Berkebun
Ada pohon belimbing di rumahku. Pohonnya ditanam di halaman belakang dan disirami dengan rajin. Kadang-kadang dipupuki, tapi seringnya dipipisi oleh adik saya. Pipis itu adalah pengganti pupuk yang baik dan bebas pestisida, karena air kencing itu mengandung urea. Kata nyokap, karena sering dipipisi, pohon belimbing pun tumbuh subur dan menghasilkan buah belimbing yang besar-besar, ranum-ranum, dan manis-manis. Tapi, karena adik terlalu sering ngompolin pohon itu, lama-kelamaan udara sekitar pohon jadi bau pesing. Jadi ya nggak boleh sering-sering. Terlalu banyak pupuk juga nggak baik untuk pertumbuhan pohon. Ya anggep aja kalo seseorang diberikan makanan dan minuman yang berlebihan… kan nggak sehat, tuh.
Udah beberapa tahun kebelakangan ini pohon belimbing itu nggak menghasilkan buah. Mungkin karena usia si pohon yang sudah semakin tua, mungkin juga karena lebah dan kupu-kupu yang sudah mulai jarang kelihatan (kalo kata guru biologi, hewan-hewan gini kan membantu penyerbukan… semacam mak comblangnya tetumbuhan gitu. Yang ada mah kecoa, kecoa, dan kecoa lagi. Di mana-mana kecoa… dan tikus. Ini sih aku menyalahkan rumah makan yang ada di seberang rumah). Sekarang yang ada cuma daun yang semakin lebat dan bunga-bunga putih-putih kecil. Kadang-kadang ada buah belimbing kecil-kecil berwarna hijau, tapi itu juga seringnya jatuh sebelum matang. Beberapa dari mereka ada sih yang sempet membesar, akhirnya jadi buah belimbing yang layak dikonsumsi… tapi seringannya keduluan oleh codot-codot yang nggak tau diri. Codot itu kalau makan buah nggak pernah bersih, tapi comot sana, comot sini… gigit sana, gigit sini, akhirnya nyampah. Huh!
Akhirnya pohonnya sering dipangkas (biar nggak terlalu lebat dan nggak terlalu kelihatan angker). Jendela kamarku berhadapan langsung dengan pohon itu, dan kalo malem, suka kagetan sendiri. Apalagi kalo ada angin malam yang bertiup: hyuuu hyuuuu… (angin yang gawl deh ay) dan dahan-dahan yang masih panjang-panjang mulai ngetuk2 kaca jendela. Waduh!
Selain pohon belimbing (nama kerennya Averrhoa carambola, bukan karambol yang sering dimaenin, disentil-sentil di depan pos hansip; dan bukan Averrhoa bilimbi yang adalah belimbing wuluh…), nyokap juga nanem pohon jeruk limau dan pohon cabe. Kedua pohon ini nggak dipipisi oleh adik sebab ditanam di dalam pot di halaman depan (malu aja gitu tiap hari ritual ngencingin pohon ditontonin tetangga dan pengunjung rumah makan seberang rumah). Tapi, hasil dari pohon-pohon itu juga nggak ngejar kebutuhan dapur sebuah keluarga yang doyan cabe. Akhirnya, ya masih harus tetap bergantung ke para petani cabai dan bumbu dapur (via bapak dan ibu penjual di pasar atau yang mendorong gerobak sayur, yang pagi-pagi buta udah teriak-teriak melengking “Yuuuuurrrrr… yuuuurrrrr… Sayuuuurrrr…”). Kadang-kadang, kalau harga pasarnya lagi bagus (cieee…), sistem barter cabai dengan kertas koran bekas masih berlaku. Tapi, kalau harga cabai sedang mahal… ya ditolak.
Selain itu, dulu pernah juga nanem pare. Parenya merambat-rambat di pagar depan. Ini juga nggak dikencingin adik, karena ya… di depan banget. Eh, tapi kadang-kadang ada orang yang lewat di rumah terus ngencingin tembok rumah juga sih. Mungkin karena itu juga (selain pupuk) yang membuat pare di rumahku tumbuh subur. Tapi, posisi tanaman yang menjalar ini tepat di pagar depan… ya kadang-kadang belum sempat dipanen oleh nyokap, sudah diembat oleh orang-orang yang lalu lalang (sempet curiga dengan rumah makan di depan rumahku, tapi usut punya usut mereka nggak ada menu pare). Maka dari itu, nyokap jadi pengintai yang baik. Begitu pare besar sedikit, langsung disamber dan disimpan baik-baik di dalam rumah. Lama kelamaan, tanaman pare (yang nama kerennya Momordica charantia) itu pun mati, dan nyokap akhirnya males juga menyemai benih lagi. Ngurusnya ribet, mesti dijaga terus biar nggak dicoleng orang. Mendingan juga beli…
Tapi ya… menanam sesuatu sendiri itu lebih…. gemanaaa getooh.
sudah coba menanam benih huru-hara? hehehe.
belimbing sayur atau buah nih…
belimbing buah dong…
kalo belimbing wuluh yang nanem tetangga. suka barter gitu
Kalau dikebun tempatku lengkap, belimbing buah dan wuluh ada.
*pamer*
Pohon belimbing itu enak dipanjat. Apalagi kalo kulit pohonnya udah rada-rada licin gitu. Enak sekali buat nongkrong. Waktu kecil aku juga suka pipisin pohon belimbing. Engga dekat tanah malah, justru dari batang tempat aku bertengger. Halah…engga tau malu banget ya?
Belimbing dan Pepaya (+ jambu) terkenal dengan istilah pohon bua segala musim. Bagi dong
PS: Hen, coba nanam Aglonema deh
kasih tahu ya kalau punya taman lagi.
Siapa tahu aku pas lewat situ dan kebelet pipis
seorang teman Austraiian, Alan, dua minggu lalu, bertanya, ia dulu tinggal di RI, apa nama buah yang … sangat asem itu? Dan gue tau apa yang ia maksut tapi lupa namanya.
Kedondong. Dondong.
Nama Inggrisnya apakah?
hehe … beritaukan gue.
ciao ciao dall’italia
hen tuuw poon jangan dipipisin yah, nanti sapa yang nutup idungnya?
)
jo!…makan belimbing sari pipisan nya adik lo donk??
huehauehauau…
iihhhhh…
rujakan yuuuuk…