Corruptible forces
Beberapa hari yang lalu, aku mendapat undangan dari almamater untuk menghadiri seminar terbuka tentang Kapitalisme. Seminar ini akan membahas berbagai ide tentang kapitalisme, khususnya kapitalisme sebagai bentuk kolonialisme baru, pencipta tren dan budaya baru dalam kehidupan sosial masyarakat. Selain itu, hendak dibahas pula pergeseran peta sosial akibat kekuatan ekonomi baru, pemetaan ulang kaum berkuasa dan kaum tersingkir (a la teori orientalisme Edward Said dan teori sub-altern Gayatri Spivak dan Homi Bhabha).
Kok dikirim ke aku, ya? Sejenis spam intelektual, mungkin? Sepem gitu loh. Dan yang diomongin kan berat-berat banget. Lagian ngirimnya juga waktunya mepet: tanggal 25 Maret (kemaren gitu loh)! Halah. Selain itu, seminarnya ya diadakan di negeri Pangeran William (muah muah). Siapa coba yang mo ngongkosin aku? Susah juga punya almamater yang terlalu “perhatian” sama alumninya. Seneng juga sih dapet spem kek gini, bisa aja ngebohongin diri sendiri kalau-kalau universitas itu masih sayang sama aku. Tjih. ehem) Habis manis, sepah diinjek-injek?
Tapi, ada juga temen yang ngirim-ngirim e-mail sambil cerita panjang lebar soal hal di atas. Di emailnya yang sempet aku cuekin itu (udah panjang, datengnya subuh-subuh. Orang mau tidur malah disodorin analisa panjang kali lebar), dia cerita banyak soal tradisi ekonomi dan sosial.
Indonesia terkenal dengan korupsinya, itu sudah nggak bisa dipungkiri lagi. Banyak pihak baik di dalam dan di luar negeri yang menuding begitu. Di dalam negeri banyak upaya sudah dilakukan untuk menghilangkan rasa pahit di mulut yang ditinggalkan oleh tudingan semacam itu. Orang mana sih yang mau dituduh-tuduh maling?
Sedikit banyak, kebiasaan korupsi ini sudah dipupuk sejak awal kolonialisasi Belanda beberapa ratus tahun silam. Mungkin ini sebuah anti-tesis yang akan ditampik orang Belanda sendiri (lagi: orang mana sih yang mau dituduh-tuduh maling?). Akan tetapi, beberapa catatan sejarah memang berkata begitu. Terlihat dari gaya hidup kaum kolonial (mulai dari pejabat pemerintah kolonial paling tinggi hingga saudagar VOC yang bisa dibilang “pegawai biasa”) yang terkadang tidak sesuai dengan “gaji” yang telah disyaratkan oleh Den Haag.
Di Hindia Belanda, mereka dimanjakan. Mereka berlomba-lomba membeli tanah perkebunan, membangun rumah-rumah mewah di kawasan elit Batavia, dan berlomba-lomba dalam mengumpulkan budak. Jumlah budak yang dimiliki seringkali menjadi bukti nyata kekayaan seseorang.
Seorang pejabat menengah VOC mungkin akan membawa pulang gaji sebesar 150-200 real (gulden?) setiap bulannya, tetapi memiliki puluhan budak, perkebunan yang luas, dan rumah megah di Tigersgracht (Jakarta Kota), dekat dengan pusat pemerintahan dan benteng VOC. Setiap harinya mereka duduk-duduk menikmati anggur dan cerutu mahal. Duit dari mana? De corruptie. Korupsilah yang menyebabkan kantor dagang VOC (atau yang dulu disebut Generale Nederlandsche Geortrovide Oost Indische Compagnie) menyatakan bangkrut, tak sanggup membayar utang yang menumpuk. Kebangkrutan inilah yang menyebabkan Kerajaan Belanda (Koninkrijk der Nederlanden) kehilangan muka di Eropa. Praktik korupsi dan perbudakan ini menyebabkan telinga pada pembesar dan para aristokrat Belanda panas akibat cercaan tetangga-tetangga Eropanya.
Orang-orang Eropa adalah orang-orang yang bermartabat, orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Begitulah yang diserukan oleh tetangga-tetangganya. Den Haag pun akhirnya mengeluarkan diktat untuk menarik kembali kalangan borjuis dari kursi pemerintahan kolonial untuk digantikan dengan “pejabat bersih” yang masih mempunyai gelar bangsawan atau dipercaya oleh keluarga kerajaan. Tapi hasilnya sama saja. Setibanya di Batavia, mereka pun melihat betapa indahnya kehidupan di situ. Mulailah mereka menerima sogok dan mulailah mereka meneruskan “tradisi” korupsi dan hidup enak yang “diturunkan” oleh pejabat sebelumnya. Diktat dan ancaman hukuman hanyalah formalitas belaka. Korupsi tetap berjalan, walaupun tidak terang-terangan seperti dahulu. Dari sini muncullah sebutan: di bawah meja, atau di belakang pintu.
Kebiasaan para pejabat VOC ini diturunkan pula pada budak-budak mereka. Seringkali, ada budak yang kemudian “dibebaskan”, sehingga dapat menjalankan usaha sendiri dan memiliki harta pribadi sesuai dengan pakem “orang bebas”. Para mantan budak ini kemudian mendapat sebutan Maadjikers (asal kata “majikan”?). Mereka mencontoh tindak tanduk bekas tuan mereka, karena mereka tau hanya dengan begitulah mereka dapat cepat sukses dan kaya.
Para pendatang/penduduk baru dari luar negeri yang hendak mengadu nasib di Oost Indische pun dengan cepat belajar “tradisi” menyenangkan ini. Buruh dan pedagang dari Cochinchina (Semenanjung China), India dan daerah sekitarnya, serta dari negara Eropa lainnya mulai mengerti bahwa cara paling mudah untuk menghindari birokrasi perdagangan dan untuk mendapat untung sebesar-besarnya adalah melalui korupsi. Mulai dari para pemilik rumah bordil dan rumah opium hingga pegawai kantor dagang, tidak ada yang tidak tau cara ini.
Di samping korupsi, falsafah kolonial Belanda yang “saya dulu baru mereka” menyulitkan pemberdayaan sumber-sumber kekayaan dengan baik. Belanda mulai kalah produktif dibandingkan dengan tetangga kolonialnya: Inggris. Walaupun Belanda menguasai wilayah besar yang memiliki sumber daya alam yang berkelimpahan, sistem pengelolaan dan falsafah yang terlalu mementingkan diri (lomba kekayaan) akhirnya tidak banyak menghasilkan hal positif. Secara teori, tidaklah mungkin VOC jatuh bangkrut, secara teori tidaklah mungkin VOC menumpuk utang yang banyak. Akan tetapi, hal buruk itulah yang terjadi.
Bertahun-tahun kemudian, setelah Belanda digantikan Jepang, setelah Indonesia merdeka, setelah para cendekiawan berkaca pada cermin sejarah… apakah mereka terkejut pada banyaknya persamaan antara Indonesia yang sekarang dengan Oost Indische yang dulu? Pelakunya mungkin berubah warna kulit, berubah pelafalan bahasa, tetapi… hasil akhirnya sedikit banyak tetap sama. Salah siapa? Apakah ini semata tradisi, cerminan hati manusia yang buruk, angkuh, dan serakah? Siapa yang bisa membalikkan semua ini?
Walaupun sejarah Oost Indische tidak sepenuhnya buruk, akan tetapi catatan-catatan yang menuding seperti di atas tadi adalah beberapa yang paling membekas, yang paling membuat hati miris. Benar apa nggak, mungkin para peneliti sejarah lebih tau daripada aku atau temenku yang udah mbikin email panjang lebar tentang hal di atas). Pengen juga rasanya percaya hal yang sebaliknya, bahwa sejarah Indonesia gak separah itu. Tapi?
kepanjangan
SEKIP!
hayo lompat yang bener… awas lobang!
iya, kepanjangan!
sekip…!
lah trus obatnya apa?
jadi kolonial belanda dunk yang harus tanggung jawab! dan dia harus ngobatin penyakit ini jugak…