikan title role).
Sama seperti novelnya, felem ini udah nggak aneh lagi sekarang. Udah banyak filem-filem post-moderen kayak gini, filem-filem yang kesannya bereksperimen dengan teknik bercerita. Yang bikin filem ini seru untuk ditonton adalah kesungguhan hati, parodi kehidupan manusia yang semuanya dimainkan dengan keanehan dan kelucuan khas Inggris yang garing dan nggak sepenuhnya bisa disadari di mana kelucuan itu sebenernya.
Filem ini tipikal humor Inggris yang aneh bin ajaib, dan walaupun nggak seklasik filem-filemnya Monty Python (macam Life of Brian atau Holy Grail atau The Meaning of Life)… tetep seru buat ditonton, walau kadang-kadang bikin mabok dan bikin nanya: “Ini orang maksudnya apa seh?”
Oh iya, “cock and bull” selain berarti “ayam jago dan kebo”; atau “cock” dalam artian anu-nya laki-laki dan “bull” dalam artian omong kosong (bulls***)… juga berarti “cerita bohong yang aneh dan dibuat untuk bikin orang terkesima”.
pinjem ya ndro…;)