Mati Lampu?
Setelah terjadi gangguan pasokan gas di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Muara Karang dan PLTGU Priok, defisit tenaga listrik bertambah dengan matinya satu unit pembangkit di Pembangkit Listrik Tenaga Uap Paiton 5 — Kompas, 23 Mei 2006
“Yah! Mati lampu deh!” seru teman sekantorku, dan setelah sekian lama menunggu genset untuk memulai aksinya… akhirnya semua dibolehkan pulang. Emang sih sudah lewat jam pulang kantor, dan semua yang masih tinggal adalah pegawai-pegawai yang “ngejar setoran”.
Dulu, waktu aku masih kecil, listrik sih sering banget putus atau mati sementara. Kayaknya kalo sebulan atau dua bulan sekali nggak mati… kesannya ada yang kurang. Tapi, semenjak mulai duduk di bangku kuliah sampai sekarang (sudah enam setengah tahun!), kayaknya baru sekarang ketemu yang namanya mati listrik lagi. Memang sih, setengah dari enam tahun itu aku habiskan di Inggris, yang kalaupun mati listrik pasti cuma sebentar — beberapa menit, atau paling lama setengah jam. Seperti laiknya negara yang jarang atau nggak pernah mati listrik dalam hitungan jam… kalau sampe kejadian… langsung stres semuanya.
Dulu, di awal tahun 2000 atau 2001 (?) pernah kejadian mati listrik berjam-jam di London dan di New York (di hari/bulan yang berbeda sih). Reaksi dari masyarakat: gempar, geger, dan oh! seram! Dan tentu aja, jarang banget anak-anak muda di asrama yang setok lilin, atau setok baterai besar untuk senter super-besar. Waktu aku dan beberapa teman dari Indonesia masuk ke asrama itu dan ribut beli lilin, kebayang dong diketawain sama orang-orang “bule” itu.
“Ngapain nyetok lilin?” tanya mereka.
“Siapa tau aja ntar mati lampu.”
“Ah! Emangnya di sini kayak negara kamu. Di sini ga pernah mati lampu!”
“Biar aja. Siapa tau ntar perlu. Lilin kan ga cuma buat mati lampu doang.”
Tapi, ya namanya juga negara bule sana, ga ada “lilin lampu” yang murah meriah kayak yang sering aku pake di rumah (yang putih panjang itu). Akhirnya yang dibeli ya lilin dekoratif, lilin aromaterapi, lilin angka (yang dipakai untuk ulang tahun), dan lilin untuk devosi.
Dan bener aja kan… Mati listriknya waktu itu sampai berjam-jam, dan kami dengan tenangnya ngeluarin stok lilin sambil mendengarkan teman-teman yang panik. Banyak teori konspirasi yang keluar dari mulut mereka: wah! disabotase tentara gerilya, disabotase IRA, dan lain sebagainya.
Setelah ninggalin itu semua, aku mulai kerja lagi di Indonesia, dan karena jam terbang kantor yang lebih banyak overtimenya… ya nggak ngerasain mati listrik juga, berkat benda yang bernama genset itu tadi.
Hari ini, listrik mati barang tiga jam. Ada krisis listrik di Jakarta. Menurut seorang teman, memang sudah beberapa hari ini pasokan listrik ke berbagai tempat di Ibu Kota dirapel. Setiap daerah kebagian mati listrik beberapa jam. Dan entah mengapa, si genset nggak banyak beraksi di kantor. Pulang ke rumah, sambil mengandalkan penerangan dari warung-warung dan kantor-kantor lain yang gensetnya aktif, rasa ingin nostalgia pun muncul kembali.
Saat-saat mati lampu itu saat yang menyenangkan. Boleh main di jalanan sampai puas dan sampai malam, bisa ketemu sama tetangga dan kawan yang biasanya ngendon di dalam rumah terus… pokoknya entah kenapa kalau mati lampu, RT/RW itu jadi lebih terasa kekeluargaannya. Dan yang pastinya nggak ketinggalan: lilin yang bertebaran di seluruh penjuru rumah. Dan ketika listrik kembali nyala… ternyata, masih ada juga yang namanya lomba meniup lilin dan mengucapkan “selamat ulang tahun” untuk setiap lilin yang ditiup.
Nggak cuma lilin-lilin di rumah sendiri lho, tapi lilin-lilin di rumah tetangga juga kalo bisa.
mati lampu adalah kejadian langka ia patut diartikelkan di koran.
«perks» berdiam di negeri “terbangun” (developed) adalah keluhan dan debat publik condong ke sumber energi alternatif, energi hijau, dll. di benua ini, kekeringan menjadi semakin kronik, air laut pun hendak disulap jadi tawar.
transportasi publik masal di australia, justru menurut gue, masih ketinggalan bgt dibanding EUR dan JPN, tapi tentu jauh lebih manusiawi dari RI.
berdasarkan hukum, detektor asap kini wajib dipasang di semua rumah.
kantorku mulai panik juga…lha bisnis kita sms sepakbola….kalo pas piala dunia berabe deh
Iya, kalau dulu pas masih kuliah, listrik mati itu saatnya keluar ke gang dan gitaran sepuasnya sampe listrik hidup lagi. Bwhihihi.. menyenangkan
Ello gadis londoner - sgt sibukkah dikau?
Kirimkan gue email via hotmail.com [gama17].
Pemadaman tempatmu sama tempatku berbarengan yah..
di tampaksiring juga sering mati lampu. bisa hampir tiap hari, dan berjam-jam pula. kalo udah gitu, ada kesempatan buat para perajin untuk pulang lebih cepat dari kerjanya.
lalu suatu hari mereka membeli genset. tapi selama berminggu-minggu listrik nggak pernah mati. mereka bilang padaku “kapan ya listrik mati, mbak? kami mau nyobain genset baru”
Hehehehe….mati lampu itu dulu menyebalkan, g ada aktipitas…klo sekarang, mati lampu adalah “sarana” hueheehehehehe…
*siap2 nyalain genset*
Kalo mati lampu enaknya kipas2an sampai tertidur sendiri, dan setelah bangun sudah siang dan listrik sudah menyala juga
dooh..mati lampu..kebanyang panas oii…
*kipas kipas*
Terasa Bete !!!!
Bosan !!!
Pokoknya !!@@##
Aaargrr….
Tak bisa di ungkapkan dengan kata2
Yang di karenakan kejadian mati lampu
Don’t worry mungkin lagu nih bisa temenin kamu buat hilangin bete.
So download aja di
http://www.ziddu.com/download/1696804/MatiLampu.mp3.html
atau
www.myspace.com/mixerband
Jangan lupa kasih comment ya
saran dan kritik dari kamu
sangat berarti buat kami
salam kenal aja
tq
mix3rband@yahoo.com
Wah. Nyebelin banget mati lampu…