Tue 14th Mar, 2006, Daily Rants, Education

Ternyata menerjemahkan itu…

…susahnya minta ampuuuuun!

Padahal makalah ya punya sendiri, yang ngerjain pun diri sendiri (bukannya beli), yang punya ide ya diri sendiri. Kok tinggal menerjemahkan aja susahnya… Jangan-jangan terlempar ke Dunia Lain, atau nembus Kaca Kuantum… (Halah, ini pasti kebanyakan nonton pelem seri Stargate dah).

Di milis ID-Gmail sedang ada topik yang membahas judul-judul skripsi para anggotanya. Wuih! Aku jadi minder seminder-mindernya. Judul-judulnya keren-keren, dan topik pembahasannya juga keren-keren. Kesannya berbobot dan berguna banget. Nggak cuma teori, tapi keliatannya dipraktekin juga yahud banget.

Kebetulan aku juga sedang menerjemahkan makalahku supaya bisa didaftarin ke organisasi-organisasi yang kira-kira mau nerima aku jadi karyawannya. Judulnya so pasti gak keren, dan isinya pun riweh. Sebel juga waktu si dosen ngirimin hasil (nilai) skirpsi, komentarnya nggak dikirimin sekalian. Kan jadi nggak tau salah di mana atau mana yang mesti divermak ulang.

Apa jangan-jangan saking menyedihkannya, skripsiku dibakar dan dibuang ke toilet, dan nilainya cuma alah-alahannya dia aja? Tapi aku nggak menolak kok dapet B++ (apa A-? Masih belom kenal sama sistem penilaian sana). Apalagi nulisnya udah dengan terburu-buru akibat komputer bodoh (lihat catatan dua bulan lalu).

Judul skripsi punyaku: yang satu “Masyarakat Belajar: Pendidikan Agama, Kurikulum, dan Pertalian Antar-Agama” dan yang satunya lagi “ICT dan Kemelekan Spiritual Anak Didik”. Ah pokoknya ga seru banget deh. Cuma mendalami Pendidikan Agama yang ada di Inggris, yang nantinya dibandingkan dengan Pendidikan Agama yang ada di Indonesia. Di negara barat (maksudnya Inggris, sebagian besar Eropa, dan Amerika), sudah banyak yang merasa Pendidikan Agama udah nggak punya tempat lagi di kurikulum pendidikan. Bahkan, kayaknya tinggal di Inggris aja yang masih mempertahankan mata pelajaran ini. Di negara lain, mata pelajaran ini udah tergusur oleh Pendidikan Moral dan Kewarganegaraan. Padahal Pendidikan Agama dan Pendidikan Moral itu beda banget.

Pendidikan Agama di Inggris dan di Indonesia berbeda formatnya. Kalau di Indonesia setiap agama diberi kelas masing-masing (masih nggak ya?), misalnya: yang beragama Islam di kelas sendiri, belajar tentang agama tersebut; agama Katolik Roma di kelas sendiri, tentunya belajar tentang agama tersebut; dsb. Di Inggris, semuanya tumpah ruah di satu kelas, tidak dipilah-pilah, dan semua bersama-sama belajar tentang agama-agama yang ada di dunia. Tentu saja, agama Nasrani sebagai agama “kebangsaan” harus diajarkan. Kedua cara ini masing-masing punya baik dan jeleknya sendiri. Dan memang perbedaannya nggak cuma di bentuk pengantar atau fisik kelasnya saja, tapi juga pada pedagogi pengajarannya, pada tujuan pengajaran, dan kehendak yang tertuang dalam hukum masing-masing negara. Nah, yang mana yang lebih baik?

Mungkin salah satu nilai tambah dari skripsiku (makanya nilainya bisa bagus), karena waktu penulisan dan penyerahannya cuma selang sebulan (?) dari peristiwa Bom London (tanggal 7/7), jadi masih gres banget gitu. Selebihnya.. MALU!

Duh. Makanya, ini sebagai penitensi bulan Puasa nih, ngebikin makalah-makalah yang lebih baik dan nggak cuma sebatas mimpi doang. Dan, yang lebih penting, bikin makalah ini sesuai dengan iklim di Indonesia.

Sayangnya, laman webnya Depag dan Depdiknas kok…. lebih banyak broken linknya? Gimana anak mau pinter?

8 Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by m, March 14, 2006 @ 3:52 am

    di AUS, study of religions opsional.

    di Inggris emang compulsory? kayanya ngga deh, biasanya commonwealth itu mirip2 segala macemnya, termasuk kurikulum???

    France, negara hampir 99% terpisah dari gereja. kecuali 200 tahun lalu, waktu bapak bonaparte merebut mahkota dari tangan the Pope, dan memasang sendiri di kepalanya.
    heheeeee sangat menginspirasikan.

    Oh.. iya.. di Inggris Religious Education (RE) itu adalah harus. Diatur di Education Act 1944, dan dikukuhkan kembali di Education Reform Act 1988. Semua murid di “maintained school” (sekolah negeri) diharuskan untuk mengikuti RE, kecuali kalau orang tuanya menolak (maka kemudian ini diatur sebagai Hak seseorang untuk menuntut ada/tidaknya pendidikan). Jadi, hukumnya adalah harus, tapi dengan pengecualian (yaitu apabila orang tua si murid mempunyai alasan mengapa.. dsb dst).

    Ada sejarahnya juga sih, kenapa RE itu dianggap perlu jadi lem sebuah negara. Kan di Inggris, monarki menjadi pimpinan gereja Anglikan. Dan terus pas lagi perang dunia, agama dianggap bisa jadi lem negara yang kaco-balo. Pas tahun 1988, direvisi sedikit, terus sekarang tahun 2004 juga ditekankan lagi.

    Emang banyak yang mempertanyakan: kenapa sih perlu RE, padahal udah ada Citizenship dan udah ada Moral Studies? Bahkan mereka bilang: liat tuh negara tetangga dan negara2 commonwealth lainnya. Tapi malah QCA menggarisbawahi pentingnya RE dengan menerbitkan Non-statutory Guidance for RE tahun 2004. Pokoknya aneh deh. Ada yang setuju dan nggak.

    Tesisku ya berkisar tentang itu. Dan kebetulan aku juga magang di kantor Hubungan Antar-Agama, jadi ikut debat kusir yang begini-begini itu. Setahun itu kayak banjir darah, rasanya. Dan untungnya pas Bom London terjadi semua pada sadar pentingnya RE, walaupun yang sekarang dipertanyakan: Apa sih format RE yang bagus.

    Apa ya?

    Duh, jadi panjang kali lebar begini.

    MACCHI! Sudah selesai surfingnya? aku pengeeeennn…..

  2. Comment by Hedi, March 14, 2006 @ 5:37 pm

    Di negara² barat, walaupun pelajaran agama gak ada masyarakatnya tetap santun. Tapi di Indonesia, pelajaran agama yang terus dipertahankan pun malah kondisi negaranya makin ga karuan…hehehe…ironis.

    Hihihihi. Jadi inget waktu SD. Pelajaran agama nilainya baik, pelajaran PMP nilainya nggilani. Katanya jadi beragama tapi tak bermoral.

  3. Comment by vnuz, March 14, 2006 @ 8:31 pm

    ooooo….

    masih kuliah tho, ayo cepat dikerjakan.

    Masih kuliah dari mana? Ogah aku kuliah lagi….

  4. Comment by macchiato, March 14, 2006 @ 11:50 pm

    Setuju dg Hedi:

    di negeri kita terlalu banyak paradoks yang berbalik arah dengan “bualan” dan “khayalan” (atau malah doktrin):
    1. indonesia negeri kaya raya, gemah ripah, tapi banyak yg lapar dan inflasi menggila.

    2. berakhlak & moral & nurani tinggi, bah … pernahkah kita mendengar negeri lain, negeri kecil yg “insignifikan” eg. Swiss berkoar-koar macam itu, tapi lihat betapa makmur dan tentramnya hidup mereka. Nupe, cuma negeri burung garuda sajah.

    dll dll

    Hffpfff

    Iya. Sebenernya bingung juga. Ya penyekolahannya mesti diganti juga. Temen kantorku ada yang pernah ditugasin ke Swiss dan dia terpaksa bawa anaknya yang masih kecil ke sana. Bener-bener beda katanya. Sampe2 dia kasihan anaknya mesti ditarik balik lagi ke Indonesia waktu tugasnya udah selesai. Anaknya juga sempet protes. Katanya: “MA! Di Indonesia gurunya jahat! Ga mau dengerin apa kata Adek! Maunya sok tau terus!” Aku ketawa terus kalo diceritain tentang anak itu sama ibunya yang udah sampe bingung. Apalagi kalo udah deket-deket ulangan umum, sebelnya si anak semakin menjadi-jadi. Hehehehe..

    MACCHI! bikin postingan tentang surfing doooongggg

  5. Comment by macchiato, March 15, 2006 @ 6:24 am

    surfing, lol - i’m gettin smashed, constantly, BUT … the sea was so brilliant, heck the word brilliant doesn’t even do justice. ps. tapi cape paddling-nya itu loh.

    posting asap baby!

    LOL

    Tapi asik ya.. kayak latihan naek sepeda, pake lutut cedera dulu, siku sakit gitu? Hihihihi.. Tapi nanti kalo udah bisa, asik dong. Gaya banget gitu! Duh! aku tuh seneng banget nonton orang surfing. Tapi ga pernah berani. Ditunggu postingnya. HOahahahahahaha.

  6. Comment by macchiato, March 15, 2006 @ 6:26 am

    addendum: situs depag banyak link patah?

    bhaah, ex-menterinya aja di balik jeruji, terang2 korup masih bela diri tanpa tau malu.

    dan itu menteri friggin agama!

    dan kita masih mengaku berbudi luhur …….. ahhhhh

    Pernah denger nama Budi Luhur Santoso. Aneh. Entah orangnya sesuai nggak sama namanya. Tadi aku jalan-jalan ke situs itu lagi, kayaknya udah mendingan. Tapi loadingnya satu abad setengah. Korupsi… kayak budaya. Dipelihara. Bahkan budaya yang paling dipelihara ya korupsi itu. Yang lainnya… lewat…

  7. Comment by bigfestival, March 17, 2006 @ 8:17 am

    Kalo di Amerika, pendidikan agama cuman boleh untuk level di atas highschool (jadi di college/university), sedangkan sebelum itu justru ilegal (untuk di sekolah negeri/public school). Pendidikan moral kayaknya gak ada juga deh (di public school). Dan kalo diliat-liat mayoritas orangnya baik-baik aja tuh & disiplin tanpa disuruh, jarang liat orang nyrobot antrian, motor seliweran & ngelawan arus lalu lintas, buang sampah seenaknya, ngeludah sembarangan, etc, etc. Gak tau kenapa orang Indonesia mayoritas gak ada kedisiplinan… asli heran banget.

    Masalah budaya kali ya? Aku kadang bingung, garis pembatas antara agama dan budaya. Kadang-kadang agama juga kan produk peleburan budaya ke faham teologis… Tapi, masa sih budaya melayu segitu ancurnya?

  8. Comment by adis, March 18, 2006 @ 1:25 pm

    lieur ah ndro!!!…tapi kayaknya belajar agama ala inggris…yang di satukan seluruhnya dalam satu kelas..lebih gue setujui dari pada dipisah-pisah kayak di indo sesuai dengan agama masing-masing..
    dengan belajar bersama mereka jadi punya sense of tolerancy nantinya..bener ga?? heuaehuaehau..

    Betul juga sih. Mereka jadi lebih toleran. Tapiii.. ada jeleknya juga. Agama sendiri mereka jadi gamang. Ga ngerti. Ya… gimana ya? hehehe

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>